
Malam ini merupakan malam pertama sepasang suami istri yang baru saja disahkan pernikahannya. Darrell tanpa malu-malu langsung menggendong istrinya di hadapan banyak orang sehingga beberapa dari mereka lantas menggodanya.
"Kalian sudah tidak sabaran, ya," canda Allegra.
"Mama! Aku hanya kasihan kalau Sharron kecapekan," ucap Darrell beralasan.
Sharron yang sudah berada di gendongan suaminya merasa malu karena ulah pria yang satu ini.
"Turunkan aku!" ucap Sharron.
"Kenapa buru-buru sekali? Kamu sudah tidak sabaran yah untuk bermain-main denganku?" goda Darrell.
"Ish, aku lelah, Darrell. Aku mau mandi dulu. Rasanya badanku lengket semua."
"Hemm, paham. Kau terlalu serius berdansa dengan Marcello," tuduh Darrell.
"Tidak! Justru aku mual dengan kedatangannya. Mengapa makhluk itu datang lagi ke sini? Kukira setelah pertunangan tempo hari dia tidak akan datang."
"Dia pasti selalu datang sampai apa yang diinginkan tercapai. Tapi, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu menjagamu."
"Sudahlah. Lupakan tentangnya. Bantu aku melepaskan gaunku ini!" pinta Sharron.
Darrell dengan cekatan membantunya. Ini bukan pertama kali, jadi Darrell sudah terbiasa melihat punggung mulus Sharron.
"Pergilah mandi. Kurasa kau butuh menyegarkan diri," ucap Darrell setelah berhasil membuka gaun Sharron.
"Kau tidak menginginkan malam pertama kita?" tanya Sharron malu-malu.
"Tidak. Malam ini aku sangat lelah. Tapi, aku mempunyai rencana lain untuk menikmati malam panas kita," ucap Darrell penuh keyakinan.
"Katamu tidak mau melakukannya, tetapi mengatakan ini malam panas. Memangnya apa rencanamu?" Sharron memajukan posisi tubuhnya di hadapan Darrell. Pria itu lantas menghirup aroma tubuh Sharron, tubuh Darrell berdesir. Dia harus menahan hasratnya malam ini.
"Jangan coba-coba menggodaku dengan tubuhmu yang berkeringat itu!" tegur Darrell.
"Ish, kau selalu menjaga image terlalu tinggi. Biasanya saja mau aku mandi atau tidak, kau juga tidak peduli. Dasar pria aneh!" Sharron lantas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kamar pengantin yang sudah dihiasi bunga sedemikian indahnya nyatanya tidak akan menjadi malam yang penuh gairah. Hanya malam panas yang tidak bisa dipahami Sharron maksud dan tujuannya.
__ADS_1
Setelah dari kamar mandi, Sharron sudah bersih dan wangi. Ini pertama kalinya dia mandi dini hari. Bukan lagi malam pertama yang dia dapatkan melainkan pengalaman mandi yang mengerikan. Ada air hangat memang, tetapi Sharron sangat malas karena mengantuk. Sehingga dia hanya fokus dengan shower air dingin yang diputarnya supaya dia cepat keluar dari sana.
"Mandimu cepat sekali," cibir Darrell.
"Aku hanya mendinginkan otakku yang membara," jawabnya asal.
"Jadi, apa yang kau bayangkan dengan malam panas yang kumaksud?" tanya Darrell. Dia sebenarnya sudah melepaskan baju atasnya sehingga terpampang body sixpack-nya.
Ranjang pengantin belum tersentuh sama sekali. Entah, apa yang sengaja dibuktikan pada Sharron untuk tidak naik ke atas ranjang.
Sharron yang merasa mendapatkan kesempatan emas ini lantas menaikkan salah satu kakinya ke atas sofa sehingga terpampang satu paha mulusnya.
"Bayanganku, kau akan menyentuhku dan membuat suaraku semakin indah di dalam kamar pengantin ini," ucap Sharron dengan suara yang dibuat mendayu seolah merayu.
"Terlalu percaya diri! Tunggulah aku kembali."
Uhuk!
Tentu saja Sharron merasa malu. Ternyata Darrell malam ini tidak melakukan tugasnya sebagai suami. Nyatanya dia malah memberikan teka-teki padanya. Sharron memilih duduk di sofa.
Ketakutannya tidak beralasan. Selama ini Darrell adalah pria yang baik. Dia juga bukan pemaksa ataupun pria kejam.
"Ikut aku!" ajak Darrell.
Sharron menurut saja. Darrell mengajak keluar kamar menuju ke sebuah ruangan yang belum pernah dimasuki Sharron. Sebuah ruangan yang semula gelap, mendadak terang benderang karena Darrell menyalakan lampunya.
"Kado?"
Darrell mengangguk. Malam ini dia dan Sharron harus membuka seluruh kado ini. Lusa mereka akan kembali ke Meksiko. Ada waktu satu hari untuk menikmati suasana mansion keluarganya.
"Ya, kita harus membukanya." Darrell menutup pintunya kembali. "Oh ya, jangan lupa simpan perhiasan yang diberikan dari Mama pada saat pertunangan kita. Aku sudah minta tolong untuk dimasukkan ke sini semuanya."
Terlihat sangat jelas bahwa di dalam ruangan ini banyak sekali kado dari tamu undangan. Kado pertunangan yang belum sempat mereka buka pun ada di dalam sini.
"Aku tidak tahu ini kado dari siapa saja. Tugas kita malam ini harus membereskannya," ucap Darrell lagi.
Sharron pun duduk di hadapan semua kado. Dia mulai membuka satu persatu kadonya. Termasuk Darrell juga melakukan hal yang sama. Sampai detik ini tidak ada kado yang menurutnya aneh. Rata-rata mereka memberikan piring porselen, tas, dan gaun malam. Sesekali Sharron mencoba mencocokkan gaun itu dengan tubuhnya. Rata-rata ukurannya pas.
__ADS_1
"Kau sepertinya sangat menyukai gaun-gaun itu. Aku bisa membelikannya lebih banyak lagi," ucap Darrell yang masih sama fokusnya membuka semua kado.
"Ck, jangan sombong! Aku harus menghargai pemberian mereka, bukan? Sayang kalau sampai diabaikan begitu saja. Lagi pula semua gaun-gaun ini juga berkelas."
Sampailah pada sebuah kado yang menurutnya unik. Sharron pikir isinya sebuah lukisan mahal. Ternyata malah sesuatu yang mengejutkan. Sebuah kolase foto yang dipajang dalam pigora besar. Sisi kiri dan kanannya berisi dua gambar wajah yang berbeda. Bukan wajah sepasang pengantin, tetapi wajah wanita masa lalu dan masa kini seorang Darrell.
"Lukisan?" tanya Darrell saat melihat Sharron tertegun memandangi piguranya.
"Bukan. Lihat saja sendiri!"
Deg!
Rasanya Darrell ingin marah begitu saja. Pemberi kado rupanya tahu betul bagaimana membuat suasana hati penerima menjadi jungkir balik seperti ini. Jelas saja dia ingin marah. Foto sisi kiri adalah Callie dengan pose menggodanya, sedangkan di sisi kanan adalah foto Sharron ketika menjadi seorang model di Austria. Pose yang sangat berbeda.
"Ini pasti ulah Marcello!" ucap Darrell yakin. "Jujur, aku tidak pernah tahu kalau Callie menjadi seorang model seperti ini. Maksudku dengan gaya foto yang seperti ini sangat tidak masuk akal sekali."
Sharron tidak tahu kalau di bagian belakang pigura terdapat secarik kertas kecil yang berisi pesan. Darrell yang menemukannya.
"Ada pesan darinya," ucap Darrell menunjukkan secarik kertas kecil itu.
"Bukalah! Kurasa dia ingin memprovokasi dirimu, Darrell."
Gegas Darrell membuka secarik kertas itu kemudian membacanya.
Lupakan masa lalumu yang indah itu. Berjuanglah untuk masa depanmu yang penuh tantangan! Sejatinya masa depanmu adalah wanita yang patut diperjuangkan. Selamat berjuang untuk mempertahankan cintamu itu. Sejatinya bertahan tak semudah ketika kamu mendapatkan.
"Sial! Kurasa ini memang dari Marcello. Dia mengancamku seperti ini. Dia pikir akan melakukan hal yang sama padamu. Kau juga harus hati-hati. Pria gila ini semakin nekat."
Sharron sebenarnya tak mau ambil pusing. Namun, ada sesuatu yang ingin diketahui dari Darrell tentang Marcello. Mengapa pria itu selalu ingin merebut apa yang dimiliki Darrell? Adakah kisah masa lalu yang menjadikannya pemicu bergulirnya masalah ini hingga kini?
"Apakah kalian punya masa lalu yang buruk?" tanya Sharron.
Sejauh ini Darrell tidak tahu sama sekali apa tujuan Marcello. Kalaupun ada sesuatu di masa lalunya, Darrell pasti ingat. Marcello hanya orang jauh dari sahabat papanya, Javer.
"Aku tidak tahu, Sharron! Mungkin ada sepenggal kisah yang harus kuketahui."
Ya, Darrell sama sekali tidak mengetahui masalah apa yang terjadi antara Darrell dan Marcello di masa lampau. Mungkinkah ini akan membuat kehidupan rumah tangganya tidak bisa tenang?
__ADS_1