Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 148 (S2 Part 17)


__ADS_3

Hari demi hari hubungan Theo dan Rhea mulai mencair. Bahkan Theo kini lebih sering mengantar jemput Rhea bekerja. Tak jarang pula mereka bergantian menyiapkan sarapan setiap harinya.


Perlahan, Theo mulai membuka hatinya. Meskipun ia belum melakukannya secara gamblang, tapi perlahan Theo mulai mencairkan dinding hatinya yang beku.


Hari ini Rhea akan melakukan pemeriksaan kandungan. Sudah beberapa bulan ini pula Theo melakukan tugasnya sebagai seorang suami dengan mendampingi Rhea memeriksakan kandungannya di rumah sakit yang tidak jauh dari kediaman mereka.


Beberapa bulan tadi memang Rhea khawatir Emery mencoba mendekatkan Theo dan Shenina lagi. Tapi ternyata semua ketakutannya tidak terjadi sama sekali. Emery justru makin bersikap penuh perhatian padanya. Tapi Rhea selalu merasa waspada. Entah mengapa, ketakutan itu masih saja ada. Mungkin pengaruh hormon kehamilannya yang membuat dirinya lebih sensitif dan terkadang berpikir negatif.


"Perkembangan janin di dalam kandungan Mrs. Rhea bagus. Tak ada masalah. Air ketubannya juga bagus. Hanya saja tolong kurangi aktivitasnya. Jangan terlalu lelah. Seperti yang pernah saya katakan, kandungan Mrs. Rhea sedikit lemah. Jadi harus berhati-hati saat beraktivitas. Jangan terlalu banyak pikiran juga. Harus rileks. Tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak penting. Fokus saja pada calon buah hati Mrs. Rhea yang kurang lebih 2.5 bulan lagi akan hadir di dunia," tukas dokter kandungan yang memang telah memeriksa kandungan Rhea sejak awal ia dinyatakan hamil.


Dengan wajah sedikit malu, Rhea mengangguk.


"Baik, dokter. Terima kasih atas perhatiannya," tutur Rhea sambil mengusap perutnya yang membuncit.


Theo bungkam. Bahkan saat di mobil pun ia masih bungkam. Otaknya sibuk menerka-nerka, sebenarnya apa yang Rhea pikirkan hingga membuat kandungannya menjadi sedikit lemah. Sebenarnya ada rasa khawatir dalam benak Theo. Bagaimana kalau dirinya lah yang menjadi penyebab Rhea banyak pikiran?


"Kau mau mampir ke suatu tempat atau ... Langsung ke restoran saja?" tanya Theo memecah keheningan.


"Langsung ke restoran saja. Bagaimana kalau kita makan siang di restoran?" tawar Rhea.


"Di restoran tempatmu bekerja?"


"Iya. Bukankah sudah lama kau tidak makan di sana. Tapi kita makannya di ruangan ku saja supaya tidak menjadi bahan perhatian karyawan ku."


"Baiklah. Tak masalah."


Theo tersenyum tipis. Rhea senang sekali melihat senyum itu. Sudah beberapa bulan ini Theo memang menjadi lebih hangat dan ramah. Bahkan ia tidak pelit lagi untuk tersenyum. Meskipun tidak tersenyum dengan lebar, tapi tetap saja senyuman tipis itu mampu membuat jantungnya tak henti berdebar.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mobil Theo pun telah terparkir di pelataran parkir restoran tempat Rhea bekerja. Saat Rhea dan Theo berjalan beriringan masuk ke restoran, mereka berpapasan dengan Ael yang juga keluar dengan seorang perempuan yang tidak Rhea kenali.


"Ael, kau mau pergi?" tanya Rhea yang menyapa lebih dulu.


"Hmmm ... Aku ada keperluan sebentar dengan dia, Bianca. Bye," ucap Ael sambil melirik ke arah perempuan yang bernama Bianca tersebut. Kemudian Ael mengalihkan tatapannya pada Theo. Ia menatap tak suka pada Theo, tapi Theo bersikap datar seperti biasanya.


Setelahnya ia pun segera pergi dari hadapan Rhea. Dahi Rhea mengernyit, entah mengapa ia merasa Ael tampak berbeda.


"Kita harus berdiri sampai kapan?" cetus Theo menyentak lamunan Rhea.


Rhea tersenyum canggung, "maaf. Ayo, ke ruanganku segera."


Theo pun mengikuti langkah kaki Rhea menuju ruangannya. Setelah berada di sana, Rhea berpamitan untuk menyiapkan makan siang mereka. Saat Rhea keluar, Theo pun berkeliling memperhatikan ruangan saya yang tidak begitu besar tapi cukup nyaman. Lalu Theo berdiri di dekat meja kerja Rhea. Tanpa sengaja ia melihat CV milik Rhea. Ia pun iseng membuka dan membaca lembar demi lembar CV tersebut. Hingga tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat sebuah angka. Lalu Theo memeriksa kalender di ponselnya. Ia menghembuskan nafas panjang. Kemudian otaknya pun sibuk memikirkan sesuatu sambil tersenyum tipis.


Tak lama kemudian Rhea pun kembali dengan diikuti seorang pramusaji yang mendorong sebuah meja troli. Lalu dengan cekatan, Rhea menghidangkan makanan tersebut ke atas meja yang ada di dalam sana. Beruntung Theo telah kembali duduk di tempatnya, jadi ia tidak melihat apa yang telah Theo lakukan tadi. Di atasnya tersedia berbagai hidangan.


Makan siang usai. Theo pun gegas kembali ke kantornya setelah lebih dulu berpamitan dengan Rhea.


"Terima kasih makan siangnya. Oh ya, maaf, hari ini aku tidak bisa menjemputmu. Kau tidak apa-apa kan?"


"Ah, ti-tidak. Tentu tidak apa-apa. Aku sudah biasa pulang sendiri bukan?"


"Pulang sendiri? Atau pulang diantar dia?" gumam Theo pelan, tapi masih terdengar indra pendengaran Rhea.


"Maksudmu Ael? Kau tenang saja, aku sudah tidak begitu dekat lagi dengannya. Lagipula aku sadar diri, aku perempuan yang sudah bersuami. Aku tak mau terlalu dekat dengan lawan jenis meskipun ia teman dekatku sendiri," ujar Rhea apa adanya.


Theo sontak tersenyum dengan lebar. Bahkan tangannya reflek terangkat mengacak rambut sebahu Rhea dengan lembut membuat perempuan itu menegang.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pergi dulu. Bye." Usai mengucapkan itu, Theo pun langsung membalikkan badannya dan pergi dari sana meninggalkan Rhea yang mematung dengan perasaan yang membuncah bahagia tidak terkira.


"Uuu ... suami Mrs. Rhea benar-benar so sweet," seru salah seorang karyawan yang bertugas sebagai kasir di restoran tersebut. Karyawan itu memang sedikit akrab dengan Rhea sehingga ia tidak sungkan untuk menggoda perempuan hamil itu. "Aku jadi iri," imbuhnya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi.


Rhea terkekeh, "makanya nikah."


"Ah, Mrs. Rhea, kau mengejekku? Kenapa kau tidak memperkenankan ku pada laki-laki tampan seperti suami Mrs. Rhea?"


"Karena orang seperti suamiku itu langka. Hahaha ... "


Setelah mengucapkan itu, Rhea pun segera berlalu dari sana. Rasa bahagianya kali ini bertambah berkali-kali lipat. Rasanya tak sabar menunggu waktu pulang untuk bisa bertemu dengan Theo lagi.


Sementara itu, Theo bukannya mengarahkan mobilnya ke kantor. Ia justru melajukan mobilnya menuju sebuah toko perhiasan yang ada di pusat kota.


Setelah urusannya di sana selesai, ia baru kembali ke kantor. Namun ia tidak berlama-lama di kantor. Ia meminta izin pulang lebih awal hari itu sebab ada yang ingin ia lakukan.


Sepulangnya ke apartemen, ia pun segera masuk dan berjalan menuju kamarnya. Ia berdiri di hadapan potret-potret Shenina yang menghiasi dinding kamarnya. Di saat yang sama, ternyata sebenarnya Rhea telah pulang. Ia yang berada di kamar pun segera keluar saat menyadari ada yang masuk ke apartemen. Ia langsung menebak kalau yang pulang itu adalah suaminya sendiri. Ia pun segera beranjak ke kamar Theo. Ia berencana mengajak Theo makan malam di luar. Namun baru saja Rhea hendak mengetuk pintu, ia mematung saat melihat Theo yang sedang berdiri di depan foto Shenina.


Hatinya yang tadinya membuncah bahagia seketika terasa perih bagai dihujam sembilu. Hatinya hancur berserak. Apa yang dilihatnya saat ini menyadarkannya kalau Theo tak pernah menaruh hati padanya. Kalau Theo takkan pernah menjadi miliknya. Semua perhatian, senyuman, kebaikan, semuanya ... ia lakukan hanya karena anak yang ada di dalam kandungannya.


'Kamu bodoh, Rhea. Bodoh. Sangat bodoh,' raung Rhea dalam hati.


Dengan hati yang berdarah-darah, Rhea pun gegas keluar dari apartemen dengan tujuan ingin pergi sejauh mungkin.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2