Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 110


__ADS_3

Jevian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran yang mana dijadikan tempat keponakannya untuk merayakan hari ulang tahunnya. Sepanjang perjalanan, Adisti hanya terdiam. Ia gugup bukan main. Memang ia datang bersama dengan Jevian sebagai teman, tak lebih sebab memang mereka tidak memiliki hubungan apapun selain pertemanan, tapi entah bagaimana penilaian keluarga Jevian nanti.


Rasa was-was menggelayuti benak Adisti. Tidak semua orang kaya memiliki sifat terbuka dan mau menerima orang berkasta rendah seperti dirinya seperti keluarga Rainero. Baginya keluarga Rainero benar-benar keluarga luar biasa. Padahal mereka merupakan keluarga konglomerat, tapi mereka tidak pernah membedakan status orang-orang di sekitar mereka. Bahkan mereka bukan hanya menerima Shenina dengan tangan terbuka, tapi ia dan Gladys yang hanya orang biasa, bahkan berkewarganegaraan asing sebagai anggota keluarga mereka. Mereka tidak mempermasalahkan ia dan Gladys yang tetap berteman baik dengan Shenina. Bahkan Delena kerap mengundang mereka untuk makan siang bersama. Mereka benar-benar dianggap seperti keluarga sendiri.


Namun entah mengapa, ia meragukan kalau keluarga Jevian akan menerima kehadirannya di tengah-tengah mereka.


Ekspresi gugup Adisti ternyata dapat ditangkap oleh Jevian. Ia lantas mengajak Adisti berbincang untuk mengurai kegugupannya.


"Kok diam aja? Sariawan?" ledek Jevian membuat Adisti tersentak kemudian mendelik.


"Sakit gigi, kenapa?"


Citttt ...


Tiba-tiba Jevian mengerem mendadak. Untung saja Adisti mengenakan sabuk pengaman, kalau tidak wajahnya sudah pasti akan membentur dashboard mobil.


"Aaargh ..."


"Ah, sorry, sorry, kamu tidak apa-apa?" tanya Jevian khawatir.


"Kamu kenapa ngerem mendadak sih?" protes Adisti.


"Itu, kamu tadi bilang sakit gigi? Kalau iya, kita ke dokter dulu, bagaimana?"


Adisti memutar bola matanya malas, "tidak, tidak perlu."


"Tapi ... "


"Aku tidak sakit gigi."


"Terus katamu tadi?"


"Ih, aku cuma bercanda aja. Udah ah, lanjut jalan. Entar terlambat, aku yang kamu salahin."


Jevian terkekeh, "kalau terlambat, ya mending pulang. Lanjut makannya di apartemen kamu aja, bagaimana?"


"Dih, nggak modal. Ke restoran kek, masa' udah dandan cantik-cantik makannya balik-balik ke apartemen," cibir Adisti.


"Kan seandainya ... tapi kalau kamu mau ke restoran, oke juga. Tidak masalah."


"By the way, yang ulang tahun ini keponakanmu kan? Anak dari kakak atau apa?"


"Sebenarnya sih anak kakak sepupu."


"Oh," Adisti hanya ber'oh ria saja.


"Sudah tidak gugup lagi?"


"Eh?"


Jevian terkekeh saat melihat ekspresi Adisti yang menurutnya menggemaskan.


Hingga tak lama kemudian, mobil Jevian telah terparkir di pelataran sebuah restoran mewah.


Adisti pun gegas membuka sabuk pengaman dan memegang handle pintu, tapi belum sempat pintu terbuka, Jevian sudah lebih dulu menghentikannya.


"Tunggu," seru Jevian.

__ADS_1


"Hah?"


Jevian tersenyum kecil, kemudian keluar lebih dulu dari dalam mobilnya. Setelahnya ia memutar langkah dan membukakan pintu untuk Adisti.


Adisti tersenyum geli, "sok romantis," cibir Adisti seraya terkekeh.


Jevian hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil.


"Ayo!" Jevian mengulurkan tangannya. Adisti pun melingkarkan tangannya di lengan Jevian.


"Begini?"


Jevian mengangguk.


"Memangnya tidak apa-apa? Bagaimana kalau keluarga kamu salah paham?"


Jevian mengedikkan bahunya. Ia pun segera mengajak Adisti masuk ke dalam restoran mewah yang ternyata di dalamnya telah ramai dengan tamu undangan.


Tiba-tiba Adisti kembali gugup. Jevian yang sadar lantas mengusap punggung tangan Adisti lembut. Adisti pun menoleh, di saat bersamaan Jevian juga menatapnya seraya tersenyum.


"Ayo, kita ke sana!" ajak Jevian. Adisti hanya menurut saja kemana Jevian mengajaknya. Toh ini pesta ulang tahun keponakannya sendiri.


"Mom, Dad," panggil Jevian. Kedua suami istri itupun menoleh ke arah Jevian dengan senyum sumringah. Namun senyum itu seketika surut saat melihat Jevian menggandeng seorang perempuan yang tidak mereka kenali.


"Jev, kami pikir kau tidak akan datang seperti tahun lalu," ujar Mommy Jevian.


"Tak perlu mengingat itu, bukankah yang penting sekarang aku datang. Oh ya, Mom, Dad, perkenalkan, dia Adisti, teman Jevian. Adisti, perkenalkan mereka adalah Mommy dan Daddy ku," ujar Jevian memperkenalkan kedua orang tuanya dengan Adisti dan sebaliknya.


"Selamat malam, uncle, aunty. Saya Adisti," ujar Adisti ramah. Ia juga mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Kau bukan warga negara ini?" tebak Mommy Jevian yang melihat wajah Adisti yang berbeda dengan orang di negaranya.


"Iya aunty. Saya berasal dari Indonesia."


"Indonesia?" beo mommy Jevian. Daddy Jevian hanya diam sambil menatap datar Adisti.


"Kau bekerja di sini atau ikut keluarga?"


"Saya ... ikut teman. Saya juga bekerja di sini."


"Teman?" Terdengar nada sinis saat mommy Jevian mengucapkan kata itu.


"Mom, sudahlah. Kalau begitu, aku mau menemui Rachel dulu untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Ayo, Adisti!" Jevian lantas menggandeng Adisti segera pergi dari hadapan orang tuanya.


Seperti katanya tadi, Jevian mengucapkan selamat pada keponakannya yang bernama Rachel. Gadis yang baru menginjak usia 12 tahun itu begitu senang melihat paman tampannya datang.


"Uncle Jev, akhirnya kau datang," seru Rachel senang. "Terima kasih kadonya. Ah, by the way, dia siapa, Uncle? Kenapa Uncle datang sama dia? Entar Aunty Eve marah lho?" goda Rachel membuat Jevian tersenyum tipis. Berbeda dengan Adisti yang merasa tak enak hati. Ia pikir nama perempuan yang disebutkan Rachel itu merupakan kekasih Jevian.


"Hai cantik, selamat ulang tahun," ucap Adisti. Rachel hanya menanggapi ucapan selamat Adisti dengan tersenyum kecil. Kemudian Jevian mengajak Adisti duduk di salah satu kursi.


"Adisti, kamu tunggu di sini sebentar tak apa? Aku mau ke sana. Mereka masih keluargaku," ucap Jevian.


Adisti mengangguk seraya tersenyum kecil. Jevian pun segera menghampiri beberapa pemuda yang sedang berbincang. Sepertinya mereka memang masih keluarga atau kerabat Jevian.


Meskipun yang ulang tahun adalah anak berusia 12 tahun, tapi para tamu undangan sepertinya bukan berasal dari kaum muda saja, tapi para orang tua juga cukup banyak. Sepertinya memang pesta ini dibuat khusus kalangan atas dari berbagai usia.


Axton dan Rainero pun sebenarnya diundang, tapi karena keadaan Shenina dan Gladys yang belum memungkinkan, jadi mereka tidak ikut datang.

__ADS_1


Baru saja Adisti hendak mengangkat cangkir karena haus, tiba-tiba beberapa wanita telah berdiri di hadapannya dan salah satunya adalah mommy Jevian.


"Katakan padaku, apa hubungan kau dan Jevian?" tanya mommy Jevian to the point. Nada tak senang terdengar jelas dari mulut wanita paruh baya itu.


"Kami hanya berteman, Aunty," jawab Adisti jujur.


Wanita itu tersenyum sinis, "apa pekerjaanmu dan orang tuamu?"


"Saya hanya seorang kasir di restoran Luxurious, sedangkan kedua orang tua saya ... mereka telah lama tiada."


"Hah? Serius itu pekerjaan perempuan ini? Selera anakmu aneh, Chris," ujar salah seorang wanita yang berdiri di samping ibu Jevian.


Ibu Jevian bergeming. Tapi tatapannya terlihat nyalang padanya.


"Seharusnya kau sadar diri, kau dan Jevian itu ibarat langit dan bumi. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi bagian keluarga kami karena kau sangat-sangat tak pantas."


"Maaf aunty, apa maksud Anda?"


"Jangan panggil aku aunty karena aku bukan bibimu. Panggil aku Nyonya karena kau lebih pantas menjadi pelayan ku daripada menantuku," sentak ibu Jevian mengundang perhatian tamu yang lainnya.


Adisti mengepalkan tangannya. Ditatapnya nyalang ibu Jevian yang sejak tadi menatap sinis dirinya, "kapan aku mengatakan ingin menjadi menantumu? Apa ada aku mengatakan itu? Sepertinya pendengaran Anda mulai terganggu, Nyonya," ucap Adisti dengan menekan kata Nyonya di hadapan ibu Jevian. "Padahal aku tadi sudah mengatakan kalau kami hanya berteman. Tapi Anda malah berkata sebaliknya. Benar-benar lucu."


"Apa kau bilang?" sentak ibu Jevian lagi.


"Aku bilang lucu, kenapa? Memang lucu kan? Aku mengatakan kalau aku hanya berteman, tapi kau mengatakan aku ingin menjadi menantumu, sinting."


"Dasar kurang ajar. Beginilah kalau seorang rendahan, bahkan sopan santun pun tidak tahu."


"Aku bersikap sesuai orang yang aku hadapi. Orang sopan padaku, aku sopan padanya. Orang kurang ajar padaku, aku bisa lebih kurang ajar lagi padanya."


"Heh perempuan miskin, jaga ucapanmu!" sentak teman ibu Jevian.


"Ucapan yang mana yang harus aku jaga? Apa kalian sopan padaku? Aku hanya duduk diam di sini, tapi kalian tiba-tiba datang menuduhku sembarangan, apa aku tak boleh membela diri?"


"Ada apa ini? Disti, Mommy, ada apa? Kenapa kalian bertengkar?" tanya Jevian yang baru saja datang sambil mendorong kursi roda seorang wanita tua.


"Tanya saja pada perempuan tidak tahu sopan santun ini. Apa kau gila Jevian membawa perempuan rendahan ini ke dalam pesta anak bibi? Lihat, dia, benar-benar kurang ajar, bahkan berani menjawab setiap kata-kata Mommy-mu," ujar ibu Rachel.


"Benar Jevian, kau temukan wanita ini dimana? Dia benar-benar tak pantas kau bawa ke tengah-tengah keluarga kita. Perempuan miskin tak tahu malu. Tidak punya sopan santun. Jangan bilang kau ingin menjadikannya istri? Mommy dan Daddy takkan menyetujuinya, ingat itu," ucap ibu Jevian lantang membuat perhatian hampir semua orang beralih pada mereka.


"Mom, apa yang kau katakan? Bukankah aku tadi mengatakan dia adalah temanku?"


"Teman? Teman tidur, begitu?"


"Mommy, cukup!" sentak Jevian, tapi sang mommy justru acuh tak acuh.


"Jaga ucapan Anda, Nyonya. Inikah yang disebut wanita kaya dan berkelas? Bahkan Aunty Delena yang aku yakin jauh lebih kaya darimu saja bisa memperlakukan orang dengan hormat dan sangat baik, tak peduli darimana asalnya," ucap Adisti lantang.


Mendengar nama Delena terucap dari bibir Adisti membuat semua orang bertanya-tanya, apa hubungan Adisti dan Delena pikir mereka.


"Kau, kau siapa Delena, hah? Oh ya, kau tadi bilang bekerja di restoran Luxurious, bukan? Oh, kau hanya pekerjanya. Tapi kau mengucapkan kata Delena seperti dia adalah bibimu sendiri, dasar tidak tahu malu."


"Jaga bicara Anda, Nyonya! Jangan pernah sekali-kali Anda menghina calon istriku kalau kau tak ingin merasakan akibatnya!" sentak seorang pria yang datang tiba-tiba mengalihkan atensi semua orang padanya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2