Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 142 (S2 Part 11)


__ADS_3

Theo baru saja pulang. Masuk ke apartemen, Theo sudah dihadapkan dengan tayangan televisi yang menunjukkan kebahagiaan keluarga Sanches saat menyambut kelahiran anak laki-laki dari pasangan Rainero dan Shenina.


Di kantor tadi ia pun tak henti-hentinya mendengar pembahasan mengenai kelahiran anak kembar Shenina itu, lalu di kediamannya pun ternyata Rhea sedang menonton berita tersebut. Rhea tak sadar kalau Theo telah pulang. Ia terlalu larut dengan apa yang ia tonton. Sambil menatap televisi, ia pun mengusap perutnya.


Melihat kebahagiaan pasangan Rainero dan Shenina pasti membuat siapapun merasa iri, termasuk Rhea. Bukan iri karena tidak suka melihat kebahagiaan mereka, tapi sebaliknya. Ia sangat ingin merasakan bagaimana berada di posisi Shenina. Mendapatkan seseorang yang mencintai dan menyayangi dengan sepenuh hati. Didampingi saat melahirkan. Ah, betapa bahagianya menjadi Shenina pikirnya.


Tak ada yang tahu, kebahagiaan yang Shenina rengkuh bukanlah mudah. Tak ada yang tahu perjalanan hidup Shenina. Bahkan orang-orang takkan pernah tahu apa yang dialami Shenina selama ini kalau waktu itu Jessica tidak melakukan live yang menjelek-jelekkan Shenina sehingga terbongkarlah segala keburukan keluarga Harold pada Shenina.


Namun yang tidak tahu pun masih banyak. Mereka mengatakan Shenina terlalu beruntung mendapatkan Rainero.


Mereka tak tahu, kehidupan manis Shenina saat ini merupakan buah manis dari kesabarannya. Perjalanan hidup yang pahit dan getir didapatnya dari kecil hingga dewasa.


Awal pertemuan Shenina dengan Rainero pun tak seindah yang dibayangkan orang-orang. Bertahun-tahun bekerja di satu kantor yang sama nyatanya tidak membuat kedua saling menjatuhkan hati. Justru titik balik kehidupan mereka berawal dari malam ketidaksengajaan. Dunia keduanya saling jungkir balik dan romansa pun dimulai setelah mereka saling terpisah jauh satu sama lain.


Oleh sebab itu, tak perlu iri dengan kehidupan manis seseorang. Tak ada yang tahu, awal dari kehidupan manis mereka. Tidak semua perjalanan cinta seseorang itu mulus begitu saja. Banyak orang yang harus melalui perjalanan panjang dan berliku untuk mendapatkan kebahagiaan itu.


Theo menghela nafas panjang. Sesaat tadi, ia sempat membayangkan Rainero adalah dirinya. Namun secepat mungkin ia tepis pemikiran itu.


Mendengar helaan nafas kasar dari Theo membuat Rhea seketika menoleh. Ia pun membulatkan matanya dan segera mematikan layar televisi. Perasaan Rhea seketika was-was. Bagaimana kalau sikap manis Theo seketika berubah seperti awal pertemuan mereka akibat tayangan tersebut.


"K-kau sudah kembali. Mau aku siapkan air hangat?" tawar Rhea. Apalagi jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Akan lebih baik bila mandi dengan air hangat.


Theo menggeleng, "tidak perlu. Terima kasih," ucapnya dengan senyum sangat-sangat tipis, tapi Rhea mampu melihatnya. Jantung Rhea lagi-lagi berdegup kencang hanya karena melihat senyuman itu.


"Tapi ... " Theo menggaruk kepalanya canggung. " ... bisa tolong buatkan aku secangkir kopi. Aku ... masih banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Emmm ... Kau tidak masalah kan?" tanya Theo khawatir Rhea menolaknya.

__ADS_1


Rhea yang pertama kali mendapatkan permintaan seperti itu sontak saja tersenyum lebar. Tanpa banyak berpikir, ia pun langsung mengangguk.


Theo mengucapkan terima kasih. Rhea menanggapinya dengan hati yang membuncah. Semakin hari sikap Theo semakin hangat membuatnya begitu senang.


Keesokan harinya, tak ingin Theo kembali menyiapkan sarapan untuknya, Rhea pun bangun lebih awal. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, ia segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Pagi," ucap Theo saat memasuki dapur. Untuk sekian kalinya Rhea terperangah. Sebab ini adalah untuk pertama kalinya Theo mengucapkan kata itu padanya.


"Pa-pagi," sahut Rhea gugup.


"Kau pagi sekali?" tanya Rhea heran.


"Siang ini kami akan mengadakan rapat tahunan. Sepertinya aku akan kembali pulang terlambat. Kau tidak perlu menungguku seperti semalam. Ingat, kau sedang hamil. Jaga kandunganmu. Jangan karena menungguku membuat kandunganmu bermasalah," ucap Theo yang seketika membuat mata Rhea berkaca-kaca.


Meskipun hanya kalimat sederhana, namun mampu menggetarkan serta menghangatkan hati Rhea. Hati Rhea yang sebelumnya bagai padang nan gersang, seketika seakan dihujani kebahagiaan.


"Terserahlah kalau kau rasa nyaman, aku tidak bisa melarang. Oh ya, mulai hari ini akan ada orang yang akan membereskan apartemen kita. Jadi kau tidak perlu repot-repot membersihkannya. Untuk pakaian kotor dan piring kotor juga akan mereka kerjakan. Mereka hanya akan bekerja sampai pekerjaan mereka selesai. Jadi kau juga tidak perlu repot-repot mencuci pakaian dan piring. Cukup kumpulkan saja, biar mereka yang mengerjakan," ucap Theo.


Lagi, Rhea yang mendapatkan perhatian seperti itu jelas saja merasa bahagia. Namun sayang, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Tak lama kemudian ponsel Rhea berdering. Setelah Rhea mengangkat panggilan itu, mimik wajahnya yang sempat bersinar seketika berubah. Bahkan wajah yang cerah itu kini berubah pucat.


"Rhea, kenapa? Siapa yang menelponmu?" tanya Theo yang seketika khawatir.


"Mommy," ucapnya menggantung.


"Mommy?" Theo bingung, mommy yang mana yang Rhea sebut.

__ADS_1


"Mommy ku, barusan mommy mengatakan kalau ... Kalau Daddy telah tiada. Daddy ... Daddy telah pergi untuk selamanya," ucapnya dengan mata yang telah memerah.


Air matanya tumpah. Setelah berjuang selama satu bulan ini, akhirnya ayahnya menyerah. Padahal baru dua hari kemarin ia menemui sang ayah. Keadaan ayahnya makin membaik. Meskipun sempat terkena stroke, tapi kesehatan ayahnya berangsur pulih. Bahkan ayahnya yang sempat kesulitan berbicara, sudah bisa berbicara dengan jelas.


Theo seketika syok. Ia memang sudah tahu kalau kesehatan sang ayah mertua. Tanpa sepengetahuan Rhea, Theo sering mengunjungi ayah mertuanya itu di rumah sakit. Theo pun tahu mengenai penyakit ayah mertuanya itu dari sang ibu.


Melihat Rhea terisak, Theo pun bergegas mendekat. Melihat sisi rapuh sang istri membuat Theo tak kuasa untuk acuh tak acuh seperti biasanya. Theo pun segera duduk di samping Rhea dan menarik istrinya tersebut ke dalam pelukannya.


Diusapnya punggung Rhea yang bergetar hebat. Ia tahu, Rhea sedang benar-benar bersedih saat ini.


"Daddy, Theo ... Daddy ... Dia telah pergi. Padahal ... sebelumnya keadaan Daddy sudah baik-baik saja. Tapi ... tapi kenapa daddy justru pergi secara tiba-tiba seperti ini? Kenapa? Padahal daddy sudah sangat menantikan kelahiran anak ini. Dia sangat ingin menggendong cucunya, tapi ... " gumam Rhea dalam pelukan Theo.


Theo pun segera menenangkan Rhea, "sssst ... Jangan menangis lagi, oke. Tak ada yang tahu dengan takdir seseorang. Segala yang hidup, pasti akan mati suatu hari nanti. Ikhlaskan daddy. Mungkin ini yang terbaik. Daddy sudah tidak sakit lagi. Daddy sudah tenang di alam sana. Ikhlaskan ya. Ingat, kau sedang mengandung. Daddy pasti akan ikut sedih saat melihat putri kesayangannya bersedih seperti ini. Kau tahu, aku pernah dengar, baby dalam kandungan pun bisa ikut bersedih bila ibunya bersedih. Kau tidak ingin kan baby di dalam sini bersedih karena melihat Mommy-nya yang menangis?" ucap Theo lembut sambil mengusap perut Rhea.


Merasakan perutnya disentuh sang suami, sontak saja membuat perasaan Rhea perlahan menjadi tenang. Tangis yang sempat pecah kini hanya bersisa isakan pelan. Ia teramat sangat bersyukur, di saat seperti ini ia memiliki Theo yang mampu menenangkannya.


"Sudah ya. Lebih baik kita segera bersiap sekarang. Kita segera menjemput daddy di rumah sakit. Kasihan Mommy pasti ia pun sedang merasa amat sangat sedih sekarang."


Rhea mendongakkan kepalanya, "bukankah siang ini kau ada rapat penting?"


Theo menggeleng, "keluarga lebih penting dari pekerjaan. Kau bersiaplah. Biar aku yang membereskan piring kotor ini."


Mata Rhea terbelalak mendengar perkataan suaminya.


"Ayo, lekaslah. Jangan banyak bengong seperti itu!" tegur Theo membuat Rhea pun segera beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2