
Plukkkk ...
Tiba-tiba saja Rainero memeluk Shenina dari belakang. Shenina yang baru saja bisa menetralkan degupan jantungnya yang menggila seketika kembali menegang.
"Rain ... " Shenina hendak protes tapi Rainero malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku melamarku bukan semata-mata untuk menebus rasa bersalahku. Ya, aku memang merasa bersalah dan penyesalan ini sungguh menyiksaku. Tapi aku punya alasan yang lebih besar kenapa aku ingin menikahimu," ucap Rainero tepat di samping telinga Shenina.
"A-apa itu?" tanya Shenina gugup.
"Cinta ... itu karena aku mencintaimu. Aku, Rainero Sanches sudah jatuh cinta padamu, Shenina Aurora," ucapnya sambil menatap lekat wajah Shenina dari samping. Shenina ingin melepaskan pelukan Rainero, tapi entah kenapa tubuhnya justru merasa nyaman dengan pelukan itu. Seolah otak dan tubuhnya tidak sinkron.
Shenina terkekeh, "benarkah? Jangan membual, Rain. Aku sudah menjadi sekretaris mu selama 2 tahun dan aku sangat tahu betapa kau mencintai nona Delianza. Apa mungkin kau bisa jatuh cinta pada perempuan sepertiku. Perempuan yang sangat jauh berbeda dari nona Delianza yang nyaris sempurna. Ibarat kata, dia seorang putri, sedangkan aku hanyalah seorang upik abu, bagai bumi dan langit, apa mungkin?"
Shenina tidak mudah percaya begitu saja dengan perkataan Rainero. Jatuh cinta itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana bisa Rainero yang ia ketahui sangat mencintai Delianza tiba-tiba mengungkapkan kalau ia mencintainya. Jelas saja ia tak semudah itu percaya.
"Tapi itulah kenyataannya. Aku memang benar-benar mencintaimu. Entah sejak kapan, namun satu yang pasti aku telah jatuh cinta padamu," tegas Rainero yang terus berusaha meyakinkan Shenina.
"Kalaupun benar, tapi tetap tidak semudah itu."
"Kenapa lagi?" Rainero lantas membalikkan badan Shenina sehingga kini mereka saling berhadapan kembali. Jantung keduanya selalu saja berdegup dengan kencang setiap kali mereka saling bertatapan.
"Jangan lupa dengan kelakuanmu setahun belakangan ini dan gelar yang tersemat di belakang namamu. Aku tak bisa hidup dengan laki-laki yang gemar melakukan hal tak terpuji seperti itu."
Rainero tertegun. Ia paham apa yang Shenina maksud. Apalagi kalau bukan gelar cassanova karena kelakuannya yang kerap melakukan one night stand dengan para wanita bayaran. Bahkan ada dari mereka yang merupakan rekan bisnisnya sendiri. Semua tentu dilakukan atas suka sama suka, tapi bukan cinta.
"Percayakah kamu kalau aku bilang kaulah perempuan terakhir yang aku sentuh? Tak ada lagi yang lain. Sejak malam itu, sungguh, aku tak pernah melakukannya lagi. Kau seakan menghukumku secara tidak langsung. Yang aku inginkan hanyalah kamu. Tak ada yang lain lagi."
...***...
__ADS_1
Rainero dan Shenina kini telah berada di sebuah klinik ibu dan anak. Mereka tengah menunggu antrian giliran mereka. Bila bulan lalu ia ditemani Adisti, kini ia ditemani Rainero. Sungguh ia tak menyangka kalau laki-laki ini mencintainya. Jujur saja, ia belum bisa mempercayai sepenuhnya. Mengingat bagaimana sepak terjang laki-laki itu, wajar kan kalau ia meragu?
"Atas nama Ibu Shenina, ada?" panggil seorang perawat yang sepertinya merupakan asisten dokter obgyn di klinik itu.
Shenina pun gegas berdiri sambil mengangkat tangannya.
"Saya," sahut Shenina. Kemudian ia berjalan mendekat didampingi Rainero.
Mereka lantas dipersilahkan masuk. Setelahnya, Shenina pun mulai melakukan pemeriksaan.
"Perkembangan twins bagus. Perkembangan tubuh dan organ-organnya semuanya bagus. Berat badan ibu dan janin Anda juga sangat bagus. Sepertinya suami Anda mengurus Anda dengan sangat baik," ucap dokter tersebut sambil tersenyum lebar. Dokter itu menjelaskan menggunakan bahasa Inggris sebab Shenina telah menjelaskan terlebih dahulu kalau Rainero tidak mengerti bahasa Indonesia.
Mata Rainero terbelalak. Ia benar-benar tidak menyangka kalau benihnya bisa tumbuh dengan sangat baik, bahkan bukan hanya ada satu, tapi ... dua.
Ia tidak menyangka akan dikaruniai anugerah seindah ini. Rainero yang merasa amat sangat bahagia lantas segera memeluk Shenina yang masih terbaring di atas brankar. Dipeluk dan dikecupnya dahi Shenina dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Shen. Terima kasih karena kau telah mempertahankan dan menjaganya dengan baik. Aku benar-benar bodoh karena nyaris saja membuang sesuatu yang berharga. Terima kasih kau telah memaafkan bajingaan ini. Semoga saja secepatnya kau mau menerima perasaanku dan bersedia menikah denganku. Bukan hanya demi aku, tapi juga demi mereka dan ... kebahagiaanmu. Karena kebahagiaanmu kini menjadi prioritas utama bagiku."
Belum lagi track record Rainero selama ini. Apa mungkin Rainero bisa meninggalkan semua kebiasaan buruknya itu? Bagaimana setelah ia menerima laki-laki itu, justru ia kembali pada kebiasaan lamanya? Shenina tak sanggup membayangkan semua itu terjadi padanya. Hidupnya telah dipenuhi kepahitan selama ini dan ia tidak sanggup kalau harus kembali mengalami kepahitan dalam berumah tangga.
...***...
Selepas melakukan pemeriksaan kehamilan, Rainero pun mengajak Shenina makan di sebuah restoran ternama. Namun saat makan, tiba-tiba saja Axton menghubunginya.
"Ada apa? Siapa yang telepon?" Shenina memicing curiga saat melihat ekspresi Rainero yang tampak tidak baik-baik saja.
Rainero menghela nafasnya, "ada masalah di perusahaan. Dan Axton memintaku segera kembali sebab ia tidak bisa menanganinya seorang diri," ucap Rainero.
Tiba-tiba perasaan Shenina yang tadinya ceria mendadak suram. Entah mengapa ia merasa tak rela Rainero pergi meninggalkannya. Tapi untuk melarang pun ia tak kuasa.
__ADS_1
"Sepertinya sore ini aku harus segera terbang pulang. Ku harap, sekembalinya aku ke mari, kau sudah bisa memberikan jawaban atas lamaranku," ucapnya dengan seulas senyum manis.
Shenina hanya bisa mengangguk dalam kebungkaman. Entah mengapa lidahnya mendadak kelu untuk mengungkapkan kekhawatirannya. Tapi memangnya siapa dirinya?
Sore harinya,
"Rain, boleh aku ikut mengantarkanmu ke bandara?" tanya Shenina tiba-tiba saat Rainero telah bersiap dengan Mark. Mereka akan menaiki taksi ke bandara. Mobil sewaan mereka telah dipulangkan.
"Sebenarnya aku akan merasa senang sekali kalau kau bersedia mengantar, tapi ... hari sudah terlalu sore. Sebentar lagi malam. Angin malam tidak baik untukmu dan kandunganmu. Kecuali ... kau mau ikut denganku pulang," goda Rainero membuat Shenina berdecak. Tapi enggan merespon.
Sebelum benar-benar pergi, Rainero lagi-lagi mencuri ciuman di pipi Shenina. Membuat mata perempuan itu membeliak. Kemudian ia mengusap perut Shenina dengan lembut, "Daddy pulang dulu ya! Jaga Mommy. Jangan biarkan Mommy lirik laki-laki lain, oke!"
Plakkk ...
Shenina memukul pundak Rainero yang bicara seenaknya. Rainero terkekeh, namun sudut matanya berembun. Sebulan bersama Shenina nyatanya membuat rasa cintanya kian membesar. Entah sanggupkah dia berjauhan dari Shenina dan anak kembarnya yang belum bisa dilihat jenis kelaminnya.
Seperginya Rainero, tiba-tiba Shenina merasakan kekosongan. Sebulan direcoki laki-laki itu ternyata cukup membuat rasa sepinya terobati. Dan kini rasa sepi dan hampa itu kembali melanda. Padahal saat ini ada Gladys dan Adisti di dekatnya.
"Mbak Bule, kok bengong dari tadi sih? Ayo makan, martabaknya keburu dingin lho? Katanya pingin makan martabak telor di ujung jalan sana, giliran udah dibeliin malah diaduk-aduk aja," cerocos Adisti yang kemudian dihadiahi keplakan oleh Gladys.
"Kayak nggak tahu aja, Shenina sedang merindu tuh," goda Gladys membuat Shenina memutar bola matanya jengah.
"Oooo ... pantes. Giliran dekat dimusuhin, dijauhi, dihindari, eh pas jauh dipikirin, dikangenin, nggak konsisten banget sih Mbak Bule," ejek Adisti membuat wajah Shenina makin ditekuk.
"Aku udah kenyang. Aku tidur duluan ya!" Shenina pun segera berdiri dan masuk ke kamarnya.
"Eh, eh, dia yang ajak kita kemari, malah dia yang ninggalin kita begitu aja," omel Adisti. Kemudian ia melirik ponselnya yang terdengar notifikasi pesan masuk. Seketika senyum Adisti melebar. Begitu pula dengan Gladys yang kini tengah sibuk berbalas pesan dengan seseorang. Ia pun segera membalas pesan itu dengan wajah berbinar. Berbanding terbalik dengan Shenina yang wajahnya tampak ditekuk sedari tadi.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...