
Rhea tak henti-hentinya menangis setelah mengetahui kalau keadaan Theo tidak baik-baik saja. Operasi memang berhasil, tapi Theo kini justru dinyatakan mengalami koma akibat cedera otak anoxic.
Cedera otak anoxic terjadi ketika otak kekurangan oksigen total. Perlu diketahui bahwa kekurangan oksigen selama beberapa menit saja menyebabkan kematian sel pada jaringan otak. Saat terjadi kecelakaan, fungsi mesin mobil memang seketika mati total. Jendela yang tertutup rapat dan asap tebal yang memenuhi mobil membuat pasokan oksigen kian menipis. Alhasil Theo pun mengalami cedera otak anoxic yang mengakibatnya mengalami koma. Ditambah benturan yang Theo alami membuat trauma pada kepalanya kian menjadi.
"Rhea, sudah. Kau sudah menangis sejak tadi. Ingat, kau sedang hamil saat ini. Ada calon anakmu yang perlu kau jaga. Bersedih berkepanjangan hanya akan membuat kandunganmu bermasalah," tukas Emery yang iba melihat keadaan menantunya yang tidak baik-baik saja.
Emery pun sebenarnya merasa hancur. Ibu mana yang tak hancur saat melihat keadaan sang anak yang tidak baik-baik saja. Sebenarnya Emery ingin mempertanyakan, sebenarnya apa yang sudah terjadi sehingga Theo bisa berada di daerah X dan berakhir mengalami kecelakaan di sana. Apalagi mobil ditabrak dalam keadaan menepi.
Polisi sudah memberikan keterangan. Menurut keterangan, kecelakaan tersebut bukanlah faktor kesengajaan. Sang penabrak dalam keadaan mabuk, ditambah cuaca yang berkabut, mobil Theo juga dalam keadaan berhenti, membuat pengemudi tidak bisa melihat secara jelas kalau ada mobil lain di depannya. Alhasil, pengemudi tersebut menabrak mobil Theo hingga terdorong jauh lalu terbalik. Tapi ternyata mobil penabrak mengalami hal yang lebih buruk sebab mobil tersebut justru terguling-guling lalu menabrak pagar pembatas jalan.
"Tapi Mom, Theo ... Theo ... Ini salahku, Mom. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku pergi hingga membuatnya khawatir dan mencari-cari keberadaan ku. Semua salahku. Salahku. Salahku," Rhea terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Theo.
Emery terdiam mendengar penjelasan singkat Rhea. Dapat ia simpulkan telah terjadi sesuatu diantara mereka berdua sehingga Rhea memilih pergi dan mengakibatkan kecelakaan ini terjadi.
"Sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Kita berdoa saja semoga Theo segera pulih dan sadar dari komanya," tukas Emery tidak ingin terlalu menyalahkan Rhea. Apalagi menantunya tersebut sedang hamil. Ia tidak ingin membuat Rhea makin tertekan yang mana justru bisa membahayakan janinnya.
"Lebih baik kau pulang dulu, membersihkan diri, lalu beristirahat. Jangan lupa makan dan minum vitamin mu. Jangan karena keadaan Theo kau jadi mengabaikan keadaan kandungan mu. Theo pasti akan kecewa bila kau tidak bisa menjaga calon anak kalian," tukas Emery.
Dengan patuh, Rhea pun gegas berdiri.
"Mom, kalau begitu aku pulang dulu. Tapi aku akan segera kembali ke sini. Aku ingin tidur di sini menjaganya," putus Rhea yang langsung diangguki Emery.
Lalu ia pun berpamitan pada ayah Theo dan ibunya sendiri.
"Kau pulang naik apa?" tanya July.
__ADS_1
"Aku bisa naik taksi, Mom. Mommy tidak perlu khawatir," sahut Rhea.
"Oh ya, mom, emmm ... bisa aku minta uang untuk bayar taksi? Aku kesini tadi dengan Ael. Aku tidak membawa tas, dompet, bahkan ponsel," ujar Rhea jujur.
July sedikit membulatkan matanya, kemudian tersenyum. Lalu ia segera mengeluarkan beberapa lembaran dollar dan memberikannya pada Rhea.
"Hati-hati di jalan."
"Baik, Mom."
Lalu Rhea pun segera bertolak menuju gedung apartemen dirinya dan Theo dengan menaiki taksi.
Setibanya di apartemennya, Rhea pun segera berjalan masuk. Ia berjalan dengan terburu-buru menuju kamarnya. Namun, sebelum masuk ke dalam kamat, ia kembali berbelok ke ruang tamu dan ruang keluarga.
Mata Rhea terbelalak sebab di dinding ruangan itu terpampang jelas foto pernikahannya dan Theo dengan ukuran sangat besar.
Seketika Rhea teringat saat memergoki Theo sedang memandangi foto Shenina. Rhea yang penasaran pun segera beranjak menuju kamar Theo. Kamar itu kini terbuka lebar. Dengan langkah sedikit ragu, khawatir terlalu berharap yang tak mungkin, Rhea pun masuk ke dalam kamar yang biasa hanya dihuni oleh Theo tersebut.
Mata Rhea terbelalak. Ia sontak menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia sampai berputar ke sekeliling, tidak ditemukannya satu pun foto Shenina. Bahkan foto-foto Shenina bukan hanya tidak satupun ditemukannya lagi, tapi telah berganti menjadi foto pernikahan mereka.
"Apa jangan-jangan sore itu dia melihat foto karena ... "
Rhea tergugu sambil terisak. Ia menyesal telah salah paham pada Theo. Ia pikir Theo melihat foto Shenina karena merindukannya. Ia pikir, Theo masih mengharapkan Shenina. Padahal dia sendiri yang meyakinkan diri untuk tidak terlalu berharap agar tidak terluka dan bila memang harus berpisah mereka bisa berpisah secara baik-baik, tapi apa yang ia buat? Hanya karena melihat Theo memperhatikan foto Shenina saja ia sudah kesal, marah, dan kecewa.
Padahal lihat, Theo memperhatikan foto tersebut untuk meyakinkan dirinya untuk melepas masa lalunya. Dari apa yang Theo lakukan, Rhea dapat menyimpulkan kalau Theo ingin memperbaiki hubungan mereka.
__ADS_1
Tapi apa yang ia buat? Karena terlalu over thinking, akhirnya Theo menjadi celaka.
...***...
Seminggu telah berlalu, tapi Theo masih saja memejamkan matanya. Padahal luka-luka di wajah dan tubuhnya sudah mulai sembuh, tapi Theo masih belum sadarkan diri. Ia masih betah memejamkan matanya membuat Rhea benar-benar nelangsa.
Kedua orang tua Theo dan ibunya sudah kembali lebih dulu. Kini hanya ada dirinya di ruangan itu menemani Theo. Rhea lantas menggenggam tangan Theo dan menempelkan di pipinya.
"Theo ... suamiku ... Kapan kau akan sadarkan diri? Apa kau tidak merindukan aku dan anakmu? Kau tahu, saat awal-awal aku hamil, aku selalu merindukanmu. Terkadang, aku sampai bermimpi bertemu dan memelukmu. Tapi sayang, saat mataku terbuka, aku baru sadar kalau semua hanya mimpi," tutur Rhea berusaha mengajak Theo bercengkrama. Sesuai saran dokter memang ia harus sering-sering mengajak Theo berbicara untuk merangsang syarafnya agar bisa segera sadarkan diri.
"Theo, apa kau tak pernah berpikir untuk menjenguk anakmu? Kau tahu, anak kita sering ingin kau kunjungi, tapi ... aku malu mengatakannya. Nanti kau pikir, pasti aku yang mau, padahal bukan aku. Seriusan. Anakmu yang pingin dijenguk, bukannya aku. Tapi kalau kau mau sekalian mengunjungi ibunya, aku tidak masalah," ujarnya sambil terkekeh sendiri. Ia merasa konyol sendiri dengan apa yang barusan ia katakan.
...***...
Minggu keempat setelah kecelakaan.
"Rhea, ayo kita periksa kandunganmu!" ajak Ael yang sudah berada di ruangan Theo.
"Ayo! Eh, sebentar. Aku mau ke toilet sebentar. Tidak apa-apa kan?"
"Untuk my princess, tak ada yang jadi masalah," ujar Ael dengan seringai menggoda.
Rhea terkekeh dan segera masuk ke toilet. Sementara itu, Ael tampak mendekati Theo yang masih betah dengan mata terpejam.
"Heh, bodoh, tidur saja yang lelap, oke. Sebab aku akan segera menggantikan tugasmu sebagai seorang suami. Ah, kalau tidak salah, sebulan lagi Rhea melahirkan, right? Tidak masalah kan kalau aku pun menggantikan tugasmu menemani Rhea di ruang bersalin? Sebagai calon daddy yang baik, sudah seharusnya aku selalu siaga kan? Tidur saja yang lelap. Kau tenang saja, sudah ada aku yang akan menggantikan semua tugas-tugasmu," ujarnya sambil terkekeh dan menepuk pundak Theo.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...