Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 67. Pesta Dansa


__ADS_3

Ucapan Marcello ternyata membuat Noelle kesal. Dia menarik tangan Alan untuk ikut maju demi sebuah buket bunga.


"Kau kenapa, Noelle?" tanya Alan.


"Aku tidak suka pria itu. Melihat wajahnya saja muak," balas Noelle.


Darrell dan Sharron yang berada di atas pelaminan sedang bersiap. Perhatiannya teralihkan pada minat para tamu undangan yang menginginkan satu buah buket bunga yang akan diperebutkan.


"Sayang, kau lihat! Ini sungguh luar biasa!" seru Darrell.


Sharron cuma bisa mengangguk setuju. Pasalnya semua orang yang sedang menanti sudah heboh berebut tempat. Terutama Alan dan Noelle.


"Aku gila! Mengapa kau bawa aku ke tengah kerumunan?" protes Alan.


"Dasar bodoh! Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Kau sendiri yang bertanya padaku. Sekarang, giliran sudah berada di sini kau protes. Sebenarnya apa maumu, asisten? Apa kau mau menemani pria bodoh yang tidak punya otak itu?" Ya, Noelle memang anti sekali dengan Marcello. Wajahnya saja sudah membuat orang enggan untuk memandangnya. Tampan memang, tetapi sikap arogannya itu yang membuat Noelle tidak berselera.


Saat semua teriakan terfokus pada sepasang pengantin yang tengah bersiap, Noelle dan Alan akhirnya ikut fokus juga. Sebenarnya tidak ada tujuan sama sekali untuk ikut hal segila ini. Mengingat dia juga masih singel. Setidaknya harapan untuk lekas menemukan tambatan hatinya semakin jelas.


"Satu, dua, tiga!" Teriakan beberapa orang untuk memberikan aba-aba supaya yang di bawah siap.


Hup!


Salah satu tangan kekar menangkap buket bunga itu hanya dengan satu kali lompatan ke atas. Sehingga membuat beberapa orang berteriak memberikan ucapan selamat.


"Wah, selamat! Sebentar lagi kamu akan menyusul ke pelaminan."


"Congratulations, Tuan. Semoga Anda lekas mengikuti jejak tuan Darrell dan istrinya."


Masih banyak lagi ucapan yang diabaikan oleh Alan. Ya, Alan yang mendapatkannya. Dia tidak mengira kalau ini merupakan buket bunga pertama sepanjang kehidupannya. Dia berniat memberikan buket itu pada Noelle.


"Ini buatmu saja!" Alan mengulurkan tangannya bersamaan dengan buket bunga tersebut.


"Ogah! Kamu yang sudah mendapatkannya. Harusnya itu buat kamu, bukan buat aku," tolak Noelle.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu lebih baik aku buang saja." Alan beranjak menuju tong sampah yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya.


"Eh, eh, tunggu! Sayang sekali. Itu kan keberkahan yang kamu terima. Siapa tahu setelah ini kamu akan menikah. Jangan dibuang!" Noelle sengaja melarangnya. Lagi pula keberkahan seperti itu harusnya disimpan atau diletakkan dulu di meja. Setelah acara usai, bisa diambil lagi. Bisa juga dititipkan pada seseorang yang mungkin dikenalnya.


"Kalau begitu, ambil saja!" Alan menyerahkan buket bunga itu ke tangan Noelle kemudian melenggang pergi.


Noelle rasanya ingin mengumpat kasar. Beruntung alunan musik dansa sudah memecahkan suasananya sehingga mau tidak mau Noelle harus menitipkan buket bunga tersebut kepada salah seorang penjaga foodtruck yang baik hati.


"Terima kasih sudah mau aku titipi buket bunga ini," ucap Noelle.


"Sama-sama, Nona! Silakan lanjutkan pesta Anda."


Noelle menepi. Sementara sepasang pengantin baru itu lantas turun dari pelaminan untuk memulai pesta dansanya.


"Darrell, apa kau yakin? Aku sungguh tidak bisa berdansa," ucap Sharron.


"Letakkan salah satu tanganmu di pundakku," perintah Darrell. "Selanjutnya akan menjadi urusanku."


Darrell pun lantas menarik salah satu tangan Sharron kemudian meluruskannya ke depan seirama dengan tangannya. Kedua tangan itu saling tertaut sehingga salah satu tangan Darrell akan memegang pinggang Sharron. Alunan musik mulai mengiringinya. Sesekali Sharron tak sengaja menginjak kaki pasangan dansanya.


Semula Sharron berpasangan dengan Darrell kemudian beralih pada Alan. Pria itu sangat menjengkelkan. Bukannya mau mengajari berdansa yang benar, dia malah berceramah sesuka jidatnya.


"Nona, Anda harus banyak-banyak latihan dansa. Klien tuan Darrell banyak. Sewaktu-waktu Anda akan diminta berdansa tanpa pemberitahuan. Kalau Anda tidak bisa, mau ditaruh mana muka pebisnis hebat seperti tuan Darrell," ucap Alan.


"Alan, kau cerewet sekali! Kau harus mencoba berdansa dengan Noelle. Dia sangat jago. Kau akan diputar-putar olehnya," ancam Sharron.


Darrell mendapatkan pasangan mamanya. Wanita paruh baya itu masih sanggup melenggang ke sana kemari dengan indahnya. Bisa dikatakan bahwa di masa mudanya Allegra adalah seorang penari.


"Mama masih bersemangat seperti ini," puji Darrell.


"Iya, Darrell. Dulu, Mama selalu menjuarai kontes dansa yang diselenggarakan oleh kampus. Semenjak saat itu, karier mama di dunia menari semakin meningkat. Hanya saja sekarang sudah tua. Mama harap salah satu anakmu nanti yang akan meneruskan jiwa seni Mama," balasnya.


Noelle pertama kali mendapatkan tuan Javer. Pria paruh baya dan gadis muda itu sepertinya tidak seimbang. Noelle sebenarnya bisa bergerak dengan lincah, tetapi terhalang oleh pergerakan pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa mengimbangi gaya berdansamu, Nak," ucap Javer.


"Tidak masalah, Om. Aku yang akan jalan pelan-pelan saja mengikuti gerakan Om," balas Noelle.


"Sudah lama mengenal Sharron?" tanya Javer lagi. Dia masih teringat ucapan istrinya mengenai tes DNA. Bisa saja Sharron itu adalah putrinya, tetapi dari segi fisik tidak terlihat kemiripan sama sekali.


"Lama, Om. Lebih tepatnya semenjak kami sama-sama remaja. Sejak saat itu, kami memutuskan untuk tinggal bersama dan saling mendukung."


"Memangnya kamu asli Meksiko?" tanya Javer penasaran. Dari segi wajah yang terlihat mulus seperti dari keturunan dua negara yang berbeda.


"Tidak tahu, Om. Asal-usul kami sama-sama tidak jelas. Oh ya, Om, sebelumnya aku minta maaf. Sebaiknya malam ini kita nikmati pestanya saja. Sejujurnya aku malas mengingat masa lalu," ucap Noelle.


Berpindah ke Sharron yang saat ini berdansa dengan Marcello. Pria ini mencuri kesempatan supaya bisa berdansa dengan wanita yang sudah mengisi relung hatinya. Sayang, selalu didahului oleh Darrell. Seolah semesta mempermainkan perasaannya.


"Kau mencintai Darrell, Sharron?" tanya Marcello.


Tatapan mata tidak suka terpancar jelas di mata Darrell. Ingin menghentikan pesta dansa ini rasanya tidak enak dengan para tamu undangan yang sedang menikmatinya.


"Tentu. Kenapa?" jawab Sharron ketus.


"Kalau kau bosan dengannya, datanglah padaku!" ucap Marcello.


Bagi Sharron, pria di hadapannya ini sungguh tidak tahu malu sama sekali. Sepertinya tidak memiliki niat untuk mencari gadis atau wanita singel di luaran sana.


Sharron mencoba mendorong Marcello agar terlepas dari modus berdansa dari pria itu. Nyatanya Marcello malah mengeratkan pegangannya kemudian menarik Sharron sedikit maju. Posisinya saat ini sangat dekat sekali. Hanya beberapa centimeter saja keduanya saling berhadapan.


"Jaga sikapmu, Tuan! Kalau kau tidak ingin dipermalukan, lebih baik lepaskan aku." Sharron mencoba meronta dari jeratan pria gila di hadapannya.


Noelle yang seolah paham situasinya kemudian bertukar pasangan. Noelle dengan Marcello, sedangkan Sharron dengan tuan Javer. Suasana pesta semakin semarak manakala Noelle membuat Marcello kelabakan untuk mengikuti kelincahan wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Jangan hanya bisa menggoda istri orang! ****** di luaran sana masih banyak. Mengapa harus milik orang lain?" cibir Noelle.


"Kenapa kamu yang marah? Sharron saja tidak masalah," balas Marcello dengan sengit pula.

__ADS_1


"Kamu pikir aku buta, hah? Sebagai sahabatnya aku tidak terima dengan perlakuanmu barusan. Dia merasa tidak nyaman berdansa denganmu. Sekali lagi kamu mencoba mendekatinya, aku tidak akan tinggal diam," ancam Noelle.


Pesta dansa itu akan berlanjut sampai dini hari karena beberapa dari mereka masih ada yang menikmati pesta ini. Beberapa dari mereka ada yang menikmati wine, alkohol, dan minuman non alkohol lainnya.


__ADS_2