
Darrell yang baru saja pulang dari kantor kemudian merebahkan dirinya di ranjang empuk mansion. Dia mengira kalau Callie hanya menggertaknya saja. Nyatanya dia salah besar. Callie sudah pergi beberapa jam yang lalu dengan membawa beberapa koper besarnya. Informasi ini didapatkan dari pelayan mansion.
"Kau sekarang berubah, Callie. Aku masih mencintaimu sama seperti saat pertama kali kita bertemu. Nyatanya itu tidak cukup bagimu sehingga kau memaksaku untuk melakukan apa yang tidak pernah mungkin bisa kulakukan. Kau mengajariku untuk membuat dosa ternyaman dengan wanita lain yaitu Sharron. Karena ulahku juga, wanita itu sudah menjadi candu untukku."
Darrell mulai melepas jas, dasi, kemudian yang paling terakhir melepaskan kemejanya. Tinggallah celana panjangnya saja. Sebenarnya dia ingin lekas membersihkan diri, tetapi karena Callie tidak ada di mansion, Darrell sedikit bermalas-malasan.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuat Darrell beranjak dari ranjangnya. Dia terpaksa mengambil lagi kemejanya untuk dipakai supaya pelayan mansion tidak menatap tubuhnya.
Ceklek.
"Ada apa?" tanya Darrell pada pelayan yang berdiri di hadapannya.
"Apakah malam ini Tuan mau makan di mansion? Nyonya Callie berpesan untuk menanyakan karena takut kalau Tuan tidak makan."
"Siapkan secukupnya. Nyonya tidak berpesan apapun selain itu?"
"Ada, Tuan. Sebelum pergi Nyonya hanya berpesan untuk menghubunginya ketika Tuan sudah menemukan seseorang yang dimaksud."
Rupanya Callie tidak pernah menyerah. Dia terus membayangi Darrell dengan paksaan untuk mendapatkan rahim pengganti.
"Pergilah! Aku akan siap setengah jam lagi," ucap Darrell kemudian kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri sejenak.
Darrell masuk ke bathroom sejenak. Dia tidak ingin berendam melainkan mengguyur tubuhnya dengan shower. Segera setelah selesai, Darrell mengambil bathrobe-nya. Dia kemudian mengambil pakaian di lemari yang biasanya berisi baju-baju santainya. Belum sampai mengganti baju, ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari seseorang.
[Sayang, aku akan pulang seminggu lagi bersama orang tuamu. Kurasa waktunya cukup sampai kamu menemukan wanita yang tepat.]
Ternyata pesan dari Callie, istrinya. Wanita itu menjemput orang tuanya. Bagaimana kalau mereka mencurigai kondisi kesehatan Callie? Wanita itu terlalu berambisi sehingga melupakan beberapa hal kecil yang kemungkinan menimbulkan kecurigaan.
Mengabaikan pesan Callie, Darrell secepatnya mengganti baju kemudian makan malam seorang diri. Tak lupa dia juga membawa serta ponselnya ke meja makan.
Baru saja menyuap sekali makanannya, ponselnya berdering lagi. Tanda pesan masuk. Mungkin saja dari Callie sehingga Darrell mengabaikannya.
Ponselnya berbunyi untuk yang kedua kalinya membuat Darrell akhirnya menyerah untuk melihat pesan yang masuk. Kali ini sangat berbeda karena bukan pesan dari Callie melainkan dari Sharron, wanita simpanannya.
__ADS_1
[Dad, temui aku di apartemen!]
[Dad, kutunggu 15 menit lagi.]
Pesan itu yang membuat Darrell menyelesaikan makan malamnya dengan cukup singkat. Walaupun sebenarnya masih banyak makanan yang belum dihabiskan, tetapi dia buru-buru.
"Tuan, kenapa makanannya tidak dihabiskan?" tanya pelayan.
"Habiskan saja bersama yang lainnya. Aku ada kepentingan. Mungkin malam ini aku tidak akan pulang. Kalau Nyonya telepon, katakan kalau aku keluar kota ada urusan pekerjaan."
"Baik, Tuan."
Darrell kembali ke kamarnya sejenak untuk mengambil kunci mobilnya. Sebelum itu, dia mengambil jaket.
Malam belum terlalu larut. Kini Darrell sudah sampai di apartemen. Dia langsung masuk ke unit apartemen karena memiliki kartu aksesnya. Ketika sampai di ruang tamu, Darrell tidak melihat siapapun di sana. Dia langsung masuk ke dalam kamar untuk mencari keberadaannya. Nyatanya kosong.
"Kemana perginya Sharron?" tanya Darrell.
Darrell mencoba mencarinya ke kamar sebelah. Hasilnya masih sama, kosong. Mungkin saja Darrell tidak menemukan keberadaan Sharron karena kedatangannya sangat terlambat. Dia tiba dengan waktu hampir 30 menit. Daripada kesal tidak menemukannya, dia lebih memilih untuk merebahkan dirinya ke ranjang.
Semakin lama sentuhan itu semakin menuntut balasan. Akhirnya Sharron memutuskan menggigit bibir bawah Darrell sehingga membuat pria itu terbangun.
"Sharron! Kau mulai nakal, ya," tuduh Darrell.
"Salah Daddy sendiri. Aku datang, tetapi malah tidur pulas seperti itu."
"Maaf, aku sangat lelah sekali."
"Hemm, kali ini dimaafkan. Oh ya, Dad, asistenmu itu menyebalkan sekali. Aku sudah tidak mau lagi bekerja di kantor." Sharron memasang wajah yang murung sekali.
"Lalu, kamu maunya bagaimana?"
"Aku tidak akan bekerja di kantor lagi. Aku mau mencari pekerjaan lain saja, Dad," ucap Sharron.
"Hei, kenapa ngambek seperti ini?" Darrell mentoel janggut cantik Sharron.
__ADS_1
"Dad, kamu mau bantu aku menjadi model? Noelle bilang kalau aku pantas menjadi model. Apapun asalkan aku menjadi model," ucapnya.
Darrell mundur. Dia berdiri untuk membuka tirai yang menghubungkan kamarnya dengan balkon apartemen.
"Aku tidak setuju!" tolak Darrell.
"Kenapa, Dad? Aku juga tidak akan menggangu Daddy ataupun Alan. Pilihan yang baik, bukan?" Sharron terus saja memaksa.
"Memangnya kamu mau jadi model majalah dewasa? Karena hanya agensi itu yang paling mudah untuk wanita sepertimu, tetapi aku tidak suka!"
Jelas saja Darrell bisa berkata seperti itu. Beberapa waktu yang lalu sebelum bertemu dengan Sharron hari ini, Darrell mendapati bos majalah dewasa yang sedang mencari model. Penawarannya sangat menarik. Bayarannya tinggi asalkan mau bergaya tanpa busana. Ini benar-benar gila dan Darrell tidak akan setuju.
"Dad, aku bersedia!" ucap Sharron yakin. Toh selama ini dia juga sudah sering tanpa busana di hadapan Darrell. Mungkin saja akan lebih mudah bergaya di depan kamera.
Tanpa banyak bicara, Darrell malah mengecup bibir Sharron kemudian ********** dengan deburan gairah yang sangat besar. Wanita yang sudah menjadi miliknya tidak akan boleh dilihat atau dinikmati oleh orang lain. Sharron hanya akan menjadi miliknya sampai kapanpun.
Darrell menggigit bibir bawah lawannya untuk meminta akses masuk. Keduanya saling berbelit lidah dan bertukar saliva sampai pada Sharron yang merasa kehabisan napas.
"Dad, cukup!" Sharron mendorong pria itu. "Berikan satu alasan, kenapa aku tidak diizinkan untuk ikut agensi model majalah dewasa itu?" Sharron tidak akan puas sebelum mendapatkan jawabannya.
"Karena kamu terikat kontrak denganku."
"Ck, alasan klasik, Dad. Kontrak kerjamu tidak pernah melarang sugar babynya untuk bekerja. So, aku mau jadi model majalah dewasa, dengan atau tanpa persetujuanmu!"
"Kau ini masih tidak paham juga, yah? Aku tidak setuju karena di sana kamu akan dilihat oleh orang banyak. Fotografer, pengarah gaya, manager kamu, dan bos pemilik majalah dewasa itu. Apa kamu tidak malu?" Kemarahan jelas terlihat di wajah Darrell.
"Apa bedanya dengan aku telanjang di hadapan daddy?" Sharron berkeras hati supaya diizinkan untuk menjadi model majalah itu.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sharron. Darrell sangat kesal padanya. Setelah tamparan itu, Darrell dan Sharron terdiam meratapi kesalahan masing-masing.
...🪴🪴🪴...
Sambil menunggu update, Emak rekomendasikan karya keren berikut ini. Jangan lupa mampir ya
__ADS_1