Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 124


__ADS_3

"Calon ... menantu?" beo Adisti bingung.


"Ya, bukankah kau calon menantu Madre dan Padre. Kenapa ekspresimu seperti itu?"


"Maaf nyonya Madre, kenapa Anda memanggil saya calon menantu? Memangnya kapan aku kapan aku jadi calon menantumu? Bahkan aku sendiri tidak mengenal putra Anda begitu juga nyonya Madre sendiri." Adisti benar-benar bingung. Ia sampai menggaruk cuping hidungnya. Kenapa tiba-tiba ada seorang wanita yang mengakui dirinya sebagai calon menantunya? Sejak kapan ia menjadi calon menantu seseorang yang tidak dikenalnya itu?


Mendengar pertanyaan Adisti membuat Ibu Mark itupun terkekeh lalu mencubit pipi Adisti.


"Pantas saja putra Madre sampai tergila-gila padamu, ternyata kamu memang semenggemaskan ini. Ah, iya, jangan panggil aku Nyonya Madre, tapi panggil saja Madre. Madre itu artinya mommy dalam bahasa Spanyol. Ah, untuk penjelasan selanjutnya, kita tunda dulu ya. Madre akan memanggilkan dokter terlebih dahulu," ujar ibu Mark yang segera menekan tombol di atas ranjang.


Tak butuh waktu lama, dokter dan perawatannya pun datang memeriksa Adisti.


"Bagaimana keadaan calon menantu saya, dok?" tanya Ibu Mark.


Dokter tersebut tersenyum, "Anda tidak perlu khawatir. Keadaan calon menantu Anda sudah baik-baik saja. Tapi untuk memastikannya lagi, siang nanti calon menantu Anda akan menjalani observasi secara menyeluruh. Bila semuanya baik-baik saja, mungkin dalam 2 atau 3 hari ke depan, calon menantu Anda sudah bisa dibawa pulang. Bahkan bisa langsung dinikahkan," ujar dokter itu sambil tersenyum lebar.


"


Ibu Mark pun ikut terkekeh, "anda bisa saja. Tapi sayangnya, calon suaminya masih belum sadarkan diri," ujar ibu Mark sendu.


Dokter itupun mengangguk, "semoga saja putra Anda segera sadarkan diri, Nyonya. Saya yakin, putra Anda pasti akan segera bangun. Ia pasti tak ingin calon istrinya diambil orang lain, bukan."


Lagi-lagi ibu Mark terkekeh, "Anda bisa saja, dok."


Setelah berbincang sejenak, Ibu Mark pun segera kembali ke kamar Adisti.


"Kenapa?" tanya Ibu Mark heran saat melihat ekspresi Adisti saat memandangnya.


"Mark, bagaimana keadaan Mark? Dimana dia? Dia tidak apa-apa kan? Nyonya, bisa bantu aku mencari pasien bernama Mark? Tolong aku, Nyonya! Tolong bantu aku!" melas Adisti membuat ibu Mark tersenyum haru. Sepertinya pilihan putranya sudah tepat sebab terlihat jelas kalau Adisti merupakan gadis yang tulus. Bahkan ia bisa melihat kalau Adisti benar-benar mengkhawatirkan keadaan Mark.


Ibu Mark itu lantas mendekat dan menggenggam tangannya seraya tersenyum sendu, "sepertinya kau sangat mencintai anak nakal itu?" ucap ibu Mark bernama Eleanor itu.


Mendengar kata cinta, Adisti tak lagi menepis apalagi menutupi perasaannya, "Anda benar, Nyonya. Aku benar-benar mencintainya. Karena itu, tolong aku Nyonya, tolong aku untuk bertemu dengannya? Aku takut ... Aku takut terjadi sesuatu padanya. Apalagi ... "


Adisti seketika terguncang saat mengingat bagaimana motor Mark yang terseret jalanan beraspal dan tertimpa motor besarnya. Belum lagi demi dirinya, Mark sampai rela masuk ke dalam danau untuk menyelamnya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Mark? Adisti pasti akan menyesal seumur hidup setelah ini.


"Aku mohon, Nyonya, tolong aku! Aku ... Ingin bertemu dengan Mark."


...***...


Sesuai permintaan Adisti, Eleanor pun membawa Mark ke ruang ICU. Mark masih dinyatakan koma setelah operasi selesai. Meskipun kakinya berhasil dioperasi, tapi siapa sangka, ternyata ia mengalami benturan cukup keras di kepala. Memang tidak berdarah sebab Mark mengenakan helm, tapi tetap saja, benturan itu membuat laki-laki itu mengalami pendarahan di dalam otak. Untung saja dokter segera mengetahui hal tersebut. Jadi setelah menjalani operasi di bagian kaki, Mark lanjut menjalani operasi di bagian kepala. Hal inilah yang ternyata berdampak membuat Mark mengalami koma.


Melihat keadaan Mark yang tidak baik-baik saja membuat Adisti menangis histeris. Eleanor sampai kesulitan untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Tenanglah, Sayang. Yakin dan percayalah, putra nakal Madre ini pasti akan baik-baik saja. Ia hanya tidur. Mungkin putra nakal Madre sedang kelelahan jadi ia memilih tidur yang sedikit lebih lama dari biasanya. Jangan menangis lagi, okay. Yakinlah, putra Madre dan Padre, merupakan anak yang kuat."


"Putra?" beo Adisti dan Eleanor mengangguk.


"Ya, anak nakal ini putra kesayangan Madre. Karena itu, Madre menyebutmu calon menantu sebab kau adalah calon istri pilihan putra Madre. Kau mau kan menikah dengan putra Madre?" ucap Eleanor sudah seperti melamar Adisti.


Mata Adisti yang basah sampai mengerjap, bagaimana bisa ia dilamar oleh ibu dari laki-laki yang disukainya seperti ini?


"Adisti, bagaimana? Will you marry my Son?" ucap Eleanor sembari melepaskan cincin di jari manisnya dan menyodorkannya pada Adisti.


Mata Adisti kian membulat, dia ... Benar-benar dilamar ibu dari Mark?


...***...


Siang hari Rainero dan Axton kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Mark dan Adisti. Setelah kedatangan orang tua Mark, Rainero lantas pamit undur diri. Bagaimanapun mereka memiliki keluarga yang mesti mereka jaga dan perhatikan. Untung saja orang tua Mark datang tepat waktu dan bersedia menggantikan mereka menjaga keduanya.


Setelah melihat keadaan keduanya, kini Rainero dan Axton pun bertolak menuju kantor polisi untuk melihat Nyonya Christina dan memastikan kalau wanita itu akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Rainero dan Axton ke kantor polisi tidak hanya berdua saja, tapi Eleanor dan Alvernon pun ikut serta. Mereka pun ingin bertemu secara langsung wanita yang telah hampir melenyapkan nyawa putra dan calon menantu mereka.


"Kalian? Jadi kalian yang melaporkan aku? Kenapa kalian ikut campur urusanku dengan perempuan itu, hah?" sentak Christina murka.


"Ku pikir setelah dipenjara kau akan menyadari kesalahanmu, Nyonya. Nyatanya, dugaanku salah. Ternyata kau masih saja dengan keangkuhanmu. Sepertinya kau lupa akan asal usulmu yang hanya mantan wanita malam," ucap Eleanor membuat mata semua orang terbelalak.


"A-apa yang kau katakan? Siapa kau? Jangan sembarangan memfitnahku, sialan!" sentak Christina tak terima dengan tuduhan Eleanor.


Jantung Christina berdetak kencang. Ia tidak menyangka akan ada yang mengetahui masa lalunya yang telah dikuburnya selama bertahun-tahun.


"Lihat, karena ulahmu kau telah mencelakakan suamimu sendiri. Ia terkena serangan jantung dan dalam keadaan kritis sekarang. Lalu putramu malu menghadapi dunia karena dicap anak seorang pembunuh. Kau benar-benar bodoh. Kau menghancurkan keluargamu sendiri dengan keangkuhanmu itu. Sebenarnya ingin sekali aku mencekik lehermu itu sebab karena ulahmu putraku nyaris kehilangan nyawanya. Tapi aku takkan mengotori tanganku sendiri. Biarkan hukum yang berbicara. Dan akan aku pastikan, kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal dengan segala perbuatanmu," desis Eleanor membuat Christina memucat seketika.


...***...


Kini Rainero dan Axton tengah dalam perjalanan kembali ke kantor. Namun saat di perjalanan, tiba-tiba Axton mengerem mobil yang dikendarainya secara mendadak. Jelas saja Rainero sampai mengumpat kesal.


"Axton, apa-apaan kau? Apa kau sudah kehilangan kemampuanmu menyetir, hah?" sentak Rainero membuat Axton meringis.


"Sorry. Tiba-tiba ada yang aku ingin beli. Kau tunggu di sini sebentar, okay. Aku tidak akan lama," ujar Axton seraya melepaskan seat beltnya. Lalu ia pun dengan terburu-buru segera keluar dari dalam mobil entah ke mana.


Tak lama kemudian, Axton pun kembali dengan sebuah paper bag di tangannya. Senyum manis tersungging di bibirnya. Jelas saja Rainero sampai bertanya-tanya apa yang membuat laki-laki itu tiba-tiba tersenyum begitu bahagia.


"Apa itu?" tanya Rainero, tapi Axton tak menjawabnya. Ia justru segera menyalakan mobilnya.


Kesal karena merasa diabaikan oleh Axton, Rainero pun segera merebut paper bag Axton membuat laki-laki itu menjerit.


"Kembalikan, brengsekkk! Itu milikku," geram Axton yang langsung menepikan mobilnya kembali.

__ADS_1


"No, sebelum kau katakan apa isinya," Rainero berusaha menyembunyikan paper bag itu di belakang tubuhnya. Axton sampai melepaskan seat belt agar bisa merebut paper bag itu kembali.


"Jangan macam-macam, Rain! Kembalikan, cepat!" sentak Axton. Rainero tidak marah. Mereka memang kerap bertengkar seperti tom and Jerry seperti ini.


"Katakan dulu kalau tidak biar aku buka sendiri," kekeh Rainero.


Axton sampai menggeram kesal, "kembalikan, cepat! Kalau tidak ... "


"Kalau tidak apa?" tanya Rainero dengan senyuman mengejek.


"Kalau tidak, aku akan menelpon Shenina dan memberitahunya kalau mantan partner ranjangmu kemarin datang ke kantormu," ucap Axton dengan seringai mengejek di bibirnya.


Mata Rainero membulat, lalu ia dengan kasar membuka paper bag itu.


One


two


Three


Seketika terdengar tawa renyah sekaligus mengejek dari bibir Rainero. Bagaimana ia tidak geli saat melihat ternyata Axton membeli set lingerie berbentuk kelinci berwarna pink lengkap dengan bandonya.


"Wah, sepertinya kau memiliki selera bercinta yang unik!" ucap Rainero dengan tawa mengejek.


Axton menggeram kesal, lalu ia mengambil ponselnya. Sesuai dengan ancamannya, ia akan memberitahu Shenina mengenai kedatangan mantan partner ranjang suaminya tersebut.


"Kau ingin menelpon Shenina, hm? Telepon saja. Aku tak masalah karena aku sudah menceritakan tentang kedatangan perempuan itu. Tak ada rahasia diantara kami, Pinkyman. Jadi jangan buang tenagamu untuk sesuatu yang sia-sia wahai Pinkyman," ejek Rainero masih dengan tawa renyahnya.


Axton hanya bisa terdiam dengan wajah ditekuk. Salahnya juga langsung tertarik dengan set lingerie berbentuk kelinci berwarna pink tersebut saat melintasi toko pakaian yang dilihatnya tadi. Ia khawatir lingerie seksi itu tiba-tiba dibeli orang. Jadi tak ingin menunda, Axton pun segera menghampiri toko tersebut dan membeli set lingerie tersebut.


Dan kini, Axton hanya bisa merengut masam karena Rainero yang tak henti-hentinya menertawakannya.


"Dasar, bos brengsekkk! Tertawalah seluas mungkin. Lihat saja, nanti aku akan membalasmu."


"Ya, ya, ya, lakukan saja semaumu. Bukankah kau dulu pun sering menertawakan ku? Kini giliranku yang menertawakan mu. Hahaha ... "


Akhirnya, Axton hanya bisa pasrah saat Rainero terus-terusan menertawakannya.


...***...


...Udah panjang BESTie. Semoga suka ya! ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2