
Jet pribadi Rainero telah terbang sejak beberapa menit yang lalu. Sepanjang perjalanan, Rainero tak henti-hentinya gelisah. Bahkan sampai duduk pun ia tidak tenang. Rainero sudah seperti penderitaan ambeien akut yang membuatnya bokongnya tak henti-henti bergerak ke sana sini.
Pramugari yang melihatnya hanya bisa berbisik-bisik geli. Pikir mereka apa mungkin orang sekaya Rainero menderita penyakit seperti itu?
"Astaga, berapa lama lagi pesawat ini akan mendarat?" gumamnya resah. Rainero sudah seperti orang bodoh. Bagaimana mungkin pesawatnya akan cepat sampai, mereka saja terbang melintasi dua benua dan dua samudera, sedang pesawat itu baru mengudara beberapa menit yang lalu.
Mungkin bila Axton ikut serta, laki-laki itu takkan berhenti mengumpati kebodohan Rainero.
Ya, cinta terkadang bukan hanya membuat seseorang menjadi buta dan tuli, tapi juga bodoh. Yah, seperti Rainero saat ini contohnya.
Sementara itu, di hotel tempatnya menginap, Delena tak henti-hentinya tertawa sambil menyesap wine-nya ditemani Rose, asisten pribadinya.
"Astaga, aku senang sekali hari ini! Sudah sejak lama aku tidak sebahagia ini. Kira-kira kapan ya terakhir aku sebahagia ini?" gumamnya sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi cairan merah miliknya.
Rose yang telah menemani Delena sejak usia belia itupun menyahut, "terakhir kali saat Tuan Rainero mengatakan ingin menikahi Nona Delianza, Nyonya," ucap Rose mengingatkan.
Mengingat hal itu, seketika senyum Delena berubah kecut. Sebenarnya ia pun masuk sakit hati dan mendendam. Ibu mana yang bisa baik-baik saja saat melihat anaknya terpuruk karena ditinggal wanita yang amat ia cintai. Terlebih saat itu Rainero sudah sangat ingin menikahi Delianza. Rainero bercerita dengan ceria saat mengatakan telah siap untuk menikah dan meminta izinnya juga Reeves untuk segera melamar Delianza.
Rainero berhasil. Ia berhasil melamar Delianza dengan cara yang begitu romantis. Delianza setuju. Mereka lantas segera melakukan prosedur sebelum menikah, yaitu memeriksakan kesehatan dan kesuburan keduanya.
Namun ternyata, hari itu menjadi titik balik kehancuran Rainero. Hanya karena vonis yang belum benar-benar dijelaskan, Delianza meninggalkan putranya. Rainero terpuruk. Hati Delena begitu hancur saat melihat putra satu-satunya itu terpuruk. Untuk melampiaskan segala kekecewaannya, Rainero berubah menjadi laki-laki brengsekkk yang kerap melakukan one night stand dengan para wanita. Delena tahu itu, tapi Delena tak dapat menghentikannya sebab ia tahu kalau itu merupakan cara bagi Rainero untuk melampiaskan kekesalannya. Ia harap, seiring waktu luka hati Rainero bisa sembuh.
Dan lihatlah hari ini, bagaimana putranya tampak seperti orang bodoh yang pontang-panting ingin segera melakukan penebangan ke Indonesia hanya demi melindungi miliknya agar tak terjamah Delena, ibu kandungnya sendiri. Entah apa yang Rainero pikirkan tentang tujuan kedatangannya menemui Shenina. Delena yakin, putranya itu pasti berpikir kalau ia akan menyakiti Shenina atau ia akan menjauhkan mereka berdua. Dasar bodoh!
"Rose, apa menurutmu Shenina bisa kita percaya? Jujur, aku takut. Aku takut ia hanya memanfaatkan Rainero saja. Aku takut, dia menyakiti putraku yang berharga. Kau masih ingat bukan, bagaimana terlukanya Rainero dulu karena ulah perempuan itu," ucap Delena dengan rahang mengeras.
__ADS_1
Emosinya selalu saja meluap setiap ingat perbuatan Delianza. Tapi Delena tidak pernah menunjukkan ekspresi itu di hadapan orang lain. Hanya Rose dan suaminya, Reeves yang tahu bagaimana sakitnya hati Delena saat melihat putranya hancur karena seorang perempuan. Bagaimanapun dirinya seorang ibu. Tak ada ibu yang bahagia saat melihat anaknya terluka hingga terpuruk dan memilih jalan yang salah untuk melampiaskan sakit hatinya.
"Nyonya tenang saja, saya yakin, nona Shenina merupakan perempuan yang baik. Lihat, demi menghindari tuan muda, Nona Shenina rela pergi dari negaranya sendiri dan memilih tinggal di negara yang sangat jauh seperti ini. Bahkan Nona tidak menuntut sama sekali. Kalau perempuan lain, saya yakin, mereka sudah akan menuntut tuan muda untuk bertanggung jawab, bahkan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Sebaliknya, nona Shenina bukan hanya pergi sejauh-jauhnya, ia juga rela hidup serba kekurangan dan berjualan demi menghidupi dirinya dan calon buah hatinya. Saat tuan muda melamar pun, nona Shenina tidak semudah itu menerimanya. Saya yakin, nona Shenina merupakan pasangan yang tepat untuk tuan muda," ujar Rose memaparkan apa yang ada dalam pikirannya.
Delena tersenyum, ia pun membenarkan apa yang Rose ucapkan. Shenina memang berbeda. Ia merupakan perempuan yang tepat untuk putranya. Terlebih Shenina saat ini tengah mengandung calon cucu-cucunya. Sesuatu yang ia pikir mustahil ia miliki, tak lama lagi justru akan segera terlahir ke dunia.
...***...
Sepanjang malam, entah mengapa Shenina terus-terusan gelisah. Bahkan perutnya beberapa kali menegang membuatnya kian gelisah. Seperti akan ada sesuatu yang terjadi.
"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa perutku rasanya nggak nyaman seperti ini? Perasaanku juga sedari tadi tidak tenang. Semoga ini bukan pertanda buruk," gumamnya seraya bersandar di dinding. Shenina mengambil bantal yang tergeletak di samping tubuhnya dan memangkunya.
Shenina ingin sekali mengaktifkan ponselnya, tapi atas instruksi Delena, ia pun menonaktifkan ponselnya sejak pagi tadi. Seketika Shenina teringat percakapannya dengan Delena.
Shenina menunduk sambil menghela nafasnya, "sebenarnya saya sudah memaafkan Rain, Nyonya," jawab Shenina membuat Delena berdecak.
"Mommy. Mulai sekarang panggil Mommy. Kau tidak lupa kan sedang mengandung cucu Mommy?" tekan Delena membuat Shenina menelan ludahnya. Dengan gerakan pelan, Shenina pun mengangguk membuat Delena tersenyum puas.
"Kalau kau sudah memaafkan Rain, kenapa kau belum mau menerima lamarannya?"
Jelas saja Shenina membulatkan matanya. Bagaimana Delena tahu kalau Rainero telah melamarnya. Lamaran tak romantis tepatnya. Benar-benar tak sesuai impiannya selama ini.
"Ba-bagaimana Nyo eh Mommy tau kalau Rain telah melamar saya?" Apa mungkin Rain telah menceritakan perihal lamaran itu? Eh, Shenina lupa, bagaimana Delena mengetahui kalau ia tengah mengandung anak putranya? Apa Rainero memang telah menceritakan segalanya pada ibunya?
Delena dapat melihat kalau Shenina sedang kebingungan saat ini. Delena lantas tersenyum dan mengusap pipi Shenina, "bukan Rain yang bercerita. Kalau menunggu anak nakal itu bercerita, bisa-bisa cucu Mommy keburu lahir. Terus Mommy tidak bisa ikut bereuforia dengan kelahiran si kembar dong," ucapnya sambil mengerucutkan bibir. Shenina terkekeh melihat ekspresi Delena yang terlihat lucu. Padahal setahunya selama ini, Delena kerap bersikap dingin tak tersentuh. "Mommy tidak bisa memaksamu menerima Rain, tapi besar harapan Mommy, kau bisa menjadi bagian dari keluarga kami."
__ADS_1
Sikap hangat Delena membuat Shenina merasa terharu. Oleh sebab itulah matanya sampai sembab, membuat Rainero yang sedang berada nan jauh di sana jadi salah paham.
Tok tok tok ...
Shenina tersentak dari lamunannya. Dahinya mengernyit saat mendengar suara ketukan di pintu kontrakannya. Shenina merasa penasaran, apalagi jarum jam sudah menunjukkan waktu dini hari.
"Siapa itu?" gumam Shenina. Tapi karena ketukan itu tak kunjung berhenti, Shenina pun gegas membuka pintu. Matanya membulat saat melihat sosok Delena lah yang mengetuk pintu itu.
"Mommy," serunya terkejut.
"Shen," panggil Delena dengan raut wajah khawatir. Pun mata wanita paruh baya itu tampak memerah.
"Mommy kenapa? Apa telah terjadi sesuatu? Apa yang membuat Mommy malam-malam datang ke mari?"
"Shen, telah terjadi pengeboman di bandara," ujarnya terbata.
Shenina yang belum paham pun mengerutkan keningnya, "menurut Axton, seharusnya Rainero telah tiba sejak satu jam yang lalu, tapi ... "
Shenina membulatkan matanya. Jantungnya berdegup kencang dengan nafas yang memburu.
"Apa?" seru Shen terkejut. "Mom, jangan bilang ... "
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1