Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 87


__ADS_3

"Maaf nona, Anda ingin bertemu siapa?" tanya seorang resepsionis saat melihat Jessica tampak celingak-celinguk yang mungkin tengah mencari keberadaan Rainero.


Jessica pun menoleh, "aku ingin bertemu pemilik perusahaan ini, tuan muda Sanches," ujarnya dengan dagu terangkat. Gaya pongah memang menjadi ciri khasnya.


"Maaf, apa Anda sudah punya janji?" tanya resepsionis itu sopan.


Jessica mendelik tajam, "janji? Kau tidak tahu aku ini siapa? Aku ini saudari istrinya, tak perlu membuat janji segala. Jadi jangan halangi aku untuk bertemu tuan muda Sanches. Cepat, antarkan aku bertemu dengan bos kalian!" titahnya pongah.


"Maaf nona, tapi Anda tidak bisa bertemu dengan tuan Rainero tanpa janji."


"Kalian ini, baru bekerja sebagai resepsionis saja sudah belagu. Apa susahnya sih antarkan saja aku bertemu dengan dia. Atau telepon saja, katakan aku Jessica, iparnya ingin bertemu."


"Maaf nona, tapi tuan kami tidak suka ditemui tanpa pemberitahuan sebelumnya."


"Kalian benar-benar menyebalkan. Kalau begitu baiklah, aku sendiri yang akan mencari ruangan tuan kalian itu. Dan setelah bertemu, aku pastikan akan memintanya memecat kalian. Dasar karyawan tidak berguna!" desis Jessica kesal.


Lalu dengan mata berapi-api, ia melangkah masuk ke lobi menuju lift. Resepsionis itu panik, lantas segera memanggil pihak keamanan untuk mengamankan Jessica. Tak lupa ia menghubungi Axton untuk menginformasikan kedatangan Jessica.


"Rainero, Shenina, ini aku, Jessica. Ayo keluar kalian, jangan jadi pecundang. Dasar manusia serakah. Setelah membuat mommy dan Daddy malu dan kesulitan, kini kalian justru mengambil alih rumah dan minimarket yang merupakan sumber keuangan keluarga kita. Kalian benar-benar tidak memiliki hati. Ayo keluar kalian! Heh, kalian semua dengar, istri bos kalian itu perempuan yang jahat. Dia telah memfitnah ayahnya sendiri. Dan kini dia mengusir ayah kandungnya sendiri dari rumahnya. Lepas! Lepaskan aku! Lihat, takut kebusukannya terbongkar, dia sampai menyuruh keamanan mengusirku. Dia ... "


Jessica terus saja berteriak. Tapi karyawan perusahaan milik Rainero justru tidak menggubrisnya. Mereka yakin kalau Shenina bukanlah perempuan yang seperti Jessica katakan. Apalagi beberapa dari mereka telah mengenal Shenina sejak lama. Shenina orangnya baik dan ramah, meskipun sedikit tertutup. Mereka justru menilai kepribadian Shenina lah yang membuat CEO mereka jatuh hati. Belum lagi pemberitaan yang beredar mengenai sikap keluarga itu pada Shenina, mereka semua orang yang berpendidikan jadi mereka dapat menilai mana yang benar dan mana yang sebuah kebohongan.


Rainero dan Shenina yang berada di ruangan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mereka tak percaya kalau Jessica begitu nekat dan tak tahu malu.


"Bagaimana Sweety? Keputusan ada di tanganmu," ujar Rainero meminta pendapat.


"Untuk apa menemui dia. Tidak penting," ujar Shenina acuh tak acuh.


Rainero tersenyum puas. Lantas ia meminta Axton agar mengusir Jessica dan membuat larangan agar ia tidak bisa lagi masuk ke area perusahaan. Dari layar komputer, mereka melihat bagaimana Jessica diseret paksa keluar gerbang perusahaan. Katakanlah Shenina benar-benar mati rasa. Bukan hanya pada ayah kandungnya, tapi pada mereka yang telah menyakitinya bertahun-tahun.


Jessica pun segera pulang ke rumahnya. Di rumah ia mengadukan sikap Shenina dan Rainero yang begitu kejam mengusirnya tanpa kasihan sedikitpun. Jessica juga menambahkan bumbu-bumbu kebohongan untuk membuat kedua orang tuanya kian membenci Shenina. Jessica mengatakan Shenina telah memakinya dengan kata-kata kasar. Ia juga menunjukkan luka di sikunya karena terjatuh setelah didorong oleh Shenina.


"Kurang ajar. Makin hari dia makin keterlaluan. Awas saja kalau sampai aku bertemu dengannya lagi, aku pastikan akan memberikannya pelajaran yang takkan terlupakan olehnya," geram Harold membuat Jessica tertawa dalam hati.


...***...


Di tempat lain, setelah Jessica pergi, Rainero pun mengajak Shenina ke restoran ibunya. Setibanya di sana, Rainero langsung membawa Shenina ke dapur untuk mengeksekusi keinginan sang istri tercinta.

__ADS_1


"Memangnya Shen ingin makan apa? Biarkan Chef Hendric saja yang membuatkannya. Mommy hanya takut, masakan Rainero justru membuatmu sakit perut," ujar Delena seraya mengejek sang anak yang sudah mendelik sebal.


"Mommy jangan salah, biarpun aku sudah lama tidak memasak, tapi masakanku itu jauh lebih enak daripada masakan mommy," ujar Rainero memasang wajah sok.


Shenina terkekeh.


"Halah, mana mungkin. Kalau Mommy ya wajar masakannya tidak enak lah Mommy memang tidak bisa masak," ujar Delena tak acuh.


"Benarkah, Mom?" ujar Shenina tak yakin.


Delena terkekeh, "Mommy itu paling tidak bisa memasak. Mommy pernah belajar memasak, tapi yang terjadi bukan hanya masakan Mommy yang gosong, tapi rumah pun nyaris gosong alias terbakar," ujarnya seraya tergelak. "Daddy mu sampai trauma melihat Mommy di dapur. Karena itu, sejak kejadian tak terduga itu, Daddy melarang Mommy memasak. Daddy tidak mau terjadi apa-apa pada Mommy. Daddy orangnya so sweet kan?" tukasnya seraya memainkan kedua alisnya.


"Mommy benar. Shen pun sering kagum melihat bagaimana daddy memperlakukan Mommy dengan begitu perhatian."


"Kenapa hanya kagum pada Daddy? Bukankah suamimu ini juga sangat perhatian padamu, Sweety. Bahkan, aku jauh lebih perhatian. Buktinya, aku mau memasakkan makanan yang sedang kau idam-idamkan itu saat ini," potong Rainero membuat Shenina dan Delena terkekeh.


"Oh ya Shen, kamu tadi belum bilang, memangnya mau makan apa sih?"


Lalu Shenina kembali mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto makanan yang sedang ia inginkan


"Se-be-lak ko-bek," eja Delena sebab 'co' dieja 'ko' salam bahasa mereka.


Delena mengangguk lalu berjalan ke belakang untuk mengecek bahan. Tak lama kemudian, Delena kembali lagi menuju meja dimana Shenina dan Rainero menunggu.


"Duh, sayang, di sini tidak ada bahan kerupuk seperti itu. Kencurnya juga tidak ada. Mommy malah baru kali ini dengar nama bumbu kencur."


Wajah Shenina tiba-tiba ditekuk. Akankah keinginannya bisa terwujud, pikir Shenina.


Sepulangnya dari restoran, wajah Shenina jadi terlihat murung. Hal itu lantaran ngidamnya yang belum terwujud. Namun bukan berarti Rainero menyerah begitu saja.


Beberapa jam kemudian,


"Tuan, tuan Axton mencari Anda," ujar salah seorang pelayan di mansion Rainero.


"Kau tunggu di sini sebentar ya, Sweety. Aku ingin menemui Axton terlebih dahulu," ujar Rainero lembut. Lalu ia mengecup kening Shenina dan meninggalkannya di ruang bersantai.


"Bagaimana, Ton? Kau mendapatkan apa yang aku butuhkan?" tanya Rainero setelah melihat keberadaan Axton.

__ADS_1


Axton mendengkus sebal, "tuh. Semua ada di situ. Istrimu yang mengidam, tetapi aku yang direpotkan," omelnya sambil menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu.


Rainero tersenyum acuh tak acuh, "bagus. Tidak sia-sia kau menjadi asisten pribadiku," pujinya saat melihat apa yang ia butuhkan semuanya sudah tersedia.


"Sudah kan? Kalau begitu, aku mau pulang sekarang."


Rainero mengangguk. Kemudian ia segera pergi ke dapur untuk mengeksekusi makanan yang Shenina inginkan. Axton berdecak kesal saat Rainero berlalu begitu saja meninggalkannya.


"Dasar bos tak ada akhlak. Bilang terima kasih kek. Eh malah berlalu begitu saja. Menyebalkan," omelnya sebelum ikut berlalu dari sana.


Sementara itu, Shenina yang ditinggal di kamar sendirian tiba-tiba merasa kesal sebab sudah 10 menit berlalu, Rainero tidak kunjung kembali ke sisinya.


"Dia kemana sih?" omel Shenina. Lalu ia pun segera beranjak dari sana untuk mencari Rainero.


Shenina berjalan menuju ruang tamu, tapi tidak menemukan Rainero. Di ruang kerja pun tidak ada, membuat Shenina benar-benar kesal.


"Bi, lihat Rain tidak?" tanya Shenina pada salah seorang pelayan yang usianya hampir menginjak kepala empat.


"Oh, tuan muda Sanches ada di dapur, nyonya. Mau saya antar?" tawarnya.


Shenina mengangguk, "saya bisa sendiri. Terima kasih," ucapnya yang dibalas senyuman oleh sang pelayan.


Shenina pun berjalan menuju dapur. Matanya memicing saat melihat Rainero tampak menggiling sesuatu dengan sedikit kesulitan.


Bugh ...


Bunyi batu yang berbenturan. Rainero memukul bawang putih di atas cobek yang baru dibelinya, tapi bawang putih itu justru terlempar ke lantai membuat Rainero berdecak.


"Huh, kok susah sekali sih?" gumamnya yang mencoba kembali menggeprek bawang putih agar mudah dihaluskan. Tapi beberapa setelah kali, bawang itu /lagi-lagi terlempar. Hingga percobaan entah yang keberapa kalinya barulah Rainero berhasil menghaluskannya, begitu pula dengan kencur dan cabai. Rainero menambahkan sedikit penyedap. Lalu mencicipinya.


Dahinya mengernyit, "rasanya aneh."


"Astaga, hampir saja lupa! Untung saja tidak gosong," gumamnya saat melihat kerupuk yang ia rebus, airnya sudah mengering. Setelah mengangkat kerupuk, ia pun memanaskan minyak. Setelah benar-benar panas, ia tuangkan minyak itu ke atas bumbu yang masih ada di atas cobek dan mengaduknya. Semua kegiatannya itu tengah jadi perhatian Shenina tanpa ia sadari. Shenina tersenyum kecil saat melihat bagaimana usaha Rainero untuk mewujudkan keinginannya. Shenina lantas berjalan menuju Rainero dan memeluknya dari belakang dengan posisi tubuh sedikit miring. Maklum, perutnya yang membuncit membuatnya kesulitan untuk memeluk Rainero. Rainero yang merasakan dipeluk secara tiba-tiba pun tersentak. Kemudian ia tersenyum kecil dan menusukkan garpu ke salah satu kerupuk yang sebenarnya kelembutan akibat terlalu lama direbus.


"Coba cicip, bagaimana rasanya!" Rainero menyuapkannya pada Shenina yang kini telah berdiri berhadapan dengan Rainero.


Dahi Shenina mengernyit saat merasakan makanan Kyi masuk ke dalam mulutnya, "terlalu lembut, tapi ... " Jantung Rainero telah deg-degan seperti sedang menanti penilaian dari dewan juri dalam kontes memasak Master Chef. "Enak," lanjut Shenina membuat Rainero dapat bernafas dengan lega. "Terima kasih ya suamiku. Aku menyayangimu," ujar Shenina untuk pertama kali mengucapkan kata sayang. Jelas saja pipi Rainero seketika bersemu merah. Tak sia-sia perjuangannya karena akhirnya Shenina mulai menyayanginya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2