Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 168 (S3 Part 11)


__ADS_3

Jefrey kini sudah ditangani oleh dokter. Sementara itu wanita yang usianya masih cukup muda dengan anaknya sedang duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan pemeriksaan.


"Nyonya, bagaimana kalau Anda saya antar ke apartemen dulu. Setelah itu, saya akan kembali lagi ke sini untuk mengurus anak tadi," tawar Luke, sopir pribadi sekaligus bodyguard wanita yang tengah hamil itu.


Wanita itupun menggeleng, "tidak. Aku akan menunggu anak itu sampai sadar. Kasihan dia. Aku takut dia sampai kenapa-kenapa. Bagaimana pun aku juga seorang ibu, entah sehancur apa hati orang tuanya saat mengetahui keadaan anaknya yang seperti ini," ujar wanita yang tak lain adalah Adisti tersebut. "Kira-kira anak itu siapa ya? Kenapa wajahnya begitu familiar? Aku seakan begitu mengenalnya," gumam Adisti merasa penasaran.


"Saya juga belum tahu, Nyonya. Saya tidak menemukan identitas apapun di dalam tasnya. Hanya ada nama anak dan nama sekolah anak itu yang tertera di bukunya," ujar Luke.


"Begini saja, coba kamu datangi sekolah tersebut, siapa tahu masih ada staf di sana jadi kita bisa meminta informasi mengenai anak ini," ujar Adisti yang langsung diangguki oleh Luke.


"Uncle Luke, Arquez boleh ikut?" tanya Arquez yang memang merasa bosan berada di sana.


Luke menoleh ke arah sang nyonya, Adisti pun mengangguk mengizinkan.


"Hati-hati bawa mobilnya, Luke," ujar Adisti memberikan peringatan.


Luke mengangguk, "baik, nyonya. Kalau begitu, saya permisi."


Lalu Luke mengangkat Arquez ke dalam gendongannya dan membawa bocah 3 tahun itu menuju mobilnya. Setelah berada di dalam mobil, Luke pun melajukan mobilnya menuju salah satu preschool terbaik di kota itu.


Sementara itu, Eve dan temannya baru saja keluar dari hotel. Baru saja Eve hendak masuk ke dalam mobil, seketika ia mengingat sesuatu.


"Jefrey?" gumam Eve yang baru saja mengingat anak laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Ada apa Eve?" tanya teman Eve, Lynda.


"Lyn, dimana Jefrey?" tanyanya membuat Lynda terbelalak.


"Astaga, aku benar-benar tidak tahu," ujar Lynda yang ikut panik. "Sebentar, sebentar, bukankah sebelumnya ia ada bersama kita saat di restoran. Setelah itu ... "


Mata Eve terbelalak. Kemudian ia pun gegas berlari kembali masuk ke dalam hotel diikuti Lynda di belakangnya. Mereka berlari dengan terburu menuju salah satu restoran di hotel tersebut yang untungnya ada di lantai 1. Jadi mereka tak butuh waktu lama untuk kembali ke sana.


Mata Eve dan Lynda tampak menyapu ke sekitar, tapi mereka tidak menemukan Jefrey dimana pun. Eve lantas bertanya ke salah satu waiters di sana, tapi tak ada yang menyadari keberadaan Jefrey di sana. Eve lantas meminta izin melihat melalui rekaman cctv, manajer restoran itupun membantu Eve mencari keberadaan Jefrey melalui rekaman cctv.


Mata Eve dan Lynda tampak terfokus ke beberapa layar segiempat di ruangan khusus keamanan restoran. Rekaman tersebut menampilkan keadaan beberapa sudut restoran. Hingga akhirnya mereka melihat rekaman beberapa saat sebelum mereka meninggalkan Jefrey seorang diri di meja tempat mereka makan sebelumnya. Setelah itu, Eve dan Lynda keluar tanpa menghiraukan Jefrey yang duduk terdiam di meja tersebut. Mungkin karena bosan terlalu lama menunggu Eve dan Lynda yang tak kunjung kembali, Jefrey pun keluar entah kemana.


Eve menyugar rambutnya frustasi. Tadi memang Eve menjemput Jefrey untuk menjemput sang ayah yang baru akan pulang pukul 2 siang itu. Namun karena penerbangannya delay, jadi Eve mengajak Jefrey ke hotel terlebih dahulu untuk bertemu teman dekatnya. Namun karena Eve yang memang tidak biasa mengurus Jefrey jadi melupakan keberadaan anak itu.


Eve mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lora. Siapa tahu Jefrey sudah pulang ke rumah saat ini. Meskipun rasanya tak mungkin sebab Jefrey selain baru berusia 3 tahun, ia juga tidak mengerti jalan sebab selama ini ia selalu diantar sopir kemanapun.


"Halo," ucap Eve pelan. Berharap ternyata Jefrey sudah berada dengan sang ayah.


"Halo, katakan kau ada dimana? Aku ingin menjemput Jefrey sekarang juga," ujarnya to the point.


Eve seketika gugup setelah mengetahui Jefrey tidak bersama sang suami.


"Jefrey ... Jefrey ... "

__ADS_1


"Jangan bertele-tele! Cepat katakan saja kalian dimana? Aku tak ingin mental anakku makin hancur karena ikut denganmu," desis Jevian yang jantungnya sebenarnya sudah berdegup kencang sejak tadi.


"Jefrey, menghilang."


"APA???" seru Jevian benar-benar terkejut. Jevian kini sadar mengapa jantungnya berdetak begitu kencang sejak tadi.


"Kau benar-benar gila, Eve. Sebenarnya otakmu ada di mana, hah? Bagaimana bisa baru sebentar Jefrey bersamamu, tapi kau sudah kehilangan dia? Awas saja bila terjadi sesuatu pada Jefrey, aku bersumpah akan segera menceraikan mu saat itu juga," tegas Jevian tak bisa diganggu gugat lagi.


Eve sampai terperanjat mendengar ancaman Jevian. Namun bukannya takut, ia justru terkekeh.


"Cerai? Memangnya kau bisa apa, hah? Sepertinya dia sudah lupa konsekuensi bercerai denganku," ujar Eve penuh percaya diri.


Setelah menutup panggilan telepon, Jevian pun segera keluar dari dalam kantornya. Ia juga menghubungi Lora untuk membantunya mencari Jefrey ditemani sopir yang biasa mengantar jemput Jefrey sekolah.


Semburat senja sudah mulai menghiasi langit yang semula berwarna biru. Namun sepanjang jalan Jevian mencari, ia tak kunjung menemukan keberadaan Jefrey. Jefrey benar-benar panik saat ini. Namun ia tidak putus asa. Begitu juga dengan yang Luke lakukan. Ia bingung mencari tahu identitas Jefrey. Tadi Luka sudah pergi ke sekolah, tapi sekolah tersebut telah sepi. Tak ada satupun orang yang bisa ia tanyai membuat Luke pusing bukan main.


Sementara itu, di rumah sakit, Jefrey tampak mengerjapkan matanya. Adisti yang sudah di dalam kamar rawat Jefrey pun gegas mendekat saat melihat Jefrey sudah hendak membuka matanya.


"Hai boy, kau sudah bangun?" tanya Adisti begitu lembut.


Mata Jefrey sampai tak mampu berkedip sama sekali.


"Mommy," lirih Jefrey dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2