Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 222 (S3 Part 64)


__ADS_3

"Jefrey."


"Mommy, Daddy," pekik Jefrey saat melihat Jevian dan Roseline masuk ke dalam mansion. Jefrey pun gegas berlari dan masuk ke dalam pelukan Roseline. Padahal hari sudah cukup malam, tapi Jefrey tak kunjung bisa tidur sebab mengkhawatirkan keadaan Roseline.


"Huhuhu ... Mommy, Jefrey takut. Jefrey takut mommy diambil orang-orang itu. Mommy, tidak akan tinggalkan Jefrey kan!"


Roseline ikut menitikkan air matanya. Ia sungguh sedih melihat Jefrey yang menangis terisak-isak dengan tubuh bergetar. Jevian yang melihat itupun ikut menitikkan air mata. Ia benar-benar bersyukur bisa tiba tepat waktu. Bila tidak, entah apa yang akan terjadi. Bukan hanya dirinya yang akan merasa hancur, tapi juga Jefrey, putranya.


"Sstttt ... Mommy di sini, Sayang. Mommy tidak akan kemana-mana. Mommy akan selalu bersama Jefrey dan juga Daddy," ujar Roseline berusaha menenangkan.


Tadi sebenarnya mereka kehabisan tiket. Penerbangan kembali tersedia saat dini hari. Beruntung lagi-lagi Rainero membantu Jevian. Menggunakan pesawat pribadinya, akhirnya Jevian dan Roseline bisa pulang lebih awal.


Sebenarnya tadi pun Roseline sedikit syok. Bila dulu ia merasa biasa saja naik ke pesawat pribadi keluarga Sanches itu, tapi kali ini tidak. Roseline penasaran, apakah Rainero tahu perihal hubungan dirinya dengan Jevian. Ingin bertanya, tapi Roseline sudah terlalu lelah.


Tak lama kemudian, suara tangis Jefrey menghilang. Hanya ada sesekali sesenggukan yang terdengar di indra pendengarannya. Ternyata, Jefrey sudah tertidur. Mereka pun bergegas membawa Jefrey ke kamarnya.


"Seline," panggil Jevian saat Roseline hendak keluar dari dalam kamar Jefrey.


"Ya,'


"Setelah mandi, kembali ke sini."


"Kenapa?"


"Em, sebaiknya kita menemani Jefrey tidur. Khawatirnya, Jefrey kembali histeris saat tidak mendapati kita ketika ia terbangun," ujarnya masuk akal. Tapi ada niat lain sebenarnya. Ia ingin bersama Roseline. Rasa takut kehilangan pun juga dirasakannya. Ia ingin sedari menutup hingga membuka mata dengan melihat bingkai wajah Roseline.


Roseline mengerutkan kening, kemudian mengangguk.


Saat Roseline keluar, bersamaan itu masuk sebuah pesan yang ternyata dari Matson.


[Besok saya sudah bisa bekerja, Tuan.]


Lapor Matson membuat senyum Jevian merekah.


Ia pun segera membalas dengan memberikan tugas pertama setelah ia kembali bekerja. Jevian tersenyum girang saat Matson akhirnya menjawab perintahnya dengan kalimat :


[Siap, Tuan! Laksanakan?]


Setelah itu, ia kembali mengotak-atik ponselnya. Jevian ingin menghubungi beberapa orang yang untuk membantunya menyelesaikan misi. Setelah berbincang dan menyampaikan maksud serta tujuannya, Jevian pun menutup panggilan yang disaat yang sama Roseline pun sudah kembali ke kamar tersebut.


"Kau belum mandi juga?" komentar Roseline saat melihat Jevian masih dengan pakaian yang dikenakannya tadi.


Jevian menggaruk kepalanya sambil cengengesan, "hehehe ... Iya. Sebentar. Aku mandi dulu. Tunggu aku. Jangan tidur dulu," ujarnya sambil segera berlari menuju kamarnya.


Tak sampai 15 menit kemudian, Jevian sudah kembali lagi dengan hanya mengenakan celana pendek. Mata Roseline sampai membulat. Bahkan tetes-tetes air masih mengalir seperti tidak dilap handuk sama sekali.


"Kau ini habis mandi atau cuma disiram saja sih?"

__ADS_1


"Aku takut kau tidur duluan."


"Kalau tidur, memangnya kenapa? Toh aku juga tidak kemana-mana."


"Tapi aku mau begini ... "


Tiba-tiba saja Jevian menarik Roseline ke dalam pelukannya.


"Jev, badanmu masih basah," protes Roseline.


"Biar kau merasa dingin, jadi aku tinggal menghangatkannya."


"Memangnya aku makanan." Kini Roseline berusaha rileks kemudian menyandarkan kepalanya di dada telan jang Jevian.


"Kamu memang makanan. Makanan spesial. Sayang belum bisa aku santap karena harus dimasak dengan cara spesial terlebih dahulu," ujar Jevian terdengar gombal tapi lucu.


Roseline terkekeh kecil, "kau ada-ada saja."


"Capek?"


"Sangat."


"Tidur, yuk!"


Roseline mengangguk sambil menguap di pelukan Jevian.


Hap ...


...***...


Pagi ini kantor J Company tampak sangat sibuk. Bahkan kesibukannya lebih sibuk dari saat perusahaan itu hendak bertarung memenangkan tender dan mengerjakan proyek bernilai ratusan juta dollar. Semuanya sibuk, tanpa terkecuali.


Hari pertama Matson kembali bekerja setelah beberapa lama dirawat di rumah sakit, langsung disuguhi kesibukan luar biasa. Semua ia lakukan atas instruksi Jevian tentunya. Biar lelah, namun ia bekerja dengan penuh semangat. Apalagi apa yang tengah ia persiapkan kali ini merupakan sebuah hal yang luar biasa. Sebuah perintah luar biasa untuk sebuah hal yang luar biasa pula.


"Ini diletakkan di mana, Tuan?"


"Bawa saja dulu ke taman belakang. Buat pihak EO yang mengaturnya nanti. Apa pihak EO sudah datang?"


"Be-"


"Tuan, orang-orang EO sudah datang."


"Bawa mereka ke lokasi. Awasi pekerjaan mereka, jangan sampai ada yang luput dari pengawasan. Ingat, semua harus tampak sempurna."


Bawahan Matson pun mengangguk. Memang terkesan terburu-buru, tapi dengan kerja sama yang baik antara semua karyawan J Company, mereka yakin apa yang mereka kerjakan saat ini akan berhasil dengan baik sesuai harapan dan permintaan Jevian tentunya.


Sementara itu, di mansion Jevian, tampak laki-laki tampan itu selalu tersenyum sumringah. Roseline sampai bingung sendiri melihat ekspresi Jevian. Sedari bangun tidur tadi, ia terus saja tersenyum lebar.

__ADS_1


"Jevian, kau kenapa tersenyum terus seperti itu? Apa kau baru saja memenangkan lotre?" seloroh Roseline karena heran melihat ekspresi tak bisa di wajah Jevian.


"Lebih dari memenangkan lotre. Yang aku menangkan kali ini jauh lebih besar dan berharga."


"Wah, benarkah? Apa kau mendapatkan kerja sama baru?"


Jevian tampak berpikir sambil meletakkan jari-jarinya di dagu, "kerja sama baru? Bisa dibilang begitu. Kerja sama dengan kolaborasi sempurna dan ... berlaku seumur hidup."


"Memangnya ada kerja sama seperti itu?"


"Ada," ucapnya sambil tersenyum genit. "Bahkan sangat ada."


"Memangnya apa itu?"


"Itu adalah ... " Tiba-tiba ponsel Jevian berbunyi. Matanya melebar saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.


"Aku mengangkat panggilan dulu," ujarnya seraya berlalu dari hadapan Roseline membuat perempuan itu mencebikkan bibirnya.


"Halo."


" ... "


"Apa? Jadi kalian sudah tiba?"


" ... "


"Baiklah. Kalian istirahatlah terlebih dahulu. Nanti aku akan menghubungi kalian lagi."


Setelah mengatakan itu, Jevian pun segera menutup panggilannya.


Kemudian ia segera berlari menuju dimana Roseline tadi berada. Tanpa aba-aba, Jevian lantas memeluk Roseline dengan erat.


"Bersiaplah. Sebentar lagi kau harus ikut denganku ke kantor."


"Hah, untuk apa?"


"Memangnya kau tidak mau ikut denganku ke kantor?"


Roseline tampak berpikir, "ya sudah. Tapi bagaimana dengan Jefrey?"


Keduanya lantas menoleh ke arah Jefrey yang sedang memainkan play station miliknya.


"Jefrey tentu saja ikut."


"Baiklah, kalau begitu kami akan segera bersiap," seru Roseline, kemudian ia pun segera berlalu setelah terlebih dahulu mengecup pipi Jevian.


Jantung Jevian sampai deg-deg ser karena ulahnya. Apalagi dengan nakal, Roseline mengedipkan sebelah matanya membuat Jevian belingsatan sendiri dibuatnya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2