
"Hahahaha ... "
Axton tak henti-hentinya tergelak saat mendengar cerita Rainero yang melamar Shenina melalui aplikasi perpesanan. Padahal mereka sempat berbicara berdua, tapi kenapa Rainero justru melamar Shenina melalui pesan? Dasar edan!
"Astaga, Rain, punya uang banyak, sewa restoran mewah kek, rooftop hotel mewah kek, sambil makan malam di tepi pantai, banyak sekali solusi untuk acara melamar romantis, tapi kenapa kamu malah melamar Shenina melalui pesan? Kamu udah nggak waras," ejek Axton melalui layar laptop.
Ya, beberapa saat yang lalu mereka melakukan virtual meeting melalui aplikasi zoom. Setelah pekerjaan mereka selesai, Rainero pun menceritakan perihal dirinya yang sudah mengungkapkan penyesalannya dan permohonan maafnya atas kekhilafan yang telah melakukan hal tidak terpuji dan juga tidak mau mengakui anak yang Shenina kandung sebagai anaknya. Rainero juga memohon maaf karena telah mengusir Shenina. Semua ia ceritakan tanpa ada yang ditutupi. Termasuk dirinya yang melamar Shenina melalui aplikasi perpesanan.
Bila ditanya siapa yang paling banyak mengetahui rahasia Rainero, maka jawabannya adalah Axton. Baik buruk perilaku Rainero, Axton mengetahuinya. Bahkan ia lebih mengenal Rainero dibandingkan keluarganya sendiri.
"Ck ... aku hanya spontan saja. Setelah aku cerita, dia langsung pergi begitu saja, makanya aku kirim pesan seperti itu," kilah Rainero membela diri.
"Tapi kan kau bisa mengatur waktu untuk mengajak Shen pergi. Kau persiapkan segalanya baru ajak Shen terus lamar deh. Kamu itu yang lebih berpengalaman berpacaran, tapi kenapa seketika jadi bodoh sih? Aku yang belum pernah pacaran pun masih bisa berpikir waras untuk tidak melamar melalui pesan."
"Stop mengejekku Jangan sampai kau kualat sendiri karena terus menerus mengejekku," seru Rainero kesal yang dibalas tawa berderai oleh Axton.
Tiba-tiba Rainero terdiam membuat Axton mengernyit heran.
"Ada apa?" tanya Axton.
"Ssst ... sebentar. Sepertinya ada yang bertamu ke kontrakan Shenina," ujar Rainero sembari beranjak menuju pintu dan membukanya sedikit. Mata Rainero mendelik saat mengetahui siapa yang mengetuk pintu kontrakan Shenina.
Rainero pun segera kembali menuju laptopnya.
"Siapa?" tanya Axton penasaran saat melihat wajah ditekuk Rainero.
"Tukang buku. Entah apa maksudnya datang pagi-pagi seperti ini menemui Shenina," kesal Rainero.
Axton terkekeh setelah mendengarnya, "hati-hati kena tikung," ejek Axton membuat mata Rainero membeliak tajam.
"Aku tutup dulu," ucapnya tanpa menunggu sahutan dari Axton.
Setelah menutup laptop, Rainero pun gegas keluar yang ternyata di saat yang sama Shenina pun membuka pintunya.
__ADS_1
"Eh, kamu. Ada apa ya?" tanya Shenina bingung melihat keberadaan Wayan yang tiba-tiba sudah berada di depan pintunya. Rainero yang tak suka melihat keberadaan Wayan pun mendekat membuat Wayan melirik tak suka padanya.
"Emmm ... kamu hari ini mau periksa ke dokter kandungan kan?"
"Eh, kok kamu tau? Iya, emang aku mau periksa hari ini."
Rainero bingung dengan apa yang mereka perbincangkan. Ia hanya menyimak tanpa paham sama sekali.
"Em, mau aku antar?" tawar Wayan.
Shenina terdiam. Dia menimbang sambil melirik Rainero yang telah berdiri di sampingnya.
"Dia mau apa kemari?" tanya Rainero menggunakan bahasa Inggris.
"Dia ... menawarkan untuk mengantarku periksa kandungan," jawab Shenina.
Jelas saja Rainero melotot tajam. Takkan ia biarkan laki-laki lain mengantarkan Shenina periksa kandungan. Apalagi anak yang Shenina kandung adalah anaknya.
"No, kamu tidak boleh pergi dengan dia. Kau ... hanya aku yang boleh mengantarkanmu. Apalagi anak yang kau kandung adalah anakku. Aku takkan mengizinkan orang lain menggantikan tugasku sebagai seorang ayah," tegas Rainero dengan tatapan tajam. Terlihat jelas kalau ia tak terima posisinya hendak digantikan orang lain.
Shenina memejamkan matanya sejenak. Memang kehamilan ini terjadi akibat ketidaksengajaan Rainero dan mantan atasannya pun memiliki kesalahan fatal yang membuatnya benar-benar kecewa dan terluka. Tapi ia tahu, hal itu bukanlah sebuah kesengajaan. Rainero tidak sengaja. Haruskah ia memberikan kesempatan padanya?
Rainero memang tidak berhak atas anak-anaknya saat ini, tapi ... anak-anaknya memiliki untuk berdekatan dan mendapatkan perhatian dari ayahnya. Apalagi Shenina menyadari kalau anak-anaknya tampak nyaman berdekatan dengan ayahnya. Shenina sadar, bahkan sangat sadar. Apalagi saat Rainero mengusap perutnya, anak-anaknya langsung bereaksi seolah mereka merasakan euforia bisa mendapatkan perhatian dan perlakuan hangat sang ayah.
Shenina menghela nafasnya dan membuka mata, "maaf Wayan, aku tidak bisa. Aku sudah memiliki janji akan ditemani Rainero," ucap Shenina dengan seulas senyum tipis.
Wayan menghela nafas kecewa. Lalu ia melirik tak suka pada Rainero. Sebenarnya ia belum tahu apa hubungan antara Rainero dan Shenina, tapi melihat bagaimana Rainero begitu memperhatikan Shenina, ia bisa menduga kalau Rainero merupakan ayah dari anak yang Shenina kandung.
"Ya sudah, tak apa. Tapi kalau dia tidak jadi mengantarkanmu, hubungi saja aku. Aku akan bersedia mengantarkanmu."
Shenina mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Wayan pun segera pergi dari hadapan Shenina.
"Kau sering memeriksakan kandunganmu dengan dia?" tanya Rainero dengan wajah masam.
__ADS_1
"Tidak," jawab Shenina singkat.
"Lalu bagaimana dia tahu kalau hari ini jadwal pemeriksaanmu?"
Shenina mengedikkan bahunya, ia memang tidak tahu. Bukankah bulan tadi ia memeriksakan kehamilannya bersama Adisti. Entah darimana Wayan tahu, ia tidak begitu mempermasalahkannya.
"Pokoknya, kapanpun itu kalau kau ingin memeriksakan kandunganmu, kau harus hubungi aku. Kau dan anak ini mulai saat ini dan seterusnya adalah tanggung jawabku, ingat itu!" tegas Rainero.
Shenina tersenyum miring, "memangnya kau siapa tiba-tiba saja mengatakan kalau kami telah menjadi tanggung jawabmu?"
Tiba-tiba saja Rainero menarik pinggang Shenina dan merengkuh tubuhnya sehingga saling menempel. Wajah mereka bahkan saling mendekat satu sama lain. Shenina seketika gugup apalagi saat wajahnya begitu dekat dengan wajah Rainero. Bahkan nafas hangat Rainero menerpa wajahnya membuat wajahnya seketika memerah.
"K-kau ... Lepaskan!" desis Shenina gugup.
Rainero menyeringai, "takkan aku lepaskan. Dengar ini, sampai kapanpun kau takkan pernah aku lepaskan lagi."
"Jangan lupa aku belum memaafkan mu," desis Shenina.
Diingatkan kalau ia belum mendapatkan maaf membuat wajah Rainero seketika sendu.
Rainero lantas meletakkan dahinya di pundak Shenina membuat perempuan itu menegang kaku, "Kenapa? Apa sesulit itu memaafkan ku?" ucapnya pilu.
"Bu-bukannya begitu," jawab Shenina gelagapan sambil menggigit bibirnya.
"Lantas?"
"Rain, aku bisa saja memaafkan mu. Memaafkan itu mudah, tapi ... melupakan itu ... sulit."
"Aku mohon maafkan aku. Aku tahu, melupakan itu sulit. Oleh sebab itu, berikan aku kesempatan untuk menebus segala kesalahanku. Aku memang tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk membahagiakan mu dan anak kita. Karena itu, untuk mewujudkannya, terimalah maafmu dan terimalah lamaran ku," ucapnya setelah menarik wajahnya sehingga mereka kembali saling bertatapan.
"Coba jelaskan alasan kenapa kau melamar ku?" tanyanya. Shenina lantas melepaskan rengkuhan Rainero pinggangnya dan segera membalikkan badannya. Kemudian ia lanjut berkata, "bila kau melakukan itu hanya untuk menebus rasa bersalah mu, kau tak perlu menikahiku. Baiklah kalau kau meminta maaf ku, aku akan memaafkannya, tapi bila kau meminta untuk aku menerima lamaranmu hanya untuk menebus rasa bersalahmu, maaf ... aku tidak bisa menerimanya."
...***...
__ADS_1
Semoga aja sanggup nambah 1 bab lagi. Tadi siang repot banget. Ikut rapat di sekolah anak gadis yang udah mau kelulusan SD. Eh direkrut jadi komite dadakan dan harus berpartisipasi jadi panitia untuk persiapan pelepasan anak-anak kelas 6 pula. Rapat yang dikira selesai dalam 2 jam jadi molor jadi berjam-jam. 😂
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...