Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 65


__ADS_3

Saat ini Rainero tengah menemani Shenina memakan gelato di kedai yang tak jauh dari perusahaannya. Rainero tidak ikut makan. Ia hanya sibuk memandangi Shenina yang tampak begitu menikmati gelatonya.


"Apakah rasanya begitu enak sampai kau tak peduli dengan keadaan sekitar termasuk aku?" tanya Rainero sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.


Shenina yang sejak tadi menikmati gelatonya pun mengangkat wajahnya sambil tersenyum lebar.


"Maaf, kamu pasti bosan ya menemani aku makan ini?" ringis Shenina saat sadar Rainero tidak ikut makan, hanya sibuk memandanginya saja sejak tadi.


Rainero menggeleng, "tidak. Aku tidak pernah bosan melakukan apapun itu asal itu bersamamu," ujarnya terdengar begitu manis membuat semburat merah terbit di pipi chubby Shenina. Melihat hal itu, Rainero tak dapat menyembunyikan senyuman lebarnya. Ia begitu gemas lalu tangannya terulur untuk mencubit pipi Shenina.


"Rain," rajuk Shenina membuat Rainero terkekeh.


"Makin hari kau makin menggemaskan. Tak sabar rasanya aku ingin mengurung mu di kamar seharian, bahkan semalaman."


Dahi Shenina berkerut, "kenapa kau ingin mengurungku? Aku tidak mau menikah kalau hanya ingin kau kurung. Emang kau pikir aku ini ayam?" protes Shenina dengan bibir mengerucut.


Rainero lagi-lagi terkekeh, "ya, aku tak sabar ingin mengurung dan menerkammu. Rainoconda ku rasanya sudah tak sabar ingin menjelajahi hutan belantara milikmu," ujarnya sambil memainkan alis membuat mata Shenina seketika melotot.


"Dasar mesyum."


"Harap maklum, sudah terlalu lama dia berpuasa dan itu karenamu."


"Kenapa karena aku? Aku tidak melakukan apapun?"


"Kau memang tidak melakukan apapun, tapi tanpa sadar kau telah membuat aku dan Rainocondaku hanya bergantung padamu dan hanya menginginkanmu."


"Dasar aneh!" desis Shenina sambil memalingkan wajahnya yang memerah.


Lalu Shenina kembali menyuapkan gelato ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Apakah makanan itu begitu enak?"


Shenina mengangguk cepat, "dulu setiap aku sedang merasa tertekan atau banyak pikiran, maka aku akan datang ke mari dan menikmati gelato ini bersama ... ah, maksudku aku suka ke mari untuk menenangkan pikiranku," ujarnya gelagapan. Hampir saja ia menyebut nama Theo. Entah mengapa, ia tiba-tiba mengingat laki-laki itu. Laki-laki yang membuangnya begitu saja tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


Rainero tersenyum tipis, ia dapat menangkap kalau Shenina hampir saja menyebutkan nama laki-laki yang pernah selalu membersamainya dahulu.


"Boleh aku cicip?" Rainero pindah duduk tepat di samping Shenina. Shenina yang baru saja menyuapkan gelato ke mulutnya pun mengangguk. Baru saja Shenina bermaksud menyendokkan gelato untuk disuapkan kepada Rainero, tapi laki-laki itu sudah lebih dahulu menarik tengkuk Shenina dan maraup bibirnya sambil menyesap gelato yang baru saja Shenina masukkan ke dalam mulutnya. Sontak saja Shenina membulatkan matanya. Mereka masih di tempat umum sekarang. Meskipun di sana wajar-wajar saja melakukan hal tersebut, tapi tetap saja Shenina malu bila ada yang melihat.


"Rain ... "


Mata Shenina melotot tajam saat pagutan itu terlepas. Rainero menyeka gelato yang menempel di bibir Shenina dan menjilatnya. Jelas saja Shenina makin melotot, tak percaya akan tindakan Rainero.


"Jorok. Apa kau tidak jijik memakan makanan yang sudah ada dalam mulutku?"


"Jijik? Kenapa harus jijik? Bahkan aku tak sabar ingin menjelajahi setiap inci kulitmu dengan bibirku ini. Kau tahu, di mataku kau seperti hidangan ternikmat di dunia."


"Dasar gila," desis Shenina tak mampu menyembunyikan kegugupannya. Belum menikah saja Rainero sudah bisa berkata seperti itu, apalagi bila mereka sudah menikah. Bisa-bisa Shenina habis dilahap sang mantan Cassanova itu.


"Rain, ayo kita pergi sekarang," ajak Shenina khawatir seseorang yang baru saja datang tadi melihat keberadaannya. Ia belum siap bertemu lagi dengan laki-laki yang telah membuangnya itu.


"Tapi gelatomu belum habis?"


"Tak masalah, kalau aku pingin lagi pasti kau akan membelikannya, bukan?" Shenina memasang wajah menggemaskan membuat Rainero sontak mengangguk.


"Tentu. Bila perlu aku akan membeli pabriknya agar kau bisa puas makan gelato sesukamu kapanpun itu."


Shenina terkekeh. Ia pun segera berdiri dan mengajak Rainero keluar dari sana melewati jalan yang tidak terlihat oleh laki-laki yang dilihatnya tadi.


Namun tanpa Shenina sadari, saat ia masuk ke dalam mobil, laki-laki yang tak lain adalah Theo justru tanpa sengaja melihatnya. Ia pun segera berlari berusaha mengejar Shenina, tapi sayang ia terlambat. Theo mengumpat sambil menendang ke segala arah karena tak berhasil menemui Shenina.

__ADS_1


"Shen, Shenina, Shenina ... " teriak Theo saat mobil melaju meninggalkan area kedai gelato.


Theo yang begitu merindukan Shenina sengaja mendatangi tempat-tempat yang kerap mereka datangi dahulu. Hanya dengan begitu ia bisa mengobati kerinduannya pada Shenina. Ia tidak menyangka bisa melihat Shenina di sini, tapi sayang, ia terlambat. Ia juga tidak sempat melihat Shenina datang dengan siapa. Namun yang pasti, ia bisa melihat jelas kalau perut Shenina sudah begitu membesar.


...***...


Kini Rainero telah menghentikan mobilnya tepat di depan kediaman orang tua Shenina. Ia turun terlebih dahulu, barulah ia membantu Shenina turun dari dalam mobil dengan hati-hati.


Shenina pun segera menekan bel, tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka. Dari dalamnya muncul Ambar yang sudah melotot tajam.


"Kau ... akhirnya kau kembali juga," sinis Ambar. "Aku sebenarnya sudah bisa menebak, mana mungkin kau bisa bertahan hidup di luar sana. Dasar tak tahu diri. Tapi baguslah kau kembali jadi aku tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah lagi. Seperti biasa, kau yang harus melakukan segalanya. Apalagi aku yakin, kau sudah tidak bekerja lagi karena perut buncitmu itu," ucapnya dengan nada mencibir. Ambar belum tahu Shenina datang bersama Rainero sebab laki-laki itu sedang menerima telepon di samping mobil.


"Siapa yang datang, Ambar?" tanya seseorang yang tak lain adalah Harold.


"Ini, anak tak tahu diri ini akhirnya kembali. Sepertinya hidupnya begitu ... " Tiba-tiba Ambar terdiam saat memandangi semua benda yang melekat di tubuh Shenina. Mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga perhiasan. Semuanya terlihat mewah dan berkelas. Bahkan dirinya saja belum pernah memiliki benda seperti apa yang Shenina kenakan. "Sepertinya dia sukses menjual diri. Lihat apa yang dia kenakan, semuanya ... pasti hasil dari menjual diri."


Harold yang melihat kedatangan Shenina sontak mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin dan datar. Ia tak menyangka Shenina akan kembali lagi setelah ia usir tempo lalu.


"Untuk apa kau kembali ke sini, hah? Kau pikir aku akan menerima kedatanganmu? Tidak. Sebaiknya kau segera pergi dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi di depan wajahku," usir Harold lagi dengan rahang mengeras.


"No, Harold. Biarkan dia tinggal di sini. Kau tahu, aku selalu kelelahan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Anggap saja kita membantu tuna wisma, tapi sebagai bayarannya, dia harus mengerjakan semua pekerjaan di rumah ini, bagaimana? Kau setuju?" Ambar bergelayut manja di lengan Harold. Shenina sebenarnya sudah begitu muak melihatnya, tapi ia diam saja. Ingin melihat apa yang akan dimua orang itu lakukan padanya.


"Kalian pikir aku akan membiarkan calon istriku menjadi budak kalian, hah? Kalian benar-benar manusia tak punya akal pikiran. Bahkan semisalnya Shenina bukan anak kalian pun, tak sepantasnya kalian memperlakukan Shenina seperti itu!" sentak Rainero yang telah kembali ke sisi Shenina.


Rahang Harold mengeras, "siapa kau, hah? Jangan ikut campur urusanku!" sentaknya belum sadar dengan kata-kata calon istri yang barusan Rainero ucapkan.


"Asal Anda tahu, mulai saat ini segala hal yang menyangkut urusan Shenina juga menjadi urusanku sebab aku adalah calon suami Shenina. Kau dengar tuan Harold, aku adalah calon suami Shenina," tegas Rainero dengan penuh penekanan membuat mata Harold dan Ambar membulat tak percaya.


Ambar tampak memindai penampilan Rainero dari atas hingga ke bawah, semua yang melekat di tubuhnya merupakan barang mewah. Belum lagi wajah tampan Rainero yang begitu rupawan. Diliriknya di belakang sana, tampak mobil mewah terparkir asal yang Ambar yakini merupakan mobil Rainero. Ia membayangkan bagaimana kalau Rainero justru memilih menikahi Jessica, pasti hidupnya akan benar-benar bahagia karena bergelimang harta.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2