Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 120


__ADS_3

Sepulang mengantar Rainero pulang ke kediamannya, Mark pun segera pulang ke apartemen untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lupa ia mengambil jaket berwarna hitam dan mengenakannya. Setelah memastikan penampilannya rapi dan wangi, Mark pun segera menuju basemen. Ia masuk ke tempat khusus memarkirkan kendaraannya. Ada beberapa kendaraan di bawah sana. Dari mobil hingga motor. Mark tampak menimbang, mana kendaraan yang akan digunakannya sore itu. Hingga pilihannya jatuh ke sebuah motor sport Ducati Panigale V4 Superleggera berwarna merah.



Mark pun segera naik ke atas kuda besinya lalu mengenakan helm. Setelahnya, ia menyalakan motornya sebentar sambil menggeber-gebernya. Setelah motornya cukup siap untuk dilajukan, Mark pun segera melajukannya. Awalnya Mark menggunakan kecepatan standar, tapi saat di jalanan yang lengang, Mark menaikkan kecepatan motornya. Apalagi waktu sudah cukup sore. Sebentar lagi Adisti pulang. Ia tak ingin terlambat menjemputnya wanita pujaan hatinya itu.


Saat Mark berhenti di lampu merah, mata Mark memicing ketika melihat sebuah toko yang menjual jaket wanita. Mark pun berinisiatif membelikan Adisti sebuah jaket agar sama seperti dirinya. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Mark pun kembali memacu motornya menuju Restoran Luxurious. Tak butuh waktu lama, hanya dalam 10 menit, Mark pun sudah tiba di depan restoran Luxurious.


"Anda ingin menjemput nona Adisti, Tuan?" tanya keamanan yang memang sering melihat Mark datang ke sana. Kadang bersama Rainero, kadang menjemput Adisti. Namun karena Mark datang tanpa Rainero, dapat dipastikan ia ingin menjemput Adisti.


"Iya, pak. Dia belum pulang kan?" tanya Mark balik sambil menarik pengait helm untuk melepaskannya.


"Wah, sayang sekali, Anda terlambat beberapa menit. Nona Adisti telah pulang sekitar 10 menit yang lalu," ujar pria paruh baya tersebut.


"Apa?" Mark terkejut. Ia pun tidak jadi melepaskan helmnya dan segera menyalakan motornya kembali. "Pak, tadi Adisti naik apa?"


"Sepertinya jalan kaki, tuan, soalnya dia lewat jalan itu."


Mata Mark pun membulat. Bila Adisti memang jalan kaki, artinya ia belum terlalu jauh dari sana. Mark masih memiliki waktu untuk menyusulnya. Ia pun mengucapkan terima kasih pada keamanan tersebut dan segera melajukan kuda besinya menuju gedung apartemen Adisti.


Baru beberapa menit melaju, Mark tersenyum saat melihat penampakan seorang gadis yang ia yakini adalah Adisti tengah berjalan dari kejauhan. Mark terus melajukan kuda besinya, tapi tiba-tiba ia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di belakang Adisti. Lalu dari dalamnya keluar seorang berpakaian serba hitam dan wajah ditutup masker. Kemudian laki-laki itu dengan secepat kilat, membekap mulut Adisti menggunakan sesuatu yang ada di tangannya lalu memasukkannya ke dalam mobil. Laki-laki itupun segera menyusul masuk dan mengemudikan mobilnya kembali.


Mark terkesiap sampai menegang dan hampir terjatuh dari motornya saat melihat hal tersebut. Mark lantas menaikkan kecepatan motornya mengejar mobil itu.


Beberapa saat sebelumnya,


Di sebuah rumah mewah, tampak seorang wanita paruh baya dengan raut wajah penuh kemarahan tengah bertengkar dengan sang suami.


"Ini semua karena kau. Gara-gara sifatmu yang angkuh itu, perusahaanku bangkrut. Semua investor menarik investasi mereka. Kau tahu, pengaruh Alv Company di perusahaan kita sangat besar. Berkat Alv Company, perusahaan kita bisa bangkit dari keterpurukan. Berkat Alv Company, banyak investor lain yang melirik perusahaan kita. Tapi lihat, karena ulahmu, semua kerja kerasku hancur. Setelah Alv Company menarik investasi, kini yang lainnya pun ikut menarik investasi mereka. Semua hancur. Hancur. Kau mengerti, hancur," raung Austin murka pada sang istri yang memang sejak dulu selalu saja bersikap angkuh.


Yah, sebenarnya ini salah Austin sendiri. Austin tak pernah sekalipun menegur kesalahan istrinya. Ia menganggap wajar sikap istrinya. Tapi kini, akhirnya sikap istrinya pula yang menghancurkan mereka. Sikap sombong yang selalu mengagung-agungkan harta dan tahta, membuat mereka akhirnya benar-benar hancur.


"Kenapa kau menyalahkan aku? Ini salah wanita miskin itu. Karena ulahnya lah Alv Company sampai menarik investasi mereka. Aku yakin, perempuan miskin itulah yang meminta putra pemilik Alv Company menarik investasi mereka. Jadi jangan salahkan aku. Ini semua salahnya," bantah istri Austin yang tidak terima disalahkan. Mereka terus bertengkar dan bertengkar. Karena tidak terima terus-terusan disalahkan, perempuan bernama Christina itupun meninggalkan suaminya.


Di dalam kamar, Christina lantas menghubungi seseorang.


"Culik perempuan yang ada di foto yang barusan aku kirim lalu singkirkan dia jangan sampai meninggalkan jejak!" titah Christina pada seseorang yang ada di seberang telepon.

__ADS_1


Laki-laki itupun mengiyakan. Christina lantas mentransfer sejumlah uang sebagai uang muka. Sisanya akan dibayarkan setelah misi berhasil.


Kembali ke jalanan ibu kota. Mark masih terus berusaha mengejar hingga ke jalan raya. Laki-laki yang menculik Adisti akhirnya sadar kalau ada seseorang yang melihat aksinya menculik Adisti dan mengejarnya. Ia pun menaikkan kecepatan mobilnya. Mobil sedan yang sepertinya sudah dimodifikasi sehingga memiliki kecepatan cukup tinggi itupun melaju kencang.


Mark pun tidak tinggal diam. Ia pun menaikkan kecepatan motornya hingga akhirnya bisa menyusul mobil penculik tersebut. Kini motor Mark telah berada tepat di sisi kanan mobil sedan hitam tersebut. Mark menekan klaksonnya berkali-kali, tapi mobil itu tak mau berhenti. Ia justru kembali menaikkan kecepatan mobilnya hingga terjadilah aksi kejar-kejaran.


Sebenarnya bisa saja ia langsung menghadang mobil tersebut, tapi hal tersebut tentu besar risikonya. Bukan hanya membahayakan dirinya, tapi juga Adisti. Di negara itu, ia tidak memiliki kuasa apapun. Dia hanya orang asing di sana. Mark terus berpikir, bagaimana cara aman untuk menghentikan mobil penculik tersebut. Hingga terlintaslah di pikirannya untuk meminta bantuan pada Rainero. Tak menunggu waktu lama, Mark pun segera menghubungi Rainero.


Sudah lebih dari 30 menit Mark mencoba mengejar mobil tersebut. Entah kemana mobil itu akan membawa Adisti. Rasa cemas menggelayuti benak Mark.


"Hallo," ucap seseorang dari seberang telepon. Mark bersyukur ternyata panggilannya langsung diangkat oleh Rainero. Ia pun segera mengutarakan maksudnya menghubungi Rainero.


"Tuan, aku butuh bantuanmu!" ujar Mark.


Di seberang telepon, Rainero yang sedang memperhatikan si kembar menyusu pada sang ibu pun segera beranjak dari sana. Ia dapat merasakan kalau ada yang penting yang ingin Mark sampaikan.


"Apa?"


"Tuan, Adisti diculik. Aku sedang mengejarnya. Tapi aku sulit untuk menghentikannya. Bisa kau membantuku?"


Rainero tentu saja terkejut dan langsung mengiyakan.


"Aku tahu Anda mengenal banyak petugas kepolisian, tolong bantu aku untuk mengejar mobil sedan hitam dengan plat XXX. Sekarang kami ada di jalan XYZ. Aku khawatir, laki-laki itu akan melakukan hal yang membahayakan nyawa Adisti."


Rainero yang sangat tahu kalau Adisti bukan sekedar sahabat bagi Shenina pun segera mengiyakan. Ia pun segera menghubungi petugas kepolisian yang ia kenal untuk membantu Mark sesegera mungkin.


Tiba-tiba mobil yang membawa Adisti masuk ke jalan menuju area perbukitan. Hati Mark makin cemas tak terkendali. Ia pun nekat menyerempet mobil tersebut agar mau berhenti. Tak peduli bagaimana keadaan dirinya, yang penting ia harus bisa menyelamatkan Adisti.


Brakkkk ...


Bruukkk ...


"Adisti, bangun Sayang!" teriak Mark berharap Adisti segera membuka matanya. Laki-laki di balik kemudi hanya tersenyum remeh.


"Adisti ... " pekik Mark lagi.


Adisti yang samar-samar mendengar namanya dipanggil pun mengerjapkan mata.

__ADS_1


Brukkk ...


"Aaaakh ... " pekik Adisti saat kepalanya membentur sandaran kursi depan saat mobil itu diserempet paksa oleh Mark. Akhirnya Adisti benar-benar membuka lebar netranya. Matanya terbelalak saat menyadari kalau ia sedang berada di dalam sebuah mobil yang entah milik siapa.


"Adisti ... " pekik Mark lagi.


Adisti menoleh ke jendela samping. Matanya terbelalak saat melihat Mark sedang mengejar mobil itu dengan motor Ducatinya.


"Hei, kau, katakan kau siapa? Mengapa aku ada di dalam mobilmu?" pekik Adisti.


Laki-laki itupun terkejut. Tadi ia terlalu fokus dengan jalanan dan juga Mark membuatnya tak sadar kalau Adisti telah sadarkan diri.


"Sial," umpatnya kesal. Padahal seharusnya ia telah merealisasikan tugasnya sejak tadi. Rencananya ia akan melempar Adisti ke dalam jurang agar tak ada yang dapat menemukan dirinya. Tapi karena sibuk menghindari kejaran Mark, membuatnya mengulur waktu.


"Hei kau, kenapa diam saja? Kau pasti penculik kan? Katakan, siapa yang menyuruhmu menculikku? Katakan!" teriak Adisti.


"Tutup mulutmu, brengsekkk!" bentak laki-laki itu yang sudah kehilangan kesabaran. Laki-laki itu lantas membanting stir sengaja menabrakkan mobilnya dengan motor Mark yang terus mengejar. Ia telah jengah melihat Mark terus mengejarnya.


Brakkkkk ...


Bruakkkk ...


Citttt ...


"Mark ... "


Teriak Adisti saat motor Mark tergelincir hingga laki-laki itu ikut terseret beberapa meter dari posisinya semula. Jantung Adisti bergemuruh kencang. Rasa khawatir membuat dirinya ketakutan.


Tiba-tiba di udara terdengar suara baling-baling helikopter yang berputar kencang. Mata sopir itu terbelalak. Di saat yang sama Adisti berusaha menarik tangan laki-laki itu agar dapat menghentikan laju mobilnya. Laki-laki itupun terkejut. Membuatnya reflek membanting stir.


"Hentikan mobilnya, sialan!" maki Adisti.


Dari atas sana, terdengar seruan agar ia menghentikan laju mobil tersebut. Tapi laki-laki itu tak mau berhenti. Adisti terus berusaha melawan, bahkan ia sampai mengigit lengan laki-laki itu hingga akhirnya mobil itu benar-benar kehilangan keseimbangannya dan meluncur bebas ke dalam sebuah danau di depannya.


Byurrrr ...


"Adisti ... "

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2