Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 210 (S3 Part 52)


__ADS_3

"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," ujar sekretaris Jevian.


Jevian mengerucutkan keningnya lalu bertanya, "siapa?"


"Dia bilang dia kekasih Rose. Dia hanya bilang itu, Tuan."


Wajah Jevian seketika menggelap. Riak ketidaksukaan terlihat jelas di wajahnya yang tampan. Sekretarisnya sampai bertanya-tanya, siapa Rose? Kenapa atasannya tampak kesal setelah mendengar penuturannya.


"Biarkan dia masuk!" ujar Jevian datar dan dingin.


Sekretarisnya pun segera undur diri untuk mempersilahkan laki-laki yang tak lain adalah Bastian itu masuk ke ruangannya.


Tak lama kemudian, Bastian pun masuk ke ruangan Jevian dengan angkuh setelah dipersilakan. Matanya tampak memindai ke sekeliling, kemudian tersenyum remeh.


"Ternyata kau bukan orang sembarangan. Rose memang begitu pandai mencari mangsa. Hahaha ... " Bastian mengoceh seakan mengejek Jevian yang mau-mau saja dengan perempuan seperti Roseline.


Bukannya terpancing, Jevian justru melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum remeh.


"Ya, dia memang pandai. Dia sangat tahu siapa yang tepat menjadi pendampingnya dan dengan siapa pantas menjatuhkan hatinya," sahut Jevian membuat Bastian mendelik kesal.


"Kau terlalu naif."


"Terserah kau mau bilang apa. Katakan padaku, sebenarnya apa tujuanmu repot-repot datang ke mari?"


Bastian tersenyum sinis. Bahkan ia duduk begitu saja di sofa ruangan itu sebelum diizinkan.


"Ternyata kau cukup to the point."

__ADS_1


"Tak perlu berbasa-basi. Waktuku terlalu berharga untuk mendengarkan basa-basi mu."


"Baiklah. Langsung ke intinya saja, begini, aku sudah tahu kalau Rose bekerja sebagai Nanny di kediamanmu."


Jevian tidak terkejut Bastian mengetahui hal ini. Melihat dia bisa mengetahui dimana ia bekerja saja, sudah dapat dipastikan kalau Bastian memang sengaja mencari tahu identitasnya. Jadi juga tidak mungkin kalau ia tidak tahu hubungannya dengan Roseline.


"Kalau benar, memangnya kenapa? Apa hubungannya denganmu?"


"Jelas ada, aku calon suaminya dan aku tidak suka ia bekerja menjadi seorang Nanny. Aku jauh lebih sanggup untuk memanjakannya, jadi kenapa ia harus bersusah-susah bekerja di kediamanmu."


"Kalau ia suka, kenapa tidak. Dia sendiri tidak ada masalah, kenapa kau mesti repot?"


Bastian berdecak kesal, "apa kau mau tahu satu rahasianya? Ia memiliki rahasia besar dan kau pasti akan terkejut mendengarnya," ujar Bastian dengan memasang mimik wajah serius.


Jevian menautkan kedua alisnya, "rahasia? Rahasia apa itu?"


"Sebaiknya kau segera memecatnya. Jauh tahu, dia itu mantan narapidana kasus percobaan pembunuhan. Dan kau tahu, alasan ia melakukan itu?"


Jevian diam tidak bergeming. Ia tidak mengangguk, maupun menggeleng. Ia masih menunggu apa yang ingin Bastian katakan. Ia bisa menebak kalau Bastian merupakan tipe laki-laki yang licik. Jadi Jevian bisa melihat kalau Bastian akan berusaha menjelek-jelekkan nama Roseline.


"Dia melakukan itu karena ingin menjerat putra atasannya. Kau tahu, demi obsesinya itu, ia dengan teganya menculik atasan dan istri putra atasannya sendiri yang sedang hamil besar. Dengan kejam ia ingin menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya, tapi beruntung, rencana busuknya itu ketahuan putra atasannya itu. Dia bukanlah orang sembarangan. Dia adalah pemilik perusahaan terbesar di beberapa negara di benua ini. Dia adalah Rainero Sanches. Rose akhirnya dipenjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan kini kau justru mempekerjakannya? Jangan bodoh! Apa kau tidak takut Rose akan berbuat hal yang sama. Dia akan menyakiti orang-orang terdekatmu termasuk anakmu demi mengejar ambisinya. Lebih baik kau segera memecatnya sebelum segalanya terlambat," ujar Bastian dengan memasang ekspresi seriusnya.


Jevian diam tak bergeming. Ia justru menatap balik Bastian dengan ekspresi tak terbaca.


Dalam hati Bastian tertawa senang. Ia yakin rencananya akan berhasil. Ia yakin, Jevian akan termakan kata-katanya.


"Kenapa kau diam? Apa kau tidak percaya? Aku bisa membuktikannya."

__ADS_1


Bastian bicara seolah-olah Roseline memang bersalah. Dalam hati ia merasa was-was sebab sesungguhnya ia tidak memiliki bukti. Kasus Roseline memang ditutup dari publik. Memang berita tentang penculikan Delena dan Shenina diberitakan di media massa, bahkan sempat membuat heboh negaranya. Tapi di pemberitaan tidak dituliskan nama sang pelaku. Bastian justru mendapatkan informasi tentang Roseline dari detektif sewaannya. Namun tentu saja yang ia beritakan informasi sesungguhnya, bukan manipulasi seperti yang ia katakan dengan Jevian.


Dalam hitungan menit, satu sudut bibir Jevian terangkat. Kemudian ia pun tertawa terbahak-bahak. Ia menertawakan kebodohan Bastian yang mencoba mencuci otaknya dengan kebohongan yang ia ciptakan.


Bila ia belum mendengar cerita sesungguhnya dari Roseline, ia mungkin akan sedikit percaya dengan apa yang Bastian katakan. Namun Roseline bukan hanya menceritakan segalanya. Ia pun sudah meminta klarifikasi dari Axton dan Axton membenarkan cerita mengenai Roseline. Axton sempat bertanya, kenapa Jevian menanyakan hal tersebut, tapi Jevian berkata ia akan menceritakannya secara langsung dalam waktu dekat. Ia juga meminta Axton merahasiakan untuk sementara mengenai apa yang ia tanyakan padanya dengan Rainero. Axton pun setuju.


Melihat Jevian tertawa terbahak-bahak membuat Bastian kebingungan.


"Dasar pecundang. Kau pikir aku sebodoh itu untuk kau tipu, hah?" desis Jevian dingin. Tawa yang tadi menggelegar tiba-tiba berubah menjadi seringai mengerikan. Bahkan sorot mata Jevian sudah berubah tajam membuat Bastian terperanjat sendiri.


"Hentikan segala bualanmu yang bodoh itu karena sampai kapanpun aku takkan mempercayainya. Jadi lebih baik kau segera pergi dari sini. Dan oh iya, aku lupa, jangan coba-coba mengganggu calon istriku! Bila sampai kau melakukannya, aku takkan tinggal diam. Kau pasti akan mendapatkan balasannya," raung Jevian dengan suara menggelegar. Bahkan sekretaris Jevian yang stand by di meja tepat di depan ruangan itu sampai terperanjat kaget. Belum pernah selama ini ia mendengar suara keras Jevian. Ini pertama kalinya. Membuat sang sekretaris jadi penasaran, sebenarnya siapa Bastian? Dan mengapa Jevian sampai bisa begitu marah seperti itu?


"Apa? Kau bilang apa yang aku katakan tadi adalah bualan? Ternyata kau laki-laki yang sangat bodoh. Kau memang seorang pimpinan perusahaan, tapi otakmu begitu bodoh sampai bisa tertipu oleh seorang perempuan."


"Kalaupun dia bersalah, kalaupun dia seorang narapidana, memangnya kenapa? Begini saja, kalau memang dia seorang penjahat, lantas kenapa kau ingin mendekatinya lagi? Kau ingin dia kembali padamu, bukan? Bukankah lebih bagus ia bersamaku? Bagaimana kalau saat bersamamu ia justru berniat melenyapkan anak dan istrimu? Bukankah itu lebih berbahaya? Jadi lebih baik biarkan dia di sini. Tenang saja, aku akan menjaganya agar tidak berbuat macam-macam. Lagipula tidak mungkin ia menyakiti anakku sebab ia sangat menyayangi putraku. Selain itu, ia tidak memiliki seseorang yang akan menentang hubungannya denganku.. Berbeda denganmu yang memiliki anak dan istri. Dan yang paling utama, bukan hanya mereka yang akan menentang hubunganmu dengan Roseline, tapi juga keluarga kedua belah pihak. Jadi ... Lebih aman Roseline bersamaku, bukan?"


Jevian menyeringai. Tangan Bastian mengepal erat. Ia benar-benar kesal. Ia pikir ia akan dengan mudah memprovokasi Jevian, tapi nyatanya, Jevian berhasil membalikkan semua kata-katanya.


"Brengsekkk!" umpatnya sebelum pergi dari hadapan Jevian dengan api amarah yang menggelegak di dalam dada.


Melihat kepergian Bastian membuat Jevian terkekeh sendiri. Beruntung Roseline sudah menceritakan segalanya dengannya. Ia juga sudah mengonfirmasi apa yang Roseline ceritakan pada Axton jadi sudah dapat ia pastikan Roseline berkata jujur. Lagipula ia percaya dengan apa yang Roseline katakan. Ia bisa melihat kejujuran saat Roseline menceritakan penggalan kisah kelam dalam hidupnya. Jadi tak ada alasan untuk meragukan Roseline.


Ia tak mau ambil pusing dengan provokasi dari Bastian. Yang ia pikirkan justru perubahan sikap Roseline sejak kemarin sore. Dan kini bertambah aneh sejak pagi tadi.


"Seline, ayolah, angkat panggilanku!" gumam Jevian kesal saat panggilannya tak kunjung diangkat Roseline.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2