
Sepanjang perjalanan baik Adisti maupun Mark terdiam membisu. Tak ada yang bersuara. Berbanding terbalik dengan otak mereka yang justru berisik dengan segala macam pertanyaan yang merecoki.
Adisti yang masih bertanya-tanya, apakah benar Mark itu orang kaya? Bila benar, kenapa ia justru memilih bekerja sebagai sopir Rainero? Sedangkan Mark bertanya-tanya, apakah Adisti terdiam karena masih kepikiran dengan penghinaan keluarga Jevian berikan padanya? Atau ada hal lain. Mark sibuk menerka-nerka, tapi tak kunjung mendapatkan jawabannya.
Melihat jalan yang Mark lalui bukanlah jalan menuju apartemennya, dahi Adisti pun berkerut.
"Mark, kau mengajakku kemana? Ini
.. bukan jalan pulang ke apartemenku kan?" tanyanya sambil memperhatikan jalan yang mereka lalui. Sepanjang pinggir jalan ditumbuhi pepohonan rimbun. Adisti lantas membuka sedikit jendela kaca sehingga ia bisa merasakan angin mal yang dingin tapi terasa sejuk menerpa wajahnya.
Mark tersenyum lembut, "ke suatu tempat yang bisa kau gunakan untuk melepaskan emosimu yang aku yakini masih menyesakkan hati dan otakmu," ujarnya membuat Adisti mengerjapkan matanya karena tak percaya kalau Mark seakan mengerti apa yang ia rasakan saat ini.
Tak lama kemudian, Mark membelokkan mobilnya ke sebuah tempat yang ditumbuhi rerumputan hijau. Hawa dingin membuat kulitnya meremang. Bahkan bulu-bulu halus di lengannya pun berdiri setibanya di sana.
Setelah Mark mematikan mesin mobilnya, ia pun gegas keluar dan membukakan pintu untuk Adisti. Mark mengulurkan tangannya. Adisti awalanya terdiam memandang telapak tangan lebar yang ada di depannya. Tapi sepersekian detik kemudian, ia menyambut uluran tangan itu. Lalu segera keluar dari dalam mobil dan mengikuti langkah Mark.
Adisti tercengang. Sebab ia telah berdiri di depan sebuah danau buatan yang begitu indah. Lampu warna-warni membuat malam kian semarak. Lalu Mark membimbing Adisti menuju jembatan yang memungkinkan pengunjung untuk melihat ke tengah-tengah danau. Di ujung jembatan ada tangga untuk turun menuju kano yang bisa pengunjung gunakan bila ingin menyusuri keindahan danau. Namun Mark belum mengajak Adisti melakukan itu. Ia justru mengajak Adisti ke jembatan dan berhenti di tepi pagar pembatas. Adisti hanya mengikuti saja apa yang ingin Mark lakukan. Sebab ia yakin, Mark kini tengah bermaksud ingin menghiburnya.
"Bagaimana? Kau suka?" tanya Mark membuat Adisti yang sedang menatap sebuah pemancar di tengah-tengah danau pun menoleh.
Adisti tersenyum lebar, "suka. Sangat suka. Di sini sangat indah. Aku baru tau di tengah kota ada tempat seperti ini," ujar Adisti dengan mata berbinar. Mark bisa melihat pantulan cahaya lampu di netra bening Adisti membuatnya kian terpana.
Mark mengusap tengkuknya. Ia jadi ingat momen ciumannya tempo hari. Rasanya ingin mengulangi, tapi takut ini bukan waktu yang tepat.
"Yah, tempat ini memang baru dibangun. Ah, lebih tepatnya hampir selesai. Meskipun belum benar-benar rampung, tapi tetap tidak mengurangi keindahannya."
Adisti mengerutkan keningnya, "bagaimana kau bisa tahu kalau tempat ini baru dibangun?" tanya Adisti heran.
__ADS_1
"Oh, emm ... Itu sebenarnya ... wilayah ini milik daddy. Daddy membangunnya untuk hadiah ulang tahun Mommy. Agar kalau Mommy ingin liburan, mereka bisa ke mari."
Adisti menganga dibuatnya. Merasa takjub dengan keromantisan ayah Mark yang mempersembahkan tempat secantik itu untuk sang istri.
"Wow, Daddy-mu benar-benar keren!" seru Adisti seraya mengacungkan dua jempolnya. "Tapi ... Apa tidak apa-apa kita kemari?"
"No, problem. Ayo, berteriaklah!"
"Hah!"
"Berteriak. Keluarkan semua emosimu yang sejak tadi kau tahan. Jangan malu. Berteriaklah sepuasnya. Lepaskan segala beban yang sejak tadi menyesakkan dadamu," ujar Mark membuat Adisti terkesima hebat sebab ia tidak menyangka Mark bisa sebegitu mengerti dirinya.
Adisti pun mengangguk dan segera berpegangan di pembatas jembatan. Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum ia mengeluarkan suaranya dengan berteriak sekencang mungkin.
"Aaaaaaaaarkkhhh ... Heh, kalian orang-orang kaya sombong, jangan merasa hebat ya! Jangan karena kalian kaya jadi kalian bisa bersikap semena-mena ya! Ingat, di langit masih ada langit. Boleh jadi kalian saat ini berada di atas, tapi siapa tahu besok atau lusa apa yang kalian bangga-banggakan itu hilang tanpa jejak. Ingat, roda itu terus berputar, kadang di atas kadang di bawah. Berhentilah menyombongkan diri karena mendadak jatuh miskin itu rasanya sakit."
Mark tersenyum dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya. Sesuai saran Mark, Adisti benar-benar meluapkan segala isi hati dan benaknya dengan berteriak sekencang mungkin. Selagi Adisti berteriak, Mark kembali ke mobil dan mengambil sebotol air mineral dari dalamnya. Ia yakin, setelah berteriak, tenggorokan Adisti pasti akan terasa kering dan ia membutuhkan air minum untuk melegakannya.
Adisti terperangah saat melihat botol air mineral yang disodorkan padanya.
"Bengong. Minum lah. Tenggorokanmu pasti kering kan!" Adisti masih termangu memperhatikan Mark. Mark pun berdecak, "tenang saja, ini baru kok. Belum aku minum sama sekali. Kalaupun sudah aku minum memangnya kenapa? Toh bukannya kita pernah bertukar saliva sebelumnya dan sepertinya kau baik-baik saja," ucap Mark santai membuat Adisti mendelik sebal.
Adisti pun segera mengambil botol itu dengan bibir mengerucut. Mark tersenyum geli melihatnya. Lalu Adisti pun segera menenggak air minum itu. Karena benar-benar kehausan, air minum itu sampai tumpah membasahi bibir hingga leher Adisti.
Jakun Mark sampai bergerak naik turun melihat bagaimana air itu mengalir dari bibir hingga ke leher Adisti. Ingin rasanya Mark segera menarik tengkuk Adisti dan menyesap bibir merah yang tengah basah karena air itu. Tapi sekuat tenaga ia menahan hasratnya itu. Ia belum memiliki kejelasan hubungan dengan Adisti. Ia juga belum bisa memastikan perasaannya pada gadis yang ia ambil ciuman pertamanya itu. Ada rasa ketertarikan, tapi ia harus benar-benar memastikannya, itu cinta atau hanya ketertarikan semata.
"MARK ... Kamu melamunin apa sih?" teriak Adisti tepat di depan wajah Mark.
__ADS_1
Laki-laki itu sampai tersentak dan reflek menjawab, "aku ingin mencium kamu lagi. Eh ... "
Baik Adisti maupun Mark sama-sama melotot. Adisti terkejut dengan apa yang Mark ucapkan, sedangkan Mark terkejut kenapa ia mengucapkan kalimat itu.
"Eh, itu ... "
"Ayo, antar aku pulang sekarang!" Adisti langsung membalikkan badannya menghindari tatapan Mark. Ia yakin, pipinya sekarang telah memerah karena malu. Tanpa sadar bibir Adisti tersenyum. Ia pun jadi kembali teringat ciuman pertamanya yang diambil Mark saat di toilet tempo hari.
Adisti memukul kepalanya, kenapa jadi teringat momen itu sih?
Mark pun mengangguk seraya mengekori Adisti yang berjalan cepat di depannya. Udara yang begitu dingin, membuat Adisti memeluk tubuhnya sendiri. Sadar kalau Adisti kedinginan, Mark lantas bergerak cepat dan merangkul pundak Adisti.
Adisti menegang dan menoleh ke samping. Di saat bersamaan, Mark pun sedang menatap Adisti membuat tatapan mereka bersirobok. Langkah mereka pun reflek berhenti bermaksud untuk memberikan kehangatan pada gadis tersebut.
"Dingin?" tanya Mark dengan tatapannya terfokus pada wajah cantik Adisti.
Adisti pun reflek mengangguk.
"Mau aku hangatkan?" tawar Mark yang sepertinya sudah tak mampu membendung keinginannya menyesap bibir merah Adisti.
Bagai terhipnotis, Adisti pun mengangguk meskipun otaknya tengah berisik memprotes mengapa ia justru mengangguk setuju.
Melihat anggukan persetujuan Adisti, Mark tak sanggup lagi membendung hasratnya. Ia pun segera menarik tengkuk Adisti dan mulai menyatukan bibir mereka.
Di bawah terang rembulan yang bersinar indah, kedua insan itupun saling memejamkan mata dan menikmati pertautan bibir mereka. Tiba-tiba sesuatu meledak di langit, memancarkan warna-warni cahaya membuat malam itu jadi semakin indah dan semarak.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...