
Pendar cahaya mentari masuk melalui celah-celah gorden jendela kaca yang masih tertutup. Shenina pun mengerjapkan mata sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Hoaaammm ... " Shenina merentangkan kedua tangannya. Entah mengapa ia merasa begitu segar dan bersemangat hari ini.
"Eh, tunggu ... ini dimana?" gumamnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kemudian ia menepuk dahinya saat sadar kalau ia kini berada di kamar Rainero.
"Mengapa aku bisa tertidur di sini? Apa Rain yang menggendongku ke atas ranjang?"
Lalu tercium aroma masakan dari luar kamar membuat Shenina segera beranjak dari tempat tidur.
Shenina berjalan menuju dapur, ia terkejut, bukankah semalam tidak ada kompor di sana, tapi mengapa sekarang bisa tiba-tiba ada?
"Shen, kau sudah bangun?" tegur Rainero sambil berjalan mendekat. Rainero hanya mengenakan celana pendek dan atasan ketat tanpa lengan, membuat otot-otot bisep yang biasanya tertutup itu terpampang jelas. Begitu pula dengan dada bidang Rainero tercetak jelas membuat Shenina terkesima. Bagaimanapun Shenina seorang perempuan normal, bila dihadapkan pada seorang pria tampan dan tubuh gagah rupawan, ia pun akan terkesima.
"Shen," tegur Rainero lagi yang entah sejak kapan telah berdiri di hadapan Shenina.
Shenina yang tersadar dari keterpakuannya seketika tersentak gelagapan.
"Eh, i-iya, a-ada apa, Rain? Kau bicara denganku?"
"Tidak, aku tidak bicara denganmu."
"Hah, jadi kau ... bicara dengan siapa?"
Rainero terkekeh gemas dan memajukan wajahnya ke perut Shenina dengan gerakan cepat, "aku bicara dengan ibu dari anakku, kenapa?" ucapnya santai kemudian langsung mencuri ciuman di sana. "morning baby," imbuhnya.
Shenina memutar bola matanya saat Rainero kembali menyebutkan perihal anaknya. Shenina memang belum memaafkan Rainero, tapi entah kenapa ia tidak bisa melarang Rainero yang ingin berinteraksi dengan anaknya. Bahkan tanpa sadar, Shenina merasakan kehangatan dan kenyamanan saat Rainero melakukan itu.
"Kau mau sarapan sekarang? Maaf, gara-gara aku kau jadi tidak makan malam semalam. Kau dan anak kita pasti sudah kelaparan kan?" ucap Rainero yang pagi-pagi sekali sempat mampir ke kontrakan Shenina. Untung saja kontrakan Shenina tidak dikunci jadi ia bisa masuk dengan mudah. Saat melihat meja yang masih dipenuhi menu makan malam yang belum disentuh, dari situlah Rainero tahu kalau Shenina pun tidak makan malam.
Rainero lantas menghubungi Mark untuk mencarikannya kompor dan segala perlengkapan masak lainnya. Mark menghela nafas panjang. Jarum jam masih menunjukkan pukul 5, tapi Rainero telah memberikannya tugas. Tak ada Axton di sana sebab Axton telah pulang lebih dulu untuk mengurus perusahaan selama Rainero berada di Bali.
Tak butuh waktu lama, pukul setengah 6, Mark pun datang membawakan apa yang Rainero minta. Jangan bilang hebat banget Mark bisa mendapatkan benda-benda itu dengan begitu cepat. Memangnya ada toko perlengkapan dapur yang buka sepagi itu? Maka jawabannya tentu saja tidak ada. Alat-alat itu milik Mark sendiri. Mark telah mengontrak rumah yang tak begitu jauh dari kontrakan Rainero. Oleh sebab itu, ia bisa datang dengan begitu cepat.
__ADS_1
Setelah perlengkapan masak siap dan bahan-bahan yang Rainero butuhkan juga siap, ia pun segera mengeksekusinya.
"Kau masak?"
Rainero menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "hmmm ... cobalah. Semoga hasilnya tidak mengecewakanmu?"
"Kau bisa masak?"
"Entahlah ini bisa dibilang bisa atau tidak sebab terakhir kali aku berkutat di dapur saat mendiang grandma ku masih ada. Dulu saat aku masih kecil, aku suka membantu grandma, tapi ... setelah grandma pergi selamanya, aku tidak pernah lagi ke dapur apalagi memasak. Dan ini ... adalah kali pertama setelah bertahun-tahun lamanya aku tidak memasak. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan," ujarnya sambil membimbing Shenina menunju meja kecil tempatnya menyusun makanan hasil olahannya. Tidak banyak, hanya sandwich isi selada, telur, dan daging asap. Lalu ada sosis bakar dan kentang goreng. Tak lupa Rainero membuatkan segelas susu ibu hamil rasa coklat untuk Shenina.
Diperlakukan demikian manis jelas saja membuat Shenina terenyuh. Tak pernah seumur hidupnya mendapatkan perlakuan semanis ini. Tapi ... Rainero, laki-laki kaya raya, CEO perusahaan ternama yang terkenal dingin dan acuh tak acuh melakukannya. Ia memperlakukan Shenina seperti seorang istri yang sangat ia cintai. Bolehkah Shenina merasa bangga mendapatkan perlakuan semanis ini dari laki-laki tersebut?
"Bagaimana?" tanya Rainero gugup.
Shenina memasang wajah datar membuat Rainero menghela nafas panjang, "maaf bila hasilnya mengecewakan," ucapnya merasa bersalah.
Tak lama kemudian, Shenina tersenyum, "aku tidak menyangka, tangan yang hanya tahu bagaimana caranya memperbesar sebuah perusahaan juga bisa mengolah makanan jadi seenak ini," puji Shenina membuat senyum Rainero merekah.
"Kau serius? Kau tidak bercanda kan?"
Rainero mendelik tak suka dengan jawaban Shenina, "ya, kita memang tidak seakrab itu sebab kita bukan teman, tapi ... "
"Tapi apa?" tanya Shenina penasaran.
Rainero tersenyum lebar, "calon suami istri," ujarnya kemudian tergelak kencang saat melihat raut wajah cemberut Shenina.
Singkat cerita, akhirnya mereka pun menyelesaikan sarapan mereka. Shenina ingin membereskan piring kotor, tapi Rainero mencegahnya. Rainero pun segera membereskan piring kotor dan mencucinya. Saat Shenina akan pulang ke kontrakannya, Rainero pun segera menghentikannya.
"Shen, apa kau belum mau bicara denganku?"
"Bukankah kita dari tadi berbicara?" ucap Shenina yang belum paham maksud Rainero.
"Yang aku maksud, bukan bicara itu, tapi ... ini tentang permasalahan kita. Aku mohon, izinkan aku bicara. Aku yakin, selama ini kau bertanya-tanya, mengapa aku tiba-tiba mendekatimu. Aku mohon, mau ya?" mohon Rainero dengan wajah memelas.
__ADS_1
Shenina tampak menimbang, pikirnya mungkin ini saat yang tepat. Memang ia pun penasaran, apa alasan
Rainero mendekatinya.
Shenina lantas mengangguk kemudian duduk di atas karpet bulu yang sama persis dengan miliknya. Bahkan warnanya pun sama. Shenina menghela nafasnya, pikirannya berkecamuk. Ia harap sari sekian banyak penjelasan Rainero nanti, tak ada kalimat yang menyatakan kalau ia akan mengambil anaknya.
Rainero tersenyum lebar, "terima kasih, Shen. Terima kasih banyak atas kesempatan yang kau berikan. Sungguh, aku tidak pernah bisa tidur nyenyak setelah perbuatan buruk yang aku lakukan padamu. Aku benar-benar menyesal, Shen. Aku merasa seperti seorang bajingaan. Dan perasaan bersalahku makin besar saat aku menyadari kesalahanku yang tidak mau mengakui janin yang tumbuh di rahimmu. Aku memang laki-laki brengsekkk. Padahal aku jelas-jelas sadar kalau akulah laki-laki yang pertama menyentuh mu, tapi ... hanya karena selembar kertas aku jadi menolak keberadaannya. Aku mohon, maafkan kebodohanku," ucap Rainero tergugu. Lalu diberanikannya menyentuh perut Shenina yang telah membukit, "maafkan Daddy, sayang. Maafkan kebodohan Daddy," imbuhnya dengan suara bergetar.
Shenina terkejut mendengar bagaimana Rainero mau mengakui kebodohannya, tali yang jadi pertanyaan, bagaimana Rainero tiba-tiba yakin kalau anak yang ia kandung adalah anaknya.
"Boleh aku bertanya?"
Rainero mengangguk. Shenina terenyuh melihat mata Rainero yang biasanya tajam kini justru terlihat sendu dan memerah.
"Bagaimana kau bisa tiba-tiba yakin kalau anak yang aku kandung adalah anakmu?"
Rainero menarik nafas dalam-dalam, "setelah kepergianmu, aku merasakan sesuatu yang beda dalam diriku. Aku jadi merasa muak berdekatan dengan perempuan, bahkan mencium aromanya dari jauh saja bisa membuatku mual dan muntah. Kesehatanmu menurun, aku sering pusing, tidak berselera makan dan hanya ingin makan makanan yang asam. Karena jarang makan, aku sampai jatuh sakit ... "
Rainero pun menceritakan segala hal yang menimpa dirinya pada Shenina. Rainero juga menceritakan asal mula ia mencari tahu perihal sindrom cauvade hingga akhirnya dokter Zack, teman Jevian yang menjelaskan ia tidak mandul, tapi sulit memiliki keturunan. Jadi kesempatan untuk memiliki anak itu ada, meskipun sedikit sulit dari kebanyakan orang. Dan dari situ juga akhirnya Rainero meyakini anak yang Shenina kandung merupakan hasil benihnya.
Setelah mengetahui fakta itu, Rainero pun berusaha menemukan Shenina, semua ia ceritakan tanpa ada yang ditutupi.
Sepanjang mendengar cerita itu, Shenina hanya bungkam. Bahkan sampai ia pulang ke kontrakannya pun ia hanya termenung. Pikirannya berkecamuk, memaafkan memang mudah, tapi melupakan ... itu sulit.
Shenina belum memberikan respon apapun. Ia masih ingin mencerna semuanya. Kalaupun ia memaafkan, setelahnya mereka harus apa? Shenina tidak pernah bermimpi akan menikah dengan laki-laki seperti Rainero. Keluarga Theo, yang notabene bukan kalangan atas saja tidak mau menerima dirinya, apa mungkin orang tua sekelas keluarga Sanches mau menerima dirinya sebagai menantu? Rasanya tidak mungkin.
Ting ...
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Shenina. Shenina pun segera membuka pesan yang merupakan kiriman dari Rainero itu hingga tampil lah sebuah pesan yang membuat matanya terbelalak.
[Shenina, menikahlah denganku.]
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...