
Delena mengerjapkan matanya sambil menggeliat. Tapi karena kedua tangannya terikat, Delena jadi kesulitan untuk bergerak. Dirasakannya udara yang cukup panas dan pengap membuat Delena pun segera membuka matanya. Seketika matanya membulat saat menyadari keberadaannya saat ini. Matanya kian terbelalak saat melihat Shenina dan Gladys terikat di kursi dengan mata terpejam.
"Shen, Shenina," panggil Delena dengan suara sedikit keras. "Gladys, bangun! Shenina, Gladys, bangun!" seru Delena lagi, tapi mata keduanya tetap terpejam. Mungkin pengaruh obat bius masih begitu kuat pada mereka sehingga keduanya masih terlelap begitu nyenyak.
"Sial! Perbuatan siapa ini? Siapa yang berani-beraninya menyekap kami seperti ini," geram Delena yang menyadari kalau mereka kini tengah diculik oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Delena berusaha membebaskan tangannya yang diikat di belakang tubuhnya, tetapi ternyata cukup sulit. Semakin ia berusaha melepaskan ikatan tangannya, tangannya justru semakin sakit. Delena menghela nafas kasar kesal dengan apa yang mereka alami.
"Astaga, bagaimana ini? Rose juga kemana? Apa Rose sudah dihabisi oleh penculik itu? Ah, tidak, tidak. Semoga itu tidak terjadi," gumam Delena lirih.
"Shenina, Gladys, bangunlah! Ayo, buka mata kalian!" panggil Delena lagi, tapi sama seperti tadi, keduanya masih sama tertidur pulas membuat Delena kut bukan main.
Tak lama kemudian, terdengar suara derit pintu bergeser, membuat Delena terlonjak was-was. Namun ketegangan itu hanya berlaku sekejap saja setelah melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan pengap itu.
"Rose, astaga, aku senang ternyata kau tidak apa-apa," seru Delena lega.
"Rose, coba bantu aku melepaskan ikatan ini. Setelah itu bantu lepaskan ikatan pada Shenina. Kasihan dia, sedang hamil tapi diikat seperti itu. Entah siapa yang melakukan ini, sepertinya dia sedang bosan hidup," ujar Delena tanpa menaruh curiga sedikitpun pada Rose.
Tiba-tiba terdengar suara gelak tawa dari bibir Rose. Delena sampai mendongakkan kepalanya menatap bingung pada Rose.
"Apa yang kau tertawakan? Tidak ada yang lucu di sini," seru Delena bingung. Tidak pernah ia melihat Rose tertawa lepas seperti ini. Namun entah mengapa, tawa Rose justru terdengar menakutkan di telinganya.
"Tentu saja ada, Madam. Bahkan sangat-sangat lucu. Bagaimana mungkin kau justru meminta tolong kepada seorang penculik untuk melepaskan dirimu? Dan bagaimana mungkin aku melepaskan mu begitu saja setelah aku susah payah menculik kalian. Aku senang sekali, akhirnya tiba juga masa ini, masa dimana kalian berada dalam genggamanku. Aku akan berterima kasih pada tuan Reeves dan juga putra kesayangan Anda karena untuk pertama kalinya lengah. Kalau tidak, aku mungkin takkan pernah mendapatkan kesempatan emas seperti ini," tukas Rose sambil tertawa. Ia lantas duduk di kursi kayu yang ada di sana dan melipat kedua kakinya. Aura Rose kali ini sangat berbeda. Terlihat menakutkan, tidak seperti biasa.
"Rose, jadi ... kau yang melakukan semua ini?" tanya Delena tak percaya.
"Lalu kau pikir siapa?" Rose tersenyum sumir.
Jelas saja, mata Delena terbelalak. Lantas Rose menepuk tangannya. Seorang pria paruh baya pun masuk seraya menenteng seember air yang diberi es batu. Lalu dengan tanpa perasaan laki-laki itu menyiramkan air itu di atas kepala Shenina dan Gladys sehingga mereka berdua terlonjak hingga reflek hendak berdiri, tapi karena tahan mereka terikat di kursi membuat mereka terduduk kembali.
"Mommy."
"Aunty."
"Shenina, Gladys," seru ketiganya bersamaan.
"Apa yang sebenernya terjadi? Kenapa kita bisa berada di sini?" seru Shenina yang mulai menggigil.
"Rose, apa yang kalian lakukan pada menantuku, sialan!" sentak Delena murka. Tak pernah selama ini ia marah pada Rose sebab ia menganggap Rose seperti putrinya sendiri. Tapi apa yang Rose lakukan benar-benar membuatnya murka.
"Apa yang kami lakukan? Paman, memangnya apa yang sudah kita lakukan?" tanyanya sambil terbahak.
__ADS_1
Laki-laki yang Rose panggil sebagai paman itupun tertawa lebar.
"Kita hanya bersenang-senang, keponakanku tersayang. Sekaligus membalaskan dendam mendiang ibumu, benar kan?"
"Ya, paman benar. Sudah lama kita tidak bersenang-senang seperti ini, bukan. Setelah itu, kita akan habisi mereka semua agar dendam Mommy terbalaskan."
"Apa maksudmu? Dendam? Dendam apa? Sedangkan aku tidak mengenalmu sebelum ini. Sebenarnya siapa kau? Mengapa kau ingin membalas dendam padaku? Kalaupun aku memang bersalah pada kalian, aku minta maaf. Tapi aku mohon, jangan libatkan mereka. Mereka tidak bersalah," seru Delena.
"Hei kalian, lepaskan kami! Sebenarnya kalian siapa? Apa salah kami pada kalian?" timpal Shenina.
"Iya, kalian ini sebenarnya siapa? Kenapa kalian jahat sekali pada kami?"
"Apa? Kalian bilang kami jahat? Tanyakan pada wanita itu, siapa yang lebih jahat? Karena dia, ibuku menghadapi kehamilan seorang diri. Karena dia, ibuku harus berjuang melahirkan seorang diri. Karena dia, ibuku harus berjuang membesarkan ku seorang diri. Karena dia juga, aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Semua karena dia, dan kini Ibuku meninggal, semuanya karena dia."
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Sebenarnya siapa kau?"
"Kau ingin tahu siapa aku? Aku, Rose Levinson, putri dari Levinson, kau pasti ingat bukan siapa itu Levinson?" tukas Rose dengan tatapan tajamnya.
"Levinson? Apa maksudmu Levin?"
Rose tersenyum sumir, "ya, Levin, mantan kekasih suamimu atau lebih tepatnya, aku putri keluarga Sanches yang terbuang," tukasnya membuat ketiga orang di dalam ruangan sempit itu membelalakkan matanya.
"Tidak. Itu tidak mungkin," lirih Delena dengan tatapan nanar.
Jelas saja mata Delena makin terbelalak. Ia tak menyangka, seseorang dari masa lalu suaminya kembali untuk membalaskan dendamnya. Entah, ia harus marah atau kecewa karena Reeves memiliki seorang putri tanpa sepengetahuannya, tapi membayangkan penderitaan Rose selama ini yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah membuatnya bersedih. Tapi membayangkan Shenina pun akan menjadi korban, pun Gladys yang tidak bersalah sama sekali, membuat Delena murka.
Sebenarnya, bila Rose mengatakan hal ini baik-baik, ia pun akan menerima Rose dengan tangan terbuka. Ia takkan menyalahkan Rose. Tapi karena Rose sudah bertindak lancang seperti ini, maka Delena tak akan tinggal diam.
"Apa kau yakin kau adalah putri dari suamiku, hm?"
"Apa katamu?" tiba-tiba Rose mendekat ke arah Delena dan mencekiknya.
"Ya, bisa saja kau anak Levin dengan laki-laki lain. Apa kau yakin kau benar-benar putri keluarga Sanches?" Meskipun leher Delena dicekik kuat, tapi ia tidak menunjukkan ketakutan sama sekali.
"Mom," pekik Shenina khawatir. "Hei kau, lepaskan tanganmu dari leher Mommy," seru Shenina panik.
"Jadi kau ingin mengatakan kalau pamanku pembohong? Begitu?" pekik Rose.
Delena kini sadar, kalau Rose melakukan itu atas provokasi dari sang paman.
"Bisa jadi. Bisa jadi juga kalau pamanmu berbohong padamu mengenai siapa ayahmu?"
__ADS_1
"Tidak. Rose, jangan dengarkan jalaang sialan ini. Karena dia, kau tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Karena dia, ibumu dicampakkan ayahmu," sergah paman Rose.
Plakkk ...
"Mommy."
"Aunty."
Meskipun baru saja ditampar, Delena tetap bersikap tenang. Toh ia tak salah. Tidak salah bukan kalau Reeves lebih memilih dirinya sebab dirinya adalah istri sah, sementara Levin hanya seorang kekasih. Delena lebih berhak atas Reeves, bukan Levin.
Sementara di ruangan sempit itu terjadi perdebatan, sejak sore tampak seorang laki-laki sedang berusaha meminta izin agar dipertemukan dengan Rainero.
"Tolong, izinkan aku bertemu dengan CEO kalian!"
Berkali-kali laki-laki itu meminta dipertemukan dengan Rainero, tapi ia tak kunjung diberikan izin.
"Maaf, pak Rainero sudah kembali sejak beberapa saat yang lalu."
"Apa? Kalian ini bagaimana? Kenapa tidak kalian katakan sejak tadi. Tolong kalian hubungi tuan Rainero, katakan, aku Harold ingin bertemu dengannya. Ada masalah penting yang harus segera aku sampaikan."
"Maaf tuan, kami tidak bisa. Lebih baik Anda segera pulang sekarang!"
Mereka tahu siapa Harold. Berkat video live yang Jessica pernah lakukan tempo hari, hampir semua orang mengetahui siapa itu Harold. Mereka pikir Harold datang untuk kembali mengacau rumah tangga atasannya itu. Padahal sebaliknya, Harold ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
Siang tadi kebetulan sekali Harold sedang berada di pusat perbelanjaan yang sama dengan Shenina. Harold yang hendak meminta pekerjaan dengan temannya justru menghentikan langkahnya saat melihat Shenina.
Dada Harold seketika sesak. Rasa bersalah lagi-lagi menghantam jiwa dan raganya. Ia terpaku sambil menatap wajah bahagia Shenina dengan lekat dari balik pilar bangunan. Harold yang tidak berani menemui pun hanya bisa memandang Shenina dari jauh seraya melepas rindu.
Tanpa sadar, Harold meneteskan air mata. Dalam penyesalannya, ia ikut berbahagia sebab di saat dirinya sebagai seorang ayah membuang sang putri, justru ada sebuah keluarga terpandang yang mau menerima putrinya dengan tangan terbuka dan menyayanginya layaknya putri sendiri.
Harold terus memperhatikan Shenina. Bahkan sampai Shenina masuk ke dalam mobil pun, Harold masih mengikuti. Entah karena firasat atau karena ingin mengetahui kediaman Shenina, Harold terus mengikuti mobil yang membawa Shenina, Delena, dan Gladys itu tanpa curiga.
Hingga mobil yang membawa Shenina itu masuk ke jalan yang kian sepi membuat jantung Harold berdetak curiga bercampur khawatir. Ia pun segera menjaga jarak sambil memperhatikan kemana tujuan mobil itu. Hingga akhirnya mobil itu berhenti di sebuah gedung tua. Tak lama kemudian, keluar seorang laki-laki paruh baya sambil tersenyum lebar. Lalu ia membantu seorang wanita yang tadi menyopiri mobil membawa Shenina, Delena, dan Gladys ke dalam gedung tua itu. Dalam sekali lihat saja Harold yakin kalau kedua orang itu telah menculik Shenina dan dua orang lainnya.
Harold yang tak mau membuang waktu pun segera datang ke kantor Rainero untuk memberitahukan penemuannya. Tapi sayangnya, hingga sore hari, ia tak kunjung bisa menemui Rainero. Ingin menghubungi, tapi ia tidak memiliki nomor pribadi Rainero. Ingin mendatangi kediamannya pun sama saja, Harold tidak tahu dimana mereka tinggal. Kalaupun tahu, ia yakin tidak sembarang orang bisa masuk ke area tempat tinggal mereka. Penjagaan kediaman mereka pastilah ketat.
"Kalian benar-benar! Asal kalian tahu, apa yang ingin aku sampaikan benar-benar penting. Ini menyangkut nyawa istri atasan kalian, apa kalian paham! Kalian pasti akan menyesal kalau sampai terjadi sesuatu pada istri atasan kalian itu!" pekik Harold dengan mata memerah.
Dengan perasaan kesal, Harold pun segera pergi dari sana. Dia pun bergegas kembali ke gedung tua dimana Shenina disekap. Dalam hati Harold berharap, ia belum terlambat.
"Semoga Shenina baik-baik saja," gumam Harold penuh harap.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...