Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 99


__ADS_3

"SIALAN! BRENGSEKKK!" umpat seorang perempuan dengan tubuh hanya berbalut bathrobe saja.


Rahangnya mengeras. Ia benar-benar kesal dan marah. Bahkan kaleng minuman di tangannya saja sampai penyok karena genggamannya yang erat.


Tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkari perut perempuan yang tak lain adalah Jessica itu.


"Ah, tidak, Sayang. Bukan apa-apa."


"Kalau bukan apa-apa, kenapa kamu marah-marah, hm?" tanya laki-laki yang usianya lebih pantas menjadi ayahnya itu. Laki-laki itu menelusupkan tangannya di balik bathrobe sambil mencumbu leher Jessica dengan penuh napsu.


Jessica menyeringai, "ah, itu, aku hanya kesal sebab tas limited edition incaranku stoknya tinggal satu saja. Padahal aku sangat ingin membelinya, tapi ... uangku belum cukup," ujarnya dengan memasang mimik wajah sedih.


Laki-laki itu terkekeh kemudian meremas salah satu gunung Jessica yang sekal, "ku pikir apa. Jangan khawatir baby, aku akan segera mentransfer uang untukmu. Tapi sebelum itu, layani aku seperti biasa, oke?"


Jessica langsung membalikkan badannya dan mengalungkan lengannya di leher laki-laki paruh baya itu, "as you wish, honey. Common, i will fucking you anymore."


2 jam kemudian, kedua manusia tanpa ikatan itu terbaring lelah dengan peluh bercucuran di sekujur tubuh mereka. Aroma percintaan menyeruak menjadi saksi betapa panas percintaan mereka tadi. Tak lama kemudian, laki-laki itu pun terpejam. Usia tak mampu berbohong, kegiatan panas mereka tadi membuatnya benar-benar lelah hingga tertidur tanpa sempat membersihkan diri terlebih dahulu.


Setelah melihat sang laki-laki tidur, Jessica kembali mengenakan bathrobenya dan mengambil ponselnya menuju balkon. Lagi-lagi Jessica mengumpat saat Justin benar-benar tidak menghubunginya lagi.


"Sialan. Kenapa dia tiba-tiba membatalkan kerja sama ini sih? Tak bisa diandalkan. Sepertinya aku harus bergerak sendiri. Takkan aku biarkan Shenina berbahagia di atas penderitaanku," gumamnya sambil mencengkram ponselnya erat.


...***...


Sementara itu, di kamar rawat bayinya, Justin pun segera bangkit dengan sisa-sisa harapan yang nyaris punah. Didekatinya bayinya yang kini tersenyum ke arahnya. Sungguh ia tak menyangka, bayi yang harapan hidupnya nyaris tak ada itu justru tersenyum manis padanya. Tapi yang membuatnya hancur, kenapa nyawa bayinya seolah bertukar dengan nyawa sang istri. Namun Justin tidak menyalahkan sang anak. Karena melihat anaknya bisa tiba-tiba pulih dari sakitnya saja sudah membuatnya amat sangat bahagia.


"Dok, apa saya bisa membawa anak saya sebentar menemui ibunya?"


Dokter yang tahu kalau ibu sang bayi pun sedang dirawat di rumah sakit yang sama pun mengangguk. Namun ia harus didampingi seorang perawat untuk berjaga-jaga. Justin pun setuju.


Atas bimbingan sang perawat, Justin meraih sang anak ke dalam gendongannya. Lalu mereka pun gegas berjalan dengan langkah panjang menuju ruang rawat sang istri.


Brakkk ...


Justin membuka pintu menggunakan kakinya. Mata Justin terbelalak saat dokter dan perawat mulai melepaskan satu persatu alat medis yang menempel di tubuh sang istri.


"Apa yang kalian lakukan, hah? Kalian ingin membunuh istriku? Bangsaaat kalian!" pekik Justin dengan mata memerah dan rahang mengeras. Jantungnya bertalu-talu seakan nyaris putus.


Melihat wajah pucat istrinya dengan bibir nyaris membiru membuat dada Justin benar-benar sakit. Bagai di palu godam, benar-benar menyesakkan.


"Maaf tuan, tapi kami hanya mengikuti prosedur. Nyonya sudah ... "


"Tutup mulut kalian brengsekkk! Istriku belum mati. Dia masih hidup. Mana mungkin dia meninggalkan kami."

__ADS_1


"Tapi tuan, memang nyonya sudah ... "


"Tutup mulut kalian kataku, brengsekkk! Jangan pernah mengatakan kalau istriku sudah ... sudah tiada. Dia masih di sini. Dia takkan mungkin meninggalkan kami," ucapnya menggebu, tapi perlahan suaranya terdengar makin pelan dan lirih. Dokter dan perawat yang ada di sana pun dapat merasakan kalau laki-laki yang merupakan suami dari pasien mereka itu sedang benar-benar terpukul.


"Aku minta kalian semua keluar. KELUAR KALIAN SEMUA!" seru Justin dingin.


Melihat Justin marah-marah, bukannya sang bayi ketakutan apalagi menangis, ia justru tertawa renyah membuat wajah yang tadi mengeras seketika menjadi teduh.


Dokter dan perawat yang tadi diteriaki oleh Justin pun gegas keluar dan menutup pintu rapat sehingga di dalam sana hanya ada Justin, bayinya, Delianza, dan seorang perawat yang bertugas mendampingi sang bayi.


Lalu Justin mendekati brankar Delianza dan membaringkan sang bayi di sisi sang ibu.


Justin menggenggam sebelah tangan Delianza yang dingin dan mengecupnya. Air matanya kembali jatuh berderai hingga menetes ke punggung tangan Delianza. Isak tangis keluar dari bibir Justin yang belum siap melepaskan sang istri.


"Anza, bangun, Sayang. Ini aku. Jangan tinggalkan aku , Sayang. Aku mohon. Izinkan aku menebus segala kesalahanku, Sayang. Aku mohon dengan amat sangat," ucapnya lirih.


Seakan paham kalau sang ayah sedang mengutarakan isi hatinya, sang bayi pun diam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Za, kau tahu, mukjizat baru saja menghampiri keluarga kecil kita. Lihat di sampingmu ada siapa? Ya, di sampingmu ada bayi kita. Dia sembuh, Sayang. Mukjizat membuat bayi kita sembuh. Bahkan tadi ia menangis kencang untuk pertama kali. Dan barusan ia pun tertawa renyah untuk pertama kali. Wajahnya benar-benar tampan. Senyumnya manis seperti senyummu. Tapi wajahku ternyata lebih mendominasi. Sepertinya ... tanpa sadar kau telah mencintaiku saat itu, benar bukan. Buktinya, putra kita lebih mirip aku daripada kau, ibunya," lirih Justin seraya memaksakan tertawa, meskipun berbanding terbalik dengan ekspresinya yang bermuram durja. Hatinya bagai dicabik-cabik saat merasakan dinginnya telapak tangan Delianza.


"Sayang, bangunlah. Bukankah kita belum memberikan nama pada putra kita? Aku mohon, bangunlah. Apa kau tidak ingin menggendong anak yang kau impi-impikan? Kenapa saat ia kembali sehat, kau malah pergi meninggalkannya? Apa kau tega melihatnya kehilangan kasih sayang seorang ibu? Apa kau rela kalau ia memanggil perempuan lain sebagai ibu? Lihat saja, kalau kau tak kunjung bangun, aku akan mencari ibu baru untuk menggantikan mu. Atau ... kau mau perempuan waktu itu menjadi ibu anak kita? Apa kau rela wanita itu menjadi ibu anak kita?" ucap Justin tanpa merasa lelah terus mengajak sang istri berbicara. Meskipun tidak merespon, tapi ia akan terus berbicara. Kalau perlu sampai malaikat kematian merasa jengah hingga mengembalikan roh sang istri agar kembali hidup.


"Baby, panggil Mommy-mu, ayo! Mommy-mu sepertinya sangat suka tidur sampai mengabaikan keberadaan mu. Atau jangan-jangan Mommy memang ingin kau memiliki Mommy baru."


Tiba-tiba Justin merasakan sesuatu di genggaman tangannya. Justin merasa jari-jari dingin di tangannya itu bergerak pelan. Justin sampai mengurai genggamannya sambil memperhatikan jari-jari lentik itu. Justin menghela nafasnya saat ia tak melihat pergerakan sama sekali. Harapannya seakan nyaris pupus hingga tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang begitu ia rindukan.


"Jus-tin," lirih seorang perempuan.


Justin mengangkat wajahnya, menatap wajah pucat sang istri. Matanya tertutup membuat dada Justin terasa sakit.


"Sepertinya aku sudah gila. Tadi aku merasa jarimu bergerak. Lalu barusan aku merasa kau menyebut namaku. Mungkin aku akan benar-benar gila bila kau benar-benar telah tiada di hadapanku lagi. Anza, bagaimana aku bisa membesarkan anak kita bila kau benar-benar pergi meninggalkan ku? Aku rasa aku tak sanggup, Anza. Aku butuh kamu. Aku amat sangat membutuhkanmu," lirih Justin dengan bibir bergetar. Ia menelungkupkan wajahnya di dada Delianza. Air matanya menetes begitu deras seiring rasa hati yang benar-benar hancur.


"Jus-tin, angkat kepalamu, dadaku ... sesak!" ujar seseorang membuat jantung Justin rasa mencelos.


"Sayang, sepertinya aku sudah benar-benar gila. Atau ... aku sudah akan menyusulmu. Kalau begitu, aku rela asalkan kita bisa terus bersama."


"Kalau kau menyusul ku, lalu bagaimana dengan putra kita?"


"Kau tenang saja, bayi kita memiliki Grandpa dan grandma yang baik hati. Aku yakin mereka akan menyayangi putra kita. Tapi tidak dengan aku. Kalau kau pergi, aku akan sendiri. Rasa penyesalanku akan kian menjadi. Dari pada terpuruk seorang diri, lebih baik aku menyusulmu," ucap Justin tetap pada posisinya.


"Kalau kau mati, maka aku akan menikah lagi dan mencari daddy baru untuk bayi kita," ucap seseorang itu membuat Justin langsung berteriak.


"NO!" Justin reflek mengangkat kepalanya dari atas dada Delianza.

__ADS_1


Seketika matanya terbelalak. Justin sampai mengucek matanya berkali-kali membuat sang perawat tertawa kecil. Begitu pula sang bayi yang tampak tertawa renyah dengan tangan bergerak-gerak seakan ingin menggapai sang ayah.


"A-Anza, kau ... apa aku sedang berhalusinasi?" gumam Justin terbata.


Delianza terkekeh dengan air mata berderai, "menurutmu?"


Ditangkupnya kedua pipi Delianza, "kau ... kembali, Sayang? Kau ... benar-benar kembali?"


"Apa kau tidak senang?"


Mata Justin yang merah kian memerah. Kaca-kaca bening kembali menyelimuti netranya yang berwarna kecoklatan.


"Jawab aku, Anza, apa kau benar-benar kembali? Aku bukannya sedang bermimpi apalagi berhalusinasi kan? Atau jangan-jangan aku sudah mati sehingga bisa melihat dirimu."


Brootttt ... broottt ... broottt ...


Kedua pasang mata dua insan itu segera beralih ke sisi di samping Delianza. Mata mereka melotot setelah mendengar suara yang tak terduga itu.


"Maaf nyonya, tuan, sepertinya babynya pup. Saya bawa dulu bayinya ya untuk dibersihkan. Silahkan tuan dan nyonya saling melepas rindu. Saya pamit dulu," ujar perawat itu sambil meraih sang bayi ke dalam gendongannya. Saat sang perawat telah keluar dari balik pintu, tawa kedua orang itu pun berderai.


"Anza, jadi aku tidak bermimpi? Kau benar-benar kembali, Sayang?" ucap Justin sambil mengusap pipi Delianza.


Delianza meraih telapak tangan Justin di pipinya dan menggenggamnya.


"Ya, aku kembali. Ada yang mengatakan akan mencari ibu baru untuk baby Arley dan aku tak rela," ucap Delianza dengan senyuman kecilnya. "Dan ... aku tak tega saat mendengar tangis putus asa dari-"


Belum sempat Delianza menyelesaikan kalimatnya, Justin justru segera berhambur ke pelukan Delianza. Ia kembali menumpahkan tangisnya. Bila sebelumnya ia menangis karena ketakutan akan kehilangan Delianza, maka kali ini ia menangis bahagia karena Delianza kembali membuka matanya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena telah kembali. Maaf, maafkan aku. Karena aku, kau jadi menderita. Karena aku, kau hampir kehilangan nyawamu. Karena aku, baby ... " Justin mencoba mengingat nama bayi mereka yang sempat Delianza sebutkan. "... Arley hampir kehilanganmu. Maafkan aku, maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Aku berjanji, akan berubah dan memperbaiki hubungan kita. Aku berjanji takkane mengulangi perbuatanku," ujarnya sambil tersedu.


Delianza mengangkat tangannya dan mengusap kepala Justin dengan lembut.


"Tak perlu meminta maaf. Kita berdua memiliki kesalahan masing-masing. Lupakan semua kejadian di masa lalu. Mari kita ukir masa depan indah bersama. Mari kita perbaiki hubungan kita. Mari kita mulai semuanya dari awal lagi. Mari kita membuka lembaran baru dengan tekad baru, kau mau?" tawar Delianza.


Justin mendongakkan wajahnya kemudian mengangguk cepat.


"Ya, mari kita membuka lembaran baru bersama. Aku, kamu, dan anak kita, bersama," sahut Justin yang diangguki Delianza dengan air mata yang jatuh berderai.


Justin pun menyeka air mata yang membasahi pipi Delianza seraya tersenyum. Mereka berdua saling bertatap-tatapan, kemudian Justin perlahan mendekatkan wajahnya. Delianza reflek memejamkan matanya, lalu Justin pun menyatukan bibir mereka. Justin pun memagut bibir Delianza dengan lembut, hangat, dan penuh cinta.


...***...


...Bagaimana? Happy dengan bab hari ini? 😊😊😊...

__ADS_1


...HAPPY READING πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°...


__ADS_2