
"Bagaimana? Kau siap?" tanya Rainero setelah melihat Shenina baru saja selesai memoleskan bedak dan lipstik ke wajahnya agar tidak terlihat begitu pucat.
Shenina menghela nafas panjang, sebenarnya ia benar-benar gugup saat ini. Apalagi setelah mengetahui bagaimana sifat kakek dari Rainero.
Ya, sepulang dari rumah sakit, Rainero langsung mengajak Shenina bertemu dengan keluarganya, khususnya sang kakek yang menyampaikan ingin bertemu dengan Shenina.
Sebenarnya Rainero pun khawatir, bagaimana kalau kakeknya tetap tidak menyukai Shenina dan justru menghinanya. Rainero tentu tidak akan tinggal diam. Mungkin dia akan dicap cucu tak tahu diri, tapi dirinya akan menjadi laki-laki yang lebih tak tahu diri sekaligus brengsekkk bila tidak mempertanggungjawabkan perbuatannya. Terlebih, yang ia perjuangkan sekarang bukan sekedar rasa tanggung jawab, tapi juga perasaan dan buah hatinya.
Shenina mengangguk ragu, tapi ia pun mengafirmasi dirinya agar bersikap tenang dan kuat. Shenina hanya ingin memperjuangkan hak anaknya. Sebab anak-anaknya pun berhak atas pengakuan dari ayah dan keluarga ayahnya itu.
"Kamu gugup?" Rainero menggenggam tangan Shenina dan mengecup punggung tangannya.
"Bohong kalau aku nggak gugup, tapi aku tetap harus menemui mereka kan? Terutama kakekmu. Semoga saja kakekmu bisa memberikan restunya ya. Aku tidak ingin ada masalah ke depannya hanya karena restu yang belum sepenuhnya ku miliki."
Rainero menarik pundak Shenina dan memeluknya erat.
"Aku yakin, grandpa akan setuju setelah bertemu denganmu. Lagipula kau tak perlu khawatir, Mommy dan Daddy akan selalu jadi garda terdepan untuk memperjuangkan hubungan kita," tukas Rainero mencoba menenangkan perasaan Shenina.
"Semoga saja ya, Rain," ucapnya pasrah.
"Masih gugup?" Rainero merenggangkan sedikit pelukannya sambil menatap lekat wajah cantik Shenina. Dipandangi sedemikian rupa membuat jantung Shenina makin berpacu dengan cepat. Rasa gugup yang tadi berangsur mereda kini justru kian menggila.
Shenina yang tak mampu menyembunyikan rasa gugupnya pun mengangguk pelan.
"Mau aku bantu menghilangkan rasa gugup mu?" tawar Rainero dengan seringai menggoda di bibirnya yang justru membuat kadar ketampanannya meningkat berkali-kali lipat. Ingin Shenina menampar pipinya yang ia yakin kini sedang bersemu merah karena terpana dengan wajah tampan yang ada di hadapannya itu.
Dengan menggigit bibirnya, Shenina pun mengangguk membuat senyum Rainero merekah lebar. Kemudian Rainero meletakkan salah satu tangannya di tengkuk Shenina, sedangkan satu tangan lain mendekap erat pinggangnya sehingga kini tubuh keduanya menempel nyaris tanpa jarak. Shenina mengerjapkan matanya, merasa bingung dengan apa yang akan Rainero lakukan. Saat Rainero mulai mendekatkan wajahnya dan mulai menautkan bibirnya pada bibir Shenina, barulah ia sadar kalau laki-laki itu hendak menciumnya alih-alih menghilangkan rasa gugup.
Awalnya Shenina memang gelagapan saat mendapatkan serangan dadakan seperti itu, tapi karena Rainero mencumbunya dengan lembut dan penuh kehangatan membuat Shenina akhirnya terbuai. Shenina pun mulai memejamkan matanya dan lama kelamaan mulai menikmati apa yang Rainero lakukan pada bibirnya.
__ADS_1
...***...
Sepanjang perjalanan menuju Angkasa Hotel, Rainero tak henti-hentinya tersenyum. Tangan Rainero tampak tak ingin melepaskan genggamannya dari tangan Shenina. Tapi pandangannya terarah keluar dengan sesekali melirik Shenina yang mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Seulas senyum pun tak lepas dari bibirnya disertai semburat merah yang justru membuatnya makin terlihat menggemaskan.
Mark yang berada di balik kemudi sesekali melirik pasangan di belakangnya. Otak Mark mulai berasumsi, pasti telah terjadi pada keduanya sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Diam-diam Mark menyunggingkan senyum. Entah mengapa rasa bahagia pasangan di belakangnya itu seakan menular kepadanya.
...***...
"Ini sudah jam berapa? Kenapa mereka lama sekali sih?" omel Ranveer yang sebenarnya sudah kelaparan, tapi ia terpaksa harus menunda makan siangnya karena harus menunggu Rainero dan Shenina.
"Sabar Dad. Daddy tahu kan, negara ini rawan macet. Apalagi di jam-jam seperti ini. Selain itu, Shenina kan baru keluar dari rumah sakit. Mungkin mereka masih harus mengurus administrasinya dan lagi pula, mereka tidak bisa terburu-buru. Rainero pasti begitu memperhitungkan segalanya dan ia tak ingin terjadi sesuatu pada calon buah hatinya itu," sela Reeves meminta agar ayahnya itu bisa memahami keterlambatan Rainero dan Shenina.
"Daddy lapar? Kalau iya, Daddy makan saja dahulu, biar kami nanti bareng Shenina dan Rainero," ujar Delena yang sebenarnya telah hafal gelagat sang ayah mertua saat sedang kelaparan.
"Lapar? Siapa? Itu hanya perasaanmu saja. Daddy tidak lapar," kilah Ranveer seraya melengos ke arah lain.
Ranveer dan Delena lantas ikut memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk. Delena tersenyum sumringah, begitu pula dengan Ranveer membuat Reeves dan Delena mengerutkan keningnya dengan otak yang sibuk menerka-nerka, apa gerangan yang membuat Ranveer begitu sumringah.
Ranveer langsung berdiri membuat Reeves dan Delena menegang kaku. Begitu pula Rainero, perasaannya seketika was-was.
Dengan wajah sumringah, Ranveer menghampiri Shenina yang masih berada di sisi Rainero.
Sementara Shenina, ia terkejut melihat keberadaan laki-laki yang pernah ia tolong berada diantara keluarga Rainero.
"Kamu ... kamu masih ingat kakek kan, Nak?" tanya Ranveer sumringah pada Shenina membuat Rainero dan kedua orang tuanya terbelalak.
"Emmm ... masih. Kakek apa kabarnya? Bagaimana dengan luka di kaki kakek, masih kakek beri obat kan?" tukas Shenina penuh perhatian membuat ketiga orang yang saat ini mendekat mereka makin terkejut.
"Daddy terluka? Luka karena apa? Kenapa Daddy tidak bilang kepada kami?" seru Delena menggerutu.
__ADS_1
"Iya, sebenarnya apa yang terjadi? Luka, luka apa? Bagaimana kaki Daddy bisa luka?" imbuh Reeves khawatir.
Ranveer berdecak, "kalian bisa diam tidak sih? Aku sedang berbicara dengan perempuan cantik ini. Kalian mengganggu saja. Oh ya, kau datang kemari dengan siapa?" tanyanya masih belum sadar kalau sejak tadi Shenina berada dalam rengkuhan Rainero.
"Grandpa, apa aku sekecil itu sampai tidak terlihat? Atau menurut Grandpa aku ini makhluk tak kasat mata sampai tidak terlihat kalau aku datang bersama Shenina?" omel Rainero kesal karena merasa seakan keberadaannya tidak terlihat.
Dipandanginya Rainero, Shenina, lalu tangan Rainero yang hinggap di pinggang Shenina.
"Ka-kalian ... jangan bilang perempuan yang hendak kau kenalkan itu ... "
"Seperti yang Grandpa lihat, dia ... Shenina. Dialah perempuan yang akan menjadi istriku, ibu dari anak-anakku," ujar Rainero dengan seringai di bibirnya.
Kini kelima orang itu sudah duduk di kursi masing-masing. Hidangan mewah dan nikmat pun telah terhidang di hadapan mereka semua. Tapi mulut mereka masih bungkam setelah Shenina menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Ranveer.
"Jadi ... anak yang ada di dalam kandunganmu itu benar anak Rainero? Maaf, bukan maksud kakek untuk tidak percaya, hanya saja ... " Ranveer yang lebih dahulu memecahkan keheningan di meja makan tersebut.
"Shen mengerti, Kek. Siapapun pasti akan menaruh curiga saat tahu ada seorang perempuan yang tiba-tiba mengaku mengandung anak dari salah satu anggota keluarga tersebut. Tapi begitulah adanya, anak ini benar-benar milik Rainero. Kalau kakek masih ragu, Shenina tidak apa. Kalau kakek ingin menunda pernikahan kami sampai bisa melakukan test DNA pun tak apa. Atau kakek tidak mau merestui kami pun ... "
"Bukan ... bukan kakek tidak merestui. Justru sebaliknya, kakek amat sangat senang kalau yang kau kandung benar-benar benih anak nakal ini. Kau tahu, saat pertama kali bertemu denganmu saat itu, kakek langsung jatuh hati padamu," ucap Ranveer yang sontak membuat Rainero melototkan matanya. "Heh, tak perlu melotot!" sentak Ranveer seraya memukul kepala Rainero. "Grandpa jatuh hati pada kebaikannya. Shenina bukan hanya cantik parasnya, tapi juga hatinya. Bahkan saat itu Grandpa sempat berharap Shenina berjodoh denganmu. Tapi saat melihat perut Shenina yang telah membukit, Grandpa sedikit kecewa sebab Grandpa pikir harapan itu takkan pernah terjadi. Tapi setelah mengetahui kalau Shenina lah perempuan yang hendak kau nikahi itu, tanpa ragu Grandpa akan menyetujuinya. Segeralah pulang ke negara kita dan kau Delena ... persiapkan pesta pernikahan termegah untuk cucu dan calon cucu menantu kesayanganku ini," seru Ranveer antusias yang jelas saja membuat Rainero, Delena, dan Reeves tersenyum dengan lega sebab pada akhirnya Ranveer memberikan restu pada pasangan itu. Hal itu juga menunjukkan kalau Ranveer telah percaya kalau bayi yang Shenina kandung merupakan anak Rainero.
"Siap, laksanakan, Daddy?" seru Delena tak kalah antusias. "Ayo kita makan! Kalian tahu, grandpa kalian sebenarnya sejak tadi sudah kelaparan, tapi dia masih saja tidak mau mengaku," ujar Delena santai membuat Ranveer melotot tajam.
"Kata siapa? Jangan mengada-ada! Jangan percaya pada perempuan licik itu! Padahal dia yang lapar, tapi malah mengkambinghitamkan Grandpa," kilah Ranveer membuat semua orang tergelak.
Rainero tak henti-hentinya tersenyum setelah mendapatkan lampu hijau dari sang kakek. Hatinya kini sedang membuncah bahagia karena hari yang ia tunggu tidak lama lagi akan terjadi. Bahkan ia tak segan-segan memamerkan kemesraannya dengan Shenina di hadapan keluarganya. Di depan kedua orang tuanya dan kakeknya, Rainero menunjukkan perhatiannya yang begitu besar. Akhirnya, Bali pun menjadi saksi Shenina dapat menjemput kebahagiaan yang selama ini tidak pernah didapatkannya. Begitu pula Rainero, akhirnya ia bisa mendapatkan belahan jiwanya yang sempat menghilang.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1