Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 125


__ADS_3

Rainero masuk ke dalam rumah sambil bersiul bahagia. Ia bahagia sebab satu persatu orang-orang yang dulu hendak menghancurkannya maupun Shenina telah mendapatkan ganjarannya.


Meskipun masih ada satu dua masalah yang belum benar-benar selesai, setidaknya keamanan istrinya sudah terjamin.


"Sayang, kenapa kau bersiul-siul seperti itu? Apa ada kabar bahagia hari ini?" Rainero yang masuk begitu saja tidak melihat kalau sang istri sedang berdiri tak jauh dari posisinya.


Senyum Rainero mengembang, apalagi setelah mendengar Shenina memanggilnya 'sayang'.


"Katakan sekali lagi!"


"Apa?" tanya Shenina bingung. Ia lantas meletakkan baby boy nya ke dalam stroller gandeng milik kedua bayi kembarnya.


"Tadi, kau panggil aku apa tadi? Bisa ulang sekali lagi?"


Shenina akhirnya paham, lantas ia tersenyum geli, "sayang, hm? Kenapa? Kau tak suka?"


Rainero menggeleng cepat, "suka. Aku sangat suka. Sini, biarkan aku memeluk istriku yang cantik ini. Aku sangat merindukanmu, Sweety," ujar Rainero sambil merentangkan kedua tangannya. Shenina lantas segera masuk ke dalam pelukan Rainero. Disandarkannya kepalanya di dada laki-laki itu. Rasanya hangat dan menenangkan.


"Aku juga," cicitnya malu-malu.


"Benarkah?"


Shenina mengangguk malu-malu.


"Jadi, kapan Rainoconda bisa berkunjung? Dia pun sudah sama merindukan gua hangatnya," bisik Rainero tepat di telinga Shenina. Perempuan itu sampai menegang. Ibu dua anak itu sampai menggigit bibirnya saat gelenyar aneh itu menyebar di sekujur tubuhnya.


"Emmm ... Bukankah kau sendiri yang paling tahu?" mata Shenina menyipit, sementara itu Rainero terbelalak.


"Bagaimana bisa?"


"Kau pikir aku tak tahu kalau suamiku ini setiap pagi melingkari tanggal di kalender. Mulai dari hari dimana aku melahirkan dan sampai ... "


Shenina terkekeh geli saat Rainero menggesek-gesekkan rahangnya yang berbulu di pipi hingga ke leher.


"2 hari lagi. Tapi kenapa rasanya lama sekali ya? Hahaha ... "


"Dasar mesyum," cibir Shenina membuat Rainero terkekeh. "Oh ya, kau belum cerita kenapa kau sepertinya senang sekali?"


"Tidak ada apa-apa sih. Hanya saja aku sedang geli mengingat tingkah Axton tadi."


"Axton? Memangnya ada apa?"


Dengan senyuman merekah, Rainero pun menceritakan segala tingkah absurd Axton yang kini menggilai segala hal yang berwarna merah muda alias pink.


"Astaga, apa jangan-jangan Gladys mengandung anak perempuan ya?"


Rainero mengedikkan bahunya, "entahlah. Aku mandi dulu ya, Sweety. Aku sudah tak sabar menggendong Baby Sky dan Baby Earth," ucapnya seraya memberikan sebuah kecupan di pipi Shenina.


Shenina pun mengangguk dan kembali bermain dengan kedua bayinya yang diberi nama Baby Sky untuk anak laki-lakinya dan Baby Earth untuk anak perempuannya.

__ADS_1


Sementara itu, di rumah sakit, setelah Adisti kembali ke ruang perawatannya, Eleanor pun mengambil sebuah majalah yang tergeletak di atas meja. Majalah itu milik Eleanor sendiri yang dibelinya untuk mengusir kebosanan. Setelah itu, ia menggulung majalah itu dan memukulkannya di bagian kepala Mark yang tidak terluka.


"Awh, Madre, apa yang kau lakukan?" pekik seorang pria yang langsung membuka matanya setelah Eleanor memukul kepalanya.


Dalam hitungan detik, mata Mark membulat saat menyadari arti tatapan Eleanor yang seakan mengulitinya.


"Madre ... " gumam Mark seraya meringis.


"Kenapa? Kau heran kenapa Madre bisa tahu kalau kau sudah sadarkan diri?" desis Eleanor dengan mata melotot. "Dasar, anak nakal! Apa kau senang melihat Adisti menangis seperti tadi, hm? Puas!"


Plakkk ...


Lagi, Eleanor memukulkan majalah tadi ke kepala Mark.


"Madre, kenapa terus memukulku? Aku baru sadar. Apa Madre tidak senang melihatku sadar dari koma?" ujarnya pelan.


Eleanor menghela nafas panjang, "sejak kapan kau sadarkan diri?"


"Saat Adisti menangis," jawabnya jujur.


"Ah, kamu serius?"


Meskipun dengan gerakan pelan, Eleanor bisa melihat anggukan dari Mark.


"Astaga, Madre minta maaf. Madre pikir kau sudah lama sadarkan diri. Kalau begitu, Madre panggil dokter dulu."


Tanpa perlu menunggu respon, Eleanor pun segera memanggil dokter yang bertugas menangani putranya.


"Syukurlah, putra Anda telah melewati jasa kritisnya. Tapi biarpun begitu, putra Anda masih harus menjalani serangkaian perawatan dan observasi. Kami akan melakukan CT scan ulang untuk memastikan kepala tuan Mark sudah baik-baik saja. Selain itu, kami juga harus terus memantau hasil operasi di kaki tuan Mark. Bila semuanya sudah jauh lebih baik, barulah tuan Mark bisa pulang. Tapi tetap, tuan Mark harus kembali untuk melakukan terapi selama 3 kali seminggu agar tulang kakinya segera pulih seperti sedia kala," papar dokter tersebut. Eleanor pun mengiyakan.


Setelah sang dokter berlalu, Eleanor pun kembali ke ruangan Mark. Di sana, tampak putranya sedang dibantu perawat untuk dipindahkan ke ruang pemulihan.


Setelah dipindahkan, Eleanor kembali ke kamar dimana Mark dirawat.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?"


"Sepertinya yang Madre lihat, aku sangat bahagia."


Sebelah alis Eleanor terangkat ke atas.


"Madre, terima kasih."


"Untuk!"


"Ck ... Tak perlu pura-pura tidak tahu," decak Mark membuat Eleanor terkekeh.


"Kau senang?"


"Sangat senang."

__ADS_1


"Kalau begitu, segeralah sembuh. Setelah itu, kita akan kembali ke negara kita dan membuat pesta pernikahanmu dengan megah dan meriah. Kita akan undang semua keluarga kita, termasuk keluarga kakekmu di Spanyol. Mereka pasti senang mendengar kabar pernikahanmu."


Mendengar ibunya akan membuatkan pesta pernikahan yang megah dan meriah, jelas saja membuat bibir Mark seketika merekah dengan lebarnya.


"Thank you, Madre karena sudah mau menerima Adisti sebagai calon istriku. Aku dapat pastikan, kalau Adisti perempuan yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku."


Eleanor mengangguk, "Madre pun bisa melihatnya."


Seketika Mark teringat bagaimana ibunya melamar Adisti untuknya.


Ya, saat itu Mark mendengar dengan jelas bagaimana ibunya melamar Adisti untuk menjadi istrinya. Mark yang sebenarnya baru sadarkan diri beberapa saat yang lalu, tepatnya saat Adisti menangis pun benar-benar terkejut dengan tindakan sang ibu. Ingin Mark membuka mata, tapi saat itu matanya masih terasa berat. Namun telinganya masih dapat mendengar dengan jelas jawaban Adisti.


"Adisti, bagaimana? Will you marry my Son?" ucap Eleanor sembari melepaskan cincin di jari manisnya dan menyodorkannya pada Adisti.


Mata Adisti kian membulat, dia ... Benar-benar dilamar ibu dari Mark?


"Nyonya, apa Anda serius? Anda belum benar-benar mengenal siapa saya, Nyonya. Saya hanyalah seorang perempuan yatim piatu yang miskin. Bahkan saya tidak memiliki satu orang keluarga pun di dunia ini. Apa pantas saya bersanding dengan Mark? Apa pantas saya menjadi menantu orang terhormat seperti Anda?"


Tak mau terlalu berekspektasi tinggi apalagi pikirnya pasti keluarga Mark belum mengenalnya dengan baik, ia pun tak mau langsung menerima begitu saja lamaran itu. Ia hanya tak ingin kecewa di saat ia sudah terlalu berharap. Lebih baik kecewa sejak awal, daripada jatuh terhempas setelah segala asa ia gaungkan.


"Memangnya kenapa kalau kau miskin dan yatim piatu?" tanya Eleanor membuat Adisti mengerjapkan matanya. "Kalau kau miskin, maka Madre akan memberimu banyak harta agar kau pun jadi kaya seperti kami. Kau tak perlu takut, harta kami banyak. Tak akan jatuh miskin hanya karena kami membaginya padamu. Kalau kau yatim piatu, bukankah seharusnya kau senang saat bisa bersanding dengan laki-laki yang masih memiliki keluarga yang lengkap sebab dengan begitu kau akan mendapatkan orang tua pengganti yang akan menyayangimu seperti putrinya sendiri."


Adisti sampai melongo mendengar jawaban Eleanor.


"Maaf Nyonya, memangnya benar tidak masalah? Bukankah kebanyakan orang kaya hanya mau menikahkan anak-anak mereka dengan orang yang memiliki status sosial yang sama. Mereka malu kalau anak-anak mereka bersanding dengan orang miskin seperti kami."


"Jangan samakan keluarga Madre dan Padre dengan orang-orang itu. Kami tidak seperti itu. Bagi kami yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anak kami. Terlebih, anak kami hanya Mark seorang. Betapa jahatnya kami bila kami menentang hubungan kalian dengan alasan status sosial yang berbeda. Hal itu sama saja ingin menghancurkan kebahagiaan anak kami sendiri," jelas Eleanor hendak membuka pikiran Adisti kalau tidak selamanya orang kaya membenci orang miskin dan menolak hubungan anak-anak mereka dengan alasan tidak sebanding.


Adisti menangis haru. Ia pikir hanya keluarga Rainero saja yang memiliki hati yang begitu luas dan mau menerima perempuan kalangan bawah menjadi menantunya, tapi ternyata masih ada keluarga yang sama hebatnya seperti keluarga Sanches. Tanpa ragu lagi, Adisti lantas mengangguk dengan derai air mata bahagia. Meskipun keadaan Mark belum baik-baik saja, ia tak apa. Bahkan semisalnya keadaan kaki Mark tidak kembali seperti semula pun ia akan tetap menerima.


Senyum di bibir Eleanor melebar sempurna. Lantas ia meminta Adisti mengulurkan tangannya, lalu memasangkan cincin yang memang sudah diwariskan turun-temurun oleh keluarga Alvernon pada menantu-menantunya ke jari manis Adisti. Setelah memasangkan cincin itu, Eleanor melirik ke arah Mark. Tiba-tiba saja matanya membeliak saat menyadari Mark membuka sedikit kelopak matanya dan mengarahkan tatapannya ke arah Adisti.


...***...


Reeves telah mengantongi bukti-bukti yang akan membongkar siapa sebenarnya Rose. Ia akan membuka bukti-bukti itu di hadapan Rose secara langsung agar perempuan itu sadar telah diperdaya oleh orang yang dipercayainya.


Rose sudah menduga siapa yang akan menemuinya siang itu. Dia tidak memiliki keluarga lain selain Hose. Sementara itu, Hose pun sudah dipenjara, jadi tak ada orang lain yang akan menemuinya selain Reeves. Namun Rose benar-benar terkejut saat melihat Reeves ternyata tidak datang seorang diri. Reeves datang dengan didampingi istrinya. Wanita yang menjadi atasannya selama beberapa tahun ini.


Tak ada senyum di bibir merah Delena. Perempuan yang biasanya tersenyum lembut padanya itu seketika berubah dingin saat melihatnya.


Rose tahu, ia telah membuat kesalahan fatal. Ia telah membuat wanita itu dan menantunya nyaris kehilangan nyawa karena mengira kalau dirinya adalah putri dari Reeves. Ia mengira, karena Delena lah ibunya dibuang sehingga harus membesarkan anaknya seorang diri. Dia bermaksud untuk membalaskan dendam dirinya dan ibunya. Namun nyatanya, ia bukanlah putri Reeves. Tapi yang jadi pertanyaan, putri siapa sebenarnya dirinya? Dan kenapa pamannya tega menipu dirinya?


"Saya yakin kau tahu maksud dan tujuan kedatangan kami kemari. Oleh sebab itu, saya tak akan membuang waktu kami lebih banyak. Kami hanya akan mengantarkan ini. Di sini, kau akan menemukan kebenaran siapa dirimu sebenarnya."


Delena lantas menyodorkan sebuah amplop ke arah Rose. Setelah itu, Delena dan Reeves pun segera beranjak dari tempat duduknya. Mereka pun segera berlalu begitu saja meninggalkan Rose dengan rasa penasaran yang kian membuncah.


...***...


...Panjang lagi kan BESTie. Maaf, ceritanya terpaksa gantung lagi. 😅...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2