
"Tuan, terima kasih atas informasi yang kau berikan. Kalau tidak, entah bagaimana aku menunjukkan pada Mommy kebusukan Daddy selama ini," ujar seorang perempuan seraya menunduk sopan pada Rainero. Mereka tengah berbincang di kantin rumah sakit saat ini. Tentu saja kedatangan perempuan itu dengan niatnya sendiri untuk menyampaikan terima kasihnya atas bantuan tak terduga Rainero.
Perempuan itu bernama Louisa. Dia adalah putri Ramond dan Laurent. Dan ia tahu tentang dimana ayahnya berselingkuh saat itu semua berkat informasi dari Rainero.
Ya, beberapa jam yang lalu, Rainero mendapatkan informasi dari Axton kalau orang-orangnya yang mengawasi Jessica mengetahui kalau wanita itu meminta seseorang mencari keberadaan kamar Shenina. Sebenarnya untuk letak kamar Shenina dirahasiakan. Tapi karena Jessica yang ingin bermain-main dengannya membuat Rainero mempermudah rencananya. Rainero hanya ingin tahu apa yang ingin Jessica lakukan.
Setelah itu, tak lama kemudian, Rainero mendapatkan informasi lagi kalau Jessica membeli set pakaian perawat. Sudah dapat ditebak, kalau Jessica berniat menyamar sebagai perawat untuk melenyapkan Shenina.
Namun, sebelum itu terjadi, Rainero sudah meminta orang-orangnya memberitahukan kegiatan Jessica pada Louisa. Ia tahu kalau Louisa memiliki dendam pribadi pada Jessica. Bahkan kini kemungkinan besar dendamnya akan kian membara setelah tahu kalau perempuan yang ia benci ternyata juga bermain dengan sang ayah.
Dendam Louisa tidaklah main-main. Ia amat membenci Jessica karena sudah berselingkuh dengan tunangannya. Bahkan karena Jessica lah, tunangannya sampai lupa datang ke hari pernikahannya karena sibuk bermain dengan Jessica sehingga kelelahan dan tertidur pulas. Alhasil, pernikahan pun batal dan sejak itu, ia begitu membenci Jessica dan selingkuhannya.
Sayangnya, saat itu Louisa tidak bisa menghancurkan Jessica. Di sana tidak ada hukuman untuk peselingkuh apalagi perzinahan sebab semua dianggap biasa. Louisa sangat marah, tapi sayang dia tidak bisa berbuat apapun selain memendam kebencian yang sebesar gunung.
Lalu kini, di kesempatan ini Rainero menginformasikan sesuatu yang tak terduga. Padahal ayahnya tahu kalau Jessica merupakan penyebab hancurnya hari pernikahannya, tapi kenapa sang ayah justru main gila dengan Jessica. Tidakkah ia memikirkan perasaan ibunya sama sekali?
Dengan api dendam dan amarah yang menyala-nyala, Louisa pun mengajak sang ibu mendatangi kamar Ramond dan Jessica. Awalnya ibunya tidak percaya saat Louisa mengatakan kalau ayahnya sedang berselingkuh saat ini. Tapi saat melihat dengan mata kepala sendiri, barulah Laurent tahu kalau suami yang begitu cintai selama ini tak lebih dari seorang bajingaan.
Laurent pun membuat keputusan untuk bercerai dan mengambil alih lagi hotel yang Ramond kelola selama ini sebab hotel tersebut sebenarnya masih milik keluarga Laurent. Laurent bertekad menjadikan Ramond seperti semula, yang tak lebih hanya seorang pria miskin yang tidak memiliki apa-apa selain rumah kecil peninggalan orang tuanya. Itulah hukuman yang tepat untuk laki-laki tak tahu diri seperti Ramond.
Karena dendam dan amarah yang kian menggunung itulah, Louisa pun merencanakan menghancurkan kecantikan Jessica dengan menyuruh orang menyiramkan air keras ke wajahnya. Dengan begitu, ia tidak bisa lagi memanfaatkan wajah cantiknya untuk menghancurkan hubungan orang lain khususnya rumah tangga orang lain. Itulah hukuman yang tepat untuk wanita perusak hubungan orang lain, pikir Louisa.
"Tak perlu merasa sungkan. Aku hanya melakukan yang semestinya."
Meskipun niat awal Rainero untuk menggagalkan rencana Jessica dengan membuatnya sibuk atau bahkan ketakutan, tapi siapa sangka Louisa memberikan Jessica pelajaran yang benar-benar tak terduga.
__ADS_1
Menurut informasi, wajah Jessica habis hampir semua rusak karena terbakar air keras. Belum lagi salah satu kakinya terpaksa diamputasi sebab tempurung lutut hingga ke bagian bawah yang remuk terlindas ban mobil.
Rainero benar-benar tidak menyangka, nasib Jessica berakhir dengan sangat mengenaskan. Tanpa perlu ia turun tangan secara langsung, akhirnya perempuan licik dan kejam itu mendapatkan balasannya.
...***...
Setelah beberapa jam terlelap akibat efek obat bius, akhirnya Shenina pun membuka matanya. Namun yang pertama-tama ia periksa adalah perutnya.
"Sweety, kau sudah bangun," ujar Rainero lembut dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Suamiku, bayi kita, dimana mereka? Mereka tidak apa-apa kan? Mereka ... baik-baik saja kan?" tanya Shenina panik saat meraba perutnya yang awalnya begitu besar tiba-tiba sudah mengecil.
Rainero menggenggam tangan Shenina dan mengecupnya sayang, "kau tenang saja, Sweety. Bayi-bayi mungil kita baik-baik saja. Aku panggil dokter dulu ya untuk memastikan keadaanmu," ujar Rainero lembut sambil mengusap puncak kepalanya.
Setelah mendapatkan pemeriksaan, Shenina pun diizinkan bertemu dengan keluarganya yang lain termasuk bayi-bayinya.
Dengan perasaan antusias, Shenina menantikan kedatangan bayi-bayi mereka. Perawat lah yang akan membawakan kedua bayi mungil mereka ke dalam sana.
Saat melihat dua orang perawat yang menggendong masing-masing bayi, senyum bahagia Shenina tak dapat ia sembunyikan. Ia benar-benar bahagia apalagi saat kedua bayinya dibaringkan di sisinya. Air mata Shenina berderai begitu saja. Rasa haru menyeruak, ia bersyukur karena bayi-bayinya baik-baik saja. Rasa takut yang tadi sempat hinggap, kini berganti kebahagiaan tak terkira.
"Terima kasih, Sweety, atas hadiah terindah ini. Ini benar-benar hadiah terbaik bagiku. Kau dan bayi-bayi cantik dan tampan ini adalah anugrah yang luar biasa yang takkan pernah aku sia-siakan. Maaf karena nyaris terlambat menyelamatkanmu. Namun aku berjanji, takkan pernah ceroboh lagi."
Shenina tersenyum lembut, "tidak perlu menyalahkan diri. Semua terlanjur terjadi. Semua adalah takdir. Mau bagaimana pun kau melindungi ku bila takdirnya seperti ini, maka kita bisa apa?"
Tak salah memang Rainero menjatuhkan hatinya pada Shenina. Shenina bukan hanya cantik parasnya, tapi juga hatinya. Rainero sampai berjanji dalam hati, takkan pernah menyakiti Shenina dan akan selalu membahagiakannya sepanjang usia.
__ADS_1
Tak lama kemudian, satu persatu keluarga Rainero mendatangi Shenina untuk melihat keadaan wanita itu dan bayi-bayinya. Delena sampai menangis tersedu seraya meminta maaf karena sudah membuat Shenina mengalami hal tak terduga seperti ini. Bukan hanya pada Shenina, Delena juga meminta maaf pada Gladys karena hampir saja membuatnya ikut celaka.
Sama seperti dengan Rainero, Shenina tidak menyalahkan Delena sama sekali. Sebab baginya, semua sudah menjadi bagian takdir yang harus mereka jalani. Begitu pula Gladys, ia pun tidak menyalahkan Delena sama sekali.
"Selamat ya, Gladys. Aku turut bahagia dengan kabar baik ini," seru Shenina saat mengetahui lebar kehamilan Gladys.
"Terima kasih, Shen. Aku benar-benar bahagia. Namun kebahagiaan ini takkan mungkin pernah ada andai kau tak pernah hadir dalam kehidupanku, Shen. Terima kasih Shen karena hadir dan mau berteman denganku."
"Ck ... tak perlu membahas itu. Pertemuan kita pun sama, merupakan takdir. Aku pun bahagia bertemu denganmu. Andai kita tidak pernah bertemu, entah bagaimana nasibku dan anak-anakku. Dan entah bagaimana pula nasib hubunganku dengan Rainero."
Semua orang yang ada di dalam ruangan itupun saling melempar senyum dan canda tawa. Untuk masalah Harold, Rainero belum menyampaikan apapun sebab ia takut Shenina merasa syok. Meskipun ia tahu kalau Shenina telah mati rasa pada ayahnya, tapi siapa tahu, isi hati sesungguhnya dari Shenina. Apalagi saat ia tahu bagaimana keadaan ayahnya kini. Jadi Rainero memilih akan menceritakan keadaan Harold setelah semua pulang.
Saat sedang berbincang, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah sepasang laki-laki dan perempuan cantik dengan penampilan yang sungguh memukau. Mereka adalah Adisti dan Jevian. Adisti yang mengenakan gaun off shoulders sebatas lutut berwarna putih dengan motif floral di bagian bawah membuatnya tampak cantik menawan. Ditambah lagi rambut yang ditata sedikit bergelombang dengan kalung permata melingkari leher putihnya membuat Adisti benar-benar terlihat memukau.
Begitu juga Jevian, ia mengenakan tuksedo berwarna silver. Mereka tampak seperti pasangan yang begitu serasi. Membuat seorang pria yang sedari tadi duduk di kursi luar setelah melaporkan keadaan Harold mengeraskan rahang. Namun sebisa mungkin ia mengontrol amarah dan rasa cemburu yang membuncah.
"Mbak Buleee, selamat ya! Huhuhu, semalam aku benar-benar khawatir tau. Tapi syukurlah, kalian semua baik-baik saja," seru Adisti heboh seperti biasa.
Semua tergelak melihat sikap Adisti yang jauh dari kata anggun. Tidak seperti gaun yang ia kenakan, Adisti masih saja bersikap heboh, tapi menggemaskan.
Mereka berbincang sejenak, setelah itu Jevian pun pamit karena akan mengajak Adisti ke ulang tahun keponakannya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1