Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 217 (S3 Part 59)


__ADS_3

Perjalanan menuju negara A via tranportasi air memakan waktu sekitar 5 jam, sementara perjalanan baru berlangsung selama 3 jam.


Roseline kini sudah ditempatkan di kamar yang ada di dalam kapal tersebut. Kapal yang disewa Bastian berukuran cukup besar. Ada beberapa kamar dengan fasilitas yang cukup mewah di dalamnya. Kapal itu biasanya disewakan untuk para pelancong ataupun pasangan kekasih maupun suami istri yang ingin berlibur secara privat.


Mata Roseline mengerjap. Sepertinya efek biusnya sudah hampir habis. Sambil memegang kepalanya, Roseline mengerang. Saat matanya terbuka perlahan, netranya tampak berputar kebingungan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba mengingat potongan-potongan memori sebelumnya.


Roseline sontak terduduk. Matanya membulat saat menyadari ia sedang berada di sebuah tempat yang asing. Suara debur ombak terdengar jelas. Roseline yang mendapati kaca jendela pun segera beranjak untuk melihat. Matanya pun sontak membulat saat menyadari ia kini sedang berada di tengah laut.


"Laut? Apa aku sedang berada di kapal? Tapi mengapa aku bisa berada di sini? Siapa yang membawaku?" gumamnya bingung.


Tiba-tiba ada sepasang lengan yang memeluk tubuh Roseline dari belakang. Roseline pun berjengit dan dengan cepat menghindar dari sepasang lengan tersebut.


"Kau ... " desis Roseline dengan mata terbelalak saat mengetahui Bastian ada di kapal yang sama dengannya. "Jangan bilang ini ulahmu?" desis Roseline dengan gigi bergemeletuk.


Bastian pun terkekeh, "akhirnya kau sadar juga, Sayang. Apa kau haus? Kau pasti haus setelah berkelahi dengan orang-orang brengsekkk itu. Maafkan aku, karena mereka kau jadi terluka?" tangan Bastian terulur hendak menyentuh pipi Roseline yang memar dan sudut bibirnya yang terluka. Namun dengan cepat Roseline menepis kasar tangan Bastian. Ia tak sudi disentuh laki-laki itu. Cinta yang dulu tumbuh bersemi, semuanya telah layu dan mati. Tak ada lagi cinta. Yang ada hanyalah hambar. Rasa kecewa menghapus segala cinta pun kenangan indah mereka.


"Jangan sentuh aku, brengsekkk! Aku tidak menyangka, setelah berpisah selama bertahun-tahun kau jadi semakin gila seperti ini, Bastian!" hardik Roseline dengan sorot mata berapi-api. "Keluarkan aku dari sini, brengsekkk! Kau mau bawa aku kemana?"


"Aku ingin membawamu ke istana kita, Sayang. Asal kau tahu, aku telah membangun istana super megah untuk kita dan anak-anak kita tempati. Aku akan menjadikan kau ratu di istana kita itu. Kau pasti akan bahagia, Sayang. Ayolah, jangan sok jual mahal. Aku tahu, kau masih mencintaiku, kan!"


"Cinta? Bullshittt! Cintaku telah gugur setelah kau pergi dan lebih memilih hartamu dibandingkan aku. Cintaku telah mati. Kau pikir aku bodoh masih mau menunggu laki-laki pecundang sepertimu? Laki-laki yang bahkan tak mampu memperjuangkan aku? Laki-laki yang lebih memilih menikah dengan perempuan lain demi tak ingin kehilangan hak warisnya? Tidak. Aku tidak sebodoh itu," raung Roseline dengan sorot mata penuh kemarahan.


Bastian menggertakkan giginya. Ia marah saat mendengar Roseline mengatakan cintanya telah mati. Ia tidak marah saat Roseline menyebutnya brengsekkk maupun pecundang.

__ADS_1


"Tidak, kau masih mencintai aku. Jangan berbohong, Rose! Aku yakin, kau masih mencintaiku. Hanya aku. Hanya aku yang kau cintai, sama sepertiku yang hanya mencintaimu seorang."


"Itu bukan cinta, Bastian. Sadarlah. Itu obsesi. Cinta yang tulus takkan pernah menyakiti, tapi lihat ... apa yang kau lakukan? Bahkan kau menculik ku demi menuntaskan obsesimu. Lepaskan aku, Bastian. Kita masih bisa berteman, tapi untuk menjadi pasangan? Maaf, aku tak bisa. Mau sudah menikah. Aku pun sudah mencintai laki-laki lain. Tolong sadarlah! Jangan melakukan hal yang dapat merugikan dirimu sendiri."


"Tidak, tidak, kau hanya mencintaiku. Jangan bercanda, Rose, aku yakin kau hanya mencintaiku," raung Bastian tidak terima Roseline mencintai laki-laki lain.


"Tapi itu kenyataan, Bastian. Kau pikir saja, kau pergi sekian tahun lamanya. Bahkan saat aku dalam saat-saat tersulit pun kau tak ada. Bagaimana aku masih mau mencintai laki-laki yang bahkan tidak bisa memperjuangkan ku? Mendampingiku?"


"Tapi aku saat itu sedang berjuang untuk mendapatkan segala kemewahan ini. Aku melakukan itu untukmu, Sayang. Hanya untukmu. Seharusnya kau senang, kini aku bisa memberikan apapun padamu. Kau takkan dipandang hina lagi oleh orang-orang karena statusmu."


"Apa aku pernah meminta semua itu? Tidak. Bagiku harta tidaklah penting. Harta bisa didapatkan dengan berjuang bersama, tapi kau justru memilih meninggalkan ku. Maaf, kalau aku menyakiti perasaanmu dengan kata-kataku, tapi itulah faktanya kalau aku sudah tidak mencintaimu lagi."


"Berhenti mengatakan kau tidak mencintaiku lagi, Roseline!"


Bastian melemparkan gelas yang ada di atas nakas. Padahal ia menyiapkan itu untuk Roseline, tapi kini gelas berisi air putih itu sudah hancur berkeping-keping karena Bastian yang tidak dapat mengontrol emosinya.


"Tapi faktanya ... "


"Berhenti kataku! Kau hanya mencintaiku. Hanya aku. Tak ada yang lain."


"Kau egois, Bastian. Kau tidak mau menerima kenyataan."


"Terserah ... "

__ADS_1


Tok tok tok


Belum selesai Bastian mengucapkan kata-katanya, pintu kamar mereka diketuk dari luar. Dengan dada bergemuruh, ia pun segera membuka pintu.


"Sebentar lagi kapal akan berlabuh, Tuan" lapor anak buah Roseline.


Bastian lantas mengangguk dan segera menutup pintu kembali.


Mendengar kata berlabuh, mata Roseline berbinar. Ia berencana akan kabur dari sana. Namun Bastian yang sudah dapat mencium gelagat itu pun tak tinggal diam. Diam-diam Bastian mengeluarkan semprotan berisi obat bius miliknya. Lalu dengan cepat ia menyemprotkan has berisi obat bius itu depan wajah Roseline.


"Sialan kau, Bastian. Brengsekkk. Kita lihat saja, sebatas mana kemampuan mu untuk menculikku."


Setelah mengucapkan itu, tubuh Roseline tiba-tiba terhuyung dan hampir jatuh bila tidak segera Bastian tangkap.


Setelah kait kapal berhasil ditambatkan dan kapal berhasil bersandar di dermaga, Bastian pun turun sambil mendorong Roseline yang tengah di dudukan di kursi roda. Namun, baru saja mereka hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba beberapa mobil hitam datang secara bersamaan menghadang jalan dari berbagai arah.


"Brengsekkk!" umpat Bastian melihat gerombolan mobil itu. "Siapa mereka? Kenapa mobil mereka menghalangi jalan kita seperti ini?" lanjut Bastian yang sudah meraung kesal. Waktunya tidak banyak lagi. Ia harus segera sampai ke bila yang sengaja ia bangun untuk hidup bersama Roseline.


Beberapa orang berseragam safari pun segera turun dari dalam mobil. Hanya ada dua mobil yang orangnya belum turun. Lalu dua orang pun segera bergerak membukakan pintu kedua mobil tersebut. Mata Bastian seketika terbelalak saat melihat siapa yang turun dari kedua mobil tersebut.


"Ka-kalian? Kenapa kalian bisa berada di sini secara bersamaan?" gumam Bastian dengan wajah sedikit pias.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2