
Shenina baru saja keluar dari kamarnya. Dress berwarna biru laut itu ternyata begitu cocok dengan kulit putih Shenina. Dilehernya melingkar kalung mutiara yang cantik berkilau. Tak lupa telinga dan pergelangan tangan pun dihiasi perhiasan serupa. Dengan sentuhan make up minimalis membuat calon ibu muda itu tampil makin bersinar. Adisti dan Gladys sampai terkagum-kagum melihat penampilan Shenina.
"Yok mbak, ikut kami," ajak Adisti sambil merangkul lengan Shenina keluar dari kontrakan.
"Sebenarnya kalian mau bawa aku kemana sih?" tanya Shenina lagi yang kebingungan sekaligus penasaran. Apalagi saat kedua orang itu memandunya masuk ke sebuah mobil Limosin yang entah sejak kapan telah berada di depan kontrakannya. Gara-gara keberadaan mobil mewah itu, banyak warga yang berkumpul sambil berbisik-bisik penasaran, sebenarnya punya siapa mobil itu.
"Kamu nurut aja kenapa sih? Nanti juga tahu sendiri. Ayo, buruan masuk! Pangeran mu sudah menunggu kedatangan sang putri," ujar Gladys sambil terkekeh.
"Ih, kalian nyebelin banget sih pake rahasia-rahasiaan segala," omel Shenina, tapi ia tetap menuruti perintah kedua temannya itu.
"Shen," panggil seseorang membuat ketiga orang itu menoleh. Seseorang itu seketika terpana pada kecantikan di calon ibu muda itu. "Cantik," gumamnya.
Plakkk ...
"Jangan kelamaan liatnya! Entar pangeran Mbak Bule ngamuk, tau rasa," kelakar Adisti membuat Wayan menekuk wajahnya.
Mengabaikan kelakar Adisti, Wayan justru bertanya pada Shenina, "kau mau kemana, Shen?" tanyanya penasaran.
"Aku pun tidak tahu. Entah mereka merencanakan apa. Mereka cuma minta aku ganti pakaian terus naik mobil ini," jawab Shenina. Lantas ia pun menoleh ke arah Adisti dan Gladys, "kalian berdua, ayo masuk!"
Adisti dan Gladys menyengir lebar, "kami nggak ikut, Shen. Kamu pergi sendiri aja. Bye ... semoga harimu menyenangkan," seru Adisti dan Gladys setelah menutup pintu mobil. Tak lama kemudian, mobil pun melaju meninggalkan ketiga orang itu.
"Udah Bli Wayan, nggak usah cemberut, entar jadi jelek lho," goda Adisti.
Mata Wayan mendelik, "itu pasti rencana laki-laki sombong itu kan? Kenapa kalian justru lebih mendukung dia sih? Bukannya laki-laki itu telah menyakiti Shenina, terbukti Shenina sampai kabur ke sini, tapi kenapa kalian lebih mendukung dia dibandingkan aku?" ketus Wayan.
Gladys menyeringai, "perasaan itu tidak bisa dipaksakan, bos. Apalagi yang Shenina kandung itu anak Mr. Rain. Jadi orang nggak boleh jahat dong, tega bener mau misahin calon baby sama ayahnya. Terlepas dari Mr. Rain pernah bersalah di masa lalu, tapi dia sudah berusaha menebusnya.
Shenina pun sudah memaafkan. Sebaiknya kau ikhlaskan Shen, Yan. Kalau kau memang menyayanginya, maka kau pun pasti akan senang melihatnya bahagia," pungkas Gladys membuat Wayan tercenung.
Sementara itu, Shenina yang sedang berada di dalam mobil tampak kebingungan sebab jalan yang ia lewati merupakan jalan yang tak pernah Shenina lalui sebelumnya. Matanya bergulir memperhatikan setiap sisi mobil yang tergolong salah satu mobil mewah tersebut.
Shenina ingin bertanya pada sopir di depan, tapi sayang antara kursi belakang dan kursi pengemudi dibatasi oleh sebuah pembatas membuatnya tidak bisa berkomunikasi dengan sopir di depannya.
"Sebenarnya mobil ini mau membawaku kemana? Ck ... Disti dan Gladys benar-benar menyebalkan," gumam Shenina. Ia menghembuskan nafas, lalu merogoh ponselnya dalam tas kecil yang ia bawa. Diperiksanya pesan yang terakhir ia terima dari Rainero, sudah lebih dari 24 jam, tapi Rainero belum juga menghubunginya kembali.
"Dia kemana sih? Dasar menyebalkan!" gerutunya kesal. Kemudian ia kembali menyimpan ponselnya tanpa ingin mencoba menghubungi Rainero lebih dahulu. Gengsi. Ya, wanita hamil itu merasa gengsi.
Tak lama kemudian, mobil Shenina berhenti di tepi pantai. Pantai itu sebenarnya cukup ramai, tapi anehnya tempat mobil itu berhenti justru sepi. Bahkan nyaris tidak ada satu orang pun di sana seolah tempat itu memang disiapkan untuk dirinya.
"Ck ... jangan ge'er kau, Shenina. Memangnya siapa yang bisa membooking pantai sampai seperti ini? Buang-buang uang saja."
__ADS_1
Ceklek ...
Pintu mobil terbuka. Sopir tadi lah yang membukakan pintu untuknya.
Dengan hati-hati, Shenina turun dari dalam mobil. Shenina terperangah sebab tempat kakinya menginjak sudah terbentang karpet merah. Ia sudah seperti artis yang akan menghadiri perhelatan akbar saja.
"Silahkan ikuti petunjuk yang ada di papan itu, Nona," ujar sang sopir seraya menunjuk ke papan yang terdapat tanda panah. Shenina mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya, Shenina pun berjalan mengikuti petunjuk hingga tak lama kemudian Shenina melihat seseorang yang menggunakan setelan jas serba putih yang membelakanginya. Shenina terus berjalan mendekati seseorang itu. Saat jarak mereka mulai terkikis, seseorang itupun membalikkan badannya.
Mata Shenina terbelalak dengan mulut menganga. Sosok yang berdiri di hadapannya itu tersenyum lebar membuat kadar ketampanannya meningkat berkali lipat.
"Rain ... kamu ... "
Shenina terkejut. Bukankah Rainero seharusnya berada di Jepang saat ini, tapi mengapa ia sudah berada di hadapannya?
Rainero mendekat lalu menyerahkan buket mawar merah pada Shenina. Shenina menerimanya dengan hati membuncah bahagia.
"Surprise," ucap Rainero membuat Shenina mendelik.
"Kenapa kau tidak mengabari ku kalau sudah pulang?" protes Shenina.
"Kamu aku sudah bilang surprise. Bukan surprise kalau bilang-bilang," ujar Rainero sambil tersenyum lebar.
"Kalian ternyata kerja sama. Bagus sekali jadi mereka sudah lebih dulu tahu kepulanganmu daripada aku," omel Shenina. "Tapi karena kau sudah menyiapkan kejutan ini aku akan memaafkanmu," ujar Shenina sambil menatap ke belakang Rainero. Di sana ternyata sudah ada meja bundar dengan berbagai hidangan dan sebotol wine. Lalu ia mencium bunga mawar merah yang ada di dalam pelukannya.
Shenina terkekeh kemudian mendekati Rainero dan cup ... secepat kilat Shenina memberikan kecupan di pipi Rainero membuat pria itu tersenyum dengan wajah memerah. Rainero sudah seperti abg yang baru saja berpacaran. Benar-benar menyenangkan.
"Sebenarnya masih kurang, tapi terima kasih. Biar nanti aku ganti berkali lipat," ujar Rainero seraya terkekeh. Shenina mendelik paham maksudnya. Shenina lantas memalingkan wajahnya yang tiba-tiba memerah saat mengingat ciuman terakhir mereka sebelum Rainero berangkat ke Jepang.
Rainero lantas membimbing Shenina menuju kursi. Rainero melayani Shenina dengan sangat baik.
"Kau ih menyuruhku minum itu?" tunjuk Shenina ke arah botol wine.
Rainero menggeleng dengan tegas, "tentu tidak, Sweety. Ini khusus untukku. Kalau untukmu, nanti datang setelah makan selesai."
Shenina tersenyum. Ia begitu menikmati bagaimana cara Rainero melayaninya.
"Aku tak menyangka, laki-laki dingin dan arogan sepertimu bisa melayani seorang perempuan dengan begitu telaten. Aku jadi iri dengan mantanmu itu karena bisa mendapatkan perhatian sebesar ini lebih dahulu."
Rainero mendongakkan wajahnya, "untuk apa iri Sweety. Harus kau ingat, dia hanya bagian dari masa lalu, sedangkan kau ... kau adalah masa depanku. Orang yang akan menghabiskan sepanjang usianya denganku. Orang yang akan jadi pemilikku satu-satunya. I'm yours, Sweety. The one and only," ucap Rainero seraya menatap lekat ke netra biru safir Shenina.
Bagaimana Shenina tidak berdebar bahagia kalau Rainero bersikap semanis ini padanya.
__ADS_1
"Aku harap ini bukan hanya sekedar bualan ataupun gombalan saja," sahut Shenina.
"Tentu saja. Sebagai bukti, setelah menikah kita akan melakukan perjanjian pranikah. Bila aku sampai menyakitimu apalagi mengkhianatimu, maka semua asetku akan berpindah padamu dan anak-anak kita, bagaimana?"
Shenina bungkam. Ia tak menyangka Rainero akan berbuat sejauh itu untuk membuktikan kesungguhannya.
"Aku tidak membutuhkan itu, Rain. Yang aku butuh hanyalah kesungguhanmu. Tapi bila kau tetap ingin melakukannya, aku takkan mencegah. Sebab bisa saja kau telah berusaha setia, tapi kita tidak tahu wanita di luar sana, bisa saja karena terobsesi padamu mereka akan melakukan berbagai cara. Dan aku yakin, setelah mereka tahu kalau semua hartamu itu adalah milikku dan anak-anak kita, mereka pasti akan segera mundur," ujar Shenina seraya memainkan alisnya.
Rainero tergelak tak menyangka akan jalan pikiran Shenina bisa sejauh itu. Tapi setelah dipikir-pikir, memang begitu lah wanita. Jalan pikiran mereka memang cenderung lebih maju dan jauh dari pola pikir pria.
Rainero mengangguk, "luar biasa. Aku tak menyangka kau akan berpikir sejauh itu, tapi no problem. Apa yang kau katakan benar juga. Jadi ... mari kita makan. Aku sudah tidak sabar untuk menyantap dessert kita."
"Makan utamanya saja belum, kau sudah memikirkan makanan penutup."
Shenina menggeleng seraya tersenyum. Mereka pun melanjutkan agenda makan malam itu. Langit yang makin pekat, tampak indah dari biasanya. Bintang-bintang bertaburan menambah keindahan di langit yang menjelaga.
Setelah makanan utama selesai, seorang pramusaji mendorong troli dan meletakkan dessert ke atas meja. Dessert Shenina berupa puding dengan campuran es krim stroberi, coklat, dan vanilla. Ada sebuah stroberi segar di atasnya membuat Shenina menelan ludahnya sendiri.
Tak sabar menyantap puding es krim itu, Shenina pun langsung meminta izin Rainero untuk menyantapnya. Shenina menyantap es krim itu dengan mata memejam, menikmati setiap bulir rasa yang benar-benar pecah di mulutnya.
Saat sedang menyantap es krim, tiba-tiba Shenina merasakan ada suatu benda bulat dan keras di dalam mulutnya. Di saat bersamaan terdengar suara derungan sebuah helikopter yang mengudara tepat di atas pantai. Tak lama kemudian, helikopter itu membentangkan spanduk berukuran super besar membuat mulut Shenina menganga. Kemudian ia melirik benda keras yang tadi ada di dalam mulutnya. Mata Shenina seketika terbelalak. Netra itu menatap tak percaya pada apa yang ada di depannya saat ini.
"Ini ... " Netra Shenina berkaca-kaca. Apalagi saat membaca tulisan yang ada di spanduk tersebut.
...WILL YOU MARRY ME?...
Rainero lantas mengambil cincin yang tadi Shenina pegang. Kemudian Rainero berjongkok di hadapan Shenina sambil menyodorkan cincin di tangannya membuat Shenina sampai menutup mulutnya.
"Shenina, aku tahu perbuatanku di masa lalu mungkin sangat menyakitimu. Dan aku tahu, pasti sulit untuk melupakan kesalahanku itu. Namun, kau dengan besar hati memaafkan, bahkan menerima diriku. Shenina, aku mungkin tak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha dan terus berusaha membahagiakanmu dan menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku. Shenina, meskipun sebelumnya kau telah menerima lamaranku, tapi aku sadar, lamaranku saat itu belum lah layak. Maka dari itu, di kesempatan ini, aku ingin melamar mu kembali. Shenina, Will you marry me?"
Rinai air mata membasahi pipi Shenina. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan lamaran sedemikian indah ini. Tanpa ragu, Shenina pun mengangguk dan mengulurkan tangannya.
Dengan senyum lebar, Rainero pun menyematkan cincin bermata biru safir, sama seperti netra sang wanita itu ke jari manisnya. Di saat bersamaan, tiba-tiba langit bersinar cerah. Kembang api pecah menghiasi langit membuat malam itu kian indah tak terkira.
Rainero lantas berdiri saling berhadapan dengan Shenina. Ia lantas memangkas jarak dan mulai mendekatkan wajahnya. Rainero meletakkan salah satu telapak tangannya di tengkuk Shenina, sedangkan satunya merengkuh pinggang. Shenina yang paham apa yang Rainero hendak lakukan pun memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, mereka pun saling menautkan bibir mereka.
Di bawah gemerlap langit malam, mereka saling memagut, mencecap, dan melu mat. Mereka lakukan itu dengan lembut dan penuh kehangatan. Tak ada napsu. Yang ada hanya rasa cinta yang kian membuncah, mengalir di setiap sendi hingga pembuluh darah.
...***...
Halo para pembaca Abang Hujan semuanya, maafin othor baru sempat update. Hari ini othor benar-benar sibuk. Maafin juga hari ini cuma bisa update satu bab. Tapi bab nya puanjaaaang ya. Semoga suka. ❤️❤️❤️
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...