Belenggu Cinta Hot Daddy

Belenggu Cinta Hot Daddy
Bab 87. Aroma Tubuh yang Sama


__ADS_3

Sharron menyiapkan segala keperluan suaminya untuk pergi ke kantor hari ini. Dia ingin menemui Noelle dan mengajak wanita itu jalan-jalan.


"Sayang, aku mau pergi ke tempat Noelle. Dari semalam ponselnya tidak bisa dihubungi. Aku khawatir padanya. Tidak biasa dia seperti ini." Sharron menyiapkan sarapan pagi.


Darrell menunggunya di meja makan sesekali melihat ke ponselnya. Dia juga sedang menunggu kabar dari Alan.


"Sayang, kamu mendengarkan aku atau tidak? Dari tadi kamu sibuk terus melihat ponsel. Ada apa?"


"Ah, tidak. Aku hanya menunggu pesan dari Alan."


"Oh, ya ampun. Bahkan Alan lebih menarik daripada aku. Apakah ada sesuatu yang penting? Hingga kamu terlalu fokus padanya?"


"Urusan pekerjaan, Sayang. Kamu jangan terlalu berlebihan seperti itu. Kurasa kamu paham kan maksudku?"


Ya, Sharron tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan Darrell terlalu jauh. Yang terpenting baginya adalah semua kebutuhan terpenuhi.


"Ya, baiklah. Selesaikan sarapanmu. Aku akan bersiap." Sharron kembali ke kamar.


Darrell akhirnya mendapatkan pesan dari Alan, tetapi dia sedikit kecewa karena Noelle belum bisa mendapatkan informasi mengenai hubungan Blair dengan Samuel Alexander.


Tuan, aku mau minta maaf. Noelle belum mendapatkan informasinya. Tapi, Anda tidak perlu khawatir. Dia akan masuk ke kehidupan tuan Blair. Anda jangan khawatir.


Seketika Darrell memiliki tujuan lain. Sementara Noelle mencari informasi mengenai Samuel, Alan harus mencari keberadaan Maggia. Secepatnya Darrell mengirimkan pesan balasan pada Alan.


Tidak masalah. Fokuskan pencarianmu pada Maggia. Aku ingin informasi secepatnya.


Darrell merasa lega. Setidaknya niatnya untuk menemukan adiknya semakin dekat. Bagaimana kalau adiknya itu hidup berkesusahan? Bayangan itu terus menghantuinya hingga panggilan Sharron tidak terdengar jelas.


"Sayang, hei." Sharron memegang pundak suaminya hingga Darrell menoleh padanya. "Apa yang kamu pikirkan?"


"Maaf, aku sedang memikirkan Maggia."


Mau bagaimana lagi. Memangnya kenyataannya seperti itu.


"Selesaikan sarapanmu. Aku harus pergi ke tempat Noelle sekarang," pamit Sharron kemudian mengecup pipi suaminya. "Aku akan pulang cepat, jangan khawatir!"


"Baiklah. Hati-hati di jalan."


Sharron tak sabar untuk menemui sahabatnya itu. Gegas dia memesan taksi sembari berjalan keluar dari apartemen. Sempat berpapasan juga dengan Alan di lorong yang mendekati unit Alan. Sharron sengaja tidak melewati lift karena terlalu buru-buru. Selain itu tujuannya supaya bertemu dengan Alan.

__ADS_1


"Hai, Alan!" sapa Sharron.


"Selamat pagi, Nyonya! Anda terlihat buru-buru sekali," balas Alan.


"Iya, aku mau menemui Noelle. Dari semalam ponselnya tidak aktif. Aku jadi khawatir."


Deg!


Tidak aktif? Baru saja dia mengirimkan pesan padaku. Mungkin saja Nyonya Sharron tidak mengeceknya lagi.


"Ah, iya. Hati-hati di jalan, Nyonya."


"Alan, kau jangan terlalu dekat dengan suamiku. Dia cemas memikirkanmu. Atau, jangan-jangan kalian menjalin hubungan terlarang?" tuduh Sharron.


What? Yang benar saja. Sharron selalu mengada-ada hal yang tidak penting. Mana mungkin antara bos dan asisten memiliki hubungan seperti itu. Istrinya saja yang tidak menyadari bagaimana perjuangan suaminya untuk menemukan keluarga besarnya.


"Mana mungkin aku berani menyaingi Anda, Nyonya."


Jawaban Alan seolah menantangnya, tapi sudahlah. Lebih baik Sharron lekas menuju gerbang kemudian menanti taksi di sana. Hari ini suasana hatinya sedang baik. Dia malas menanggapi godaan Alan lebih tepatnya.


...****************...


Setelah menerima pesan dari Alan, Noelle buru-buru pulang ke apartemen. Jangan sampai Sharron lebih dulu tiba di sana. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia sudah mulai menjalani aktivitasnya sebagai seorang sugar baby. Lagi pula Blair berencana menjadikan dirinya sebagai asisten pribadi.


Sharron baru saja sampai. Dia mengira kalau Noelle sedang tidur sehingga dia menekan bel berulang kali.


"Pasti masih bermalas-malasan. Heran sama Noelle. Biasanya tidak seperti ini. Mengapa dia jadi pemalas sekali. Mungkin benar, pekerjaan juga penting. Aku harus segera merayunya untuk membuat surat lamaran pekerjaan. Alan benar-benar lelet sekali," gerutunya sembari menunggu pintu di buka.


Bel keempat, barulah empunya apartemen keluar dengan penampilan yang masih berantakan. Baju tidurnya yang lumayan kusut dan rambut acak-acakan.


"Noelle, kamu kenapa seperti ini? Apakah tempat tidurmu telah terjadi peperangan?" canda Sharron.


"Maaf, aku ketiduran. Aku ngantuk sekali. Semalaman aku begadang," ucapnya beralasan.


"Kau begadang dan ponselmu tidak aktif? Aku sangat khawatir padamu. Aku takut terjadi sesuatu, makanya aku ke sini." Sharron langsung masuk ke kamar Noelle seperti biasa.


"Iya, aku lupa. Kupikir masih penuh, pantas saja tidak ada bunyi pesan atau panggilan masuk. Baru pagi ini aku ambil charger. Aku tidur lagi. Belum sempat membalas pesan dan panggilanmu. Aku minta maaf." Noelle beranjak ke atas ranjang lagi.


Maafkan aku, Sharron. Aku terpaksa bohong padamu. Kalau aku jujur hendak mencari informasi tentang Samuel Alexander, kau pasti akan marah padaku. Beruntung Alan lekas mengabariku. Semalam aku sengaja menonaktifkan ponsel supaya tuan Blair tidak curiga.

__ADS_1


"Kau sudah sarapan?"


"Iya, aku baru saja sarapan. Kau jangan khawatir," ucap Noelle yang kemudian membungkam mulutnya.


Astaga! Kebohongan apalagi ini? Aku sudah sarapan pagi di hotel sebelum aku pulang. Kuharap Sharron tidak mencari celah.


"Kau ini lucu. Katamu baru bangun. Pasti kau sarapan dalam mimpi, yah? Tunggu di sini, aku akan membuatkanmu sarapan pagi."


Deg!


Jantung Noelle rasanya hendak copot. Baru kali ini dia harus berbohong dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Kebohongan beruntun. Rasanya tidak tega, tetapi mau bagaimana lagi.


Sharron lekas ke dapur menyiapkan roti dengan selainya dan segelas susu hangat. Dia mengambil nampan kemudian membawanya ke kamar. Noelle masih berada di ranjangnya.


"Kamu tidak ingin mandi dulu?" Sharron meletakkan nampan di atas meja.


"Nanti saja, aku sangat malas sekali."


"Ehm, sepertinya kamu harus bekerja di kantor suamiku. Kurasa aku harus bicara dengan Darrell daripada menunggu Alan terlalu lama," ucap Sharron yakin.


"Ti-tidak perlu, Sharron. Aku akan mencari pekerjaan di tempat lain saja. Kau tahu kan kalau aku sensitif sekali pada Alan. Ya, you know lah dia bagaimana. Iya, kan?"


Memang benar kalau Alan dan Noelle itu sering kali tidak sinkron. Ada saja yang diributkan. Kali ini Sharron setuju dengan pilihan sahabatnya.


"Ya, baiklah. Aku tidak mau terjadi keributan di kantor suamiku," candanya. "Noelle, aku ke kamar mandi sebentar, ya. Aku pingin buang air kecil, nih."


"Hemm, masuk saja. Seperti di apartemen siapa saja," jawab Noelle.


Sharron lekas masuk ke kamar mandi. Biasanya dia bukan tipe wanita yang terlalu peduli dengan keadaan sekitarnya, tetapi pandangannya terkunci pada tumpukan baju yang tidak semestinya. Ya, baju kotor Noelle yang diletakkan sembarang tempat. Terlihat sangat terburu-buru meletakkannya. Sharron mengambilnya kemudian tercium sesuatu yang tidak asing di hidungnya.


Mengapa aroma ini sama dengan yang menempel pada tubuh suamiku? Apa semalam mereka pergi berdua tanpa sepengetahuanku? Mengapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini?


Sesuai mendapati bukti seperti itu, Sharron mencoba berdamai dengan keadaan. Mungkin saja hanya kebetulan. Namun, ingin rasanya menanyakan langsung pada Noelle jadi tak enak hati.


"Sudah?" tanya Noelle saat melihat sikap Sharron yang mendadak berubah aneh seperti itu.


"Ah, iya, sudah. Maaf, aku terlalu banyak pikiran," ucapnya kemudian duduk di sofa. Rasanya Sharron ingin menanyakan perihal baju yang tergeletak begitu saja, tetapi Sharron mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanya kebetulan. Noelle tidak mungkin berbuat sesuatu di belakangnya.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren sahabat Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️



__ADS_2