Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 40


__ADS_3

Merasa perutnya kembali mengencang, Shenina pun reflek mengusap perutnya dengan ekspresi meringis. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia sering merasakan perutnya mengencang.


"Eh ... "


Shenina terkesiap saat sebuah telapak tangan mengusap pelan perutnya dan anehnya perutnya yang tadi mengencang kembali tenang seakan tidak terjadi apapun membuat Shenina benar-benar tak habis pikir. Sebenarnya kenapa? Ada apa? Tidak mungkin kan janin di dalam kandungannya merindukan sosok ayahnya sehingga saat merasakan sentuhan sang ayah di atas permukaan kulitnya membuat mereka senang dan kembali tenang.


"K-kau, kau apa-apaan?" tepis Shenina membuat telapak tangan itu terlepas dari atas perut Shenina. Namun dalam hitungan detik, Shenina kembali meringis membuat Rainero kembali mengusap perut yang telah sedikit membesar itu hingga si empunya kembali tenang.


"Jangan keras kepala!"


"Apa maksudmu?"


Rainero mendongak, "apa kau tak sadar, anakku membutuhkanku? Lihat, kau tidak merasa kesakitan lagi kan saat aku mengusap perutmu yang seksi ini?" ucap Rainero dengan seringai di bibirnya.


Sontak saja mata Shenina melotot. Mengapa mantan atasannya ini kian aneh saja? Seumur hidup mereka saja tak pernah berbincang berdua selain untuk membahas pekerjaan, tapi kini bahkan Rainero mengucapkan kata-kata yang menurutnya aneh. Kata-kata yang sepantasnya diucapkan hanya kepada pasangannya saja.


Sebenarnya apa yang telah terjadi pada atasannya semenjak ia pergi?


*


*


*


Sepanjang hari itu Rainero tidak beranjak sebentar pun dari sisi Shenina. Bahkan ia tanpa sungkan membantu Shenina berjualan. Sebenarnya Shenina merasa risih, tapi diusir pun laki-laki itu seakan menjelma menjadi manekin hidup. Ia masa bodoh dan acuh tak acuh dengan pengusiran halus yang Shenina lakukan.


Shenina berjualan hingga sore hari, tapi jarum jam masih menunjukkan pukul 3 sore. Tampaknya belum ada tanda-tanda Shenina akan pulang.


Peluh sudah membanjiri dahi hingga sekujur tubuh Rainero. Wajahnya pun tampak memerah sebab ia memang tak pernah berpanas ria seperti ini sebelumnya. Apalagi warna kulitnya yang putih khas benua Eropa membuatnya bagai kepiting rebus, merah hingga ke telinga.


"Pak Rainero sampai kapan mau di sini? Lebih baik Anda segera pulang. Aku tidak mau disalahkan bila sesuatu terjadi pada Anda," ucap Shenina datar.


"Baiklah, aku akan pulang. Ayo!" Rainero berdiri dan malah mengajak Shenina pulang bersama.


"Apa Anda gila? Yang saya minta pulang itu Anda. Saya masih harus berjualan di sini." Shenina melirik bakso krispinya yang tidak begitu banyak lagi. Sepertinya ia memang menunggu bakso-bakso krispi itu habis baru akan pulang.


"Bungkus," ucap Rainero singkat.

__ADS_1


"Bungkus? Maksudnya?"


Rainero lantas mengambil kantong plastik dan memasukkan semua bakso krispi yang tersisa ke dalamnya.


"Pak, apa yang Anda lakukan?" seru Shenina bingung.


"Udah, aku beli semua."


"Tapi ... "


"Aku tidak bisa makan yang lain. Hanya ini yang bisa aku makan. Sebelumnya aku sempat bingung kenapa, tapi setelah tahu kau yang membuatnya akhirnya aku paham."


"Maksudnya?"


"Ayo, bereskan barang-barang jualanmu lalu kita pulang?" Rainero belum mau menjelaskan. Bagaimana pun, mereka tengah berada di pinggir jalan saat ini jadi tentu saja ini bukan tempat yang tepat untuk membahas permasalahan mereka.


"Kita? Apa Anda gila? Kalau mau pulang, pulang saja sendiri. Memangnya kita satu rumah," tolak Shenina bersungut-sungut. Lalu ia membereskan barang-barangnya jualannya dan memasukkannya ke dalam gerobak sorong.


Saat Shenina hendak mendorongnya, tiba-tiba saja Rainero mengambil alih gerobak sorong tersebut.


"Kau ... "


Shenina terkekeh, "anakmu? Bullshittt!"


"Shen, ingat, kau sedang mengandung, tidak baik mengumpat."


"Dan aku yakin, anakku pasti akan senang mendengar aku mengumpati laki-laki sepertimu. Ingat, kau sendiri yang mengatakan tak mungkin aku mengandung anakmu."


"Shen, tidak bisakah kita membahas itu di rumahmu?" ucap Rainero lirih sambil terus mengikuti langkah kaki Shenina.


"Tak ada yang perlu dibahas, tuan Rainero yang terhormat. Sebaiknya kau segera pulang! Aku ingin beristirahat," ucapnya setibanya di depan sebuah kontrakan minimalis.


Rainero terperanjat tak percaya saat melihat rumah kontrakan Shenina yang menurutnya jauh dari kata layak. Rumah kontrakan Shenina, bukanlah sebuah rumah utuh yang Shenina tempati seorang diri, melainkan sebuah rumah memanjang yang terdiri atas beberapa pintu. Hanya dinding sebagai pembatas membuat dada Rainero bagai ditikam sembilu.


Shenina mengambil alih gerobak sorong yang masih dipegang Rainero dan membawa satu persatu barang-barangnya masuk ke dalam rumah. Tak ingin melihat Shenina kelelahan, Rainero pun segera turun tangan membantu membawa barang-barang tersebut masuk ke dalam rumah kontrakan Shenina.


"Kau, kenapa kau masuk ke dalam rumahku?" ucap Shenina dingin.

__ADS_1


"Aku hanya ingin membantumu, apa aku salah?"


"Salah. Kau tak perlu sok baik membantuku. Lebih baik kau segera pergi dari sini, cepat!" usir Shenina lirih. Tubuhnya benar-benar lelah. Kepalanya pun sedikit pusing dan ia ingin segera beristirahat.


Rainero tak menggubris, "ini letakkan dimana?"


Shenina menghela nafas panjang, entah apa alasan mantan atasannya itu sok baik seperti ini. Ia harap, Rainero tidak memiliki niat terselubung. Yang lebih menakutkan adalah, Rainero ingin mengambil anaknya.


'Ah, itu tak mungkin. Dia saja tidak mau mengakui anak yang ku kandung adalah anaknya. Tapi kalau bukan itu, apa tujuannya?'


Shenina berjalan menuju pintu depan diikuti Rainero. Shenina pikir laki-laki itu akan segera pergi, tapi yang terjadi justru membuat darahnya terasa mendidih. Laki-laki itu justru merebahkan tubuhnya di atas karpet bulunya. Seakan melepas lelah karena seharian ini ikut membantunya berjualan.


"Kau, sebenarnya apa maumu, hah? Kenapa kau bersikap semaumu? Aku sudah pergi sejauh mungkin, tapi kenapa kau justru mengusikku?" sentak Shenina dengan nafas memburu. Matanya memerah. Ingatan bagaimana Rainero menolak mengakui anak dalam kandungannya dan mengusirnya membuat luka hati Shenina yang masih basah kian terasa perih.


Mendengar sentakan itu membuat Rainero terperanjat hingga reflek terduduk.


"Shen, tenang! Ingat, kau sedang ... "


"Tenang? Bagaimana saya bisa tenang, sedangkan Anda tiba-tiba datang dan bersikap seperti ini? Sebenarnya apa tujuan Anda menemui ku, hah? Aku yakin, Anda memiliki tujuan tertentu."


Emosi Shenina yang tadinya ia tahan-tahan akhirnya meluap. Bagaimana ia tidak berpikir macam-macam, sedangkan saat itu Rainero menolak kehamilannya dan mengusirnya tanpa belas kasihan sama sekali.


Rainero menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya.


"Bisakah kita bicara baik-baik, aku mohon!" Melas Rainero.


Sepanjang hidupnya, baru dua kali ia memelas. Pertama saat Delianza hendak meninggalkannya dan kedua saat ia memohon agar Shenina memberikannya kesempatan untuk berbicara.


"Bicara baik-baik? Apa saat aku ingin bicara baik-baik waktu itu, kau mengizinkannya?" raung Shenina penuh emosi. Karena terlampau emosi, perutnya tiba-tiba mengencang dan kepalanya pun kian terasa nyeri.


"Arghhhh ... sssttt ... "


"Shen, kau tidak apa-apa?"


"Jangan sentuh aku, bajingaan!"


"Shen, aku mohon, kontrol emosimu. Ya, aku tahu aku memang bajingaan, kau pantas untuk mencaci makiku. Bahkan kalau kau ingin memukulku, silahkan. Aku tak apa. Aku memang bersalah padamu. Karena itu, aku datang untuk menebus segalanya. Aku mohon ... Shen, Shenina ... " pekik Rainero saat Shenina tiba-tiba kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2