Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 122


__ADS_3

Helikopter yang membawa Mark dan Adisti kini telah mengudara. Ya, atas perintah Rainero, Mark dan Adisti tidak tidak jadi dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil. Mengingat jarak tempuh ke rumah sakit cukup jauh, belum lagi jalanan yang berliku dan yang pastinya akan membuang banyak waktu di perjalanan, Rainero pun memerintahkan orang-orangnya membawa Adisti dan Mark menggunakan helikopter. Ada 3 buah helikopter di sana. Satu membawa Adisti, satu membawa Mark, dan satu lagi untuk Rainero.


Adisti dan Mark masing-masing ditemani seorang tenaga medis untuk tetap memberikan pertolongan pertama dan mengontrol keadaan mereka sebelum sampai di rumah sakit. Sedangkan Axton tidak ikut serta dengan mereka. Rainero menugaskannya untuk mengarahkan orang-orangnya agar mencari tahu dalang dari penculikan tersebut. Rainero yakin, ada seseorang di balik penculikan ini. Entah apa motifnya, hal inilah yang akan Rainero telusuri.


Sementara sang penculik kini berada di mobil ambulance. Sudah ada tim medis di sana yang juga langsung memberikan pertolongan pertama. Bagaimanapun, laki-laki tersebut merupakan saksi kunci dari kasus penculikan tersebut. Jadi keselamatannya pun harus tetap dijaga.


Tak butuh waktu lama, akhirnya helikopter pun mendarat di rooftop sebuah rumah sakit terbesar di negara itu. Karena sebelumnya Axton telah menghubungi pihak rumah sakit, jadi setibanya mereka di sana, tim medis telah bersiap menyambut Mark dan Adisti sehingga mereka pun segera mendapatkan penanganan.


"Rain, bagaimana dengan Adisti? Apakah ia sudah berhasil kalian selamatkan?" tanya Shenina melalui panggilan telepon. Tadi Rainero sudah mengabarkan tentang penculikan Adisti pada sang istri, tapi ia belum menceritakan kronologis penyelamatannya pun keadaannya saat ini.


"Kami sudah berhasil menyelematkan Adisti. Kamu bahkan sekarang sedang berada di rumah sakit."


Lalu Rainero pun menceritakan kronologis penyelamatan Adisti yang dilakukan Mark hingga kedatangan mereka untuk membantunya.


"Ya ampun, jadi Mark pun sedang dirawat?" Shenina tampak terkejut sekali mendengarnya.


Rainero menghela nafas panjang, "iya. Semoga saja dia baik-baik saja," ucap Rainero tulus yang diaamiinkan oleh Shenina.


Apalagi mengingat bagaimana Mark ditabrak mobil penculik tadi hingga terseret cukup jauh. Lalu kaki Mark yang ditimpa motor sebesar itu, bisa Rainero bayangkan kalau luka yang Mark alami tidaklah sedikit atau bisa jadi cukup parah. Tapi ia salut dengan perjuangan Mark demi menyelamatkan Adisti. Tak peduli dengan kondisi dirinya sendiri, Mark terus berjuang semua demi keselamatan wanita yang dicintanya.


Tak jauh berbeda dengan Shenina, Gladys pun begitu mengkhawatirkan keadaan Adisti. Bahkan ia langsung menyusul ke rumah sakit setelah mengetahui kalau Adisti telah dibawa ke rumah sakit.


"Sayang, bagaimana keadaan Adisti? Apa dia baik-baik saja?" tanya Gladys cemas.


Axton yang sudah kembali dari urusannya dan langsung menyusul ke rumah sakit tampak terkejut melihat kedatangan Gladys.


"Sayang, kenapa kau kemari? Kau kan bisa menunggu kabar dariku atau minta jemput bila memang ingin kemari," ucap Axton yang bukannya menjawab pertanyaan Gladys.


"Ck ... Bisa lama kalau begitu. Kau tak tahu apa, jantung aku rasanya mau copot setelah mendapatkan kabar penculikan Adisti dan kini tambah mau lepas setelah tahu keadaannya beberapa waktu tadi," decak Gladys.


"Apa? Tapi jantung kamu tidak apa-apa kan? Atau perlu kita periksa ke dokter mumpung kita masih berada di sini," ujar Axton cemas sampai lupa kalau kata-kata Adisti tadi hanya perumpamaan yang menyatakan kalau ia benar-benar terkejut sekaligus panik.


Plakkk ...


Gladys memukul lengan Axton kesal.


"Dah ah, jawab saja pertanyaan aku tadi, bagaimana keadaan Adisti sekarang?"


"Tapi ... " Belum sempat Axton kembali menanyakan keadaan jantung Gladys, wanita yang tengah hamil muda itu lantas melotot kesal. "Iya, iya, ibu hamil dilarang marah-marah," sergah Axton sebelum sang ibu ratu marah. "Keadaan Adisti tidak baik-baik saja. Paru-paru Adisti telah dimasuki air jadi butuh penanganan ekstra untuk mencegah terjadinya edema paru," papar Axton membuat Gladys menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Tapi ... dia pasti akan baik-baik saja kan?" tanya Gladys memastikan.


"Kita doakan saja ya, Sayang."


Gladys pun mengangguk.


"Lalu ... Bagaimana dengan keadaan Mark?" tanya Gladys yang juga mengkhawatirkan laki-laki tersebut.


Mata Axton memicing. Entah mengapa melihat ekspresi Gladys yang tampak begitu mengkhawatirkan Mark membuatnya tak suka.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Gladys bingung.


"Sepertinya kau begitu mengkhawatirkannya?"


"Iya, aku memang begitu mengkhawatirkannya. Memangnya kenapa?" tanya Gladys polos.


"Ekhem, jujur, dulu ... sewaktu di Bali kan kau dan Adisti cukup dekat dengannya. Apa ... Waktu itu kamu sempat menyukainya?" tanya Axton entah mengapa tiba-tiba terlintas di benaknya kalau Gladys pernah menyukai Mark.


Gladys mengerutkan keningnya, "iya, aku memang menyukainya. Kenapa sih?" tanya Gladys polos.


Ya, Gladys memang pernah menyukainya, tapi hanya sebatas teman sebab Mark merupakan seseorang yang cukup menyenangkan. Apalagi Mark bisa berbahasa Indonesia membuatnya bisa dijadikan teman bercerita yang menyenangkan. Terlebih saat Mark menceritakan berbagai pekerjaan yang digelutinya selama di Indonesia.


Meskipun ia tidak menceritakan siapa dirinya sebenarnya, sebab ia hanya menceritakan apa-apa saja yang ia lakukan selama di Indonesia. Bahkan sampai sekarang pun Gladys belum tahu identitas Mark yang sebenarnya. Meskipun juga sebenarnya Gladys pun penasaran bagaimana orang seperti Mark bisa mondar mandir segitu lamanya di Indonesia. Bukankah setiap warga negara asing memiliki batas waktu tertentu dan harus memiliki tujuan yang jelas pula untuk mendapatkan izin menetap di Indonesia. Tapi Gladys tidak terlalu memusingkannya. Ia hanya menjadikan Mark teman berbincang yang menyenangkan. Entah bagaimana dengan Adisti sebab gadis itu memang selalu bersikap seperti biasa saja dengan setiap lawan jenis. Apalagi mereka pun belum lama saling mengenal. Ia dan Shenina sama-sama baru mengenal Adisti saat berada di Indonesia. Tapi kalau dipikir-pikir, seperti Adisti dan Mark memang cocok.


Dahi Gladys berkerut dalam. Ia merasa bingung dengan pertanyaan suaminya itu. Seketika matanya melotot saat setelah mengerti maksudnya.


Gladys terkekeh, "apa kau cemburu, hm?"


"Jawab saja pertanyaanku tadi!" tegas Axton.


"Ck ... perut udah berisi gini masih ditanya seperti itu. Kalaupun iya, kan semua hanyalah masa lalu. Ternyata bukan perempuan saja yang suka ribet dengan masa lalu, ternyata laki-laki juga," gumam Gladys sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit membukit.


"Sayang, jangan dibuat ribet deh, ayo jawab saja pertanyaanku tadi," tiba-tiba Axton merengek membuat Rainero yang duduk tak jauh dari posisi mereka pun tertawa mengejek.


"Ternyata kau pun bisa merengek, heh? Dulu saja, selalu saja mengejekku. Sekarang ... Rasakan. Oh ya Gladys, kau tahu, selama kau hamil tingkah suamimu ini aneh. Bahkan dia suka meminta dibuatkan susu rasa strawberry. Hahaha ... "


Mata Axton dan Gladys melotot. Bila Axton melotot karena kesal Rainero telah membuka rahasianya, maka Gladys melotot karena terkejut.


"Benarkah?"

__ADS_1


Rainero mengangguk sambil tersenyum mengejek ke arah Axton. Dulu Axton sangat suka mengejeknya, maka sekarang gilirannya.


"Hah, aku pikir kau hanya suka mengenakan pakaian dalam berwarna pink selama aku hamil, ternyata kau pun jadi suka mengkonsumsi susu strawberry, benar-benar mengagumkan," seru Gladys yang kini giliran Rainero yang melotot.


"Hah? Axton kau ... "


Wajah Axton sudah memerah karena malu. Kenapa pula istrinya itu membuka rahasianya di depan Rainero. Sudah pasti setelah ini ia akan menjadi bulan-bulanan atasan sekaligus sahabatnya tersebut.


Tak ingin semakin ditertawakan, Axton pun meraih tangan Gladys dan segera membawanya pergi dari sana.


Setelah kepergian Axton, Rainero menghela nafas panjang. Setidaknya setelah kedatangan Gladys tadi dapat mengurangi kecemasannya. Pintu IGD tempat Mark terbuka. Dari dalamnya keluar seorang dokter yang langsung saja menjelaskan keadaan Mark.


"Setelah melalui serangkaian observasi, ternyata tuan Mark mengalami patah tulang yang cukup serius di kaki sebelah kirinya. Untuk itu, kita harus segera melakukan operasi," papar dokter tersebut.


Rainero pun tanpa menunda langsung memberikan izin untuk melakukan operasi.


"Silahkan lakukan operasinya. Tolong lakukan yang terbaik, dokter!" ujar Rainero.


Dokter pun mengangguk. Ia pun segera bergegas menyiapkan segala keperluan operasi. Setelah satu jam berlalu, sepasang suami istri datang ke rumah sakit. Di belakangnya ada beberapa bodyguard yang menjaga kedua petinggi perusahaan dari negara tetangga tersebut.


"Tuan Rainero, seneng bertemu dengan Anda," ujar laki-laki tersebut.


"Senang juga bertemu dengan Anda tuan Alvernon," ujar Rainero. Mereka pun saling berjabat tangan. Begitu pula sang istri yang juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang Rainero berikan pada anak dan calon menantunya.


"Jadi bagaimana keadaan anak saya, tuan?" tanya nyonya Silvana.


"Mark masih di dalam, Nyonya. Kakinya patah dan harus menjalani operasi."


Mata kedua orang tua Mark pun membulat. Mereka mengepalkan tangannya. Mereka benar-benar marah atas apa yang menimpa putranya.


"Apa Anda sudah tahu siapa dalang penculikan ini?" tanya tuan Alvernon dingin.


Rainero mengangguk. Sebelum keduanya datang, memang Rainero baru saja mendapatkan informasi dari anak buahnya. Memang si penculik belum sadarkan diri hingga sekarang jadi mereka belum bisa mengorek informasi. Tapi mereka menemukan ponsel si penculik. Berkat timnya, akhirnya Rainero mengetahui siapa dalang dari penculikan tersebut.


Kedua suami istri itupun saling menatap dengan sudut bibir terangkat, "siapa?" tanya tuan Alvernon.


Rainero menghela nafas berat. Sulit sebenarnya mengatakannya apalagi ia mengenal putra dari wanita tersebut. Tapi mau bagaimanapun, perbuatan wanita itu sudah sangat fatal dan ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.


"Dia ... Nyonya Austin."

__ADS_1


...***...


...^^^HAPPY READING 🥰🥰🥰^^^...


__ADS_2