
Harold baru saja tiba di minimarketnya. Saat baru menginjakkan kakinya di dalam, mata Harold tampak memindai dengan dahi berkerut. Bagaimana tidak, ia tidak melihat satupun pembeli di minimarket itu. Padahal minimarketnya termasuk minimarket yang selalu ramai. Mungkin karena lokasi yang strategis, dekat dengan perumahan kelas menengah ke atas dan juga beberapa kantor membuat minimarketnya jadi primadona di area itu.
Harold lantas berjalan menuju kasir yang tadinya duduk bersantai dan segera berdiri saat melihat kedatangan bosnya itu.
"Selamat siang, bos," ujar sang kasir seraya menundukkan sedikit kepalanya.
Harold mengangguk sebagai respon, kemudian berkata, "kenapa sepi sekali? Biasanya jam segini sudah cukup ramai?" tanyanya. Apalagi ini sudah masuk jam makan siang, biasanya orang-orang kantor akan mampir ke sana sekadar membeli minuman, anak-anak sekolah yang baru pulang untuk membeli minuman dan jajanan, pun warga sekitar sana. Tapi siang ini, ia tidak menemukan satupun pelanggan jelas saja membuatnya heran.
Sang kasir membenarkan kacamatanya, bingung harus menjelaskan darimana, "itu bos, bukan siang ini saja sepi, tapi ... sejak pagi belum ada satupun pelanggan yang masuk ke mari," ujarnya seraya meringis.
"APA???" seru Harold terkejut. Belum pernah sekalipun minimarket itu mengalami hal demikian. "Bagaimana mungkin? Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Saya juga tidak tahu, bos. Mungkin ... " Sang kasir bingung bagaimana cara menyampaikan dugaannya.
"Mungkin apa?" tanya Harold dengan tatapan memicing
"Mungkin ... maaf bos, mungkin ini ada hubungannya dengan pemberitaan yang sedang viral saat ini," lanjutnya dengan wajah tertunduk, khawatir Harold akan tiba-tiba marah dengan pendapatnya.
Brakkk ...
"Jangan mengada-ada, kau. Mana mungkin itu terjadi. Berita itu hanya berita sampah, mana mungkin hanya karena berita sampah itu, minimarket ini tiba-tiba sepi," sergahnya tak terima saat kasirnya mengatakan sepinya minimarket itu ada hubungannya dengan pemberitaan mengenai keluarganya, khususnya Jessica. Tapi tak dapat ditampik, memang berita itu kian membesar dan heboh. Apalagi setelah munculnya pengakuan yang tidak-tidak dari orang-orang yang Harold duga merupakan suruhan Shenina.
"Maaf," cicit sang kasir khawatir Harold kian marah dan memecatnya.
"Sudahlah, kerjakan tugasmu dengan baik. Jangan mudah termakan pemberitaan sampah itu, semua itu tidak benar." Harold masih saja membela Jessica dan Ambar. Entah terbuat dari apa hati nuraninya sampai-sampai ia tetap saja membela dan membenarkan sikap Jessica dan Ambar, sebaliknya ia masih saja menyalahkan Shenina atas segala yang terjadi.
"Ini semua karena ulah anak sialan itu. Kenapa dia tidak mati saja menyusul ibunya," geram Harold.
...***...
Seperti biasa, Jessica sangat suka menghabiskan harinya dengan berjalan-jalan dan berkumpul dengan teman-temannya. Berhura-hura dan berfoya-foya merupakan kegemarannya. Seperti saat ini, ia mendatangi cafe dimana teman-temannya telah berkumpul. Saat memasuki cafe, setiap pasang mata tampak menelisik penampilan Jessica pun memberikan tatapan mencemooh, tapi Jessica yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi mengira tatapan itu karena kagum akan kecantikan dan tubuh seksinya.
Jessica menghempaskan bokongnya di salah satu kursi, membuat teman-temannya mendelik tak suka.
"Hai guys, udah lama?" tanya Jessica dengan dagu terangkat.
"Hmmm ... " Hanya gumaman yang keluar dari mulut salah satu temannya.
"Kalian kenapa tiba-tiba diam? Bukannya tadi kalian sepertinya sedang membicarakan hal yang seru?" tanyanya.
Pikir Jessica teman-temannya sedang membahas hal yang menarik, tanpa ia tahu justru dirinya lah yang menjadi bahan pembahasan.
Teman-teman Jessica mulai merasa tak nyaman. Apalagi saat mereka melihat tatapan tak suka orang-orang di sana pada mereka. Tak sedikit yang mereka yakini sedang membahas keberadaan Jessica di sana. Merasa tak nyaman, mereka pun undur diri satu persatu dengan berbagai alasan yang pastinya sebuah kebohongan.
__ADS_1
"Jess, aku pulang duluan ya! Barusan mommy ku kirim pesan untuk menemaninya ke butik langganannya," ujar salah satu teman Jessica.
Jessica mengangguk, "it's okay."
"Astaga, aku baru ingat, aku ada janji dengan adikku untuk menemaninya ke toko buku," ujar teman Jessica yang lain. Begitu pula teman Jessica yang lain, mereka satu persatu berpamitan dengan berbagai alasan meninggalkan Jessica yang kini hanya duduk sendirian.
Kesal karena semua temannya pergi, dengan membawa cup kopinya, Jessica pun berdiri dan berbalik badan.
Brukkk ...
"Awh, panas!" teriak seorang perempuan cantik membuat ketiga orang yang ikut dengannya panik.
"Dys, are you okay?" tanya sang laki-laki khawatir.
"Mister, tangan Gladys melepuh, bagaimana ini?" seru teman perempuannya ikut panik. Lalu ia mengalihkan perhatiannya pada Jessica yang memasang wajah tanpa dosa. Mata gadis yang tak lain Adisti itupun melotot, "heh, kalau jalan itu pakai mata, lihat akibat ulah kamu, tangan temanku jadi melepuh!" sentak Adisti dengan mata melotot.
Axton segera membantu Gladys menuju wastafel yang ditunjukkan pramusaji di cafe tersebut. Sementara Adisti masih berdiri di hadapan Jessica ditemani Jevian.
"Kamu itu bodoh atau bagaimana sih? Namanya jalan itu pakai kaki, bukan mata," balas Jessica memasang wajah songong.
"Kaki memang untuk berjalan, tapi kalau tidak pakai mata, lihat akibatnya, bukannya meminta maaf, malah berkacak pinggang. Heh, kamu pemeran wanita di video yang sedang viral itu kan? Pantas saja, bukan hanya kelakuan yang minus, tapi juga sifat."
"Apa kamu bilang?" Jessica telah mengangkat tangannya, tapi langsung ditepis Jevian.
"Jangan menggunakan kekerasan, Nona, atau saya bisa melaporkan Anda ke pihak yang berwajib!" tegas Jevian membuat Adisti menyeringai ke arah Jessica.
Jessica terkekeh, "apa? Tuntut? Memangnya kau siapa?" Jessica menatap Adisti dengan tatapan meremehkan.
"Segera meminta maaf atau aku hubungi polisi sekarang juga? Silahkan pilih, kau mau yang mana?" tegas Axton yang telah berdiri di belakang Jessica.
Jessica yang merasa tersudut pun terpaksa meminta maaf walaupun dengan wajah tak ikhlas. Setelah mengucapkan permintaan maaf, Jessica pun segera pergi dari sana sebab ia mulai merasa tak nyaman. Apalagi ia baru sadar kalau orang-orang di cafe tersebut tengah menggunjingnya. Bahkan sepanjang ia berjalan, setiap orang yang melihatnya pasti memberikan tatapan mencemooh.
"Sialan. Semua karena Shenina. Pasti ini ulahnya. Kenapa laki-laki itu bisa menyukai Shenina bahkan menikahinya? Padahal aku lebih cantik dan seksi. Benar-benar menyebalkan," gumamnya kesal.
Menjelang sore, Axton pun mengantar Gladys pulang ke mansion Ranveer, sedangkan Adisti diantar Jevian. Ini merupakan permintaan Ranveer sendiri agar sementara waktu mereka tinggal di sana terlebih dahulu.
"Tanganmu tidak apa-apa?" tanya Axton. Tangan Gladys sebenarnya telah diobati menggunakan salep yang Axton beli di apotek siang tadi, tapi Axton masih mengkhawatirkan luka bakar Gladys.
"Aku tidak apa-apa. Tak perlu khawatir."
"Baguslah," ujar Axton seraya tersenyum manis.
Sementara itu, mobil Jevian baru saja terparkir di carport mansion Ranveer. Jevian turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Adisti. Adisti tersenyum kemudian turun sambil menggenggam tangan Jevian yang terulur padanya.
__ADS_1
"Sini, biar aku saja," ujar Adisti saat Jevian membantu membawakan belanjaan Adisti.
"Tidak, biar aku saja. Ayo aku antar ke dalam!"
Adisti tersipu karena perlakuan manis Jevian. Tanpa ia sadari, hal itu menjadi perhatian Mark yang tengah duduk bersantai di taman dekat kolam ikan. Tanpa sadar Mark mengepalkan tangannya, merasa kesal karena Adisti bersikap baik pada Jevian dan sebaliknya tak acuh padanya.
...***...
"Sweety, kau sudah bangun?" ujar Rainero yang sudah duduk di samping Shenina. Disingkapnya rambut Shenina yang menjuntai ke depan wajahnya. Diusapnya pipi chubby Shenina dengan lembut membuat wanita hamil yang baru saja terbangun dari tidurnya setelah sesi percintaan kedua mereka tersipu malu. Bagaimana tidak, bila di sesi pertama Rainero lah yang mendominasi, maka di sesi kedua setelah makan siang justru dirinya lah yang memimpin permainan.
Shenina benar-benar tak menyangka, ia bisa bersikap begitu liar menunggangi Rainero. Bahkan ia begitu bersemangat membuat Rainero tak henti-henti mengerang di bawahnya.
Melihat wajah Shenina yang memerah, ia paham kalau sang istri tengah merasa malu dengan apa yang mereka lewati dua jam yang lalu.
"Kau malu, hm?" goda Rainero sambil mencubit cuping hidungnya.
Shenina berdecak, kemudian mengalihkan pandangannya ke samping membuat Rainero kian gemas dan ikut berguling di sampingnya.
"Tak perlu malu, Sweety. Asal kau tahu, aku sangat suka melihat kau bergerak liar di atasku. Dan aku benar-benar menikmatinya."
Shenina terdiam membuat Rainero khawatir, "apa kau menyesal, Sweety?"
Shenina mengerutkan keningnya dan menatap Rainero balik.
"Menyesal? Kenapa?"
"Yah, menyesal karena aku menyentuhmu mungkin atau ... karena aku tidak bisa memuaskan mu," ujarnya menduga-duga.
Shenina merapatkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya di dada Rainero. Kulit bertemu kulit, sebab Shenina belum mengenakan pakaian sama sekali, sementara Rainero hanya menggunakan bokser membuat Rainoconda seketika mencuat. Rainero sampai menelan ludahnya karena Rainoconda yang begitu sensitif.
"Jangan suka menduga-duga. Aku ... aku hanya malu. Padahal ini untuk pertama kalinya kita melakukan secara sadar, tapi aku bisa bersikap seberani itu seakan aku sudah begitu berpengalaman," ujarnya sambil terkekeh kecil. "Dan kata siapa kau tidak bisa memuaskan ku? Sebaliknya, aku benar-benar puas. Bahkan aku tak menyangka kalau bercinta itu benar-benar menyenangkan. Aku tak menyesal menerimamu sebagai suamiku. Bahkan aku sangat bangga bisa menjadi milikmu. Justru sebaliknya, aku yang merasa khawatir, bagaimana kalau aku tidak bisa memuaskan mu? Aku takut ... kau berpaling dariku karena itu," ujarnya membuat tangan Rainero yang tadi mengusap punggung Shenina seketika berhenti.
Lalu Rainero merenggangkan pelukannya sambil menatap netra Shenina, "kata siapa kau tidak bisa memuaskan ku? Justru sebaliknya, aku bukan hanya puas, tapi sudah kecanduan. Kau itu ibarat zat adiktif yang membuatku candu."
"Benarkah? Tapi kan aku tidak berpengalaman seperti mereka?"
"Justru itu yang menjadi kelebihan mu, segala hal yang ada padamu membuatku tak bisa berpaling. Bahkan, Rainocondaku hanya menginginkanmu. Tak percaya?" Rainero mengerling jahil, lalu ia menarik salah satu telapak tangan Shenina dan menyentuhkanya tepat di atas Rainoconda yang telah menjulang tinggi, seolah tak sabar ingin dikeluarkan dari sangkarnya.
"I-ini ... " Rainero terkekeh kemudian mengecup bibir Shenina sekilas.
"Bahkan hanya bersentuhan kulit denganmu, Rainoconda langsung bangun, sebegitu tergila-gilanya dia padamu. Mau lanjut sesi ketiga?" godanya membuat wajah Shenina tersipu. Namun gerakan kepala Shenina membuat Rainero tersenyum lebar. Tanpa banyak basa-basi, mereka lantas memulai sesi ketiga.
Setelah selesai, Rainero langsung memesankan kudapan untuk Shenina. Ia yakin, istrinya itu pasti tengah lapar lagi sekarang. Bukan hanya karena mereka baru selesai menguras tenaga, tapi juga karena kehamilan kembarnya. Bagaimana Shenina tidak merasa bahagia sebab Rainero tampak begitu memahaminya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...