Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 195 (S3 Part 37)


__ADS_3

"Tuan, Anda tidak ke kantor?" tanya Roseline selesai ia membereskan piring kotor bekas makan siang mereka.


Jevian menggeleng, "untuk beberapa hari ke depan, aku akan berkantor di sini saja. Aku tidak mungkin meninggalkan Jefrey begitu saja. Bagaimanapun, Jefrey adalah tanggung jawabku. Hanya aku yang Jefrey miliki saat ini. Meskipun ia memiliki seorang ibu dan kakek, tapi mereka tidak benar-benar peduli pada Jefrey," ujarnya. Lalu Jevian menghela nafas panjang. "Terima kasih, ya, karena kau sudah mau membantuku mengurus Jefrey," imbuhnya tulus.


"Tak perlu berterima kasih. Bukankah itu memang sudah tugasku sebagai Nanny Jefrey."


"Tapi Jefrey menganggap mu lebih dari itu. Apa kau tidak mau menjadi ibu Jefrey sebenarnya?" tanya Jevian dengan alis terangkat ke atas.


Mata Roseline membulat. Ia benar-benar terkejut dengan pertanyaan Jevian yang sungguh tak terduga itu. Namun ia tahu, Jevian pasti hanya sekedar bercanda. Mana mungkin laki-laki sekelas Jevian mau dengannya apalagi menikah. Itu hal yang mustahil.


Roseline lantas beranjak sambil terkekeh, "Anda benar-benar lucu, tuan," sahutnya sambil berlalu menuju toilet.


"Heh, bisa tidak kau jangan memanggilku tuan lagi?"


Mendengar permintaan itu, Roseline lantas berbalik, "lho, kenapa begitu? Bukannya tidak sopan? Lagipula Anda adalah majikan saya jadi sudah sewajarnya saya memanggil Anda tuan."


"Tapi saya tidak suka. Mulai sekarang, aku ingin kau memanggilku Jevian saja. Titik. Awas kalau mau memanggilku tuan lagi, gajimu pasti akan aku potong," ujar Jevian setengah mengancam.


"Anda mengancam saya?" tanya Roseline dengan mata membulat.


Jevian mengangguk, "terserah kau mau menganggap aku mengancam, yang pasti aku tidak suka kau memanggilku tuan. Dan juga, cobalah berbicara santai. Aku-kamu, bukan saya-Anda. Benar-benar terdengar menjengkelkan."


Mata Roseline mengerjap. Bila tuan-tuan yang lain lebih suka dipanggil tuan sebagai tanda penghormatan, tapi Jevian sangat berbeda. Seketika ingatannya kembali ke masa lalu. Tepatnya saat ia awal-awal bekerja dengan Delena. Rainero pun meminta hal yang sama, ia tidak suka dipanggil tuan. Apalagi saat di kediamannya. Namun bila di luar atau di kantor, ia bisa menolerir, tapi selain itu tidak.


Rainero sebenarnya sejak awal bertemu sudah begitu baik dengannya. Ia tidak pernah menganggap rendah orang lain. Ia begitu menghargai orang-orang di sekelilingnya. Namun karena kebencian yang Hose tanamkan, ia membenci laki-laki itu. Rasa sakit hati dan kecewa membuat kebencian mendominasi. Sebaik apapun Rainero, Reeves, dan Delena, ia tetap tidak tergerak untuk menepis dendamnya. Yang kemudian pada akhirnya, dendam salah alamat itulah yang menghancurkannya.


"Seline, hei, Seline. Roseline, Rose ... " panggil Jevian yang sudah berdiri di hadapan Roseline sambil menjentik-jentikkan jarinya.


Roseline terkesiap. Matanya mengerjap lucu. Jevian terkekeh kemudian tanpa sadar mencubit pipi Roseline yang lembut dan halus. Roseline sampai berjengit. Entah mengapa, makin hari tingkah dan ekspresi Roseline cukup menarik dirinya. Roseline bukan hanya cerdas, bersifat keibuan, penyayang, ia juga bisa menjadi teman bicara yang menyenangkan, membuat Jevian merasa nyaman.

__ADS_1


Tiba-tiba jantung Jevian berdegup kencang. Apalagi saat melihat semburat merah di pipi Roseline yang segera berlalu setelah tersadar dari lamunannya.


"Mungkinkah ... "


Hari belum begitu larut, Jevian tampak belum selesai dengan pekerjaannya. Ia masih menunggu Matson untuk membawakan beberapa berkas yang ia minta. Terutama berkas mengenai projek yang akan segera ia kerjakan dalam waktu dekat. Projek yang menjadi dasar kerjasamanya dengan Admark Investments.


Namun 30 menit telah berlalu. Padahal tadi Matson mengabarkan sebentar lagi ia sampai atau lebih tepatnya tak kurang dari 15 menit lagi. Namun sampai satu jam berlalu, Matson tak kunjung muncul. Tiba-tiba Jevian merasakan firasat buruk. Matson biasanya tidak pernah seperti ini.


Benar saja, beberapa menit kemudian, Jevian mendapatkan telepon dari pihak kepolisian. Mereka mengabarkan Matson mengalami kecelakaan tak jauh dari rumah sakit ini. Jevian sampai reflek berdiri hingga menjatuhkan beberapa berkas yang sedang dipelajarinya.


"Apa? Jadi, dimana Matson sekarang?" tanya Jevian.


" .... "


"Kebetulan saya berada di rumah sakit yang sama. Baiklah, aku akan segera ke sana," ujar Jevian sebelum panggilan itu ditutup.


"Tu eh Jevian maksudku. Ada apa? Apa yang terjadi dengan Matson?" Roseline yang duduk tak jauh dari Jevian tentu saja mendengar apa yang Jevian katakan. Hanya saja, ia tidak mendengar apa yang orang di seberang telepon katakan.


Roseline mengangguk kaku, "baiklah. Semoga Matson baik-baik saja," ujar Roseline menunjukkan kekhawatirannya pada Matson.


Mata Jevian tiba-tiba memicing, "kau khawatir padanya?" Suara Jevian terdengar enggan.


Roseline mengangguk tanpa ragu, "ya, aku khawatir padanya. Kasihan dia. Segeralah kau kesana. Dia pasti sedang membutuhkanmu saat ini."


Entah mengapa, Jevian tidak suka mendengar nada khawatir dari bibir Roseline. Padahal wajar saja Roseline khawatir sebab Matson mengalami kecelakaan. Entah bagaimana keadaannya saat ini. Jevian harap kecelakaan yang Matson alamin tidak berakibat fatal.


Dengan sedikit keengganan, Jevian pun segera membalikkan badannya menjauh dari Roseline dengan wajah masam.


Tak butuh waktu lama, Jevian pun telah tiba di depan ruang ICU. Tampak beberapa orang dari pihak kepolisian berdiri di depan ruangan itu.

__ADS_1


"Maaf, apa Matson yang berada di dalam?"


"Anda tuan Jevian?" tanya salah satu petugas.


"Benar."


Jevian dan petugas itupun bersalaman. Lalu menceritakan bagaimana ia bisa menghubungi Jevian. Ternyata mereka melihat nomor Jevian dari riwayat panggilan terakhir Matson.


"Lalu bagaimana keadaan Matson saat ini?"


"Kami belum tahu jelasnya. Tuan Matson masih menjalani pemeriksaan di dalam sana," ujar petugas itu. "Tapi ... Melihat kondisi Tuan Matson tadi, kondisinya sedikit mengkhawatirkan. Ia ditemukan dalam posisi terjepit. Bahkan mobilnya nyaris meledak. Untung saja, ada yang melihat dan segera menghubungi kami jadi kami bisa dengan segera menyelamatkannya sebelum mobil benar-benar meledak," papar petugas tersebut.


"Menurut Anda, apa penyebab kecelakaan ini?" tanya Jevian lanjut.


"Kami masih menyelidikinya lebih lanjut. Tapi dilihat dari kondisi mobil, sepertinya ini faktor kesengajaan."


"Apa? Jadi maksud Anda, ada yang mencoba mencelakakan Matson?"


Petugas tersebut lantas mengangguk membuat Jevian terhenyak. Kalau benar, siapa orang itu dan apa alasannya mencelakakan Matson? Bukankah setahunya, Matson tidak memiliki musuh. Matson juga tidak pernah berselisih dengan seseorang. Apalagi ia sangat tahu bagaimana aktivitas Matson.


Sepulang bekerja, ia akan segera pulang ke apartemen kecilnya. Matson sebenarnya sudah menikah, tapi istrinya tinggal di kota lain merawat orang tuanya yang sudah renta. Matson tidak mempermasalahkannya. Ia hanya berkomunikasi dengan keluarganya sepulangnya bekerja.


Lantas, siapa yang bisa dengan begitu teganya hendak mencelakakan Matson? Apa tanpa sepengetahuannya, Matson sedang berselisih paham dengan seseorang? Kalau benar, siapa???


...***...


Siapa ya?


Ada yang bisa nebak? 🤔

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2