
Ceklek ...
"Astaga," pekik Adisti terkejut saat sebuah buket bunga mawar merah berukuran cukup besar telah berada di hadapannya yang masih berdiri di ambang pintu. Lalu seorang pria menampakkan batang hidungnya dari balik buket bunga mawar merah itu sambil tersenyum menggoda. "Kau ... " Adisti melotot tajam saat melihat Mark lah yang menyodorkan bunga itu di hadapannya.
"Hehehe ... Kenapa? Kagum ya?" ucap Mark penuh percaya diri.
"Ck ... Kamu ini doyan banget ngagetin orang," omel Adisti sambil meraih buket bunga itu dan mencium aromanya.
"Tapi suka kan?"
"Lebih suka lagi kalo dikasi bunga bank. Hahaha ... "
Mark mendelik lalu ikut tertawa.
"Kalau itu maumu, nanti aku kasih," jawab Mark santai. Adisti yang baru saja menutup pintu apartemennya pun segera menoleh.
"Ya deh, yang punya banyak uang. Sok kaya," cibir Adisti.
"Kan memang kaya. Kamu aja yang nggak tahu." Kalau Mark dan Adisti bertemu, mereka lebih memilih berbincang dengan bahasa Indonesia. Mark pernah tinggal di Indonesia selama 2 tahun, jadi lidahnya sudah tidak keseleo lagi berbicara dalam bahasa itu.
"Kalau kamu beneran kaya, kenapa malah kerja jadi sopir?" tanya Adisti yang memang sejak kemarin penasaran akut.
Pintu lift pun terbuka, Adisti dan Mark pun segera masuk. Lift pun bergerak setelah pintu kembali tertutup.
"Cari pengalaman aja."
"Cari pengalaman kok jadi sopir. Dasar orang kaya gabut."
Mark tergelak lalu tangannya dengan jahil mencubit pipi Adisti yang lembut.
"Mark, usil banget sih," protes Adisti membuat Mark terkekeh.
"Habisnya kamu gemesin sih. Rasanya pingin aku gigit awww ... "
Mata Adisti mendelik lalu ia mencubit pinggang Mark.
"Kamu kok pagi-pagi udah ada di sini sih? Emang nggak kerja?" tanya Adisti heran karena sebagai sopir Rainero bukankah ia sudah berangkat sejak tadi.
__ADS_1
"Bos nggak ngantor hari ini jadi hari ini i'm free. Sayangnya kamu kerja, coba libur juga kan kita bisa jalan-jalan."
"Kamu mah enak, mau kerja ataupun nggak santai aja. Duit juga udah banyak kan. Lah kalo aku, bisa-bisa nggak makan. Ini aja bersyukur banget bisa kerja di restoran aunty Delena, selain gajinya lumayan gede, aku bisa bebas makan siang juga. Terus pulangnya suka dibolehin ambil makanan juga buat makan malam. Makanya aku kadang lebih milih kerja daripada libur. Mayan bisa makan gratis," ujar Adisti sembari terkekeh.
Mark tersenyum tipis, ia bingung harus merespon bagaimana. Ya apa yang Adisti katakan memang benar sih. Meskipun ia tidak kerja, dividen dari saham di perusahaannya tetap mengalir setiap bulan. Jadi meskipun ia tidak bekerja ataupun tidak diberi uang oleh orang tuanya, keberadaan sahamnya di beberapa perusahaan membuat rekeningnya tetap menggendut. Tapi ada untungnya juga ia bekerja dengan Rainero. Meskipun baru beberapa bulan, ia jadi lebih banyak mengenal orang penting dan yang lebih penting lagi ia bisa mengenal Adisti.
Pintu lift terbuka tepat di lobby apartemen. Adisti dan Mark pun melangkah keluar. Tapi baru saja berjalan beberapa langkah, mereka tiba-tiba berhenti saat melihat seseorang yang telah berdiri tak jauh dari mereka.
"Adisti," panggil seseorang itu yang tak lain adalah Jevian.
"Jevian, kenapa kau ada di sini?"
"Boleh aku bicara berdua denganmu?" tanya Jevian seraya melirik Mark yang tengah berdiri tegap di samping Adisti dengan kedua lengan berada di saku celana.
"Maaf, aku tak bisa. Kalau ada yang ingin kau bicarakan, katakan saja di sini," ujar Adisti datar. Bukan maksud hati Adisti bersikap seperti itu. Hanya saja ia mencoba menjaga jarak untuk mencegah kesalahpahaman yang bisa saja terjadi dengan keluarga Jevian. Ia sudah tak ingin berurusan dengan keluarga itu lagi. Ya, walaupun sebenarnya bukan Jevian yang salah, tapi tetap saja, baginya ini lebih baik daripada kejadian serupa terjadi lagi.
"Adisti, kau marah padaku?" tanya Jevian sendu.
Adisti menghela nafas lalu menggeleng, "aku tidak marah padamu. Kau tidak bersalah. Hanya saja ... mungkin lebih baik begini. Aku tidak mau lagi berurusan dengan keluargamu. Jauhi aku, Jevian. Aku mohon," ucap Adisti dengan tatapan memelas.
Jevian menggeleng, "tidak. Aku tidak mau."
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membawamu kesana. Tapi ... Aku tidak bisa menjauhimu karena ... "
Mata Adisti memicing, "karena apa?"
"Karena aku menyukaimu."
...***...
Selama perjalanan menuju restoran Luxurious, baik Mark maupun Adisti terdiam. Hanya ada deru suara mesin yang mengiringi perjalanan mereka.
Adisti benar-benar tidak menyangka kalau Jevian menyukainya. Ia pikir selama ini Jevian baik padanya murni karena ingin berteman, tapi nyatanya tidak. Jevian menyukainya. Hal itu tentu mengejutkannya sebab selama ini Adisti menganggap Jevian seperti kakaknya sendiri. Tak lebih.
Jelas saja Adisti menolak pernyataan itu. Ia tidak bisa menerimanya. Menjadi teman saja, orang tuanya sudah tak suka, apalagi lebih. Bisa-bisa setelah tahu mereka menjalin hubungan, besoknya nyawanya sudah melayang dan jasadnya telah mengambang di tengah danau. Adisti bergidik ngeri sendiri.
"Hei, kok malah merinding begitu? Kedinginan?" tanya Mark memecahkan lamunan Adisti. Adisti pun melihat kedua lengannya, ya ternyata bulu kuduknya semua berdiri karena membayangkan kalau mayatnya dibuang oleh keluarga Jevian ke tengah danau.
__ADS_1
Adisti menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Terpaksa ia mengangguk, daripada ia malu karena membayangkan sesuatu yang mengerikan.
"Sampai," ujar Mark membuat Adisti baru sadar kalau mereka telah sampai di restoran milik Delena. "Mau dijemput jam berapa?"
"Nggak usah repot-repot. Aku bisa pulang sendiri kok."
"Aku nggak repot kok. Untukmu apa yang nggak sih."
"Cih, gombal," sahut Adisti seraya terkekeh. "Kalau begitu aku turun ya!"
"Tunggu!"
"Kenapa?"
"Ada yang tinggal."
"Hah, apa?" Adisti melihat ke tempat duduknya hingga ke bagian bawah. Ia pikir ada barangnya yang jatuh, tapi ternyata tidak ada. "Nggak ada."
"Ada," jawab Mark singkat.
"Apa?" Adisti kembali celingukan hingga tiba-tiba ia mematung saat Mark mencium bibirnya mendadak.
Cup ...
Mata Adisti melotot tak percaya. Pipinya bersemu merah. Sementara itu, Mark hanya tersenyum geli melihat ekspresi Adisti yang baginya makin menggemaskan.
"Mark," protes Adisti tapi malah dihadiahi sebuah kecupan lagi. Mata Adisti membelalak. Baru saja ingin menarik wajahnya, Mark justru menahan tengkuknya dan memperdalam ciumannya.
Saat Mark menarik diri, Adisti pun segera membuka pintu dan berlari sekencang mungkin.
"Pulang nanti aku jemput!" teriak Mark sebelum Adisti benar-benar menghilang di balik pintu gerbang restoran.
Mark tersenyum lebar. Lalu ia meletakkan telapak tangannya di dada kiri. Dapat ia rasakan, jantungnya berdebar hebat.
"Manis dan menggemaskan," gumamnya sambil tersenyum. "Tak salah lagi, aku pasti sudah jatuh cinta dengannya."
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...