Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 105


__ADS_3

Harold memacu mobilnya secepat mungkin. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Shenina. Sudah cukup penderitaan Shenina selama ini, pikirnya. Sekali seumur hidup, Harold berharap ia bisa melakukan sesuatu yang berarti untuk putri yang tak pernah dianggapnya itu. Sekali saja dalam seumur hidupnya, Harold berharap bisa melakukan sesuatu yang berharga demi keselamatan Shenina, putri yang selama ini ia sia-siakan.


Setelah jarak mobil Harold tak begitu jauh dari lokasi, Harold pun segera mematikan mesin mobilnya. Ia memarkir mobilnya di tempat yang sedikit tersembunyi agar keberadaannya tidak dilihat orang-orang yang ada di dalam gudang tua itu.


Setelah memastikan keadaan aman, Harold pun berjalan mengendap-endap menuju gudang tua tempat Shenina disekap. Gudang itu tertutup rapat, sehingga tidak memungkinkan bagi dirinya untuk masuk begitu saja. Kalaupun ia diam-diam membuka pintu, biasanya akan menimbulkan bunyi derit pintu yang mana justru akan memicu keributan di dalam sana. Bukan tak mungkin, mereka akan menyakiti Shenina dan yang lainnya bila tahu ada orang yang menyusup ke dalamnya.


Keributan masih terdengar di dalam sana. Disertai suara pukulan entah siapa yang dipukul membuat dada Harold berdenyut nyeri. Ketakutan dan kekhawatiran menyergap sanubarinya. Kini hanya satu harapnya, semoga bantuan segera datang untuk menyelamatkan Shenina.


Plakkk ...


Brakkk ...


Bugh ...


"Mommy," pekik Shenina. "Hei brengsekkk, kau itu manusia atau setan, hah! Bukankah selama ini Mommy sudah begitu baik padamu, tapi kenapa kau tega membalas kebaikan Mommy dengan kekejian seperti ini?" sentak Shenina dengan tangan diam-diam terus berusaha melepaskan dari jeratan tali yang mengikat erat kedua pergelangan tangannya. Rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh, tapi ia tahan, yang terpenting ia bisa membebaskan diri dan menyelamatkan ibu mertuanya.


"Diam kau, sialan!" Rose menarik rambut Shenina hingga wajahnya mendongak ke belakang. "Tahu apa kau dengan kehidupanku sampai kau bisa mengatakan kalau aku ini keji? Wanita inilah yang keji. Karena kehadirannya, Daddy meninggalkan Mommy dan membuatnya harus melahirkan serta membesarkan ku seorang diri. Seandainya dia tidak hadir, sudah pasti aku akan berbahagia dengan keluarga yang utuh. Aku juga yakin Mommy pasti hidup karena kehidupannya yang dipenuhi kebahagiaan. Tapi karena perempuan licik ini, Mommy hidup menderita. Aku hidup tanpa kasih sayang seorang ayah," pekik Rose.


"Lepaskan tangan kotormu dari Shenina, sialan!" sentak Delena dengan rahang mengeras. Tak peduli rahangnya kesakitan saat berbicara karena memar sudah memenuhi wajahnya akibat pukulan dan tamparan Rose, tapi Delena tetap berusaha membela Shenina.


"Oh, kau begitu menyayangi menantumu ini kan? Adikku itupun begitu mencintainya, bukan? Bagaimana kalau dia yang lebih dulu ku habisi? Supaya kau merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Setelah itu, kau pun akan ku habisi agar ayah dan adik kesayanganku itu turut merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang dikasihi?" seringai Rose membuat wajah Delena memucat.


Lain dengan Delena dan Shenina yang masih berusaha melawan meskipun hanya bisa melalui kata-kata, maka Gladys hanya bisa membisu dengan raut pucat pasi. Keringat dingin telah membasahi sekujur tubuhnya.


Shenina yang menyadari keadaan Gladys seketika khawatir. Padahal keadaannya pun tak kalah mengkhawatirkan, tapi melihat Gladys membuatnya lupa akan keadaannya sendiri.


"Rose, tolong lepaskan temanku, dia tidak bersalah. Tolong lepaskan Mommy juga. Beliau sudah tak muda lagi, bagaimana kau tega menyiksa seorang ibu sedemikian rupa? Coba bayangkan, bagaimana kalau ibumu yang diperlakukan seperti Mommy, pasti kau tak tega kan? Aku mohon, lepaskan Gladys dan Mommy. Jangan sakiti mereka, aku mohon!" lirih Shenina yang tak kuasa melihat bagaimana wajah Delena yang sudah babak belur.


Meskipun Gladys tidak disentuh sama sekali oleh Rose, tapi sepertinya Gladys tengah syok berat sehingga membuatnya pucat pasi seperti ini. Berbeda dengan Shenina, ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini. Ini bukan kali pertama ia mengalami hal serupa, tapi sudah kesekian kalinya. Namun yang melakukannya bukanlah orang lain, melainkan ayah dan ibu tirinya.


Harold yang berada di luar gedung tua benar-benar cemas. Ia jadi terbayang bagaimana dirinya pernah mengurung Shenina seperti ini. Harold yang sejak tadi mendengar makian Rose pun ikut terhenyak. Sebenarnya nasib Rose hampir sama saja dengan nasib Shenina. Tapi bedanya Shenina tidak berupaya membalas dendamnya seperti yang Rose lakukan.


Harold semakin sadar, putri yang ia sia-siakan memang memiliki hati yang mulia. Bahkan ia tak memedulikan keadaannya sendiri dan memilih memohon agar Rose melepaskan Delena dan Gladys. Padahal kalau mau, bisa saja Shenina meminta dirinya yang dilepaskan atau bersikap acuh tak acuh agar adil. Tapi tidak, Shenina yang memiliki hati yang seluas samudra justru meminta orang lain diselamatkan. Padahal sebenarnya ia tidak bersalah sama sekali. Tapi karena hubungannya dengan Rainero lah yang membuatnya ikut terlibat.

__ADS_1


Harold makin terhenyak saat Rose mengatakan akan menghabisi Shenina. Harold pun bergegas mencari sesuatu yang bisa ia jadikan senjata untuk melawan Rose dan pamannya di dalam sana.


"Peduli setan dengan semua itu. Pokoknya kalian semua harus mati. Dengan demikian, Reeves dan Rainero pasti akan dihantui penyesalan yang tak terhingga. Aku berharap dia menjadi gila setelahnya." Usai mengatakan itu, Rose tergelak. Kemudian ia menatap nyalang Shenina, ingin mencekiknya.


"Pertama, aku akan membunuhmu. Rasakan ini, jalaang!" Rose meletakkan telapak tangannya di leher Shenina dan mulai mencekiknya.


"Rose, aku mohon, lepaskan Shenina! Jangan sakiti dia. Dia juga sedang hamil. Apa kau tega ingin membunuh mereka bertiga? Aku yakin, Levin pun pasti tidak akan suka dengan apa yang kau lakukan!" teriak Delena.


"Tak usah sebut nama ibuku dengan mulut kotormu itu, brengsekkk!" sentak Rose yang makin emosi. Ia pun kian mencekik leher Shenina membuat wajah Shenina merah padam.


"Rose, silahkan kau bunuh aku, tak apa. Aku rela, tapi aku mohon, jangan sakiti Shenina! Aku mohon!" melas Delena yang sudah berurai air mata. Tapi Rose tak peduli, ia justru tertawa terbahak saat melihat nafas Shenina tercekat dan wajah pucat Delena yang mengkhawatirkan keadaan Shenina. Ada kepuasan tersendiri melihat bagaimana Delena tersiksa seperti ini.


Brakkk ...


"Lepaskan Shenina, brengsekkk!" pekik seseorang yang tak lain adalah Harold itu. Ia mendobrak pintu sambil memegang balok kayu, bersiap untuk melawan Rose dan pamannya.


"Brengsekkk! Siapa kau, hah!" pekik Rose. "Paman!" panggil Rose pada pamannya.


"Kau tenang saja, Rose. Paman yang akan menyingkirkan tikus kurang ajar ini. Silahkan kau bersenang-senang dengan mereka," ujar paman Rose menyeringai.


"Heh, kau laki-laki pecundang! Bagaimana bisa kau menyekap 3 orang perempuan di tempat pengap seperti ini?" teriak Harold marah.


"Terserah kau mau bilang apa. Lebih baik kau segera pergi dari sini, sebelum aku menghabisimu!" sahut Hose santai.


"Tidak, sebelum kalian melepaskan mereka," jawab Harold lantang.


Hose memutar lehernya ke kiri dan ke kanan, kemudian menyeringai d


sambil mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggungnya. Shenina terbelalak saat Hose mengeluarkan pisau itu. Shenina yang lehernya masih dicekik Rose pun segera mengangkat lututnya sekuat tenaga sehingga tepat mengenai kema luan Rose. Cekikan itupun reflek terlepas. Rose menjerik kesakitan membuat Shenina tersenyum puas.


"Dad, awas!" pekik Shenina saat Hose hendak mengayunkan tangannya yang memegang pisau. Harold pun ikut mengayunkan balok kayu di tangannya ke arah Hose. Hose menghindar secepat kilat. Kemudian ia mengayunkan kakinya ke arah Harold sehingga tepat mengenai pinggang Harold. Harold tersungkur. Tapi ia tetap berusaha bangkit dan kembali meraih balok kayu tadi.


"Shittt! Apa yang kau lakukan, hah!" teriak Rose marah sambil meringis kesakitan. Tak disangka, setelah perjuangannya melepaskan ikatan tangannya di balik punggung, akhirnya tangannya kini dapat bergerak leluasa. Namun karena suasana tegang yang menyelimuti dirinya, perut Shenina terasa keram. Tapi sebisa mungkin ia menahan rasa sakit itu dan mencoba berdiri. Bahkan tegaknya pun sedikit goyah karena rasa kesemutan yang menjalar di kakinya.

__ADS_1


"Itu pelajaran bagi perempuan tak punya hati sepertimu," jawab Shenina.


Rose terkejut saat melihat Shenina berhasil melepas diri dari ikatan tangannya. Sambil meringis, ia berjalan menuju Shenina ingin memukulnya, tapi Shenina segera menepis tangan Rose dan mendorongnya kuat hingga Rose terjatuh.


Dengan tertatih, Shenina mendekati Delena untuk melepaskan ikatannya. Rose tak diam saja. Ia lantas bergerak dan menarik rambut Shenina kencang hingga wajahnya mendongak.


"Aaargh ... "


"Shenina," pekik Delena membuat Harold reflek mengalihkan perhatiannya pada Shenina.


Bugh ...


Jose berhasil menyabetkan pisaunya hingga mengenai lengan Harold. Balok kayu di tangan Harold pun terjatuh. Darah segar mengalir dari lengannya.


Shenina yang rambutnya dicengkeram tak mau kalah, ia menahan tangan Rose dan mencengkeram erat. Rose menjerit apalagi saat Shenina memelintir tangannya hingga kini posisi mereka saling berhadapan. Lalu Shenina menampar pipi Rose dan mendorongnya sekuat mungkin dengan sisa-sisa tenaganya.


Sebenarnya tubuhnya telah benar-benar lemas. Apalagi rasa di perutnya kian terasa menyakitkan. Bahkan kakinya pun sudah seperti jelly yang begitu lemas untuk berpijak. Tapi sebisa mungkin ia bertahan meski seluruh raganya kini terasa remuk redam.


'My twins, Mommy mohon bertahanlah,' lirih Shenina dalam hati. 'Rain, aku mohon datanglah!' lanjutnya.


Harold yang sadar kalau Shenina sedang tidak baik-baik saja pun segera berlari mendekat, tapi baru beberapa langkah kakinya beranjak, tiba-tiba sebuah benda tajam tepat menghunus punggung kirinya.


Tak lama kemudian, terdengar derap langkah dari arah luar. Tiba-tiba beberapa pria berwajah tampan tapi berpenampilan berantakan masuk ke dalam ruangan itu. Mata Hose terbelalak. Pun Rose yang masih terduduk dengan punggung bersimbah darah sebab bagian kepala belakangnya membentur sudut meja hingga terluka.


Pandangan Shenina mulai mengabur saat ia mendengar sayup-sayup panggilan seseorang. Hingga pandangan matanya menangkap bayangan sosok yang begitu dinantikannya. Lalu perlahan, semua menggelap seiring kesadaran Shenina yang benar-benar menghilang.


"SHENINA."


...***...


Hai kak, jangan lupa mampir ke cerita baru othor ya!


__ADS_1


...Cerita RainShen sebentar lagi akan tamat, tapi tetap ditunggu dukungannya ya! Terima kasih semuanya. Love you banyak-banyak. ❤️❤️❤️...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2