Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 177 (S3 Part 20)


__ADS_3

3 bulan telah berlalu dan Jefrey menjalani perawatan di rumah. Jefrey akan menjalani operasi sekitar satu bulan lagi. Sementara itu, ia akan dirawat di rumah. Setiap 2 Minggu sekali Jefrey akan melakukan pemeriksaan rutin untuk melihat kesiapan mental dan fisiknya untuk menjalani operasi.


Melihat kegigihan Jevian yang tetap ingin bercerai dari Eve membuat Tobey kesal bukan main. Satu persatu proyek Jevian Tobey gagalkan. Tak peduli kalau ia harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit, tapi yang terpenting ia bisa menekan Jevian agar mau membatalkan rencana perceraiannya.


"Brengsekkk!" amuk Tobey sambil melemparkan barang-barang di atas mejanya.


Tobey kesal bukan main sebab sudah 3 bulan berlalu dan sudah berbagai cara yang Tobey tempuh, tapi Jevian tetap saja kukuh ingin bercerai.


Eve berkali-kali mendatangi Jevian untuk membujuk laki-laki itu agar membatalkan perceraian, tapi Jevian seperti tak tersentuh sama sekali. Eve juga tidak bisa meluluhkan Jefrey. Jangankan meluluhkan, mendekatinya saja Eve sulit. Kalaupun berhasil, justru Jefrey yang menolak kedatangannya.


"Raul, siapkan berkas-berkas perjanjianku dengan Jevian waktu itu. Sepertinya harus aku sendiri yang turun tangan untuk menghentikannya. Aku yakin, setelah berkali-kali mengalami kegagalan proyek, ia pasti tidak memiliki banyak dana lagi untuk membayar pinalti karena sudah berencana menceraikan Eve. Aku yakin, dengan ini ia akan menyerah dan membatalkan niatnya itu," ucap Tobey penuh keyakinan.


Sementara itu, di perusahaannya, Jevian sedang menunggu laporan seseorang.


"Bagaimana? Ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Jevian pada orang suruhannya. Orang itu Jevian perintahkan mengikuti Eve kemanapun ia pergi. Ia harap dengan begitu, ia memiliki celah untuk mendapatkan sesuatu yang dapat dimanfaatkannya untuk mempermudah perceraiannya.


"Kegiatan Nona Eve seperti biasa, tuan. Tak ada yang mencurigakan. Ia hanya pergi berjalan-jalan, kumpul-kumpul dan menginap di hotel dengan teman-temannya seperti biasa," ujar orang suruhan Jevian seraya menyerahkan berlembar-lembar foto kegiatan yang Eve lakukan di luar sana.


Jevian menghela nafas panjang. Setelah 3 bulan menyuruh orang untuk membuntuti Eve, tak ada satupun hal yang aneh. Selama berbulan-bulan kegiatannya itu-itu saja. Jevian yang melihat foto-foto itu sampai mendengus. Apa tak ada kegiatan lain yang lebih baik, pikirnya. Hanya bersenang-senang dan menghamburkan uang. Kegiatan yang tidak bermanfaat sama sekali.


Jevian memerhatikan foto-foto itu secara seksama. Ia lebih sering bepergian dengan temannya yang bernama Lynda. Tak ada interaksi yang berlebihan. Namun ...


Jevian sekali lagi memperhatikan foto-foto tersebut. Kemudian ia membuka laci meja kerjanya dan memperhatikan keseluruhan foto-foto tersebut.


Eve memang kerap berkumpul dan bepergian dengan teman-teman perempuannya. Tak ada satupun laki-laki yang tampak berinteraksi dengan mereka. Namun ada satu hal yang ganjal di mata Jevian. Dari keseluruhan teman-temannya, Eve lebih dekat dengan Lynda. Meskipun interaksi mereka biasa saja. Tapi setiap bepergian, mereka akan menginap di satu kamar yang sama.


"Ini ... Apa Eve selalu satu kamar dengan temannya ini?" tanya Jevian seraya menyodorkan foto Eve dan Lynda yang masuk ke kamar hotel.


"Benar tuan. Bahkan teman-temannya yang lain pun menginap satu kamar dengan teman perempuannya yang lain."


"Apakah mereka tak pernah tampak dekat dengan seorang laki-laki?"


Orang itu menggeleng, "tidak, tuan."


Mata Jevian memicing. Tak ada interaksi yang aneh, tapi ...


Bola mata Jevian melebar. Jevian lantas menjejerkan foto-foto Eve dan Lynda. Tapi kini Jevian fokus ke sorot mata keduanya. Keduanya tampak seperti saling mencintai satu sama lain.


Mata Jevian kian membulat. Ia meraup wajahnya kasar.


"Jangan-jangan ... "


"Ada apa tuan?" tanya orang tersebut yang bingung saat melihat ekspresi Jevian yang tampak bergidik.


"Setiap bepergian, Eve dan Lynda selalu satu kamar, right?"


"Benar, tuan."


"Sekarang dimana mereka?"

__ADS_1


"Mereka ada di hotel XX di kota XY."


Jevian mengangguk. Kemudian ia mengatakan tentang kecurigaannya. Mata orang suruhan Jevian pun membeliak. Ia pun ikut memperhatikan keseluruhan foto-foto tersebut. Ia pun akhirnya mulai berpikir ke arah sana.


Bisa jadi kan?


Jevian lantas memerintahkan orang tersebut untuk melakukan sesuatu. Orang suruhan Jevian pun menurut. Setelahnya, ia pun pamit undur diri untuk segera mengatur segala sesuatu untuk melancarkan rencana Jevian. Ia harap, kecurigaan Jevian memang benar. Dengan begitu, pekerjaannya akan segera selesai. Meskipun ia sebenarnya merasa malu sebab tidak bisa memecahkan masalah bosnya. Justru bosnya sendiri yang menarik kesimpulan itu.


...***...


Jevian sedang melajukan mobilnya kembali kantor. Saat di perjalanan, tiba-tiba matanya memicing saat melihat sosok yang belum lama dikenalnya.


"Seline?" gumam Jevian saat melihat Roseline berjalan di trotoar dengan sebuah tas ransel di pundaknya. Sesekali ia menyeka keringatnya yang bercucuran karena cuaca yang begitu terik.


Jevian pun segera memutar balik mobilnya kemudian menepi tepat di depan halte yang jaraknya beberapa langkah dari posisi Roseline.


Roseline mendudukkan bokongnya di bangku halte. Kemudian ia mengeluarkan botol air minum miliknya dan membukanya lalu menenggaknya.


Jevian menurunkan kaca mobilnya kemudian memanggil Roseline membuat gadis yang sedang termenung itu seketika menoleh.


"Seline," panggil Jevian.


Roseline yang sudah familiar dengan suara dan panggilan Jevian pun menoleh ke arah sumber suara.


"Tuan Jevian," ujarnya. Kemudian ia melihat Jevian melambaikan tangannya agar ia mendekat. Roseline pun gegas mendekat sambil mencangklong ranselnya di pundak kanan. "Ada apa tuan?" tanya Roseline heran.


"Masuklah!" titahnya.


"Hah!"


"Masuk!" titahnya datar.


Roseline pun gegas masuk dan duduk di bangku samping Jevian. Setelahnya, Jevian memintanya memasang seat belt.


"Anda mau membawa saya kemana, tuan?" tanya Roseline bingung saat Jevian sudah menjalankan mobilnya.


"Ke cafe sebentar. Aku haus."


Roseline sebenarnya bingung sebab kenapa Jevian harus mengajaknya ke sana. Namun Roseline memilih bungkam hingga akhirnya mereka pun tiba di di cafe dengan nuansa Eropa klasik.


Suara denting piano mengalun merdu menyambut kedatangan mereka membuat Roseline merasa nyaman. Jevian membawa Roseline duduk di salah satu meja yang posisinya mengarah ke taman samping cafe. Setelahnya, seorang pelayan datang dan Jevian pun mulai menyebutkan pesanannya dan juga Roseline. Saat pelayan itu pergi, Roseline pun kembali membuka suara.


"Tuan, sebenarnya apa tujuan Anda membawa saya kemari?"


"Kau dari mana? Saya sudah ke rumah sakit beberapa kali, kenapa kau tidak ada di sana?"


"Saya sudah tidak bekerja di sana," jawab Roseline acuh tak acuh. Seolah ia tidak begitu terganggu dengan apa yang terjadi.


"Kenapa?" tiba-tiba Jevian menebak alasan Roseline tidak bekerja lagi. "Apa karena ... Eve?"

__ADS_1


Roseline pun membenarkan tanpa ingin menutup-menutupinya.


"Seperti yang tuan duga."


Jevian mendengkus. Seperti itulah sifat asli Eve. Sama seperti ayahnya, suka melakukan sesuatu sesuka hatinya dan semena-mena. Seolah mereka akan selalu berada di atas jadi mereka bisa menginjak-injak orang lain sesuka hati mereka.


"Maaf, ini pasti karena kejadian tempo hari kan?"


"Tak masalah. Semua sudah berlalu."


"Memang, tapi akibatnya kau kehilangan pekerjaan."


"Pekerjaan masih bisa dicari, tapi harga diri tak boleh diinjak-injak."


Jevian membenarkan. Ia salut dengan jalan pikiran Roseline. Ia juga seolah tidak begitu masalah dengan apa yang Eve lakukan.


"Lalu sekarang kau bekerja di mana?" tanya Jevian lagi setelah sebelumnya pelayan meletakkan pesanan mereka.


Roseline menggeleng.


"Masih mencari."


"Ini sudah 3 bulan dan kau belum mendapatkan pekerjaan lagi?"


"Ya," jawab Roseline santai.


Jevian menghela nafas panjang. Ia tidak menyangka efek menolong anaknya tempo hari harus membuat Roseline bernasib seperti ini.


"Begini saja, bagaimana kalau kau bekerja denganku?" tawar Jevian akhirnya.


"Sebagai?" tanya Roseline setelah menyesap cappuccinonya.


"Menjaga Jefrey."


"Maksud Anda sebagai Nanny? Benar?"


"Bisa dibilang seperti itu. Sebenarnya Jefrey sudah memiliki Nanny. Tapi Lora sebulan lagi akan kembali ke negara asalnya untuk menikah jadi bagaimana? Kau bersedia?" imbuh Jevian. Roseline tampak menimbang. "Kau bisa tinggal di rumahku jadi bisa memudahkan kau menjaga Jefrey saat aku tak ada."


Mendengar ia akan mendapatkan tempat tinggal gratis, membuat Roseline reflek mengangguk setuju. Bukankah itu artinya ia bisa menghemat pengeluarannya.


"Oke."


"Deal." Jevian mengulurkan tangannya.


"Deal," jawab Roseline pasti.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2