Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 199 (S3 Part 41)


__ADS_3

Sudah dua jam berlalu, tapi lampu tanda operasi sedang berlangsung masih menyala. Pertanda kalau operasi masih terus berlangsung dan entah kapan selesainya. Selama hampir 2 jam tersebut, Jevian tak henti-hentinya merasa was-was. Takut, cemas, khawatir, semua bercampur aduk menjadi satu.


"Anda ingin segelas kopi?" tawar Roseline yang sudah berdiri hendak beranjak menuju kafetaria rumah sakit.


Jevian mendongak, "aku saja. Kau di sini saja menunggu Jefrey."


"Tidak usah. Biar aku saja. Bagaimanapun, kau ayahnya. Dokter pasti akan menanyakan orang tua pasien setelah operasi selesai," sergah Roseline.


"Tapi ..."


Belum sempat Jevian menyelesaikan kata-katanya, Roseline sudah lebih dulu mengangkat tangannya yang artinya ia tak mau ditolak.


"Baiklah. Aku mau. Hati-hati!" ujar Jevian seraya mengulas senyum tipis. Biar wajahnya terlihat lelah dan khawatir, tapi ketampanannya tetap saja tampak mendominasi.


"Aku hanya ke kafetaria, bukan berlibur ke luar negeri," sungut Roseline.


Jevian terkekeh, "aku hanya tidak ingin calon mommy Jefrey kenapa-kenapa."


"Kenapa tidak jadi bodyguard ku saja untuk memastikan kalau aku tidak kenapa-kenapa?"


"Kalau kau mau, dengan senang hati aku bersedia. Bahkan menjadi bodyguard seumur hidupmu pun aku bersedia," sahut Jevian seraya tersenyum menggoda.


Roseline mendelik tajam, "ah tapi maaf, aku tidak bersedia memiliki bodyguard sepertimu. Bayaranmu pasti sangat mahal dan aku sudah pasti tidak akan mampu."


"Kau tenang saja, aku tidak akan meminta gaji darimu. Sebaliknya, justru aku yang akan menggaji mu. Bahkan memenuhi semua kebutuhanmu, bagaimana dengan tawaranku? Cukup menarik kan?"


Roseline mendengus, "ternyata Anda sungguh pandai menggoda, hm? Sudah berapa banyak perempuan yang termakan godaanmu itu?"


"Menurutmu?"


"Pasti sangat banyak. Ah sudahlah, kapan pergi membeli kopinya kalau terus-terusan meladenimu," tanpa menunggu respon Jevian, Roseline pun segera beranjak dari hadapan Jevian.

__ADS_1


Jevian terkekeh melihat ekspresi sebal Roseline. Sungguh menyenangkan. Setidaknya, ia bisa mengikis sedikit kegelisahannya tadi.


Tak lama kemudian, Roseline sudah kembali dengan menenteng dua cup kopi dan sebuah paper bag berisi dua potong sandwich.


"Menunggu pun memerlukan tenaga," ujar Roseline saat Jevian menolak sandwich yang ia sodorkan.


Jevian mendengus, tapi dalam hati ia senang dengan perhatian kecil dari Roseline.


"Seline," panggil Jevian membuat Roseline yang sedang mengunyah sandwichnya pun menoleh dengan mulut penuhnya.


Jevian menahan tawanya. Merasa gemas dengan ekspresi datar Roseline yang mulutnya tengah dipenuhi sandwich.


"Ya," sahut Roseline setelah menelan sandwichnya.


"Itu ... Tentang permintaan Jefrey tadi, apa kau benar akan menjawab permintaannya setelah ia berhasil melewati operasinya dan sembuh?"


"Menurutmu?" Jevian mendengus saat lagi-lagi Roseline melemparkan pertanyaan alih-alih memberikan jawaban.


"Aku bertanya padamu, kenapa kau justru bertanya balik?" sungut Jevian.


"Benar kau ingin mendengar pendapatku?"


Roseline mengangguk dengan mulut yang kembali berisi penuh.


'Astaga, ni perempuan padahal udah dewasa, bahkan sepertinya lebih dewasa dia 2-3 tahun dariku, tapi kenapa masih tampak begitu menggemaskan sih?'


"Kalau menurut pendapatku, sebaiknya jangan mematahkan hatinya."


"Hah? Jadi menurutmu aku harus mengiyakan, begitu?"


Jevian mengangguk cepat.

__ADS_1


"Kau tahu kan, meskipun ia sudah dioperasi, tetap saja, kondisi kesehatannya berbeda dengan anak lainnya. Ia harus mendapatkan pengawasan ekstra. Perasaannya pun harus selalu dijaga demi mencegah jantungnya kembali bermasalah. Kalau mau menolak keinginannya, bagaimana kalau Jefrey tiba-tiba ... " Jevian menghentikan kata-katanya seraya memperhatikan ekspresi muram Roseline.


"Tapi kan kau belum benar-benar bercerai dengan istri Anda. Aku tidak mau dinilai perusak rumah tangga orang ya."


Mendengar kalimat yang menurutnya merupakan lampu hijau itu sontak membuat sudut bibir Jevian berkedut. Entah mengapa ia merasa amat sangat bahagia. Padahal Roseline belum benar-benar memberikan jawaban pasti, tapi ia merasa ia memiliki kesempatan besar untuk menjadikan Roseline sebagai istrinya.


"Jadi kalau aku sudah resmi bercerai, kau mau menikah denganku?"


"Memangnya kau mau? Aku ini hanyalah perempuan ... "


"Aku mau."


"Tapi kau belum benar-benar mengetahui siapa diriku dan bagaimana masa laluku."


"Setiap orang memiliki masa lalu. Aku tidak peduli. Yang penting, mau kah kau menjadi masa depanku?"


"Aku belum bisa menjawab. Aku belum bisa memberikan kepastian. Bisa jadi setelah mengetahui siapa aku sebenarnya, kau justru memilih mundur. Dan jangan lupa kau belum resmi ... "


"Aku pastikan besok aku resmi bercerai. Kalau aku sudah resmi bercerai, apa kau mau menikah denganku?"


...***...


Perbincangan itu akhirnya harus terjeda setelah pintu ruang operasi terbuka. Jevian dan Roseline pun gegas berdiri untuk menanyakan kondisi Jefrey pasca operasi.


"Putra Anda dalam kondisi baik. Tubuhnya dapat merespon dengan baik sehingga operasi berjalan lancar dan berhasil sempurna. Namun untuk sementara, Anda belum diizinkan bertemu dengan putra Anda. Anda boleh menemuinya setelah putra Anda dipindahkan ke ruang pemulihan," tukas dokter itu membuat Jevian menarik nafas lega. Bahkan saking senangnya, ia tanpa sadar menarik Roseline ke dalam pelukannya, mengangkat, dan memutar-mutarnya.


Roseline benar-benar tercengang dengan apa yang Jevian lakukan. Mereka sudah seperti pasangan suami istri yang merasa bahagia karena operasi sang putra berjalan lancar.


...***...


Maaf, pendek dulu ya kak, nggak bisa konsen soalnya. Dua bocil othor, si tengah sama si bungsu sedang sakit. Jadi nggak bisa ngetik panjang-panjang kayak kemarin. Semoga aja entar malam bocil nggak rewel jadi bisa double up. πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°...


__ADS_2