
Bugh ...
"Dasar bajingaan!" teriak seseorang itu dengan nafas yang memburu dan amarah yang memuncak.
Shenina yang melihat Rainero tiba-tiba saja dipukul tentu saja syok dan reflek menjerit.
"Rain," pekik Shenina sambil menutup mulutnya.
Lebih syok lagi saat ia mengetahui siapa tersangka pemukulan pada calon suaminya itu.
"Theo ... " Shenina membulatkan matanya saat melihat keberadaan Theo di depannya.
"Dasar bajingaan kau! Setelah menodai Shenina, kini kau pun memaksanya menikah denganmu. Dasar bajingaan, brengsekkk kau!" teriak laki-laki yang tak lain adalah Theo itu.
Rainero menoleh ke arah Theo sambil menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya sambil menyeringai sinis.
"Kenapa? Kau cemburu aku bisa menikahi Shenina, hm?" ejek Rainero.
"Bangsattt! Kau memang laki-laki bajingaan!" Theo kembali melayangkan tangannya hendak memukul Rainero, tapi secepat mungkin Rainero menahan tangan itu dan menghempasnya begitu saja. Kemudian dengan sekali hentakan, Rainero menendang Theo hingga laki-laki itu tersungkur.
Bila saat di club malam tempo hari, Rainero mengalah, maka tidak kali ini. Apa yang Theo alami bukan serta merta kesalahannya. Shenina sudah berusaha menjelaskan, tapi Theo sendiri yang tidak mau mendengarkan penjelasan Shenina. Ia bahkan meninggalkan Shenina begitu saja. Jadi salahkan dirinya sendiri yang akhirnya ditinggalkan Shenina. Dan jangan salahkan dirinya yang akhirnya bisa mendapatkan Shenina sebab dirinya lah yang telah lebih dahulu menemukan Shenina dan memenangkan dirinya. Yah, walaupun Rainero belum yakin kalau dia sudah berhasil memenangkan hatinya.
Tidak terima atas perlawanan Rainero, Theo pun kembali bangkit dan berusaha melayangkan pukulan pada Rainero, tapi laki-laki itu bisa menghindari pukulan demi pukulan dengan mudah. Bahkan Rainero berhasil memukul rahang dan perut Theo dengan cukup kuat. Theo yang belum terima atas perlawanan Rainero pun tak mau berhenti. Ia tetap melancarkan serangan demi serangan. Meskipun ia berhasil memukul Rainero beberapa kali, tapi nyatanya dirinya lah yang lebih banyak menerima pukulan.
__ADS_1
"Theo, hentikan!" teriak Shenina pada akhirnya.
Theo yang sedang berusaha berdiri lantas menoleh.
"Jangan hentikan aku, Shen! Aku akan memberinya pelajaran karena telah memaksamu menikah dengannya. Aku akan menyelamatkanmu dari iblis ini!" teriak Theo sambil menatap tajam Rainero yang bersikap santai. Namun tatapan matanya penuh intimidasi.
"Rain tidak pernah memaksaku menikah dengannya," balas Shenina membuat Theo tercengang.
"Jangan bohong, Shen! Jangan membela iblis ini. Dia yang telah menghancurkan masa depanmu. Dia yang sudah membuatmu harus terusir dari rumahmu. Dan dia juga yang membuat kita hampir terpisah. Aku akan memberinya pelajaran, Shen. Setelah itu, aku akan membawamu pergi sejauh-jauhnya dari iblis ini. Kita akan segera mewujudkan mimpi-mimpi indah kita. Kita akan menikah. Tak masalah anak yang kau kandung adalah anak iblis ini, aku akan menerimanya," seru Theo penuh keyakinan.
Shenina menghela nafas kasar.
"Kau pikir aku akan membiarkan kau pergi mengambil apa yang sudah menjadi milikku, hah? Takkan pernah. Sekali telah menjadi milikku, selamanya akan tetap jadi milikku," sentak Rainero yang mulai emosi setelah mendengar kalau Theo hendak membawa Shenina pergi dan menikahinya. Darahnya kian bergemuruh saat Theo juga hendak mengambil calon anak-anaknya.
"Tutup mulutmu, bajingaan! Shenina hanya milikku, milikku. Laki-laki sepertimu tak pantas untuk Shenina," raung Theo dengan wajah merah padam. Tak peduli wajahnya dipenuhi luka-luka lebam, ia tetap berusaha berdiri tegak untuk mendapatkan Shenina kembali.
"Kenapa?" suara Theo terdengar lirih. "Kenapa kau tidak mau menikah denganku?" tanyanya lagi dengan wajah nelangsa. "Apa karena dia lebih kaya dariku? Iya?" raung Theo dengan wajah menggelap. "Ayo katakan, Shen! KATAKAN!" Kedua tangannya mengepal, giginya bergemeletuk, matanya pun telah melotot tajam. Ia benar-benar kecewa dengan kata-kata yang Shenina ucapkan.
"Jadi kau menilai ku hanya sebatas itu?" Shenina kemudian terkekeh miris. Tawanya terdengar hambar. Ada luka yang tersirat di balik tawanya itu. "Terserah kau mau menilaiku apa, tapi yang pasti aku takkan pernah menikah denganmu. TAKKAN PERNAH."
"KAU JAHAT, SHEN. KAU JAHAT!"
"Ya, aku jahat. Kau yang membuatku seperti ini. Di saat aku terpuruk, apa yang kau lakukan, hah? Bahkan saat aku berusaha menjelaskan padamu, tapi apa yang aku dapat? Kau justru pergi begitu saja," ucap Shenina sambil menunjuk dada Theo yang berdiri tak jauh dari posisinya. Rainero diam. Ia membiarkan Shenina mengeluarkan semua isi hatinya. Ia harap dengan begitu, tak ada lagi yang mengganjal di dalam hati Shenina.
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku, Shen. Aku tahu, aku salah. Aku tidak bisa berpikir dengan bijak saat itu. Tapi kini aku kembali, aku akan menebus segala kesalahanku. Mari ikut aku. Kita akan menikah sesuai dengan impian kita, kau mau kan?" bujuk Theo yang mulai melembut.
Shenina menggeleng tegas, "tidak Theo. Hubungan kita telah berakhir sejak kau pergi meninggalkanmu begitu saja," ujarnya membuat dada Theo seketika sesak.
"Kenapa? Kau masih marah padaku? Maafkan aku."
"Ini bukan perkara aku masih marah atau tidak ataupun aku sudah memaafkanmu atau belum. Bila kau bertanya aku masih marah atau tidak, jawabannya iya, aku marah, itu karena kau yang tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Namun bila kau bertanya, apa aku sudah memaafkanmu, maka jawabannya iya. Aku sudah memaafkanmu. Aku sadar, kau tak sepenuhnya salah. Aku hanya kecewa, itu saja," ujar Shenina lalu menarik nafas dalam-dalam. "Theo, kau lihat kan, aku kini sedang mengandung anak Rainero, jadi alasan pertama tentu karena kehamilanku ini. Kedua, kau tidak lupa kan bagaimana sikap kedua orang tuamu padaku. Aku yakin, mereka takkan pernah menerimaku."
"Kau tak perlu pedulikan itu, bukankah yang penting kita saling mencintai. Kalau perlu, kita pergi sejauh mungkin agar kedua orang tuaku tidak mengusik kita lagi," ujar Theo mencoba meyakinkan Shenina agar tidak perlu mempermasalahkan persetujuan kedua orang tuanya.
Mendengar jawaban itu, Shenina justru menggeleng tegas, "kau tahu kan bagaimana kehidupanku selama ini? Aku tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuaku. Aku memiliki seorang ayah, tapi ia tak pernah sekalipun memedulikan ku. Lalu kau ingin mengajakku hidup dengan bayang-bayang kebencian kedua orang tuamu? Tidak, Theo. Aku tidak bisa. Dan sebaliknya, di keluarga Rainero aku mendapatkan segalanya. Aku mendapatkan kehormatan, pengakuan, dan yang lebih penting kasih sayang keluarga. Ya, akhirnya aku bisa merasakan bagaimana itu kehangatan sebuah keluarga. Keluarga Rainero menerimaku dengan baik. Kini aku memiliki seorang ibu, ayah, dan kakek yang benar-benar menyayangiku. Rain pun memperlakukanku dengan sangat baik, lalu bagaimana aku bisa pergi sementara segala impianku terpenuhi di dalam keluarga itu?" papar Shenina membuat Theo tercenung dengan mata berkaca-kaca.
Ya, Theo sangat tahu bagaimana Shenina begitu merindukan kasih sayang sebuah keluarga. Sesuatu yang tak pernah didapatkannya selama ini. Egois kah dirinya bila tetap memaksakan diri untuk bersama Shenina?
"Theo, kau laki-laki yang baik. Lagipula kau sudah menikah, lebih baik sekarang fokus saja pada istrimu. Jangan kau sia-siakan dia sebelum kau menyesal," tukas Shenina membuat mata Theo terbelalak.
"Ka-kau tahu darimana kalau aku sudah ... menikah?" tanya Theo dengan mata membulat.
Shenina tersenyum tipis, ia ingat dia hari yang lalu mantan calon ibu mertuanya melabraknya saat sedang berada di sebuah cafe. Saat itu ia memang pergi dengan Rainero, tapi saat itu Rainero sedang pergi ke toilet dan tiba-tiba saja ibu Theo menghampirinya dan menghina serta mencaci maki dirinya sebagai perempuan murahan dan penghianat. Ia juga memperkenalkan Shenina dengan menantunya yang tidak lain adalah istri Theo. Beruntung Rainero segera kembali sehingga Rainero berhasil membungkam mulut ibu Theo dan mengusirnya. Oleh sebab itu, Shenina akhirnya tahu kalau Theo telah menikah dengan wanita pilihan ibunya.
"Kau tak perlu tahu aku tahu dari mana. Yang penting sekarang, mari kita jalani hidup kita masing-masing. Kau telah menikah, dan besok malam aku pun akan segera menikah. Tak perlu mengingat-ingat masa lalu lagi. Semuanya telah berakhir. Mungkin ini jalan yang terbaik. Semoga kau pun akan segera menemukan kebahagiaanmu seperti aku yang telah menemukan kebahagiaanku," ucap Shenina sambil menatap lekat netra Rainero yang kini tengah menyunggingkan senyum penuh cinta padanya.
Setelah mengucapkan itu, Rainero pun membimbing Shenina masuk ke dalam mobil. Setelahnya disusul dirinya dan hitungan detik, mobil Rainero pun melaju meninggalkan Theo yang terpaku dalam diamnya. Hatinya porak-poranda, ia tak menyangka akan benar-benar kehilangan Shenina yang mungkin untuk selamanya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...