
"Hai boy, kau sudah bangun?" tanya Adisti begitu lembut.
Mata Jefrey sampai tak mampu berkedip sama sekali.
"Mommy," lirih Jefrey dengan mata berkaca-kaca.
Adisti seketika terperangah. Mengapa anak ini tiba-tiba memanggilnya 'mommy'?
"Aunty bukan Mommy-mu, Sayang. Kamu pasti merindukan Mommy, ya?"
Dengan mata berkaca-kaca, Jefrey mengangguk.
Adisti senang akhirnya Jefrey sadarkan diri. Sebenarnya Jefrey tidak mengalami luka fisik apapun di tubuhnya. Tapi menurut pemeriksaan dokter, Jefrey memiliki kondisi fisik yang kurang baik. Dokter bisa mengidentifikasi kalau Jefrey memiliki kelainan di dalam tubuhnya. Entah penyakit apa itu, dokter belum bisa memberikan kesimpulan sebelum melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
Namun berhubung Adisti bukanlah wali sah dari Jefrey jadi dokter tidak bisa melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mungkin setelah orang tua atau wali sah Jefrey datang dan memberikan persetujuan, barulah mereka bisa melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
"Kalau begitu, bisa kamu beritahu, siapa mommy mu? Oh iya, perkenalkan, nama aunty Adisti. Nama kamu siapa?"
"Jefrey," jawab Jefrey singkat.
"Oh, Jefrey. Boleh aunty tahu, dimana mommy?"
Jefrey menggeleng, "mommy pergi dengan aunty Lynda."
"Jefrey tahu kemana?"
Jefrey menggeleng.
"Jefrey tahu nomor telepon mommy? Biar aunty bisa telepon untuk jemput Jefrey?"
"No, Jef tidak mau sama mommy," ujarnya dengan tatapan sendu membuat dahi Adisti berkerut.
"Kenapa? Nanti mommy Jefrey cari Jefrey. Mommy pasti khawatir kalau tahu Jefrey menghilang seperti ini."
Jefrey menggeleng, "mommy tidak mungkin cari Jefrey."
Dahi Adisti kian berkerut mendengar penuturan itu, "memangnya kenapa bisa begitu?"
"Mommy tidak sayang Jefrey."
Adisti terperangah. Mana mungkin ada seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya, pikirnya.
__ADS_1
"Jefrey pasti salah. Mana mungkin mommy tidak sayang Jefrey."
"Tapi mommy sendiri yang bilang. Mommy hanya terpaksa menikah dengan daddy atas permintaan grandpa. Grandpa butuh pewaris jadi meminta mommy nikah sama daddy. Kalau mommy nolak, maka grandpa tidak mau kasi mommy uang lagi," ujarnya sendu.
Mata Adisti terbelalak. Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang seperti itu, pikirnya.
Namun apa yang Jefrey katakan itu benar. Bahkan ia pun terpaksa menyebarkan rumor kalau ia menyukai Jevian. Semua itu atas permintaan sang ayah. Tobey memang mengancam Eve agar mau menikah dengan Jevian. Menurut Tobey, Jevian adalah laki-laki yang baik. Ia berharap Jevian bisa mengubah Eve menjadi lebih baik lagi dan memperbaiki sikap buruknya.
Tobey sangat menyayangi Eve, namun kasih sayangnya yang berlebihan ternyata membuat Eve salah jalan. Tobey berharap, dengan menikahkan Eve dengan Jevian dapat mengembalikan Eve ke kodratnya.
Jefrey sendiri tahu kalau ibunya tidak mencintai ayahnya berkat obrolan Eve dan Lynda. Meskipun baru berusia 3 tahun, tapi sedikit banyak Jefrey paham apa yang Eve bicarakan dengan Lynda. Karena itu, ia bisa mengatakan kalau Eve terpaksa menikah dengan Jevian karena permintaan kakeknya. Apalagi saat marah, Eve kerap mengulangi kalimat yang sama.
'Jika bukan karena daddy yang memaksaku, aku takkan pernah mau menikah apalagi melahirkan mu ke dunia ini.'
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di benak Jefrey. Namun ia tidak pernah mengatakannya pada sang ayah. Jefrey memilih diam dan memendam semuanya.
"Kalau daddy Jefrey? Jefrey tahu nomor teleponnya atau alamat rumah atau kantor tempat daddy bekerja?" Adisti tak ingin melanjutkan pembicaraan mengenai ibu Jefrey. Ia takut hal itu justru membuat Jefrey makin tertekan dan sedih.
Mendengar kata 'daddy' disebut seketika membuat Jefrey melebarkan senyumnya.
"Jefrey tahu, mom. Jefrey tahu nomor telepon daddy," ujarnya antusias. Namun yang membuat Adisti terperangah adalah karena Jefrey kembali menyebutnya 'mom'.
Namun baru saja Adisti hendak mengeluarkan ponselnya dan mencatat nomor ayah Jefrey lalu menghubunginya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Melihat nama asisten pribadi suaminya lah yang menghubungi, Adisti pun meminta Jefrey menunggu sebentar.
"Nyonya, kau sudah berada di mana? Bukankah seharusnya kau sudah tiba di sini?"
"Maaf, tadi Luke hampir saja menabrak seorang anak. Anak itu memang tidak apa-apa, tapi dia pingsan jadi kami membawanya ke rumah sakit. Ada apa? Apa Mark kembali muntah-muntah?"
"Nyonya benar. Saya sudah meminta tuan berhenti dan pulang terlebih dahulu, tapi tuan tidak mau. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu agar bisa segera kembali ke negara kita."
Adisti berdecak, "baiklah. Bisa kau kirimkan orang untuk menjemputku? Aku tidak mungkin meninggalkan anak ini begitu saja. Mungkin setelah Luke kembali setelah mencari identitas anak ini, aku bisa memintanya menjaga anak itu sampai orang tuanya datang."
"Baiklah. Anda ada di rumah sakit apa? Sebentar lagi orangku akan datang ke sana untuk menjemput Anda."
Lalu Adisti pun menyebutkan nama rumah sakit tersebut. Untung saja tadi ia sempat melihat nama rumah sakit itu sebelum masuk ke dalam.
Setelah selesai, Adisti pun menutup panggilan itu. Di saat bersamaan Luke pun kembali dengan Arquez yang tertidur di dalam gendongannya.
"Nyonya, maaf, saya tidak berhasil mendapatkan informasi mengenai identitas anak itu sebab preschool tempat anak itu sekolah sudah tutup dan tak ada seorang pun di sana."
Adisti menghela nafas panjang, "ya sudah. Tadi aku sudah tanya katanya anak itu tahu nomor telepon ayahnya. Bisa kau saja yang menghubunginya? Aku harus segera ke kantor Mark. Sebentar lagi ada yang akan menjemput. Kau bisa kan menghubungi orang tua anak itu dan menungguinya sampai daddy nya tiba menjemput?"
__ADS_1
Luke mengangguk, "baiklah. Aku akan melakukannya. Nyonya mau langsung turun ke bawah? Biar saya antar," tawar Luke yang tak tega bila harus membiarkan Adisti menggendong Arquez yang sedang tertidur lelap. Sementara istri dari tuannya itu saja sedang hamil muda.
"Sebentar. Aku ingin berpamitan dengan anak itu terlebih dahulu." Luke mengangguk, kemudian mengekori Eve yang kembali menuju kamar rawat Jefrey.
"Jef, maaf, aunty harus segera pergi. Suami aunty sedang sakit jadi aunty ingin segera melihatnya. Untuk masalah menghubungi daddy Jefrey nanti, akan dilakukan oleh uncle Luke. Tapi sebelum itu, uncle Luke ingin mengantar aunty ke bawah, kamu tak apa kan aunty tinggal sendirian sebentar?"
Jefrey melirik Luke yang berdiri di belakang Adisti sambil menggendong seorang anak laki-laki seusianya. Dengan wajah sendu, Jefrey pun mengangguk.
"Good boy. Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Semoga kita bisa bertemu lagi lain kali," ujar Adisti seraya tersenyum.
Jefrey pun balas tersenyum. Meskipun tidak selebar saat tadi berbincang dengan Adisti. Adisti lantas mencium dahi Jefrey membuat senyum yang tadinya sendu menjadi lebar. Bahkan sorot matanya jadi berbinar. Jefrey merasa senang mendapatkan ciuman dari Adisti. Rasanya hangat dan menyenangkan.
Setelah mengatakan itu, Adisti pun segera beranjak keluar meninggalkan Jefrey yang perlahan menyurutkan senyumnya.
"Jef pingin mommy. Tapi mommy seperti aunty," lirihnya sendu. Siapapun yang mendengar, pasti bisa merasakan kesedihan anak itu. Memiliki seorang ibu, tapi tak pernah merasakan kasih sayangnya, rasanya itu lebih menyakitkan daripada tidak memiliki seorang ibu sama sekali. Lebih menyakitkan daripada seorang piatu.
Beberapa saat setelah Adisti pergi, Luke pun segera kembali ke kamar Jefrey. Ia segera meminta nomor telepon ayah Jefrey dan menghubunginya.
"Halo," ujar seseorang di seberang telepon.
"Halo, apakah benar ini dengan daddy dari Jefrey?" tanya Luke.
"Jefrey? Kau bersama anakku? Kau siapa? Mengapa kau bisa bersama anakku? Jangan lakukan apapun padanya, aku mohon. Aku akan berikan apapun yang kau mau, tapi aku mohon jangan sakiti Jefrey," pekik Jevian khawatir. Ia takut kalau Luke itu merupakan seorang penculik dan hendak meminta tebusan dengannya.
Mendengar berondongan perkataan itu sontak saja membuat Luke terkekeh.
"Maaf tuan, Anda salah paham. Saya tidak akan mengapa-apakan anak Anda. Justru saya menghubungi Anda untuk mengabarkan kalau anak Anda ada di rumah sakit."
"Apa? Rumah sakit? Apa yang terjadi dengan Jefrey? Di rumah sakit apa dia sekarang?"
Luke lantas menceritakan secara singkat bagaimana Jefrey sampai dirawat di rumah sakit. Ia juga memberitahukan dimana Jefrey dirawat. Setelahnya, Jevian pun segera bertolak menuju rumah sakit.
"Jefrey," panggil Jevian dengan perasaan bergemuruh. Ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan anaknya itu.
"Daddy," ucap Jefrey yang sudah mengulurkan tangan. Jevian pun segera memeluk dan mencium puncak kepala Jefrey dengan sayang.
"Jefrey kenapa bisa sampai di tengah jalan? Bukannya Jef sedang bersama mommy?"
Jefrey pun mengangguk dengan wajah sendu dan menceritakan secara singkat bagaimana ia bisa sampai di tengah jalan. Jelas saja hal itu memantik kemurkaan Jevian. Jevian merasa kesabarannya sudah diambang batas. Ia sudah tidak bisa menolerir perbuatan Eve kali ini. Terserah apa yang akan Tobey lakukan pada perusahaannya kelak, yang pasti, ia lebih memilih berpisah daripada mental anaknya kian hancur oleh sikap ibunya yang lebih kejam dari seorang ibu tiri.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...