Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 161 (S3 Part 4)


__ADS_3

"Selamat Pinkyman, akhirnya kau sudah menjadi Daddy sekarang," ujar Rainero sambil mengulurkan tangan. Axton menyambut tangan tersebut kemudian mereka pun berpelukan.


"Thank you, Rain. Aku merasa hidupku benar-benar sempurna sekarang. Memiliki istri yang cantik dan baik, lalu kini memiliki seorang anak perempuan yang tak kalah cantik," ujar Axton merasa sangat bahagia karena telah dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik.


"Oh ya, bagaimana dengan rencanamu waktu itu yang ingin menjodohkan anakmu dengan anakku? Sepertinya anakku cocok dijodohkan dengan Sky?"


"Suamiku ... " tiba-tiba terdengar seruan dari balik tubuhnya atau lebih tepatnya dari arah ranjang.


Melihat pelototan sang istri, Axton pun menyunggingkan senyum merekah.


"Kau lupa apa yang ku katakan waktu itu?" delik Gladys yang duduk sambil bersandar di kepala ranjang.


"Aku kan hanya bertanya, siapa tahu mereka memang berjodoh di masa depan," ucap Axton agar istrinya itu tidak marah.


"Axton benar, apa salahnya? Kita hanya mengusahakan yang terbaik. Kita saling mengenal satu sama lain dengan baik, siapa tahu di masa depan hubungan kita akan makin erat dengan hubungan kekeluargaan. Namun ini hanya rencana, bukan berarti kita akan memaksakan hubungan mereka. Siapa tahu mereka memang berjodoh, kalau tidak, yang penting hubungan kita tetap terjalin dengan baik, benarkan Sweety?" timpal Rainero sambil menoleh ke arah Shenina. Shenina berpikir sejenak kemudian ikut menyetujui perkataan sang suami.


"Aku tak masalah. Asalkan kita tidak memaksakan kehendak, aku rasa tidak masalah," timpal Shenina.


"Baiklah, terserah kalian saja. Apapun yang terbaik untuk anak-anak kita, pasti aku akan mendukung," timpal Gladys setelahnya.


Rainero dan Axton saling menoleh, kemudian tersenyum lebar.


...***...

__ADS_1


Sementara Gladys dan Axton sedang berbahagia atas kelahiran baby girl mereka, di belahan dunia lain, tampak Mark sudah berdiri di depan kamar mandi.. Sambil membuka seluruh kancing kemejanya, ia menunggu Adisti keluar dari kamar mandi. Rasanya ia sudah tak sabar ingin melewati malam pengantinnya dengan Adisti, sang istri tercinta.


Ceklek ...


Pintu terbuka. Mata Adisti seketika terbelalak saat melihat Mark sudah berdiri gagah di hadapannya dengan seluruh kancing kemeja yang terbuka. Adisti bisa melihat jelas dada bidang Mark. Bila dulu ia hanya bisa melihat dada bidang nan keren dari seorang pria bule ketika bermain di pantai, maka kini ia bisa melihat jelas betapa sekal dada pria bule dan yang lebih beruntung lagi dada itu milik suaminya sendiri.


Melihat Adisti tak melepaskan tatapannya dari dada bidangnya, Mark lantas mendekat. Lalu ia menarik tangan Adisti dan meletakkannya di dadanya membuat gadis itu tersentak dengan tubuh menegang kaku.


"Mark," cicit Adisti terkejut.


"Sepertinya dadaku begitu memesona di matamu. Kalau kau mau, kau tak perlu ragu-ragu untuk menyentuhnya. Sebab dada ini dan semua bagian tubuhku adalah milikmu."


Adisti bingung harus merespon apa. Padahal setelah mereka menikah dan selama Mark dirawat, ia sering membantu Mark membersihkan diri. Seharusnya kan ia tidak terkejut lagi melihat dada bidang Mark. Seharusnya ia bisa bersikap biasa saja. Apa ini karena pengaruh malam ini mereka akan menuntaskan sesuatu yang telah tertunda sejak 2 bulan yang lalu?


Adisti merasa bahagia sebab keluarga Mark menerimanya dengan tangan terbuka. Ia sempat berpikir kalau penerimaan mereka hanya sekedar sandiwara untuk menyenangkan Mark, tapi nyatanya mereka benar-benar menerimanya dengan penuh cinta.


"Mark ... " cicit Adisti yang mulai memanas saat Mark menggerakkan tangannya menyusuri dada bidangnya hingga ke area perut.


"I want you, baby. Let's make love all night," bisiknya dengan suara serak karena hasratnya yang sudah mencapai ubun-ubun.


...***...


Bila di belahan bumi yang lain, Mark dan Adisti melewati malam panjang mereka dengan perasaan cinta dan hasrat yang menggebu-gebu, maka di belahan bumi lainnya ada pasangan pengantin yang saling berhadapan dengan penuh kecanggungan.

__ADS_1


"Jevian, apa kita akan melewati malam ini dengan begini saja? Cuma diam, seperti patung? Tak adakah yang ingin kau lakukan?" sindir Eve yang mulai kesal karena Jevian sepertinya tidak ada inisiatif sama sekali untuk bergerak atau memulai malam panjang mereka dengan bercumbu dan bercinta.


"Iya?" sahut Jevian saat tersadar dari lamunannya. Tadi pikirannya justru sedang melanglang buana, membayangkan kalau yang ada di posisi Mark adalah dirinya.


Eve berdecak kesal, "kau masih sempat melamun? Astaga, apa cuma aku di sini yang mengharapkan mu menyentuhku dengan intens? Mengharapkan bisa melewati malam panjang kita dengan panas dan bergelora?" sindir Eve telak.


Jevian menelan ludahnya, ia sadar kalau ia salah. Seharusnya sejak tadi ia mulai beraksi, tapi dia adalah Jevian. Ia tidak bisa menyentuh perempuan tanpa cinta. Namun ia akan makin merasa bersalah bila tidak melakukan tugasnya sebagai seorang suami malam ini.


Jevian menghela nafas panjang, kemudian sebisa mungkin mengulas senyum manis agar Eve tidak tahu kalau ia justru sedang membayangkan perempuan lain.


Tak ingin mengecewakan Evelyn, Jevian pun mulai bergerak mendekatkan diri dengan Eve. Lalu ia menyentuh pipi Evelyn. Sekelebat bayangan Adisti singgah di pelupuk matanya.


Perlahan Jevian mendekatkan wajahnya dengan Evelyn dan mulai mencumbunya. Eve merasa amat sangat senang, akhirnya Jevian berinisiatif menyentuhnya. Eve dapat merasakan kalau Jevian masih sedikit kaku. Ia yakin, ini merupakan percintaan pertamanya. Bila ada yang bertanya apakah ini merupakan percintaan Eve yang pertama juga, maka jawabannya adalah tidak. Ia lahir dan tinggal di negara yang bebas. Belum lagi pergaulannya yang luas dan bebas. Tentu saja ia pun sama seperti sebagian besar warga di sana.


Eve yang sadar kalau Jevian masih kaku lantas berinisiatif bergerak aktif. Ia membimbing Jevian melakukan sesuatu yang bisa memacu hasratnya. Setelah berusaha keras, akhirnya gairah keduanya terbakar. Jevian yang sudah merasa di puncak gairah pun segera melakukan penyatuan. Tangan Jevian terkepal saat miliknya sudah terbenam di bawah sana. Matanya terpejam sambil terus bergerak memompa. Sebisa mungkin ia melakukan yang terbaik, meskipun hatinya ... hancur.


Eve tak henti-hentinya tersenyum saat berhasil melakukan penyatuan dengan Jevian. Melihat Jevian memejamkan mata karena kelelahan membuatnya tersenyum bangga. Ia lantas memeluk tubuh Jevian membuat laki-laki itu menegang.


"Sayang, apa kau senang?" tanya Eve.


"Hmmm ... " Hanya itu jawaban Jevian.


"Kau sepertinya sangat kelelahan. Tidurlah. Selamat malam."

__ADS_1


...***...


__ADS_2