Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 118


__ADS_3

Rose baru saja muncul dari balik pintu. Lalu ia segera duduk di kursi berseberangan dengan Reeves yang sudah menatapnya nyalang. Sebenarnya tidak ingin menyalahkan Rose atas kesalahpahaman ini. Tapi karena Rose telah berbuat di luar batas dengan bukan hanya menculik istri dan menantunya, tapi juga berniat melenyapkan nyawa mereka berdua, jelas saja membuat Reeves berang. Ia tidak menyangka telah mempercayakan istrinya pada seekor rubah betina.


Mereka memang tidak pernah menaruh curiga pada Rose. Apalagi Rose telah bekerja dengan keluarga mereka selama beberapa tahun. Mereka hanya tahu kalau Rose seorang yatim piatu dan hanya tinggal dengan pamannya saja. Jadi mereka tak pernah ingin mengorek masa lalu Rose, terlebih setiap menyebut kedua orang tuanya, wajah Rose langsung berubah sendu. Seakan ada kesedihan yang begitu besar ia tanggung selama ini. Oleh sebab itu, Delena selalu memperlakukannya dengan baik.


Usia Rose yang hanya berselisih dua tahun lebih tua dari Rainero membuatnya kerap memperlakukan Rose seperti putrinya sendiri. Namun siapa sangka, balasan Rose sebaliknya. Ia justru menyimpan rencana untuk melenyapkan Delena dan Shenina. Sungguh, Reeves tidak semurah hati itu untuk memaafkan Rose.


"Untuk apa Anda menemuiku? Apa kau ingin meminta maaf karena telah menelantarkanku selama ini? Atau ini meminta maaf karena telah meninggalkan ibuku?" tanya Rose seakan-akan Reeves memanglah ayahnya.


Kedua alis Reeves terangkat. Sudut bibirnya berkedut. Tak lama kemudian, Reeves pun tergelak membuat Rose mengerutkan keningnya.


"Apakah Anda sudah gila karena baru menyadari kalau kau memiliki putri dengan kekasihmu terdahulu?" cibir Rose.


Makin terbahaklah Reeves. Dengan tawa yang berderai, ia mengambil amplop putih dari rumah sakit tadi dan melemparkannya tepat di wajah Rose.


Tawa yang tadi berderai, dalam sekian detik berganti menjadi seringaian.


"Putri? Putri dari mana? Jangan bermimpi menjadi bagian dari keluarga Sanches karena keluarga Sanches tidak memiliki riwayat keluarga pembunuh seperti dirimu," balas Reeves.


Rose mengepalkan kedua tangannya. Dengan tatapan penuh benci, Rose membaca tulisan yang tertera di amplop. Dahinya kian berkerut saat membaca satu persatu kata hingga membentuk sederet kalimat.


"Tidak, tidak, ini tidak mungkin. Anda pasti ingin menipuku kan! Kau memang laki-laki bajingaan. Bahkan kau tega memalsukan hasil test DNA ini karena tidak ingin mengakuiku sebagai anakmu. Anda benar-benar bajingaan!" sentak Rose tidak terima.


Brakkk ...


"Kau pikir aku sekeji itu untuk memungkiri anak sendiri, hah? Kalau kau memang anakku, aku pun takkan mengabaikannya. Aku akan bertanggung jawab sebagaimana layaknya seorang ayah, tapi nyatanya ... mau memang bukan anakku. Tidak ada setetes pun darahku mengalir di dalam tubuhmu. Seharusnya kau mempertanyakan hal ini pada ibumu, anak siapa dirimu? Mengapa darahku sama sekali tidak mengalir dalam tubuhmu? Laki-laki mana saja yang telah meniduri ibumu, jangan tanyakan aku karena memang inilah kenyataannya," ucap Reeves lantang. Ia benar-benar kesal karena dituduh memalsukan hasil test DNA.

__ADS_1


"Anda bohong. Anda tahu, mengapa aku mengatakan itu? Karena aku pernah diam-diam melakukan test DNA dengan bantuan paman Hose. Dan ... Di dalam kertas itu, tertera dengan jelas kalau Anda adalah ayah biologis ku," ucapnya dengan rahang mengeras.


Mengapa Rose bisa bertindak sampai sejauh ini? Ya, tentu karena ada bukti yang menguatkan kalau Reeves benar-benar ayah kandungnya.


Reeves tersenyum sinis, "bagaimana kalau paman kesayanganmu itulah yang merekayasanya?" tanyanya dengan seringai membuat Rose tertegun di tempatnya.


"Tidak. Itu tidak mungkin. Tidak mungkin paman Hose sampai melakukan hal itu. Untuk apa? Sedangkan sejak lama hanya dia satu-satunya keluargaku yang selalu ada untukku. Dia benar-benar menyayangiku seperti ... "


"Seperti anak sendiri? Bukankah begitu maksudmu?" potong Reeves membuat jantung Rose seketika berdetak hebat. "Aku pastikan aku tidak menipumu. Kalau perlu kita bisa melakukan test kembali di dampingi pihak kepolisian. Tapi aku juga takkan berhenti sampai di situ. Aku pun akan mencari tahu hubungan kalian sebenarnya. Bisa saja kan kalau ayah biologismu justru pamanmu sendiri. Kau cukup duduk manis di sini, menunggu hasil penyelidikanku. Aku pastikan, kau akan menangis darah karena telah mengkhianati istriku yang begitu menyayangimu selayaknya putrinya sendiri," ucap Reeves tegas.


Reeves lantas berdiri. Ia mengibas jas yang ia kenakan. Sebelum berbalik pergi dari sana, Reeves pun berujar, "entah apa latar belakang laki-laki itu membohongimu sejauh ini. Aku pastikan akan mencari tahu. Takkan aku biarkan manusia sampah sepertinya melakukan sesuatu seenaknya. Apalagi hal ini menyangkut keselamatan istri dan menantuku."


Usai mengucapkan itu, Reeves pun segera pergi dari ruangan itu. Sepeninggal Reeves, Rose hanya terus termenung. Pikirannya berkecamuk. Bagaimana bila apa yang Reeves katakan tadi benar? Dan bagaimana bila Hose lah ayah biologisnya yang sebenarnya?


...***...


Pintu terbuka, Ambar segera mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Mata Ambar terbelalak saat melihat sosok Shenina dan Rainero lah yang masuk ke dalam sana.


"Untuk apa kau datang kemari, hah? Untuk menertawakan aku? Dasar bajingaan keparat, aku yakin, kaulah yang memerintahkan orang untuk menyiram wajah Jessica dengan air keras, bukan?" teriak Ambar berang.


Air matanya menetes membayangkan putri kesayangannya kesakitan karena siraman air keras di wajah. Lalu salah satu kakinya yang terpaksa diamputasi karena tulangnya yang hancur tergilas roda kendaraan. Sejahat-jahatnya dirinya, hatinya pun akan hancur saat mengetahui nasib anaknya yang begitu buruk.


Shenina terkekeh sinis, "sebenarnya aku tidak ingin menertawakan kemalanganmu, tapi karena kau sendiri yang meminta, baiklah aku akan tertawa," ucapnya dengan seringai mengejek. "Dan apa kau bilang tadi, aku yang memerintahkan orang untuk menyiram air keras ke wajah Jessica? Ah, waktuku tidak sesenggang itu untuk mengurusi jalaang kecil seperti dia. Seharusnya kau sadar, musuhnya itu banyak. Bukan satu dua rumah tangga dan hubungan orang yang ia hancurkan jadi wajar kalau banyak yang dendam. Salahkan dirinya sendiri mengapa memilih jalan menjadi jalaang. Sekarang, liat akibatnya. Ah, aku lupa, kalau buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ibunya saja jalaang perusak rumah tangga orang, maka anaknya pun bisa saja jadi lebih jalaang," ucap Shenina dengan tatapan mencemooh.


"Tutup mulutmu, bangsaaat!" teriak Ambar tidak terima Shenina merendahkan putrinya.

__ADS_1


"Kau yang tutup mulut kotormu itu, sialan!" bentak Rainero tidak terima saat Ambar membentak istrinya.


"Heh laki-laki bodoh, jangan bodoh mau dengan perempuan seperti dia. Kau tidak tahu kan kalau dia itu jalaang. Bisa jadi anak yang ia kandung bukanlah anakmu."


Brakkk ...


Rainero menendang kasar kursi yang ada di samping ranjang Ambar membuat kursi itu terpelanting. Ambar terkesiap.. Wajahnya yang semula pucat, makin terlihat pasi melihat kemarahan Rainero.


"Jangan berani-berani menghina istri dan anakku. Aku yang lebih tahu siapa mereka. Jangan samakan Shenina dengan kau dan putrimu yang jalaang itu. Bahkan akulah laki-laki pertama bagi Shenina. Dan anak-anak itu murni darah dagingku. Kau benar-benar perempuan iblis. Aku pikir mengurungmu dengan para tahanan gila itu bisa menyadarkan mu, tapi nyatanya tidak. Sepertinya, aku akan membuat kau makin tersiksa di dalam penjara sana. Dan akan aku pastikan, kau takkan mati dengan mudah agar mau merasakan bagaimana rasanya jadi Shenina selama ini. Dan agar kau merasakan, bagaimana tersiksanya ibu Shenina selama ini karena kau beri racun sedikit demi sedikit sehingga kesehatannya terganggu."


Mata Ambar melotot tajam saat rahasianya yang satu itupun ikut terbongkar. Begitu pula Shenina, ia benar-benar terkejut akan satu fakta yang memang belum Rainero ceritakan.


"Kenapa? Kau terkejut aku mengetahuinya? Asal kau tahu, racun yang kau berikan kepada mendiang ibu Shenina pun telah mengalir di dalam tubuhmu. Siap-siaplah merasakan penderitaan yang ibu Shenina alami selama ini. Dan ... selamat mendekam di penjara dengan para tahanan psikopat itu," ucap Rainero dengan seringai kejamnya.


Tubuh Ambar bergetar hebat. Ia tak menyangka kalau penyiksaan yang ia alami di dalam penjara pun termasuk salah satu rencana Rainero. Ya, Ambar dikurung bersama para tahanan yang berjiwa psikopat. Mereka sangat suka menyiksa Ambar. Bila Ambar melawan sedikit saja, maka mereka tak akan segan-segan menyiksanya. Bahkan ada salah satu tahanan yang merupakan seorang penyuka sesama jenis. Alhasil, ia sering mendapatkan pelecehan di dalam sana. Selain permasalahan Jessica, hal itulah yang makin membuat Ambar frustasi.


Ambar menggeleng frustasi, ia lantas menarik kasar jarum infus di pergelangan tangannya. Lalu ia beranjak dari sana untuk mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk mengakhiri hidup. Tapi sayangnya, ia tidak menemukan apa-apa. Lalu ia menuju kamar mandi. Ia memandang cermin besar di sana. Kemudian ia mengambil botol sabun dan memukul-mukulkannya sehingga cermin itu retak dan pecah. Diambilnya salah satu kaca dan digoreskannya ke pergelangan tangan. Darah segar mengucur deras, tapi ternyata keberuntungan belum berpihak padanya. Petugas menemukan keberadaannya dan segera melakukan tindakan penyelamatan. Seperti kata Rainero, ia takkan membiarkan Ambar mati semudah itu.


Sementara itu, di tempat lain, tampak seorang perempuan berpenampilan acak-acakan terus menjerit dan menjerit histeris. Wajahnya yang hancur dan kakinya yang lumpuh membuatnya benar-benar frustasi sehingga depresi. Sesekali ia menjerit, tertawa, kemudian menangis. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, ternyata perempuan yang tak lain adalah Jessica itu dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan. Alhasil, perempuan itupun digelandang menuju rumah sakit jiwa.


...***...


...Next part Adisti dan Mark lagi yah! Ditunggu kelanjutannya. 🥰🥰🥰...


...Terima kasih yang masih mengikuti cerita ini sampai sejauh ini. ❤️❤️❤️...

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2