
"Kau pikir aku mau menyakitinya, hah? Katakan saja, dimana Rhea. Ingat, dia masih istriku. Berhenti untuk menyembunyikannya," teriak Theo benar-benar kesal sebab Ael tidak bisa ia ajak kerja sama sama sekali.
"Mati saja kau. Karena sampai kapanpun aku takkan pernah melakukannya!" teriak Ael benar-benar kesal.
Namun baru saja Theo ingin menjawab makian Ael, tiba-tiba dari mobilnya ia melihat cahaya yang mulia mendekat. Meskipun tidak begitu jelas, tapi dari cahayanya dapat ia tebak berasal dari sebuah mobil yang melaju ke arahnya. Dari pencahayaannya yang tampak kesana kemari, dapat Theo tebak mobil itu melaju ugal-ugalan.
Hingga dalam sepersekian detik kemudian, mobil itu berada tepat di depannya. Theo tidak bisa menghindar lagi sebab kecepatan mobil itu cukup tinggi sehingga benturan yang cukup keras pun tak bisa terelakkan.
Brakkkk ...
"Aaargh ... "
Hantaman mobil yang begitu keras membuat mobil Theo terdorong cukup jauh lalu terguling di tengah jalan.
Dalam sekejap, aroma anyir telah menyeruak memenuhi mobil. Asap tebal pun perlahan keluar dari mesin mobil. Penglihatan Theo mulai samar. Sekelebat senyum Shenina yang kemudian tergantikan wajah cantik Rhea membuatnya terpaku.
"Hei, bodoh, kau masih di sana kan? Hei kau, jangan menakuti ku!" teriak Ael kalut setelah mendengar suara benturan yang cukup keras tadi.
"Rhe-a, kem-ba-li-lah ... " lirihnya sebelum semuanya benar-benar hilang dari penglihatannya.
Gelap. Semuanya tampak gelap seiring dengan kesadarannya yang benar-benar lenyap menyisakan kepulan asap dan percikan api yang membuat suasana yang tadinya tampak gelap karena kabut jadi terlihat lebih terang.
"Heh, bodoh! Bicaralah. Kau kenapa?" teriak Ael lagi dengan tangan dan bibir yang sudah bergetar. Ael dapat merasakan sudah terjadi sesuatu pada Theo. Namun ia tidak bisa menebak apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Kau kenapa?" tanya seorang perempuan pada Ael. Dia adalah Bianca, perempuan yang tadi siang pergi bersama Ael. (Di bab Rainero San Shenina si Bianca ini pernah nongol lho kalo-kalo kalian lupa.)
"I-ini ... barusan suami Rhea telepon. Dia mencari-cari Rhea ... "
"Kau tidak memberitahunya dia ada di sini?" tanya Bianca.
"Tidak," jawab Aeo dengan pikiran berkecamuk.
Ya, malam tadi saat hendak mengantar Bianca pulang ke apartemennya, mereka tanpa sengaja melihat keberadaan Rhea yang sedang duduk termenung di atas kap mobil di sebuah taman yang tak jauh dari apartemen Bianca. Ael sangat terkejut lalu ia pun menghampiri Rhea. Dari matanya yang sembab, Ael yakin telah terjadi sesuatu pada Rhea, tapi sayang ketika Ael bertanya, Rhea tidak ingin bercerita.
__ADS_1
Lalu Ael pun menawarkan mengantar Rhea pulang ke apartemennya, tapi Rhea justru menolak. Ael menanyakan ingin pulang ke mana, tapi Rhea tampak kebingungan. Jadi Bianca menawarkan untuk bermalam di apartemennya saja sementara ini. Apalagi langit telah menggelap, Rhea juga sedang hamil, jadi solusi terbaik adalah menawarkan Rhea bermalam di apartemennya.
Rhea setuju. Akhirnya malam ini Rhea pun bermalam di sana.
Ael yang sedang khawatir, tidak langsung pulang. Jadi ia memilih tidur di sofa ruang tamu apartemen Bianca.
Saat masih tertidur lelap, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Diliriknya, nama pemanggil adalah Rhea. Alisnya pun bertaut. Untuk apa Rhea menghubunginya, sedangkan mereka ada di satu apartemen yang sama.
"Apa dia kira aku sudah pulang ya?"
Tanpa banyak pikir panjang, Ael pun gegas mengangkat panggilan itu. Setelah mendengar suara Theo, akhirnya Ael sadar kalau Rhea sudah meninggalkan ponselnya.
"Kau kenapa? Ada masalah?" tanya Bianca yang berjalan mendekat ke arah Ael yang sudah berdiri.
"Tadi saat ia menelpon ku, tiba-tiba aku mendengar suara benturan yang sangat kencang. Lalu tiba-tiba panggilan itu terputus begitu saja. Aku khawatir telah terjadi sesuatu pada laki-laki itu."
"Kalau benar terjadi, bukannya bagus? Kau bilang kau sudah lama menyukai perempuan itu kan?"
Bianca tersenyum, "sepertinya aku akan memikirkan masalah perjodohan kita?" ucap Bianca sambil menarik-turunkan alisnya.
"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran?"
"Sepertinya kau laki-laki yang baik. Tidak masalah kan kalau kita menikah. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Kalaupun kelak kita tidak cocok, kita akan berpisah secara baik-baik."
"Ck ... Terserah kau saja lah. Aku titip Rhea dulu ya! Aku ingin mencari tahu apa yang sudah terjadi pada Theo."
"Jadi nama suaminya Theo?"
Ael mengangguk, "aku pergi dulu."
Setelah mengucapkan itu, Ael pun segera beranjak dari sana.
Ael mengendarai mobilnya menuju apartemen Rhea dan Theo. Ia akan mulai mencari informasi dari sana.
__ADS_1
"Tuan Theo sejak semalam belum pulang. Ia sempat pulang sebentar mencari istrinya, tapi ternyata istrinya pun belum pulang jadi tuan Theo pergi lagi untuk mencarinya."
Ael terhenyak. Ia tidak menyangka kalau Theo akan mencari Rhea. Ia sangka, sama seperti sebelumnya, Theo akan bersikap acuh tak acuh pada Rhea. Seketika perasaan bersalah mencekik lehernya, mencengkeram jantungnya.
Ael juga memukul mulutnya dengan keras membuat resepsionis di gedung apartemen Theo melotot heran.
"Mulut ini! Kenapa bisa-bisanya aku menyumpahi laki-laki bodoh itu seperti itu? Bagaimana kalau memang terjadi sesuatu padanya? Aaargh ... Sial. Seharusnya tadi aku beritahu saja dimana Rhea berada, bukannya mengajaknya berdebat. Apa saat itu dia sedang berada di perjalanan mencari Rhea? Bagaimana kalau benar-benar dan karena ulahku dia jadi mengalami kecelakaan? Aaaargh, sial ... sial ... sial! Aku harus apa? Bagaimana ini?" gumamnya frustasi.
Ael meraup wajahnya kasar karena kebingungan harus melakukan apa.
Sementara itu, di apartemen Bianca, selesai sarapan, Rhea pun membantu Bianca membereskan piring kotornya. Namun baru saja Rhea hendak mengangkat piring-piring kotor itu ke wastafel, Bianca sudah lebih dulu menghentikannya.
"No! Kau tak perlu repot-repot. Aku bisa mengerjakannya sendiri. Lebih baik kau duduk saja di ruang tamu sambil menonton televisi. Sepertinya keadaanmu sedang tidak baik-baik saja, jadi lebih baik beristirahatlah," sergah Bianca.
"Tapi ... "
"Tak perlu tapi-tapian. Kalau kau menghormatiku sebagai tuan rumah Lebih baik kau duduk diam dan menonton televisi saja, oke?"
"Oke!" jawab Rhea pasrah.
Lalu Rhea pun berjalan menuju ruang tamu sambil membawa gelas berisi susu hamil yang dibelikan Ael semalam. Rhea sebenarnya tidak biasa menonton televisi. Kesehariannya yang sibuk bekerja membuatnya jarang menyalakan televisi. Kalaupun menonton, paling tidak Rhea menyalakan siaran berita.
Setelah Rhea menyalakan televisi, ia pun segera mencari channel yang menayangkan berita. Berita yang yang sedang ditayangkan kali ini merupakan berita mengenai kecelakaan yang menimpa sebuah mobil di jalanan X. Mobil itu tampak rusak parah bahkan meledak. Untung saja pengemudinya sempat diselamatkan. Tapi keadaan pengemudi itu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kepalanya berdarah hebat pun sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka.
Rhea sendiri bergidik ngeri saat melihat kobaran api hasil ledakan mobil tersebut. Hingga tiba-tiba identitas pengemudi terpampang di layar kaca. Seketika gelas yang baru saja dipegang Rhea terjatuh dan pecah berkeping-keping.
Kepalanya mendadak pusing, ingatan bagaimana Theo memperlakukannya dengan sangat manis seketika berkelebat dalam ingatannya.
"Theo ... Tidak, ini tidak mungkin. Itu tidak mungkin Theo kan? Tapi bagaimana kalau benar?"
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1