Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 150 (S2 Part 19)


__ADS_3

Theo seketika terduduk di lantai. Tubuhnya tiba-tiba terasa begitu lemas saat melihat ceceran darah segar yang mengalir di sekitar tubuh perempuan yang sepertinya jatuh dari tangga darurat tersebut. Kakinya tiba-tiba terasa lemas, tak ada tenaga sama sekali untuk mendekati perempuan tersebut. Wajahnya tidak terlihat sebab sang perempuan terjatuh dalam keadaan tertelungkup.


Tak ada yang berani benar-benar mendekat apalagi menyentuh perempuan tersebut. Bukan tanpa alasan, sebab sesuai prosedur penyelamatan, bila ada korban kecelakaan seperti itu, maka mereka dilarang membantu sebab tidak ada yang tahu bagaimana luka dari korban. Bisa jadi tujuan kita baik, ingin membantunya, tapi karena kurangnya pengetahuan saat kita mencoba membantu bisa saja kita justru mengakibatkan luka lain atau bahkan membuatnya makin celaka atau lukanya makin parah. Oleh sebab itu, hanya tim medis yang diizinkan untuk membantu pasien sebab tim medis pasti lebih paham prosedur penyelamatan korban.


Selain itu, tidak ada yang tahu penyebab korban jatuh. Bisa saja karena kecerobohan sendiri, sengaja, atau ada yang sengaja melakukannya. Oleh sebab itu, masyarakat diminta berhati-hati, jangan sampai niat baik malah berakhir membuat diri sendiri celaka nantinya.


Tak lama kemudian, tim medis benar-benar datang. Mereka pun segera memeriksa keadaan pasien. Ternyata pasien telah tiada membuat nafas Theo kian tercekat. Ia lantas memberanikan diri untuk melihat perempuan itu lebih dekat. Butuh keberanian ekstra untuk melakukannya. Bahkan wajah Theo sudah pucat pasi, berharap perempuan itu bukanlah Rhea.


Tiba-tiba Theo kembali terduduk di lantai, namun kali ini dengan helaan nafas lega.


"Syukurlah.. Syukurlah itu bukan Rhea. Ya Tuhan, aku benar-benar takut. Rhea kau berada di mana? Aku benar-benar mengkhawatirkan mu," gumam Theo sambil mengusap dadanya yang masih bergemuruh.


Kerumunan perlahan mulai berkurang. Tak ingin menunda-nunda waktu, Theo pun bergegas menuju mobilnya. Meskipun dengan sedikit tertatih sebab kakinya masih terasa bergetar akibat syok melihat darah yang berceceran di lantai tadi.


Theo telah mengendarai mobilnya. Pertama-tama ia menghampiri restoran tempat Rhea bekerja.


"Apa Mrs. Rhea ada di ruangannya?" tanya Theo pada pramusaji yang kebetulan lewat.


"Maaf Sir, Mrs. Rhea sudah pulang sejak tadi. Bahkan ia pulang lebih awal," jawab pramusaji tersebut.


Theo menghela nafas frustasi, "terima kasih," ujarnya kemudian segera berlalu dari sana.


Ia melajukan mobilnya dengan pelan sambil memperhatikan ke sekeliling. Berharap ia bisa menemukan Rhea atau minimal melihat mobilnya.


Namun setelah lebih satu jam berkeliling, Theo tak kunjung menemukan keberadaannya.


Theo mengerang frustasi. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi ia tidak kunjung menemukan Rhea.


"Ayolah Rhea, kau berada dimana? Kenapa kau tiba-tiba saja menghilang seperti ini? Sebenarnya ada apa? Apa yang sudah terjadi?" gumam Theo dengan sorot mata sibuk memindai ke sekeliling.


Bahkan saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Theo tak kunjung menghentikan pencariannya.


Theo benar-benar kalut. Ia mencoba kembali ke apartemen, berharap bisa menemukan Rhea di sana. Berharap, ternyata Rhea sudah pulang ke apartemen mereka.


Namun harapan tak sesuai ekspektasi, meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul 11, Rhea ternyata tak kunjung pulang.

__ADS_1


Theo berdiri di depan foto pernikahan mereka yang sudah terpasang di dinding. Di pigura berukuran 30 R atau 75 x 100 cm itu, tampak Rhea tersenyum sangat manis. Dapat ia lihat kalau Rhea benar-benar bahagia dengan pernikahan itu. Berbanding terbalik dengan senyumnya yang tampak terpaksa.


Tangan Theo terulur, mengusap foto Rhea yang tampak tersenyum ke arahnya. Hati Theo merasa miris, kenapa saat ia mulai mau membuka hati, Rhea malah pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Padahal hubungannya sudah mulai membaik, tapi kenapa Rhea tiba-tiba menghilang seperti ini. Tanpa kabar. Tanpa berita. Membuat Theo benar-benar kalut.


"Rhea, kamu kemana? Kenapa kau tiba-tiba pergi seperti ini? Apakah aku ada berbuat salah? Kalau iya, aku mohon, maafkan aku," lirihnya dengan netra memerah dan berkaca-kaca.


"Aku mohon, Rhe, jangan tinggalkan aku. Kalau kau pun pergi meninggalkanku, maka bagaimana dengan aku? Aku sudah cukup hancur saat Shenina pergi dari sisiku, kalau kau pun pergi, mungkin aku bisa mati. Aku mohon, Rhea, kembalilah. Kembalilah ke sisiku. Mari kita rajut kisah cinta kita yang sempat tertunda. Mari kita jalani pernikahan ini dengan penuh kebahagiaan. Aku mohon, Rhea, kembalilah, kembalilah!" imbuhnya dengan tetes air mata yang mulai mengalir dari sudut matanya.


...***...


Theo yang sangat mengkhawatirkan keadaan Rhea lantas kembali melakukan pencarian. Tak peduli ia belum makan apalagi tidur, ia terus melakukan pencarian. Bahkan saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Theo masih berada di jalanan. Mencari ke setiap penjuru berharap bisa menemukan Rhea. Bahkan apartemen lama Rhea pun Theo datangi untuk mencari keberadaan Rhea.


Pantang menyerah, Theo bahkan sampai melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya yang ada di luar kota. Sebenarnya ia bisa langsung menelpon ke rumah, tapi ia tidak mau orang tuanya terkejut hingga memicu kepanikan mereka. Setibanya di depan kediaman orang tuanya, Theo lantas bertanya pada penjaga mengenai Rhea yang ada di sana atau tidak.


"Maaf tuan, nona Rhea tidak pernah datang ke mari."


Pupus sudah harapan Theo. Ia pikir Rhea datang ke kediaman orang tuanya, tapi ternyata tidak.


Cuaca dingin, Theo tak peduli. Ia terus melakukan pencarian. Bahkan ke kediaman lama Rhea pun ia sambangi. Tapi ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Rhea.


"Rhea, kau dimana?"


"Apa mungkin ia bersama laki-laki itu?" terka Theo dengan rahang mengeras.


Theo lantas menepikan mobilnya di pinggir jalan. Hujan badai memang sudah berhenti, namun menyisakan kabut yang cukup pekat membuat jarak pandang sangat tipis. Padahal hari sudah menjelang siang, tapi cuaca masih saja terlihat gelap membuatnya kesulitan untuk mencari tempat yang aman untuk menepi. Setelah menemukannya, ia pun segera menepi. Lalu Theo mengambil ponsel Rhea dan mencari kontak laki-laki yang dimaksud Theo. Beruntung ia pernah melihat Rhea menekan password ponselnya jadi ia bisa membuka ponsel tersebut dengan mudah. Lalu dalam satu sentuhan, panggilan pun terhubung.


Dengan perasaan bergemuruh, Theo menunggu panggilan itu diangkat.


"Hallo."


"Hallo, apa Rhea ada bersamamu?" tanya Theo tanpa basa-basi lagi.


Dari seberang panggilan, Ael terkekeh karena ia tahu siapa yang sedang menghubunginya saat ini.


"Kalau ada kenapa kalau tidak kenapa?"

__ADS_1


"Jangan bertele-tele, katakan saja, apa Rhea ada bersamamu?" sentak Theo.


Ia sudah benar-benar lelah. Apalagi cuaca begitu dingin nyaris membekukan akibat hujan badai yang menerpa daerah itu hampir semalaman.


"Untuk apa aku mengatakannya? Apa kau belum puas menyakiti Rhea? Iya?"


"Apa maksudmu? Aku sungguh tidak mengerti."


"Kau itu benar-benar bajingaan. Aku heran, kenapa Rhea masih saja bertahan dengan laki-laki bajingaan seperti dirimu. Kau tak pantas untuk Rhea."


"Apa maksudmu sebenarnya, hah? Aku tak pantas? Lalu siapa yang menurut mu pantas? Kau? Apa kau lupa, Rhea sudah menikah dengan ku. Berhenti berharap. Jangan sia-siakan waktu mu karena sampai kapanpun Rhea akan tetap jadi milikku."


"Lepaskan, Rhea! Berhenti menyakitinya. Dia berhak bahagia."


"Bodoh. Kau pikir dengan kau mengatakan itu, aku akan menuruti permintaanmu. Jangan harap!"


"Berhenti bersikap egois! Kau hanya bisa menorehkan luka pada Rhea, kepaarat!"


"Kau pikir aku mau menyakitinya, hah? Katakan saja, dimana Rhea. Ingat, dia masih istriku. Berhenti untuk menyembunyikannya."


"Mati saja kau. Karena sampai kapanpun aku takkan pernah melakukannya!" teriak Ael benar-benar kesal.


Brakkkk ...


"Aaargh ... "


Tiba-tiba terdengar suara benturan yang amat sangat keras dari seberang telepon. Ael terkesiap. Dengan suara bergetar, ia lantas memanggil-manggil nama Theo, tapi hanya ada gumaman yang terdengar dari seberang sana.


"Hei, bodoh, kau masih di sana kan? Hei kau, jangan menakuti ku!" teriak Ael kalut.


"Rhe-a, kem-ba-li-lah ... "


"Heh, bodoh! Bicaralah. Kau kenapa?" teriak Ael lagi dengan tangan dan bibir yang sudah bergetar.


"Kau kenapa?" tanya seorang perempuan pada Ael.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2