Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 101


__ADS_3

Siang ini Jevian mengajak Adisti jalan-jalan ke mall seraya menemaninya mencari kado untuk keponakannya yang akan berulang tahun. Setelah mendapatkan kado yang sesuai, Jevian pun mengajak Adisti makan siang berdua.


"Kamu mau makan apa, Adisti?" tanya Jevian seraya menyodorkan daftar menu kepada Adisti.


Adisti yang tidak paham apa-apa menu yang ada di dalam daftar restoran Prancis itupun menyerahkan segalanya pada Jevian.


" Kamu aja deh yang pesan. Jujur, aku tidak mengerti makanan apa itu. Namanya aneh," tutur Adisti seraya terkekeh.


Jevian ikut terkekeh kemudian mengusap puncak kepala Adisti. Lalu Jevian pun memesankan makanan untuk mereka berdua.


Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa hari sudah menjelang sore. Jevian pun segera mengantarkan Adisti pulang ke apartemennya.


"Besok kamu jadi kan temenin aku ke ulang tahun keponakanku?" tanya Jevian lagi memastikan kalau Adisti tidak membatalkan rencananya menemani dirinya menghadiri acara ulang tahun sang keponakan yang merupakan anak sulung dari kakak pertamanya.


"Tapi apa tidak apa-apa? Bagaimana kalau keluargamu tidak suka melihat keberadaanku?" tanya Adisti yang sangsi kalau keluarga Jevian bisa menerima kehadirannya dengan tangan terbuka. Sebenarnya Adisti ingin menolak, tapi Jevian terus memohon sehingga Adisti pun terpaksa mengiyakan.


"Tak perlu khawatir. Kenapa sih kamu selalu khawatir berlebih seperti ini? Kalau belum mencoba, bagaimana kita tahu?" ucap Jevian mencoba meyakinkan Adisti. Sebenarnya dalam hati, Jevian pun merasa sangsi sebab ia tahu bagaimana sikap keluarganya. Mereka selalu saja tak suka melihatnya dekat dengan siapa saja yang derajatnya di bawah mereka. Berbanding terbalik dengan Jevian yang justru senang berteman dengan siapapun tak peduli dari mana dan asal keluarga mereka. Yang penting ia merasa nyaman, maka ia akan terus mempertahankan pertemanannya.


"Ya sudah. Kalau begitu, sampai jumpa besok," ucap Adisti seraya turun dari dalam mobil.


Sebenarnya mereka tidak memiliki hubungan apapun. Mereka hanya nyaman saat berteman. Apalagi Jevian tak pernah bersikap aneh padanya. Pun Jevian yang merasa senang berteman dengan Adisti yang menurutnya menyenangkan.


Adisti baru saja tiba di depan pintu apartemennya. Baru saja tubuhnya masuk sebagian, tiba-tiba ada sosok bertubuh lebih besar dari dirinya masuk lebih dahulu membuat mata Adisti melotot.


"Kau ... " tunjuknya dengan mata melotot. "Kenapa kau bisa ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu masuk ke apartemenku, hah?" delik Adisti dengan raut wajah sebal.


Tapi sosok itu justru acuh tak acuh dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Ah, nyamannya," desah laki-laki yang tak lain adalah Mark itu.


"Heh, kau itu tuli ya? Kenapa kau ada di sini? Keluar sana, aku mau istirahat," usir Adisti dengan berkacak pinggang.


"Ayolah, aku sedang lelah dan ingin sekali beristirahat. Lebih baik kau buatkan aku segelas kopi. Kalau tak ada, susu juga boleh," ujar Mark sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Nyusu aja sama sapi sana, memangnya aku pembantumu. Enak aja nyuruh-nyuruh orang semaunya," sentak Adisti sewot.

__ADS_1


"Uh, galaknya calon istri!" goda Mark sambil tersenyum-senyum tak jelas.


"Calon istri? Sepertinya kau sudah gila. Apa perlu aku menelpon rumah sakit jiwa agar kau segera dirawat di sana sebelum makin gila."


"Ya, aku memang gila. Tapi aku tidak butuh dokter rumah sakit jiwa untuk mengobatiku. Tapi sebaliknya, yang aku butuhkan adalah dokter cinta sebab aku sedang gila karena cinta," ujarnya seraya tergelak sendiri.


Adisti sampai merinding melihat tingkah Mark yang menurutnya aneh itu.


"Sepertinya kau sudah benar-benar tak waras," ucapnya sambil melipir masuk ke dalam kamar.


Menjelang malam, Adisti merasa enggan keluar karena ia yakin Mark pasti masih berada di luar. Tapi perutnya yang terus berbunyi memaksanya keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi sebelum itu, ia mengintip terlebih dahulu, memastikan kalau Mark masih di sana atau sudah pergi. Dilihatnya sofa yang ditiduri Mark tadi telah kosong, Adisti pun bernafas lega. Ia pun melenggang keluar dari dalam kamarnya dengan hanya mengenakan crop top dan hot pants membuatnya terlihat seksi.


Namun, baru saja ia menginjakkan kakinya di area dapur mata Adisti seketika melotot saat melihat sesosok pria yang hanya mengenakan celana panjang saja tanpa atasan. Otot-otot yang liat dengan kulit berwarna kecoklatan membuat laki-laki itu tampak begitu seksi. Adisti sampai kesulitan menelan lidahnya sendiri.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa karena aku tampan? Tubuhku seksi?" Entah sejak kapan, tiba-tiba Mark sudah berdiri di hadapan Adisti.


"Ah, itu ... ti-tidak. Kata siapa? Percaya dirimu tinggi sekali, Sir," ucap Adisti gelagapan.


Mark terkekeh lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Adisti, "kau tidak bisa membohongiku, Miss. Look, pipimu bersemu merah. Aku sangat tahu artinya," ucapnya tepat di depan wajah Adisti sehingga nafas hangat beraroma khas laki-laki itu ikut terhidu ke dalam rongga pernapasannya.


"Kau ....ck, terserah kau mau mengatakan apa. Kau, apa yang kau lakukan di dapurku? Jangan bilang kau kelaparan lalu ingin mencari makanan di sini? Tidak ada. Aku tidak mau memasakkan makanan untukmu."


"Kau yang memasak ini?" tanya Adisti sangsi.


"Kenapa? Kau ragu? Kalau kau tak percaya, tak apa. Nanti kapan-kapan aku akan memasakkan kamu makanan tepat di depan matamu agar kau percaya. Lebih baik sekarang kita makan. Kebetulan aku sudah benar-benar lapar," ucap Mark seraya menarik salah satu kursi untuk Adisti duduki. Wanita itupun menurut dan segera duduk.


Awalnya Adisti ragu untuk menyantap makanan itu.


"Kenapa? Kau takut aku racuni? Atau kau takut makanan ini aku beri obat perang sang?"


Mata Adisti melotot, bagaimana laki-laki itu bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya?


"Baiklah, aku yang akan menyantapnya lebih dulu untuk membuktikan kalau makanan ini aman untuk kau makan."


Lalu Mark pun menyantap makanan di atas meja dengan santai. Melihat Mark tampak biasa saja, Adisti pun lantas ikut menyantap makanan itu.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Mark seraya menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


Adisti mengunyah pelan makanan yang ada di dalam mulutnya. Awalnya ia tampak biasa saja, tapi beberapa detik kemudian Adisti tersenyum lebar.


"Enak. Ternyata kau pintar memasak," puji Adisti jujur. Bahkan ia sampai mencoba setiap hidangan di atas meja untuk merasakan rasanya dan semuanya enak.


"Bagaimana? Aku sudah pantas menjadi seorang suami idaman?"


"Percaya dirimu ternyata benar-benar tinggi. Tapi yaaa, tak aku pungkiri, kau memang hebat. Selain tampan, pekerja keras, kau juga pandai menyenangkan seorang perempuan," ucap Adisti membuat Mark tersenyum lebar penuh kebanggaan. "Tapi justru karena kelebihanmu ini yang membuat para perempuan khawatir. Kau terlalu mudah membuat seorang perempuan luluh. Entah berapa banyak perempuan yang berhasil kau pikat dengan kelebihanmu ini? Jangan-jangan di setiap tempat kau memiliki seorang kekasih," imbuh Adisti membuat Mark sampai tersedak dengan penilaiannya.


"Heh, kau pikir aku ini seorang playboy," sungut Mark.


"Siapa tahu," jawab Adisti acuh tak acuh.


"Aku tidak seperti itu."


"Kalau seperti itupun bukan urusanku."


"Memangnya kau tidak tertarik padaku?"


"Eh, kok tiba-tiba tanya begitu?"


"Ya, karena ... Sebentar," Mark menjeda kalimatnya saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dilihatnya nama pemanggilnya adalah sang bos alias Rainero.


"Si bos," gumam Mark yang langsung mengangkat panggilan itu. Adisti diam saat tahu suami sahabatnya lah yang menghubungi Mark.


"Halo," ucap Mark.


Setelah berbicara beberapa detik, tiba-tiba mata Mark melotot.


"Ada apa?" tanya Adisti saat melihat raut tak biasa di wajah Mark. Panggilan pun telah ditutup.


"Nyonya ... nyonya Shenina menghilang," ucap Mark membuat Adisti terlonjak kaget.


...***...

__ADS_1


...Saatnya tebak-tebakan. Apa yang terjadi dengan Shenina????...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2