Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 137 (S2 Part 6)


__ADS_3

Mata Rhea telah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari mulut Theo secara langsung. Meskipun ia telah menyiapkan diri, namun nyatanya ia belum sanggup untuk melepaskan Theo begitu saja.


Pertama karena ia sedang mengandung. Ia butuh Theo sebagai seorang suami maupun ayah calon anak yang sedang ia kandung dan yang kedua keadaan ayahnya yang sedang tidak baik-baik saja. Rhea yakin, begitu kedua orang tuanya tahu bagaimana hubungannya dengan Theo, hal itu akan memberikan pukulan keras pada mereka.


Terlebih setelah tahu ia hamil, tapi Theo justru mengajak berpisah. Bukan tidak mungkin kondisi ayahnya akan makin memburuk. Setelahnya, ibunya pun akan dihantui rasa penyesalan karena telah menjodohkan mereka. Rhea tidak memiliki siapa-siapa lagi selain ayah dan ibunya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kedua orang tuanya. Dengan menekan harga dirinya, Rhea lantas menawarkan negosiasi pada Theo.


"Tidak adakah sedikitpun perasaanmu untukku?" tanya Rhea sendu.


Theo tidak bergeming. Ia tetap di posisinya dengan mulut terkatup rapat. Diamnya Theo sudah memberikan jawaban yang jelas pada Rhea. Ia tidak bisa menyalahkan Theo. Rhea justru menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya sebelumnya menerima perjodohan itu, Rhea memastikan dulu bagaimana perasaan Theo. Apakah ada seseorang yang ia cintai. Tak bisa Rhea pungkiri, melupakan seseorang yang terlanjur bertahta di hati itu tidaklah mudah. Butuh waktu yang lama dan proses yang juga cukup panjang.


Contohnya dirinya sendiri. Padahal Theo tidak pernah menganggapnya ada, tapi ia begitu sulit untuk melupakannya. Apalagi Theo dan Shenina yang memiliki kenangan indah bersama.


"Baiklah kalau kau ingin mengajakku berpisah. Tapi ... "


Rhea menjeda ucapannya. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengungkapkan apa yang ia inginkan.


Theo dengan sabar menunggu kelanjutan perkataan Rhea. Ia sendiri cukup terperangah sebab tak percaya kalau Rhea akan menerima penawarannya begitu saja. Yah, meskipun sepertinya sedikit bersyarat.


Theo tak apa. Baginya wajar. Entah apa yang Rhea inginkan. Semoga saja hal itu tidak memberatkan baginya.


Sebenarnya tak ada niat dari diri Theo untuk menyakiti Rhea. Bagaimanapun ia bisa melihat kalau Rhea merupakan perempuan yang baik. Hanya saja, ia tidak mau membuat Rhea makin terpuruk karena harus terikat pada hubungan yang saling menyakiti.


Theo mengakui dirinya benar-benar bodoh melepaskan Rhea begitu saja. Namun ia tidak memiliki jalan lain. Andai membuka hati semudah itu ...

__ADS_1


"Tapi ... Setelah aku melahirkan," ucap Rhea membuat Theo terperanjat. Ia sampai reflek berdiri dengan mata mengerjap berkali-kali berharap apa yang ia dengar itu merupakan sebuah kesalahan.


"A-apa katamu tadi? Sampai kau melahirkan? Maksudmu?" tanya Theo gelagapan.


"Ya, aku hamil. Hamil anakmu. Aku tak menyangka apa yang kau lakukan malam itu ... telah menanamkan benih di dalam rahimku. Oleh sebab itu, aku bersedia berpisah denganmu, tapi aku mohon, tunda perpisahan itu sampai anak ini lahir. Aku ingin anak ini mendapatkan status yang jelas. Selain itu, aku ingin sepanjang usianya, meskipun hanya saat berada dalam kandungan, setidaknya ia pernah merasakan kehadiran ayahnya. Setidaknya, meskipun masih di dalam kandungan, ia tidak merasa tidak diinginkan," lirih Rhea sendu.


Mata Theo sampai membulat sempurna. Ia tidak pernah menyangka kalau apa yang ia lakukan pada malam itu bisa menghasilkan benih di dalam kandungan Rhea.


"Aku mohon, Theo. Tolong beri kesempatan bagi anak ini untuk merasakan kehadiran ayahnya. Izinkan aku melakukan tugasku sebagai seorang istri meskipun hanya untuk beberapa bulan saja. Berikan aku kesempatan menunaikan segala tugas dan tanggungjawabku sebagai seorang istri. Tidak lama. Hanya sekitar 7 bulan saja, tidak lebih. Aku tidak butuh nafkah lahir maupun batin darimu. Tidak. Kita tetap akan tidur terpisah. Aku hanya ingin melakukan apa yang biasanya seorang istri dan calon ibu lakukan. Setelah melahirkan, aku janji, aku akan pergi dari hidupmu. Kalau perlu sejauh mungkin agar kita tidak akan pernah bertemu lagi," lanjut Rhea dengan dada yang begitu sesak dan bergemuruh.


Tidak mudah untuk mengatakan itu, tapi ia sudah bertekad. Ia ingin pergi dengan tenang. Membawa cinta dan kenangan yang mungkin tidaklah indah, tapi itu sudah cukup untuk disimpannya baik-baik di dalam memorinya.


"Ka-kau tidak sedang bercanda kan? Kau ... Tidak sedang ingin menipuku kan?" tanya Theo gugup.


Rhea memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya.


"Aku tidak sepicik itu ingin mendapatkan seorang laki-laki dengan cara yang kotor. Asal kau tahu, aku sudah mencintaimu sejak dulu karena itu aku mencoba mempertahankan rumah tangga kita. Tapi ternyata mencintai sebelah pihak itu menyakitkan. Dan aku takkan memaksa kau untuk membalas cintaku. Termasuk untuk menipumu pun tak pernah terbesit sedikitpun dalam benakku untuk melakukannya."


Lalu Rhea membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop yang sedikit lecek karena diremasnya tempo hari. Kertas itu sebenarnya sempat ia buang. Ia pikir tak ada gunanya menyimpannya. Namun entah kenapa, ia justru memungut amplop putih itu lagi dan menyimpannya di dalam tas.


Lalu diberikannya amplop itu pada Theo. Theo mengernyit saat melihat amplop lusuh dengan logo rumah sakit di depannya itu.


"Bukalah!"

__ADS_1


Theo pun gegas membuka amplop tersebut dan mengambil kertas di dalamnya. Matanya seketika terbelalak saat melihat apa yang tertulis di dalam kertas tersebut. Berikut sebuah foto hitam putih dengan titik hitam di dalamnya. Entah harus marah atau bahagia, tapi nyatanya dada Theo seketika bergemuruh. Matanya reflek berkaca-kaca. Ia diam tak bergeming sama sekali. Theo terpaku dalam keterkejutan yang luar biasa.


"Aku pamit dulu. Aku mohon pikirkan baik-baik. Bila kau setuju, segera hubungi aku. Bila tidak ... "


"Baiklah. Aku setuju," ucap Theo tiba-tiba membuat Rhea yang sudah berada di depan pintu seketika membalikkan badannya.


"A-apa yang kau katakan tadi?" tanya Rhea dengan mata membulat.


"Baiklah. Aku akan menyetujui permintaanmu."


"Jadi?"


"Sudah malam. Tidurlah di kamarmu. Besok baru kau ambil kembali barang-barangmu dan bawa kemari."


Usai mengucapkan itu, Theo pun segera naik ke kamarnya. Mata Rhea seketika berkaca-kaca. Ia pikir Theo membutuhkan waktu lama untuk memikirkan permintaannya. Bahkan Rhea sempat berpikir kalau Theo takkan pernah mengabulkan keinginannya. Tapi nyatanya, tak butuh waktu lama untuk Theo mengambil keputusan. Bahkan ia lebih tak menyangka kalau Theo menyetujui permintaannya dalam waktu yang sesingkat itu.


Dengan mata berkaca-kaca Rhea mengusap perutnya yang sedikit menonjol bila disentuh.


"Semoga ini awal yang baik, Nak. Semoga ini langkah awal yang baik untuk meraih cinta Daddy-mu. Mommy harap, kau sehat-sehat selalu ya. Mommy pastikan, kau akan mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan. Itu janji, Mommy."


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2