Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 149 (S2 Part 18)


__ADS_3

Hari-hari yang Theo jalani semenjak ia berupaya bersikap lebih baik pada Rhea jadi semakin menyenangkan. Meskipun rasa cinta itu belum sepenuhnya hadir, namun perlahan mulai membuka diri. Bahkan dinding yang menjulang tinggi di hatinya perlahan mencair seiring kebersamaannya dengan Rhea.


Hari ini Rhea mengajak Theo makan siang di ruangannya. Saat Rhea keluar, tanpa sengaja Theo melihat tanggal lahir Rhea di CV-nya yang tergeletak di atas meja. Matanya terbelalak saat mengetahui kalau hari itu merupakan hari ulang tahun Rhea. Dan seketika saja Theo terpikir ingin memberikan sebuah kejutan untuk Rhea.


Sebelum kembali ke kantor, Theo menyempatkan diri untuk membeli sebuah cincin. Cincin itu akan ia berikan sebagai hadiah ulang tahun Rhea. Selain itu, Theo ingin menyampaikan kalau ia ingin membuka lembaran baru dengan Rhea. Ia ingin mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Membesarkan anak bersama-sama. Saling mendukung, saling berbagi, selalu bersama, hingga sang waktu yang memisahkan mereka.


Theo pulang dari kantornya lebih awal. Ia ingin melakukan sesuatu di apartemennya. Setibanya di apartemen, Theo langsung menuju kamarnya. Ia berdiri di depan pigura yang memuat foto-foto Shenina dan dirinya.


Theo menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


"Shenina, sejujurnya rasa ini masih ada. Meskipun tidak sebesar dulu, tapi perlahan rasa itu mulai tersisih oleh kehadiran Rhea yang mampu mengisi hari-hariku sehingga lebih berwarna. Apalagi saat ini Rhea sedang mengandung anakku. Buah hatiku. Aku rasa aku begitu jahat bila terus bersikap dingin padanya. Apalagi tidak membuka hatiku untuknya. Oleh sebab itu, hari ini aku akan mencoba membuka hatiku selebar-lebarnya. Aku akan mencoba memperbaiki segala kesalahan dan sikapku yang pasti membuatnya terluka. Kau telah bahagia dengannya di sana. Mungkin ini saatnya bagiku untuk menjemput bahagia ku. Terima kasih atas cinta yang pernah kau beri. Semoga kita bisa sama-sama berbahagia dengan pasangan masing-masing," ucap Theo sambil memandang foto-foto Shenina dan dirinya.


Lalu Theo segera berlalu. Mencari sesuatu yang besar untuk menampung foto-foto tersebut. Sebagai permulaan, ia akan menyingkirkannya semua foto-foto itu. Ia juga sudah meminta studio foto untuk mencetak ulang foto-foto pernikahannya dan mencetaknya dalam berbagai ukuran. Ia akan memajangnya di dinding kamar dan ruang utama apartemen itu. Sebagai pertanda kalau ia telah berkomitmen untuk mempertahankan rumah tangga mereka.


Setelah semua foto ia turunkan, bersamaan dengan itu bel di pintu berbunyi. Theo pun gegas membuka pintu. Ternyata itu adalah orang dari studio foto yang mengantarkan foto-foto pesanannya.


Theo tersenyum lebar saat melihat foto-foto tersebut dalam berbagai ukuran. Ia pun segera memasangnya di tempat yang tepat. Ia yakin, Rhea akan sangat senang melihatnya nanti. Theo rasanya sudah tak sabar ingin melihat ekspresi Rhea saat melihat foto pernikahan mereka telah terpasang bukan hanya di dinding ruangan utama, tapi juga di kamarnya. Ia akan meminta Rhea memindahkan barang-barangnya ke kamarnya. Bukankah seharusnya suami istri tidur dalam satu kamar dan satu ranjang yang sama.


Namun hingga hari menjelang malam, Rhea tidak kunjung pulang juga ke apartemen mereka. Padahal Theo sudah tak sabar ingin menyambut Rhea. Bahkan ia sudah mereservasi sebuah restoran di hotel ternama. Tujuannya tentu saja setelah makan, ia ingin mengajak Rhea menghabiskan malam di hotel tersebut. Theo tersenyum sendiri membayangkan semua itu.

__ADS_1


"Rhea kemana? Kenapa ia belum pulang juga?"


Theo benar-benar khawatir. Apalagi jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 7 malam. Namun tak ada tanda-tanda kalau Rhea akan segera pulang. Theo pun segera menekan nomor Rhea dan menghubunginya, namun setelah berkali-kali ia melakukan panggilan, Rhea tak kunjung mengangkatnya.


Theo berjalan mondar-mandir. Ia benar-benar khawatir. Theo menoleh ke arah kamar Rhea yang tidak tertutup rapat sempurna. Theo pun menghampirinya dan mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar. Tanpa sadar, kakinya melangkah masuk. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar Rhea. Sama seperti apartemen studionya tempo hari, kamar Rhea ini pun tertata rapi. Hawa sejuk dan nyaman seketika menyeruak. Apalagi saat aroma parfum Rhea yang manis masuk ke indra penciumannya membuat Theo reflek memejamkan matanya, menikmati aroma manis tersebut.


"Sudah jam 7, tapi kenapa kau belum pulang juga, Rhea."


Theo lantas mencinta menghubungi Rhea sekali lagi. Dahi Theo mengernyit saat menyadari bunyi ponsel Rhea terdengar di dalam kamarnya.


Theo pun mencari-cari dimana ponsel Rhea tersebut. Akhirnya Theo menemukannya tergeletak di atas nakas meja khususnya bekerja. Di sana juga terdapat tas yang Rhea kenakan tadi.


Theo benar-benar panik. Ia berjalan kesana dan kemari kebingungan. Theo lantas segera menyambar kunci mobilnya. Ia bermaksud pergi ke restoran tempat Rhea bekerja. Ia harap Rhea berada di sana.


Namun saat Theo baru saja sampai di lobi, terdengar sebuah keributan.


Theo pun mendekat ke arah kerumunan itu, "ada apa?" tanya Theo penasaran.


Salah seorang penghuni apartemen itupun menoleh, "itu, tadi aku mau turun lewat tangga darurat. Lalu aku ... Aku melihat seorang perempuan hamil sudah tergeletak dengan berlumuran darah. Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak mengenalnya. Aku juga takut untuk mendekat. Jadi aku langsung melaporkannya saja ke pihak keamanan apartemen agar segera memanggil bantuan," ujar seorang perempuan dengan wajah pucatnya. Sepertinya ia begitu syok melihat sesuatu yang tak terduga itu.

__ADS_1


Degh ...


Jantung Theo seketika tersentak. Rasa panik dan khawatir membuatnya menggila dan gegas berlari menuju tangga darurat. Padahal Theo tidak tahu tangga darurat mana yang dimaksud sebab apartemen itu terdiri atas 10 lantai. Tak peduli banyaknya anak tangga yang harus ia naiki, ia terus berlari dan terus berlari. Theo benar-benar takut. Bahkan air matanya tanpa sadar jatuh berderai.


"Aku mohon, Tuhan, selamatkan Rhea dan calon anak kami. Aku mohon, Tuhan. Aku mohon. Jangan kau ambil mereka. Aku mohon. Tolonglah mereka. Selamat mereka. Aku mohon, Tuhan. Aku mohon," lirihnya di setiap langkah kakinya. Air mata jatuh tak terkira. Menetes begitu deras karena rasa takut yang menggerogoti jiwa dan raganya. Nafasnya memburu, jantung berdegup kencang, wajahnya pun sudah memucat.


Tak peduli kakinya benar-benar letih nyaris patah, tapi Theo terus berlari.


"Rhea ... " teriaknya saat sampai di tangga darurat yang dimaksud. Tampak orang-orang ramai berkerumun. Theo pun segera membelah kerumunan itu untuk memastikan siapa perempuan hamil yang terjatuh itu.


...***...


Weeee, gantung! 🤪


Othor nggak akan buat bertele-tele kok. Ceritanya juga nggak panjang. Ini baru bab 18. Malah bab nya kayaknya nggak sampai 30 deh kan masih nyambung Jevian juga. Hahaha ...


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2