
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu aku pamit ke kantor. Ada meeting siang ini. Selamat bersenang-senang, Tuan. Jangan lupa pesan dari Nyonya Callie!" Sebelum pergi, Alan berusaha mengingatkan kembali perihal pesan wanita itu. Kalau tidak, Callie bisa mengomel padanya.
"Terima kasih, Alan."
Darrell menuju meja makan. Dia mengeluarkan semua makanan kemudian menatanya. Ini hal yang sangat langka sekali. Dia belum pernah sama sekali melakukan rutinitas aneh seperti ini.
"Dad, aku bantu, ya?" Sharron melihat Darrell yang begitu kaku.
"Tidak. Biarkan aku saja."
"Dad, kau tidak biasa melakukan pekerjaan rumah tangga?" tanya Sharron.
"Memangnya kenapa?"
"Sangat kaku! Daddy duduk saja. Biar aku yang menyiapkan."
Memang benar. Darrell mundur kemudian membiarkan Sharron menyelesaikan sisanya. Tak butuh waktu lama, semua sudah siap di piring hidangnya.
"Selesai, Dad."
Tanpa banyak bicara, keduanya menikmati sarapan pagi dengan tenang. Makanan yang dipesan Darrell memang dari restoran yang menyajikan menu-menu spesial yang harganya sangat mahal.
Teh hangat yang disiapkan Sharron menjadi penutup sarapan paginya. Seperti biasa Sharron selalu membersihkan piring dan cangkir di wastafel. Kali ini Darrell tidak bersikap seperti sebelumnya. Dia masih duduk di meja makan.
"Baby, hari ini apa yang akan kita lakukan?" Darrell bingung. Ini pertama kalinya berduaan dengan gadis muda di apartemennya. Biasanya dia selalu berada di ruang kerjanya ketika berada di mansion. Jarang sekali dia bercengkrama dengan Callie.
"Entahlah, Dad. Biasanya aku memegang laptop untuk mencari lowongan pekerjaan," jawabnya.
"Memangnya kenapa kamu baru mencari pekerjaan?" Yang Darrell tahu kalau gadis-gadis seusianya pasti sudah bekerja ataupun sedang bekerja.
"Aku pengangguran, Dad. Beberapa bulan yang lalu aku resign dari toko roti. Setelah itu, aku belum mendapatkan pekerjaan sama sekali," jelas Sharron.
"Kenapa? Kau malas mencari lowongan pekerjaan atau apa?" tanya Darrell.
__ADS_1
"Tidak! Beberapa kali aku bekerja, kemudian aku keluar lagi. Mereka memperlakukan aku sangat kurang ajar. Itulah sebabnya selama beberapa bulan terakhir ini hidupku bergantung pada Noelle," jelasnya.
Kenyataannya memang Sharron pernah mencoba menjadi seorang model, tetapi agensi yang membawanya malah memintanya untuk menjadi model dewasa. Sharron tidak mau.
"Mengapa kamu memutuskan menjadi Sugar Baby-ku? Apa kamu tidak takut kalau aku akan membuatmu menjadi budak pemuasku?" tanya Darrell sedikit menekankan kata pemuas.
"Bukankah dari awal aku ingin mundur, tetapi Daddy sudah memaksaku untuk tetap melanjutkan hubungan ini?"
Ya, Sharron benar. Alasan utamanya adalah Darrell sudah tertarik padanya sejak awal pertemuan mereka.
"Baiklah. Lupakan apapun yang kutanyakan barusan. Sebaiknya kita pergi menonton atau kau mau ke mana?"
"Aku tidak ingin ke manapun, Dad. Aku hanya rindu berenang."
"Baiklah. Aku akan meminta Alan untuk memesankan hotel yang tak jauh dari apartemen ini. Kita akan menginap selama dua hari di sana."
"Mengapa harus Alan, Dad? Biar aku saja yang memesannya. Jangan menunggu Alan. Kasihan dia," tolak Sharron.
Hanya beberapa menit sampai pesanannya terkonfirmasi. Hotel yang tak jauh dari apartemennya, tetapi memiliki tempat yang menyediakan kolam pribadi. Sebuah kolam yang hanya terhubung dengan kamar yang dipesannya saja. Sungguh sangat privat sekali.
"Dad, kita mampir membeli sesuatu , ya?" ajak Sharron.
"Memangnya kamu mau beli apa?"
Sebenarnya sedikit malu untuk mengatakan, tetapi bagaimanapun itu memang digunakan untuk berenang. Tidak mungkin Sharron akan memakai kaos dan hot pants favoritnya.
"Nanti kau akan tahu sendiri, Dad," balas Sharron.
...***...
Kamar hotel yang dipesan Sharron memang sangat menarik. Darrell yang merekomendasikan hotel ini untuk dua hari ke depan. Dia juga membayar menggunakan debit card yang diberikan Darrell. Sebelum sampai di sini, Sharron mampir ke sebuah toko yang menjual perlengkapan renang. Ya, dia membeli sesuatu di sana.
Siang ini di kamar hotel, Sharron membuka beberapa perlengkapannya. Tak lupa dia membelikan celana renang untuk Darrell.
__ADS_1
"Dad, aku membelikanmu ini." Sharron menyodorkan paper bag.
Darrell membukanya kemudian mengamati apa yang didapatkan dari sugar babynya itu.
"Celana renang? Kau ingin aku memakai ini?" tanya Darrell.
"Tentu, Dad. Memangnya kenapa? Daddy tidak suka?"
"Bukan itu, Sharron. Ini pertama kalinya aku akan berenang. Selama beberapa tahun menikah dengan Callie, aku belum pernah merasakan sesuatu yang berbeda. Aku bisa sebahagia ini mendapat hadiah kecil seperti ini. Ini luar biasa, Sharron. Terima kasih." Ucapan terima kasih yang diberikan Darrell tidak hanya di mulut saja, tetapi dia juga memberikan pelukan hangat kemudian mengecup sejenak kening gadisnya.
"Kau terlalu berlebihan, Dad! Bagaimana kalau aku tidak mampu berpisah darimu suatu hari nanti? Apa kamu akan bertahan atau meninggalkan aku begitu saja demi Callie, istrimu itu?"
"Kita lihat saja nanti, Baby. Aku tahu ini sangat rumit. Aku berusaha untuk tidak bertindak terlalu berlebihan padamu. Kau juga tahu kan kalau pernikahanku dengan Callie tidak akan bisa diakhiri? Kami terikat pernikahan sekali seumur hidup. Kalaupun aku bersamamu, kamu hanya akan menjadi wanita simpanan saja. Apa kamu sanggup?"
Mungkin tidak sekarang. Perlakuan Darrell padanya jelas bisa membuat Sharron jatuh cinta. Terkadang dia dingin, tetapi pada Sharron sungguh berbeda. Sikapnya hangat sekali.
"Bersiaplah! Pihak hotel sudah menyediakan makan siang di sana," ucap Darrell.
"Baiklah."
Sharron pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan bikini yang sudah dibelinya. Dia memandangi tubuhnya di cermin. Sungguh, ini terlalu terbuka. Bagaimana kalau Darrell melakukannya di kolam renang? Tidak menutup kemungkinan pria itu akan tergoda dengan penampilannya sekarang.
Kamar sudah kosong ketika Sharron keluar. Dia menutupi bikininya dengan bathrobe. Dia menuju ke kolam renang tepat di luar kamarnya. Ini sungguh pemandangan menarik. Darrell sudah masuk ke dalam kolam lebih dulu.
"Ayo turunlah! Kau mau berenang atau apa? Kenapa pakai bathrobe seperti itu?" tanya Darrell. Dia tahu kalau Sharron bukanlah gadis bodoh yang tidak mengerti kalau berenang itu menggunakan apa. Dia gadis modern, tentu saja tidak akan mengecewakan Darrell.
Sharron tidak menjawab. Perlahan dia mulai membuka bathrobe-nya. Sebenarnya dia merasa malu sekali harus menggunakan bikini seperti ini di hadapan Darrell. Sementara pria itu tidak berkedip sekali menatap tubuh seksi makhluk indah di hadapannya. Susah payah Darrell menelan salivanya. Andaikan dia tidak berjanji pada dirinya sendiri untuk melakukannya saat saling mencintai. Mungkin saat ini dia akan menerkam Sharron dengan cepat.
Darrell mengulurkan tangannya berniat untuk membantu Sharron masuk ke dalam kolam renang. Sharron menerima tangan itu kemudian perlahan turun dan byur. Suara gemericik kolam renang mendadak mulai bergelombang karena ada dua insan yang berada di dalamnya.
"Dingin?" tanya Darrell.
"Tidak, Dad. Ini biasa untukku," jawab Sharron.
__ADS_1
Wajah Sharron yang terkena cipratan sedikit air kolam membuatnya semakin menarik di hadapan Darrell. Dia berusaha menahan untuk tidak mencium bibir Sharron yang mulai menjadi candu baginya. Sementara waktu, dia membiarkan Sharron bergerak ke sana ke mari. Sharron sungguh menikmati berenangnya kali ini.