Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 59


__ADS_3

"Shen, kamu serius besok masih mau jualan?" tanya Rainero dengan dahi berkerut setelah mendengar perkataan Shenina yang besok ia masih mau berjualan.


"Kan untuk terakhir kali, sayang bahan-bahan jualan aku yang masih ada masa' harus dibuang," sahut Shenina sambil mendudukkan bokongnya di karpet bulu. Mereka baru saja pulang dari makan siang dengan keluarga Rainero. Sebenarnya tadi Mom Delena mencegahnya pulang. Ia meminta Shenina menginap di hotel saja setelah membahas masalah kepulangan mereka nanti, tapi Shenina menolaknya secara halus.


Ya, beberapa hari lagi mereka akan pulang bersama ke negara asal mereka. Shenina awalnya ragu, tapi akhirnya ia menerima menimbang kalau perusahaan induk milik Rainero ada di sana. Pun ia tidak mungkin terus berada di negara ini. Masa berlaku visa-nya hanya beberapa bulan jadi otomatis ia harus kembali ke negara asal bila visa-nya tidak diperpanjang.


"Ya udah, kamu hati-hati ya! Jangan angkat-angkat berat, ingat! Aku tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kalian bertiga," ujar Rainero dengan sorot mata penuh cinta.


Shenina mengangguk dengan wajah tersipu. Sungguh, jantungnya kebat-kebit karena sikap Rainero yang penuh perhatian dan kasih sayang.


Dulu memang ia kerap mendapatkan perhatian dari Theo, tapi tidak sampai membuat kinerja jantungnya meningkat drastis seperti ini. Mungkin karena Rainero pada dasarnya laki-laki dingin dan angkuh sehingga saat ia menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya membuat Shenina benar-benar speechless. Sungguh sukar dipercaya, laki-laki dingin dan arogan ini mampu bersikap semanis dan selembut ini.


"Ka-kamu besok jadi terbang ke Jepang?"


Rainero mengangguk, "yah, sebenarnya aku bisa saja meminta Axton menghandle pekerjaan di sana, tapi Axton pun sekarang sedang sibuk mengurus masalah di perusahaan induk."


"Apa sudah terjadi masalah?"


Rainero kembali mengangguk, "telah terjadi penggelapan dana pajak."


"Apa? Bagaimana mungkin?"


Rainero mengedikkan bahunya, "tak perlu kau pikirkan. Sekarang prioritasmu adalah aku dan anak yang ada di dalam kandunganmu jadi tak perlu memikirkan hal lain. Cukup aku dan anak kita. Dan satu lagi, mulai sekarang apapun yang terjadi, apapun yang kau inginkan, apapun yang ingin kau lakukan, semuanya wajib kau sampaikan padaku. Andalkan aku. Serahkan segalanya padaku. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan apapun demi kebahagiaanmu," ujar Rainero penuh kesungguhan.


Mata Shenina sampai berkaca-kaca, ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini. Bahkan kedua orang tua serta kakek Rainero pun menerima dirinya dengan tangan terbuka. Sungguh tak pernah terpikirkan olehnya akan menjadi bagian dari keluarga Sanches. Bahkan membayangkan menjalin hubungan dengan Rainero saja tak pernah terlintas dalam benaknya.


Mungkin ini arti pepatah yang pernah tanpa sengaja ia pernah dengar dari tetangga-tetangga kontrakannya, Tuhan itu tidaklah memberikan apa yang kita inginkan, tetapi apa yang kita butuhkan. Dan memang benar, saat ia menginginkan Theo jadi pasangan hidupnya, ia justru diberikan ujian tak terduga yang membuat hubungan mereka seketika kandas. Shenina pun baru tahu kalau keluarga Theo sebenarnya terpaksa menyetujui keinginan Theo, tapi setelah mengetahui kesalahannya, mereka pun dengan terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan mereka pada dirinya. Berbanding terbalik dengan keluarga Rainero, mereka justru menerimanya dengan tangan terbuka tanpa mempertanyakan perihal keluarganya.

__ADS_1


Degh ...


Keluarga?


Tiba-tiba Shenina memikirkan keluarganya. Bagaimana kalau keluarga Rainero tiba-tiba tidak menyukai dirinya karena keluarganya? Untuk masalah restu keluarga, jujur saya ia tidak memerlukannya sebab toh mereka saja tak pernah mempedulikan dirinya. Mereka juga telah mengusir dirinya. Tapi ... entah bagaimana dengan keluarga Rainero. Apakah mereka masih mau menerima dirinya yang telah dibuang oleh keluarganya?


Keesokan harinya, karena pagi-pagi sekali Rainero sudah harus melakukan penerbangan ke Jepang, jadi Rainero memilih tinggal di kontrakan sebelah. Sebelum pergi, Rainero ingin berpamitan dengan Shenina dahulu. Tapi Rainero justru takut mengganggu Shenina bila mengetuk pintu kontrakannya saat langit masih tampak gelap itu.


Rainero pun mengambil ponselnya dan menghubungi Shenina, siapa tahu perempuan itu sudah bangun, harapnya.


Baru saja panggilannya berdering, detik itu juga panggilannya diangkat.


"Halo."


"Shen, kau sudah bangun?"


"Kalau belum memangnya kenapa?"


"Tidak. Aku memang sudah bangun sejak tadi."


Rainero menghentikan gerakannya, "kenapa begitu? Apa perasaanmu sedang tidak nyaman?"


"Entahlah ... tapi ... sepertinya twins tau daddy-nya akan pergi jadi ... " Shenina menggigit bibirnya.


"Jadi apa?" Rainero tersenyum menunggu kelanjutan perkataan Shenina.


"Jadi mereka ingin berpamitan."

__ADS_1


Rainero tersenyum, entah itu memang keinginan anak-anaknya atau ... Shenina sendiri. Ia pun bergegas menuju pintu kontrakan Shenina.


"Mereka yang ingin berpamitan atau ... ibu mereka?" goda Rainero.


Mata Shenina mendelik dengan semburat merah di pipi. Ia pun berkilah, "siapa? Aku? Tidak. Ini benar anak-anakmu. Kalau tidak mau percaya ya sudah," sewot Shenina.


"Iya, iya, my twins yang ingin berpamitan. Ingat, laki-laki harus mengalah karena perempuan selalu benar. Kalau begitu, bisa kau bukakan pintu, aku sudah di depan," ucap Rainero membuat Shenina membelalakkan matanya.


Ia pun berjalan dengan cepat menuju pintu kontrakannya. Baru saja pintu terbuka, tiba-tiba Rainero mendorong pelan pundak Shenina sehingga kembali masuk ke dalam. Kemudian dengan kakinya ia menutup pintu dan menarik pinggang Shenina ke dalam dekapannya.


"Sebelum aku pergi, aku pun ingin berpamitan dengan calon ibu dari anak-anakku ini," bisiknya tepat di depan wajah Shenina membuat perempuan itu terkesiap sebab dalam hitungan detik Rainero telah menyergap bibirnya dengan pagutan dan luma tan yang dalam dan cukup menuntut.


Setelah beberapa saat, Rainero pun melepaskan tautan bibirnya seraya tersenyum lebar. Kemudian ia menunduk dan melabuhkan kecupan-kecupan kecil di atas perut Shenina.


"Hai twins baby, Daddy pergi dulu ya! Jaga Mommy dan jangan buat Mommy kesusahan ya. Semoga urusan Daddy bisa cepat selesai biar kita bisa berkumpul bersama lagi," ucapnya sambil mengusap perut Shenina. Ada rasa nyaman dan hangat mengalir di sekujur pembuluh darah Shenina. Ia pun tersenyum seraya mengantarkan kepergian Rainero menuju mobilnya yang dikendarai Mark.


Siang harinya, sesuai perkataan Shenina ia pun kembali berjualan, tapi tidak banyak seperti biasanya. Shenina hanya ingin menghabiskan bahan yang tersisa. Tapi saat Shenina mengemas sisa bakso krispinya untuk ia bagikan kepada beberapa orang di sana, tiba-tiba saja mobil satpol PP berhenti tepat di depan gerobak jualan Shenina.


Shenina tentu saja terkejut. Ternyata menurut petugas, ada yang melaporkan dirinya yang berjualan di sana. Yang menjadi bahan permasalahannya adalah karena dia merupakan warga asing dan tentunya melanggar ketentuan. Beruntung warga dan Adisti serta Gladys membantunya membebaskan diri dari para petugas yang hendak memboyongnya ke kantor polisi.


...***...


Keesokan harinya, saat Shenina sedang melamun memikirkan Rainero yang tak kunjung menghubunginya sejak kepergiannya kemarin, tiba-tiba didatangi oleh Gladys dan Adisti.


"Kalian sebenarnya mau bawa aku kemana sih?"


"Udah, pakai aja dulu gaun ini, setelah itu ikut kami ke suatu tempat. Kami yakin, kau pasti akan suka," ujar Gladys seraya menyerahkan sebuah kotak yang berisi sebuah gaun berwarna biru muda, perhiasan, dan juga sepatu flatshoes.

__ADS_1


"Tapi ... "


"Nggak ada tapi-tapian, pokoknya buruan pake. Jangan lupa dandan yang cantik, kami tunggu!" Adisti mengerlingkan sebelah matanya setelah berhasil mendorong Shenina masuk ke dalam kamar.


__ADS_2