
Susah payah Darrell mencari keberadaan Sharron. Beberapa kenalannya di dunia permodelan sudah ditanyai, namun tak satupun yang tahu keberadaan Sharron.
Desas-desus mengenai kabar model baru yang terkenal di Austria sampai juga ke telinganya. Model itu bisa masuk tidak hanya kecantikannya, tetapi juga pemikiran yang membuat semua orang terpikat atas kepintarannya. Dia bahkan masuk melalui tahap seleksi yang ketat. Jadi, bukan model yang mengandalkan seseorang untuk menjadikannya dia seorang model.
"Hanya ada satu model yang mungkin menarik Anda, Tuan," ucap salah satu agensi yang ditemuinya.
"Di mana?" tanya Darrell.
"Austria. Namanya Alexandria. Dia menjadi model junior yang terkenal di sana," jelas agensi tersebut.
Setelah mendapatkan alamat lengkap, Darrell kemudian mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sana. Setelah pulang dari Meksiko, dia memutuskan kembali ke Italia sampai pada akhirnya dia harus terbang menuju Austria.
Besar harapan yang ingin dicapainya di sana. Bertemu dengan model Alexandria yang fotonya sudah tersebar di mana-mana. Darrell menyadari bahwa model Alexandria ini adalah Sharron, sugar babynya beberapa bulan yang lalu.
"Kau sudah berhasil, Sharron," ucap Darrell saat berada di dalam taksi menuju ke hotelnya.
Darrell tidak bisa menemui Sharron secara langsung. Dia harus menunggu pagelaran model yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Saat ini, wanita itu pasti sedang dijaga oleh banyak bodyguard.
...****************...
Seminggu kemudian, di sebuah pusat perbelanjaan sedang diadakan fashion show untuk memamerkan gaun-gaun pesta. Mulai dari gaun pesta yang tertutup, sampai yang menampilkan lekuk indah tubuh sang model terpampang nyata di sana. Tidak hanya satu atau dua model yang akan ikut, tetapi banyak model ternama yang ikut meramaikan. Salah satunya model Alexandria yang dinantikan oleh banyak orang di sana.
Darrell pun ikut menyaksikan demi bertemu dengan wanita yang diharapkan kehadirannya saat ini. Tidak banyak yang mengenal Darrell karena dia berpenampilan biasa saja layaknya penggemar model.
Saat acara sudah di mulai, satu persatu model sudah ditampilkan. Sampai pada inti acara yaitu kehadiran model Alexandria. Dia terlihat cantik dengan gaun malamnya yang begitu indah. Tidak menampilkan lekuk tubuhnya, tetapi gaun transparan itu memperlihatkan bagaimana keindahan tubuhnya.
Rasanya Darrell ingin menarik tangan wanita itu, kemudian merengkuhnya di dalam pelukan hangatnya. Dia memang Sharron sehingga membuat Darrell tidak sabar menunggu wanita itu turun dari catwalk.
Banyak pria yang melihat fashion show itu sehingga hati Darrell semakin berdesir. Ada rasa cemburu karena tubuh Sharron dinikmati banyak pasang mata.
Tepukan tangan bergemuruh di pusat perbelanjaan tersebut. Walaupun tidak semua orang bisa masuk, nyatanya banyak orang yang ingin menikmati acara ini.
__ADS_1
Darrell tak kehilangan akal. Dia menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan Alexandria demi untuk membicarakan pekerjaan baru. Awalnya manager yang menangani Alexandria tidak percaya, tetapi kemudian Darrell memberikan kartu nama perusahaan besar Wesley Corporation yang berada di Meksiko, barulah manager tersebut setuju.
Kita akan bertemu lagi, Sayang. Kau pikir aku akan membiarkanmu terus terjerembab di dalam dunia seperti ini? Tidak akan kubiarkan.
......................
Alexandria saat ini berada di ruang make up. Acara sudah selesai, tetapi managernya mengatakan kalau ada tamu untuknya yang akan membicarakan kerjasama selanjutnya. Alexandria tidak curiga bahwa sebentar lagi dia akan bertemu dengan pria di masa lalunya.
"Siapa?" tanya Alexandria.
"CEO perusahaan besar. Tunggu saja! Dia mau menawarkan kerjasama padamu."
"Baiklah. Aku akan menunggunya di sini."
Sembari membersihkan make up-nya, Alexandria sesekali melirik ponselnya. Dia berharap mendapatkan pesan dari seseorang yang diharapkan beberapa hari ini.
"Oh ayolah, Sayang. Kau terlalu sibuk dengan pria-priamu itu. Kau pasti sudah melupakan sahabatmu ini," gerutunya. Ya, Alexandria mengharapkan kiriman pesan dari Noelle, sahabatnya. Bagaimanapun wanita itu sangat berjasa pada dirinya.
"Kau puas, Sayang?" Suara pria itu langsung menusuk ke hati Alexandria.
"Kau?" Sharron menengok ke sumber suara. Dia langsung bisa mengenalinya. "Untuk apa ke sini? Hubungan kita sudah berakhir, Tuan. Aku ingin hidup normal!"
Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu saat Darrell mengendalikan dirinya. Sekarang tidak lagi. Kehidupan barunya jauh lebih berharga daripada menggenang masa lalunya.
"Bisa kita bicara di luar? Maksudku, kita bicara sambil minum kopi. Bagaimana?" Darrell merasa tidak nyaman berbicara di tempat kerja Sharron.
"Tidak! Aku masih ada pekerjaan lagi," tolak Sharron. Dia berusaha mengkondisikan perasaannya selama ini. Dia juga hampir berhasil melupakan Darrell, tetapi hari ini, jantungnya tidak bisa diajak berkompromi. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat dari biasanya. Semakin lama dekat dengan Darrell, bisa-bisa dia harus ke rumah sakit untuk melihat kondisi jantungnya.
"Lupakan pekerjaanmu! Aku akan membayarnya lebih dari gaji yang kau dapatkan." Darrell memberikan penawaran.
"Ck, memangnya Anda siapa? Berani-beraninya mengatur kehidupanku."
__ADS_1
"Kekasihmu!"
Sharron tertawa. "Mimpi Anda terlalu ketinggian, Tuan. Sebaiknya Anda pergi sekarang atau aku akan memanggil para bodyguard-ku," ancam Sharron.
Darrell merasa kewalahan untuk menaklukkan Sharron. Dia terlihat semakin liar di matanya. Memang salahnya juga kalau melepaskan gadis itu begitu saja. Tanpa banyak pikir panjang, Darrell mendekatinya kemudian memberikan ciuman yang selama ini dia rindukan.
Semula Sharron memberontak, namun makin lama Darrell menggigit bibir bawah gadis itu sehingga Sharron mau tidak mau harus membuka mulutnya. Darrell pun menarik tengkuknya supaya ciuman ini semakin dalam.
Sikap liar yang ditunjukkan Sharron membuat Darrell semakin bergairah. Hingga Sharron terlihat kehabisan napas karena serangan Darrell yang bertubi-tubi.
Plak!
Sebuah tamparan berhasil mendarat sempurna di pipi Darrell seusai mencium gadis itu. Sepertinya Sharron merasa tidak suka karena kehadirannya.
"Kenapa kau menamparku? Bukankah ini yang kau inginkan, Sharron?" cibir Darrell.
"Itu yang pantas kau dapatkan, Tuan. Dasar pria beristri yang tidak tahu aturan!" sentak Sharron.
Untung saja suasana ruangan hanya ada mereka berdua. Kalau sampai orang lain tahu bahwa orang sekaya Darrell Wesley tersebut dipermalukan seperti itu, akan menjadi seperti apa nantinya?
"Sharron, dengarkan aku! Jangan pernah sedikitpun menyela ucapanku kali ini. Dengarkan!"
Darrell menceritakan semua yang terjadi termasuk kehilangan Callie, istrinya. Dia juga mendadak pindah ke Italia karena dibawa orang tuanya.
"Kau pikir aku percaya semua bualanmu itu, Tuan? Maaf, sebaiknya kamu pergi sekarang. Jam kerjaku sudah tiba." Sharron menunjukkan pintu keluar padanya.
"Sharron, kalau kau mau bukti, temui aku di Meksiko. Pemakaman X minggu depan."
"Aku tidak akan pergi ke sana. Aku juga tidak percaya dengan semua ucapanmu, Tuan. Lupakan aku dan kembalilah pada istrimu!"
Sharron sudah cukup sakit hati kala itu. Walaupun dia hampir mempercayainya karena perasaannya pada Darrell tidak pernah berubah, tetapi mendadak pria itu datang membuat pikirannya semakin tidak menentu. Rasa cinta dan kebenciannya pada Darrell berjalan seirama sehingga sulit bagi Sharron menerima pria itu begitu saja.
__ADS_1