
Setelah mengetahui Rhea ternyata tidak kunjung pulang ke rumahnya, untuk pertama kalinya Theo pun mencoba menghubungi Rhea. Namun hingga berkali-kali Theo melakukan panggilan, nomor yang dituju tetap saja tidak aktif.
Theo mendesah kesal. Ia sebenarnya malas berurusan dengan Rhea, tapi mau bagaimanapun Rhea menjadi tanggung jawabnya. Ia tak ingin kelak disalahkan bila terjadi sesuatu pada Rhea.
Diliriknya nakas, sudah terdapat segelas air putih dan obat penghilang sakit kepala. Diliriknya pakaian yang dikenakannya semalam, ternyata sepatu dan jaketnya telah dilepas dan setelah diperiksa semua telah diletakkan di tempatnya. Entah mendapat keyakinan dari mana, Theo yakin Rhea lah yang membawanya pulang ke apartemen. Kemudian melepaskan sepatu dan jaket, serta menyiapkan obat dan air minum untuknya.
"Apa benar Rhea yang membawaku pulang? Tapi bagaimana ia bisa menemukan ku di club malam itu? Atau jangan-jangan dia memang sebelumnya berada di sana?" gumamnya sambil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan melemparkannya asal. Lalu dengan sedikit sempoyongan, Theo berjalan menuju kamar mandi. Ia perlu membersihkan diri. Ia juga tetap harus menjalankan tugasnya di perusahaan tempatnya bekerja.
...***...
Theo melaksanakan tugasnya sebagai mestinya. Meskipun sedang didera permasalahan, Theo tetap berusaha bersikap profesional dalam bekerja. Hingga tibalah jam makan siang, teman-teman satu divisi Theo mengajaknya makan di sebuah restoran yang ada di sebuah gedung pusat perbelanjaan terbesar di sana. Salah satu rekan kerja berulang tahun, jadi ia berniat mentraktir semua rekan satu divisinya.
Jarak gedung pusat dari kantor Theo hanya memakan waktu tak lebih dari 30 menit. Tak lama kemudian, mobil yang membawa mereka pun telah terparkir di basemen pusat perbelanjaan itu. Mereka pun segera turun dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan untuk menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan.
Tak butuh waktu lama, mereka pun segera menemukan restoran tersebut.
"Meja sudah di reservasi?" tanya salah seorang rekan kerja Theo. Rekannya yang mentraktir pun menganggukkan kepala. Lalu ia membawa teman-temannya ke meja yang memang telah ia reservasi sebelumnya.
"Ayo, silahkan pesan saja! Tak perlu sungkan," ujar teman Theo tersebut.
"Wah, beneran nih? Tapi ini mahal-mahal lho!"
"Tidak masalah. Ayo, silahkan! Theo, kamu juga. Tidak perlu sungkan-sungkan seperti itu," ucap temannya.
Theo tersenyum tipis kemudian mengangguk. Ia lantas mengambil daftar menu dan mulai menyebutkan pesanannya.
Teman-teman Theo tampak berbincang dengan begitu akrab. Memang rekan satu divisi mereka saling akrab satu sama lain. Mereka benar-benar menjaga keakraban dan kekompakan agar suasana kerja jadi lebih menyenangkan. Pertemanan mereka pun bukan hanya berlangsung di tempat kerja saja, bahkan mereka juga sering nongkrong bersama untuk menghilangkan kejenuhan.
Saat sedang asik makan sambil berbincang, tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari meja lain. Ternyata ada salah satu pelanggan yang gaunnya terkena tumpahan kuah yang cukup pekat. Alhasil, perempuan itu marah besar dengan sang pramusaji.
"Kamu itu bisa bekerja tidak sih? Kau lihat, karena ulahmu gaunku jadi kotor," pekik perempuan itu kesal.
"Maaf nona, saya benar-benar tidak sengaja," ucap sang pramusaji dengan wajah tertunduk.
"Tidak sengaja kau bilang? Heh, kau ini bekerja di restoran mewah sudah seharusnya kau bekerja dengan baik dan benar. Bagaimana restoran ini bisa mempekerjakan seseorang yang begitu ceroboh sepertimu. Untung saja kuahnya tidak panas, coba kalau panas, bisa-bisa kulitku melepuh. Apa kau tahu, gajimu 6 bulan saja tidak bisa membayar harga gaun yang aku kenakan, apalagi biaya perawatan kulitku," ucap perempuan itu sombong dan bernada sengit.
Suara lantang perempuan itu jelas saja menarik atensi hampir semua pelanggan yang jumlahnya tidaklah sedikit. Suasana tenang seketika riuh karena ulahnya.
"Sekali lagi saya mohon maaf, Nona atas keteledoran saya. Bagaimana kalau saya mengganti rugi biaya laundry gaun Nona?"
"Apa? Laundry? Kau tahu, gaunku ini tidak bisa sembarangan dicuci. Bahkan detergent yang dipakai pun tidak bisa sembarangan, kau pikir ini baju kerjamu yang usang ini, hah? Gaun yang saya kenakan ini merupakan produk designer ternama. Hanya ada satu-satunya jadi kalau rusak, tidak ada gantinya. Dan kau lihat ini, kau pikir noda ini bisa hilang begitu saja setelah dicuci? Saya tidak mau tahu menahu, segera ganti rugi dengan nominal serupa atau aku akan melaporkanmu ke polisi?"
Brukkk ...
Mendengar ganti rugi dengan nominal serupa atau dilaporkan ke polisi membuat tubuh pramusaji itu gemetar hebat. Ia benar-benar tidak sengaja melakukan itu. Bagaimana mungkin ia bisa mengganti rugi gaun yang harganya sangat mahal itu. Sedangkan untuk masuk penjara, ia pun takut. Bagaimana dengan nasib ibu serta adik-adiknya bila ia dipenjara.
__ADS_1
"Saya mohon Nona, maafkan saya..Saya benar-benar tidak sengaja. Saya mohon," melas pramusaji itu.
Bukannya iba apalagi memaafkan, perempuan itu justru mendorong pundak sang pramusaji hingga terjengkang. Orang-orang berteriak terkejut karena ulahnya.
"Aku hanya memberimu pilihan ganti rugi atau dipenjara. Sekarang jawab, kau pilih yang mana!" sentak perempuan itu.
"Perempuan itu sombong sekali. Padahal gaunnya hanya terkena sedikit tumpahan saja, tapi kelakuannya sudah keterlaluan seperti itu," ujar teman kerja Theo. Theo diam. Ia pun ikut memperhatikan keributan tersebut.
"Iya, padahal menurutku gaunnya biasa saja tuh. Bahan kainnya pun tidak termasuk yang high quality. Ibuku itu bekerja di sebuah butik jadi aku tahu mana gaun yang kualitasnya benar-benar bagus atau tidak," timpal rekan kerja Theo yang lain.
"Ayo pilih, kau mau ganti rugi atau ... "
"Atau apa?"seru seseorang tegas membuat semua pandangan mata teralih padanya.
"Kau siapa? Tidak usah ikut campur urusanku dengan pramusaji bodoh ini!"
"Jaga bicaramu, Nona! Dia sudah bekerja dengan baik. Jadi jangan membuat kekacauan di sini."
"Heh, tidak perlu sok tahu! Kau tahu apa, hah? Dia ini sudah menumpahkan kuah merah itu ke gaunku. Kau lihat. Ini gaun mahal dan dia merusaknya."
Perempuan yang baru saja muncul itu tersenyum sinis, "benarkah itu kesalahannya?"
"Itu benar. Untuk apa aku mengada-ada."
Kalau saya berhasil membuktikan kalau pramusaji ini tidak bersalah, apa yang akan kau berikan?"
"Aku bisa membuktikan kalau pramusaji ini tidak bersalah, apa telingamu mengalami gangguan pendengaran?"
Tangan perempuan tadi pun mengepal erat.
"Jangan sembarangan bicara kau! Kau tidak tahu siapa aku. Aku bisa saja menuntut mu karena pencemaran nama baik."
Lagi, perempuan yang baru saja muncul itu tersenyum menyeringai.
"Sepertinya kau tidak bisa diajak bicara baik-baik. Baiklah, aku sendiri yang akan membuktikan siapa yang salah di sini!" ujarnya dengan smirk devil di bibirnya.
Lalu perempuan yang baru datang tadi menjentikkan jarinya. Hingga tak lama kemudian, terpampanglah sebuah tayangan di dinding serba putih itu. Itu adalah potongan rekaman cctv yang sempat perempuan itu ambil sebelum menemui perempuan pembuat onar itu. Rekaman itu diproyeksikan ke dinding sehingga semua orang dapat melihat kronologisnya dengan jelas.
Mata perempuan tadi membulat sempurna. Bagaimana bisa perempuan itu menunjukkan kalau dirinya lah yang selalu sengaja menyenggol kaki sang pramusaji sehingga makanan berkuah yang ia bawa tumpah dan terpercik ke gaunnya.
Wajah perempuan itu sudah memerah. Ia benar-benar malu sekali karena semua orang kini tampak menghujatnya sebagai pelaku playing victim.
Tangannya terkepal erat. Ia benar-benar malu saat ini.
"K-kau sebenarnya siapa?" tanya perempuan itu gugup.
__ADS_1
"Perkenalkan, aku Rhea Swarovski. Manager restoran ini."
Perempuan itu merutuk dalam hati. Pantas saja perempuan itu bisa memiliki rekaman cctv kejadian beberapa saat yang lalu.
"Bagaimana? Kau masih ingin berkeras meminta ganti rugi atau melaporkan ke polisi?"
"Ti-tidak. Maafkan aku. Aku bersalah. Aku mohon maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku."
"Sebenarnya saya ingin melaporkan Anda ke polisi, tapi saya akan memberikan Anda dua pilihan. Pertama, minta maaflah pada pramusaji kami dan beri ia uang sebagai kompensasi atau ...saya akan melaporkanmu ke polisi?"
"Tidak. Jangan. Saya mohon jangan lakukan itu. Baiklah, saya akan meminta maaf dan memberikan uang sebagai kompensasi. Maafkan saya nona, saya benar-benar menyesal. Ini ... saya hanya punya ini."
Perempuan itu lantas mengeluarkan semua uang di dalam dompetnya. Lalu sebagai ia berikan pada sang pramusaji.
"Maaf, saya tidak bisa memberikan semua uang ini. Sebab saya belum membayar tagihan makanan yang sudah saya santap," ujarnya dengan wajah merah padam. Bagaimana tidak, ia benar-benar malu saat ini. Ia sudah berlagak sok kaya, tapi ternyata uangnya tidaklah seberapa. Hanya ada tak lebih dari dua ratus dollar saja. Sedangkan menu yang ia pesan harganya hampir 100 dollar.
Setelah memberikan uangnya, ia langsung membayar tagihan. Setelahnya, ia pun bergegas pergi dengan kepala tertunduk malu.
Setelah kepergian perempuan itu, terdengar sorak tepuk tangan dari para pengunjung. Mereka mengagumi cara manager restoran itu menyelesaikan masalah. Bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi ia juga memberikan pelajaran pada perempuan itu agar tidak seenaknya dalam bersikap.
Pramusaji tadi pun langsung mengucapkan terima kasih dengan mata berkaca-kaca atas pertolongan sang manager.
Setelah keadaan kembali kondusif, sang manager yang tidak lain adalah Rhea itu pun segera kembali ke ruangannya.
"Wow, keren! Manager restoran ini benar-benar keren."
"Kau benar. Selain hebat, cerdas, dia pun sangat cantik. Kira-kira, dia masih single atau udah punya kekasih ya?"
"Entahlah. Memangnya kenapa kalau dia masih single?"
"Aku akan segera melamarnya dan menjadikannya istri. Hahaha ... " ucap laki-laki yang mentraktir Theo dan teman-temannya itu.
Ukhuk ... Ukhuk ... Ukhuk ...
Tiba-tiba Theo terbatuk-batuk. Membuat semua atensi teman-temannya teralih ke Theo.
"Hei, Theo, kau kenapa? Hati-hati!" seru teman Theo yang duduk di sampingnya. Ia pun segera menepuk-nepuk punggung Theo agar ia berhenti terbatuk.
"Kenapa kau tiba-tiba tersedak? Ah, pasti kau pun ikut mengagumi manager restoran ini kan? Dan kau merasa tersaingi karena kau pun ingin mendekatinya. Aha, tapi tidak boleh. Bukankah katamu kau sudah menikah?" seloroh teman Theo membuat mata Theo mendelik tajam. Sementara yang lain hanya menertawakan mereka saja.
Theo mendengus, lalu ia pun segera beranjak dari sana.
"Heh, kau mau kemana?" teriak teman Theo saat melihat Theo beranjak begitu saja.
"Toilet," jawabnya singkat, padat, dan jelas.
__ADS_1
...***...
...^^^HAPPY READING 🥰🥰🥰^^^...