Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 70. Kembali Pulang


__ADS_3

Keputusan Darrell untuk kembali ke Meksiko agaknya membuat Allegra bimbang. Dia masih ingin menikmati kebersamaannya dengan anak dan menantu. Namun, Darrell lah yang memaksanya dengan dalih bahwa perusahaan di Meksiko membutuhkan dirinya dan Alan.


"Kalian mau meninggalkan Mama?" tanya Allegra.


"Bukan seperti itu, Ma. Aku, Alan, Sharron, dan Noelle harus kembali bersama-sama. Bukankah Mama juga yang mengajarkan pada kami untuk menghormati tamu? Nah, inilah caraku menghormati tamuku. Kami akan kembali ke Meksiko bersama-sama," jelas Darrell saat berada di meja makan.


"Allegra, biarkan putramu memutuskan sesuatu sendiri. Dia sudah mempunyai tujuan hidup sekarang," tegur Javer.


"Tapi,--"


"Kau tidak akan terus menerus mengurung pria yang usianya mendekati kepala 4 itu. Kurasa kamu mengerti kan apa maksudku?"


"Om dan Tante jangan khawatir. Sesekali kami akan berkunjung kemari jika kalian kesepian," sahut Noelle.


"Nah, dia yang bukan anakku saja bisa mengerti. Mengapa putraku sendiri tidak bisa memahaminya?" tanya Allegra.


"Maaf, Nyonya. Bukan seperti itu. Aku dan Tuan Darrell ada urusan yang tidak bisa diselesaikan seorang diri. Maksudku ada tender yang harus kami urus bersama," sahut Alan.


"Kamu masih ingin bersama Mama kan, Sharron?" tanya Allegra.


"Sebenarnya begitu, Ma. Tapi, kata Mama aku harus ikut ke manapun suamiku mengajaknya. Mama tidak usah khawatir. Secepatnya Sharron akan memberikan kabar baik untuk Mama. Sharron akan memberikan cucu yang banyak untuk Mama supaya mansion ini tidak sepi," ucapnya yakin.


Glek!


Lain halnya dengan Darrell. Dia tidak bisa membayangkan diusianya yang tak lagi muda memiliki banyak anak. Bisa-bisa beberapa dari mereka ada yang dikira cucunya.


"Nah, benar apa yang diucapkan istriku, Ma. Beberapa bulan lagi Mama akan mendapatkan kabar yang baik," ucap Darrell yang memberikan kesepakatan yang sama dengan istrinya.


"Ya, ya, pergilah! Jangan lupa janji kalian. Awas saja kalau kalian tidak bekerja dengan keras!" ancam Allegra.


Uhuk!


Bukan Darrell ataupun Sharron yang terbatuk barusan, melainkan Noelle. Wanita muda itu merasa kalau sahabatnya harus siap secara jasmani maupun rohani untuk mengandung. Perutnya pasti buncit dan itu sangat menarik.


"Kau kenapa, Noelle?" tanya Sharron.

__ADS_1


"Ah, aku tidak apa-apa," jawabnya setelah meminum air yang diberikan Alan.


Sarapan pagi yang membahagiakan untuk Allegra ini akan segera berakhir. Matanya berkaca-kaca karena kesedihan ini akan berlanjut sampai mereka datang kembali. Sosok Noelle yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya membuatnya terhanyut dalam kesedihan yang dirasakan.


"Jangan sedih, Noelle! Kita terbiasa hidup tanpa orang tua. Jika Mama berkenan, izinkan kami memelukmu sejenak. Mungkin dengan ini kerinduan kami kepada orang tua bisa terobati," usul Sharron sebelum mereka pergi ke bandara.


Semalam, Alan ternyata sudah menyiapkan tiket penerbangan sesuai keinginan Darrell beberapa waktu lalu. Ini kesempatan bagus supaya mereka bisa kembali ke Meksiko dan menata ulang kehidupan masing-masing. Darrell sudah berencana untuk menjual mansionnya. Bukan tanpa alasan karena mansion besar itu mengingatkan kenangan tentang Callie dan masa lalunya.


Allegra berdiri untuk memberikan kesempatan pada kedua wanita muda itu untuk bergantian memeluknya. Setelah Sharron, barulah Noelle.


"Terima kasih. Kalian sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa itu kepada Mama," ucap Allegra.


"Kalian memang tidak adil. Mama saja bisa sebahagia itu. Papa juga mau gantian," pinta Javer.


"Papa!" seru Darrell.


"Wajar, Darrell. Ini merupakan wujud kasih sayang anak kepada orang tua. Kuharap kau tidak cemburu!" sahut Javer.


Menjelang pagi Darrell baru tidur sehingga ketika berdebat dengan papanya pun dia selalu mengalah. Dia sangat mengantuk dan lelah sekali. Dia berencana untuk tidur di dalam pesawat selama perjalanan kembali ke Meksiko. Waktu 14 jam lebih dari cukup untuk beristirahat.


Setelah berpamitan, sopir mansion mengantarkan mereka ke bandara. Javer dan Allegra juga berjanji akan berkunjung ke Meksiko setelah urusan di sini sedikit longgar.


Keesokan harinya, menjelang petang di Meksiko, mereka baru saja turun dari pesawat. Darrell sudah beristirahat lebih dari cukup.


"Kamu tidur terus," protes Sharron.


"Aku mengantuk, Sharron. Alan, apakah mobil jemputan sudah siap? Oh ya, Noelle, kamu bisa menginap di apartemenku," ucap Darrell.


"Eh, tidak. Aku pasti sangat mengganggu. Sebaiknya aku langsung pulang saja," balas Noelle.


"Kau bisa menginap di apartemenku. Ada kamar tamu kosong. Kebetulan aku dan Tuan Alan berada di apartemen yang sama, tetapi unit yang berbeda," sahut Alan.


"Terima saja. Jarang-jarang pria singel menawarimu," ucap Sharron.


Sharron benar. Lagi pula aku hanya menumpang istirahat semalam saja. Kalau dia macam-macam, aku bisa pastikan dia akan mendapatkan ganjarannya.

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih, Alan."


Mereka memasukkan semua koper ke bagasi. Alan duduk di depan, sementara Sharron, Noelle, dan Darrell duduk satu baris kursi yang sama.


"Kalian pasti lapar. Malam ini kita makan di apartemenku saja. Aku akan memesan makanan dari restoran biasanya," ucap Darrell.


"Tidak perlu, Tuan. Kami akan makan di apartemenku saja. Kalau Anda mau memesan makanan, sebaiknya untuk kalian berdua saja. Pengantin baru harusnya menikmati kebersamaan, bukan menambah kerumitan hidup," sahut Alan.


"Kalau begitu, aku akan memesan makanan yang akan dikirimkan ke dua tempat. Bagaimana?" Mau bagaimanapun Darrell bertanggung jawab atas dua orang yang sedang bersamanya.


"Terserah Tuan saja," jawab Alan.


Sepanjang jalan Darrell fokus pada ponselnya. Dia memesan di restoran yang bisa memberikan layanan delivery order karena hari sudah menjelang malam.


"Sudah. Nanti mereka akan mengantar ke ruanganmu. Oh ya, besok kalau kamu ke kantor, pergilah! Aku berencana untuk pergi berbulan madu."


Glek!


Pria berumur dengan yang muda sangat berbeda sekali. Kalau yang berumur seperti Darrell suka sekali ceplas-ceplos tanpa memandang siapa orang disekitarnya.


"Darrell, kau membuatku malu," bisik Sharron.


"Malu kenapa? Kalau memang Alan menginginkan, mengapa tidak menikah saja," balas Darrell.


"Ehem, Darrell ... bisakah bahas yang lain saja? Maaf, bukan maksudku untuk melarang kalian membicarakan perihal rumah tangga, honeymoon, atau apalah itu. Aku cuma mau minta tolong mengertilah pada kami," sahut Noelle.


Alan menahan tawanya mendengar penuturan Noelle barusan.


"Kalau kau ingin, lebih baik menikah saja!" sahut Alan. Dia memang gemas sekali dengan sikap Noelle yang menyebalkan itu.


"Itu ucapanku untukmu, Alan. Mengapa kau tiru?"


Sontak hal itu membuat mereka semua menertawakan kebodohan masing-masing. Pulang berempat bukannya membuat suasana yang berbeda, malah menunjukkan kebodohan masing-masing.


"Maaf, Tuan," jawab Alan.

__ADS_1


Mobil yang membawa mereka sudah sampai di depan apartemen. Mereka tidak mungkin melewati basemen karena ini mobil sewaan. Lebih baik turun di sana kemudian mereka menuju ke kamar masing-masing.


Alan dan Noelle membawa kopernya masing-masing. Sementara Sharron, koper yang mereka bawa hanya satu sehingga Darrell lah yang membawakannya.


__ADS_2