
Mobil Jevian baru saja keluar menuju ke perusahaannya. Namun belum sempat gerbang kediaman Jevian ditutup, tiba-tiba sebuah mini Cooper berwarna putih masuk ke dalam pekarangan rumah Jevian.
Jelas saja keamanan kediaman Jevian panik. Ia khawatir kalau orang yang ada di dalam mobil itu hendak berbuat sesuatu yang berbahaya di sana.
Tiba-tiba seorang perempuan cantik keluar dari dalam mobil tersebut. Perempuan itu ternyata adalah Eve.
"Nyonya Eve, tolong Anda segera keluar! Tuan Jevian melarang Anda masuk ke mari," ujar salah seorang petugas keamanan di sana.
Bukannya menjawab, Eve justru berteriak memanggil-manggil Nana Jefrey. Jefrey yang sebenarnya sedang duduk sambil berjemur tak jauh dari posisi sang ibu pun lantas menoleh.
"Mommy," gumam Jefrey saat menyadari suara itu milik sang ibu.
"Jefrey, ini mommy, Nak. Mommy ingin bertemu denganmu. Ayo Jefrey, keluar!"
Eve kembali menjerit-jerit. Bahkan wajahnya sudah bersimbah air mata. Jerit tangisnya seolah menyiratkan kesedihan yang luar biasa. Bagi yang mendengar, pasti akan merasakan hal yang sama. Merasa iba. Ikut terluka. Merasa hancur dan tak berdaya.
Namun tidak dengan Roseline. Hatinya yang seakan membeku membuatnya tak gampang bersimpati. Apalagi dengan sosok Eve yang entah mengapa memang tidak memberikan kesan apapun. Tangisnya tak mampu menyentuh relung hatinya. Ia telah menemui banyak orang. Dari yang tulus hingga yang hanya ingin memanfaatkannya saja sehingga membuatnya tidak merasa yakin dengan kesedihan Evelyn.
Jefrey gamang. Ia tatap Roseline yang tersenyum tipis. Ia maklum, anak sekecil Jefrey pasti akan mudah tersentuh, apalagi itu dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri.
"Jefrey mau bertemu Mommy?" tanya Roseline sambil berjongkok di depan bocah kecil itu. "Kalau mau, nanti Aunty temani."
"Mommy, bukan aunty," ralat Jefrey membuat Roseline meringis. Ternyata anak itu memang ingin memanggilnya mommy.
Roseline terkekeh, "em, bagaimana? Mau bertemu?"
Jefrey menggeleng. Meskipun ada rasa ingin bertemu, tapi ternyata rasa takut lebih mendominasi. Roseline lantas membawanya menjauh dari sana.
"Jefrey ... "
...***...
Pulang dari kediaman Jevian, Eve lantas mengemudikan mobilnya menuju T Company. Namun baru saja masuk ke ruangan sang ayah, Tobey sudah lebih dulu melemparkan berkas-berkas ke wajahnya. Eve sampai terperanjat karenanya.
"Dad ... "
"Jangan panggil aku, Daddy! Kau lihat akibat ulahmu, sidang perceraian kembali digelar. Entah bagaimana sidang kembali digelar. Padahal seharusnya masih harus menunggu beberapa bulan lagi baru pengajuan perceraian kalian dikabulkan. Mulai sekarang semua fasilitas mu Daddy cabut. Silahkan kau meminta bantuan pada kekasih sialan mu itu. Keluar dari sini! Cepat!" usir Tobey dengan raut wajah memerah.
Eve ingin membantah, tapi melihat raut wajah Tobey yang diselimuti amarah membuatnya mengurungkan niatnya.
Eve gelisah. Bagaimana nasibnya ke depan bila Tobey benar-benar menarik segalanya?
Setelah Eve keluar, Tobey pun memanggil asisten pribadinya ke ruangannya.
"Suruh orang kita di J Company untuk mencari tahu tentang proposal yang Jevian kerjakan. Aku akan menghancurkan rencananya itu. Jangan kira dia merasa menang. Aku akan menghancurkannya sampai tak bersisa. Tunggu saja," tegasnya dengan rahang mengeras dan tatapan penuh kemarahan.
"Baik, tuan."
...***...
Jevian senang setelah mengetahui ajuan perceraiannya disetujui tanpa harus menunggu selama 6 bulan. Bahkan undangan dari pengadilan pun telah Tobey terima, hal itulah yang membuat Tobey makin murka. Seumur-umur, baru beberapa orang yang mampu menentangnya. Pertama Rainero, lalu kini Jevian.
Memang ada beberapa orang lagi yang menentangnya, namun dengan cepat orang-orang tersebut berbalik arah setelah melihat bagaimana kuasa Tobey dalam menghancurkan seseorang. Hanya Rainero saja yang mampu memukulnya balik. Bahkan ia berhasil memenjarakan orang-orang yang ia kirimkan untuk menghancurkan proyeknya. Rainero juga berhasil menekannya dengan meretas data-datanya sehingga ia mengalami kerugian yang fantastis. Sejak saat itu, Tobey tidak berani lagi menyentuh SC Company.
Lalu kini, ia pikir Jevian akan hancur seperti orang-orang yang berhasil ia hancurkan. Tanpa Tobey sadari, setinggi-tinggi tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Tidak selamanya ia akan selalu berhasil mendapatkan keinginannya. Namun sifat sombong dan tinggi hatinya tetap lebih mendominasi. Ia tidak belajar dari pengalamannya dengan perusahaan Rainero. Apalagi ia tahu kalau Jevian tidak memiliki pendukung di belakangnya. Membuatnya makin yakin bisa menghancurkannya.
Sementara itu, sekeluarnya dari perusahaan sang ayah, Eve langsung melajukan mobilnya menuju apartemen sang kekasih.
"Sayang," panggil Eve yang langsung berhambur ke pelukan sang kekasih.
"Ada apa?" tanya sang kekasih.
Eve ingin jujur tentang ancaman sang ayah, tapi Eve ternyata lebih takut kekasihnya akan meninggalkannya setelah mengetahui sebentar lagi ia takkan memiliki apa-apa lagi.
"Tidak. Aku hanya sedang merindukanmu."
"Oh. Ya sudah, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja."
__ADS_1
"Kemana?"
"Em, bagaimana kalau ke Korea Selatan?"
"Sepertinya bukan ide yang buruk," sahut Eve. Ia pun langsung mencumbu sang kekasih yang dibalas tak kalau panas olehnya.
"Sudah, cukup. Ayo kita berkemas."
"Ayo."
Eve pun segera berkemas. Setelah selesai, ia pun mengambil ponselnya untuk melakukan pemesanan tiket pesawat menuju Korea Selatan. Namun saat sedang melakukan transaksi pembayaran, ia gagal melakukannya. Bahkan setelah melakukannya berkali-kali dengan memasukkan pin kartu kredit dan debit yang berbeda, ia selalu gagal melakukannya. Dahinya sudah dibanjiri oleh keringat dingin. Bahkan tangannya pun sudah bergetar karena khawatir.
"Sayang, kau kenapa?" tanya sang kekasih sambil menyesap rokok dan menghembuskannya ke udara.
"A-aku ti-tidak a---"
Tiba-tiba kekasihnya merebut ponsel Eve dan melihatnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Jangan berbohong!" tegasnya membuat Eve meringis.
"Itu ... Sepertinya daddy sudah memblokir semua kartu kredit dan debit ku. Jadi aku tidak bisa melakukan pemesanan tiket. Bagaimana kalau kali ini kau yang membayarnya? Bukankah aku sering mengirimi mu banyak uang, pakai uang itu dulu. Nanti kalau daddy sudah tidak marah lagi dan mengembalikan akses kartu-kartuku, aku akan menggantinya dengan lebih banyak lagi," ujar Eve yang memang selama ini sering mengirimi kekasihnya yang yang jumlahnya tidak sedikit.
Kekasih Eve yang tak lain adalah Lynda itupun terkekeh sinis, "apa kau sedang bercanda? Uang itu sudah jadi milikku, jangan harap kau bisa memintanya lagi."
"Tapi Lyn, kau tidak bisa begitu. Aku pasti akan menggantinya lain kali. Apa kau tidak mempercayaiku? Daddy sedang marah besar karena Jevian berhasil mengajukan kembali gugatan perceraian kami. Nanti setelah beberapa saat, setelah daddy tidak marah lagi, aku yakin, daddy akan mengembalikan semua fasilitas ku dan aku akan mengirimi mu uang yang jumlahnya lebih besar lagi."
"Makanya, kau jangan bersikap bodoh. Apa salahnya pura-pura bertahan jadi semua takkan menjadi seperti ini. Kau lihat akibat kebodohanmu? Ayahmu memblokir semua keuanganmu. Pokoknya aku tidak mau menggunakan uangku. Bujuk ayahmu sana untuk mengembalikan fasilitasmu. Bagaimanapun kau anak satu-satunya, pasti ayahmu akan mudah luluh asal kau berakting yang bagus untuk meluluhkannya," tukas Lynda yang bersikap acuh tak acuh.
"Tapi Lyn ... "
"Sebaiknya kau pergi sekarang. Jangan pernah temui aku sebelum kau berhasil meluluhkan ayahmu untuk mengembalikan fasilitasmu. Pergilah!" usir Lynda membuat mata Eve terbelalak dengan sikap Lynda yang langsung berubah 180° setelah mengetahui ayahnya menarik fasilitasnya.
Dengan kemarahan yang menggunung, Eve pun segera pergi dari sana. Bukan marah pada Lynda maupun Tobey, melainkan dengan Jevian yang sudah membuat ayahnya begitu marah sehingga menarik semua fasilitasnya.
Saat turun ke basemen, tiba-tiba Eve melihat beberapa orang mengelilingi mobilnya.
"Anda nona Eve?" tanya salah satu dari mereka.
"Benar. Kalian siapa? Dan apa yang kalian inginkan?"
"Kami orang-orang suruhan tuan Tobey. Tolong serahkan kunci mobil Anda sebab mulai hari ini Anda dilarang menggunakan mobil ini lagi," ujarnya membuat mata Eve terbelalak.
"Apa? Itu tidak mungkin."
Tanpa basa-basi, orang-orang suruhan Tobey itupun mengambil kunci mobil yang Eve pegang. Setelahnya mereka masuk ke dalam mobil dan mengendarainya meninggalkan Eve yang masih tercengang dengan apa yang barusan terjadi.
"Shittt! Sialan. Brengsekkk! Semua gara-gara Jevian. Awas kau, brengsekkk!"
...***...
Sementara itu, di tempat lain, tampak seorang laki-laki dengan setelan jas yang membalut tubuhnya tampak baru saja bertemu dengan seseorang. Dia adalah Bastian. Ia baru saja menemui salah seorang detektif swasta yang berada di negara itu. Tujuannya tentu saja memintanya untuk mencari informasi mengenai Jevian dan Roseline.
"Cari informasi tentang siapa laki-laki ini dan juga cari dimana perempuan ini tinggal. Aku tunggu dalam 1x24 jam. Aku harap hasil kerjamu memuaskan," ujar Bastian sambil menyerahkan foto Jevian yang sempat diambilnya diam-diam sebelum masuk ke dalam mobil. Ia juga menunjukkan foto Roseline.
"Baik, tuan."
...***...
"Hai."
Mendengar suara sapaan membuat Roseline yang sedang termenung sambil menatap layar televisi pun menoleh.
"Anda baru pulang, Tuan?" tanya Roseline sambil membantu Jevian menyambut tas dan juga jas yang tersampir di lengannya.
Jevian tersenyum lembut. Padahal ia membayar Roseline untuk mengurus Jefrey, tapi Roseline selalu saja ikut membantu mengurusnya. Ia sudah seperti seorang istri yang melayani sang suami. Tiba-tiba Jevian terkekeh kecil. Bagaimana bisa ia membayangkan Roseline adalah istrinya. Ada-ada saja, pikirnya.
"Kenapa Anda tertawa?"
__ADS_1
Roseline heran, bukannya menjawab pertanyaannya, Jevian justru tertawa kecil.
"Tidak. Tidak apa-apa. Oh ya, apa Jefrey sudah tidur?"
Roseline mengangguk, "apa Anda tidak melihat jam? Ini sudah hampir jam 10 malam, tentu saja ia sudah tidur."
Jevian lantas menghempaskan tubuhnya ke sofa dimana Roseline tadi duduk. Sementara Roseline masuk ke ruang kerja Jevian untuk meletakkan tasnya, kemudian ia juga menuju kamar Jevian untuk meletakkan jas kotornya.
"Anda ingin sesuatu, Tuan? Apa Anda sudah makan malam?"
Jevian membalikkan sedikit tubuhnya ke samping lalu menatap Roseline sambil menopang wajahnya dengan kedua tangan yang ia letakkan di sandaran sofa.
"Aku belum makan."
"Anda ingin memakan sesuatu?"
"Memakan mu boleh?"
Alis Roseline bertaut, ia tidak mengerti apa maksud Jevian. Jevian terkekeh melihat ekspresi itu.
"Hahahaha ... Aku hanya bercanda. Tapi kalau belum makan, memang benar. Apa kau bisa memasak?"
"Tidak begitu bisa. Tapi kalau hanya sekedar yang simple-simple, saya bisa."
"Spaghetti?"
"Tidak terlalu sulit. Apa Anda mau makan itu?"
"Boleh kalau kau tidak keberatan memasakkannya," ujar Jevian masih menatap lekat wajah Roseline.
"Baiklah. Tunggu sebentar," ujarnya ringan. Kemudian Roseline melenggang begitu saja menuju dapur.
Sepeninggal Roseline, Jevian tersenyum kecil. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
Tak butuh waktu lama, aroma tumisan bawang bombai yang dicampur berbagai macam bahan menguar hingga ke indra penciuman Jevian. Jevian yang tadinya memejamkan mata pun segera membuka mata. Ia lantas segera beranjak menuju dapur.
Sambil bersandar di dinding, ia memperhatikan Roseline yang tengah memakai apron di tubuhnya. Rambut yang diikat asal membuat leher jenjangnya terlihat jelas. Jevian menelan ludahnya kasar. Apalagi saat melihat Roseline bergerak dengan lincah saat mengaduk spaghetti di dalam wajan. Seolah ia memang telah terbiasa dengan kegiatan memasak tersebut.
"Anda ... Sejak kapan Anda berada di sana?" tegur Roseline membuat Jevian tersentak dari lamunannya.
"Ah, baru saja. Sudah selesai?" gugup Jevian.
"Sudah. Silahkan makan! Maaf bila rasanya tidak sesuai ekspektasi," ujar Roseline sambil terkekeh kecil.
Jevian pun ikut tersenyum sambil mendudukkan bokongnya di kursi.
Lalu ia segera mengambil spaghetti dengan garpu dan menyuapkannya ke mulutnya.
"Bagaimana?" tanya Roseline penasaran. Apalagi saat Jevian memakan spaghetti nya tanpa ekspresi.
"Mau mencoba?" tanya Jevian sebab ternyata Roseline hanya memasak satu porsi saja.
"Tidak ... "
Baru saja Roseline hendak menolak, tapi Jevian justru sudah memasuki gulungan spaghetti ke mulutnya menggunakan garpunya. Mata Roseline mendelik tajam yang justru dibalas Jevian dengan kekehan. Membuat wajah tampannya jadi semakin tampan. Roseline pun mengunyah spaghetti di mulutnya dengan diam.
Lalu Jevian melanjutkan makannya tanpa bicara. Hingga akhirnya spaghetti buatan Roseline pun tandas menerbitkan senyum di bibir Roseline.
Saat Roseline hendak membereskan piring kotor, Jevian justru mencegahnya.
"Tidak perlu. Biar aku saja. Kau sudah membuatkan ku sepiring spaghetti yang sangat enak, kini giliranku yang mencuci piring. Terima kasih," ucap Jevian sambil tersenyum lembut.
Sikap lembut Jevian ini seketika mengingatkannya dengan Bastian. Ia pun selalu memperlakukannya dengan lembut dulu. Tapi sayang, hubungannya harus kandas di tengah jalan. Oleh sebab itulah ia sampai sekarang tidak pernah lagi menjalin hubungan dengan siapapun sebab ia khawatir kembali mendapatkan penolakan.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1